
Beberapa pekan berikut nya, aku tak pernah bertemu dengan Karina lagi. Ia pun tak pernah lagi sekedar mampir untuk berbagi camilan yang baru dibuat nya. Atau juga menemani Rinaya yang ingin bertemu dengan ku.
Meski begitu, pendengaran super ku masih bisa mendengar suara nya, meski kami terhalang oleh beberapa lapis dinding di antara kami.
Jika Rinaya datang mengunjungi ku di suatu akhir pekan, biasanya yang akan menjemput nya kini adalah Bibi Asisten rumah tangga nya Karina.
Terkait hal itu, Rinaya pernah mengomentari gelagat Karina itu. Tentu saja ku dengar dari percakapan mereka melalui pendengaran super ku.
Rinaya: Mama kenapa gak mau main lagi sama Paman Baik?
Karina: Mama lagi ada kerjaan, Sayang. Kamu kalau mau main, gak aoa-apa. Main saja. Nanti Bibi yang jemput pulang, oke? Jaga sikap ya, Sayang..
Rinaya: Kenapa Bibi yang jemput pulang? Kenapa bukan Mama?
Karina: Karena Mama kan masih ada kerjaan, Sayang..
Rinaya: Mama lagi berantem ya sama Paman?
Karina: ..(hening sejenak).. bukan berantem. Cuma enggak main sama-sama aja kok!
Rinaya: Kenapa gak main sama-sama?
Karina: Karena...Kesukaan Mama dan Paman sekarang sudah beda, Nai. Sudah dulu ya. Katanya mau main? Jadi enggak?
Rinaya: Jadi, Ma!
Itu adalah percakapan keduanya yang tak sengaja ku curi dengar saat aku sedang berada di ruang TV.
Tak berselang lama kemudian aku mendemgar suara langkah Rinaya yang berlari terburu-buru dan mendekati pintu rumah Mark. Dengan bergegas, aku sudah terlebih dulu membuka pintu untuk menyambut gadis kecil itu, sebelum ia bahkan sempat mengucap salam.
"Paman Baik!" Sapa Rinaya dengan senyuman lebar.
Dan aku dibuat terpikat oleh senyuman Rinaya. Senyuman yang juga mengingatkan ku pada senyuman milik Mama nya, Karina.
***
Hari demi hari terus berganti. Dan aku mulai terbiasa untuk tidak melihat sosok Karina lagi.
__ADS_1
Kekosongan itu sempat ku rasakan. Namun lagi dan lagi aku mengingatkan diri ku sendiri atas pilihan ku dalam menjaga cinta ku kepada mendiang Laila.
Sesekali aku sempat melihat sekelebat sosok Karina saat ia baru saja pulang dari mengajar. Itu biasanya terjadi di waktu jam kerja ku dan juga Mark kebetulan bersamaan dengan jam kepulangan Karina.
Biasanya posisi mobil Mark ada di belakang motor Karina.
Bila Karina tahu kalau mobil Mark ada di belakang nya, maka ia akan mempercepat motor nya memasuki pagar rumah nya. Tampak jelas ia terburu-buru masuk ke dalam rumah demi menghindari ku.
Mark bahkan bisa menebak status hubungan ku dan juga Karina yang payah ini. Dalam komentar nya ia mengatakan.
"Kayaknya Abang lagi clash ya sama Karina? Memang nya kenapa Bang? Saya kira hubungan Abang dan Karina bakal lebih maju. Jangan sungkan sama saya, Bang. Saya udah move on kok!" Mark berkomentar.
Saat itu kami sedang bersantai di ruamg TV. Aku yang tak terlalu fokus melihat tayangan MMA di TV pun agak terusik dengan komentar Mark barusan.
"Bukan karena kamu, Mark. Masalah nya ada di aku. Lagipula, kami gak akan bisa cocok," aku berkilah.
"Dari mana Abang bisa tahu kalau Abang gak bakal cocok berhubungan sama Karina? Memang nya kalian pernah serius pacaran? Kemarin kan cuma pacar bohong-bohongan aja kan, Bang buat ngibulin Nila?" Cecar Mark.
Ku layangkan pandangan tajam ke samping. Tepat ke dalam mata Mark. Lagi-lagi dia membahas soal muslihat Karina soal pacar bohongan. Mengingat itu, aku jadi merasa malu.
Percakapan kami pun berganti ke topik yang lain.
"Oya, Bang. Pekan depan, Paman Amir katanya mau balik ke sini," ucap Mark tiba-tiba.
"Amir?!"
Seketika perhatian ku terfokus seluruh nya kepada Mark.
"Ucapan mu itu benar kah, Mark? Amir, suami dari Ar... Mm..maksud ku, Bibi Arline kalian kan?" Tanya ku emmastikan.
Amir adalah suami dari mendiang Arline. Dan Arline adalah saudari kembar ku yang telah tiada hampir satu tahun yang lalu.
Di dunia ini. Orang yang bisa membuktikan identitas ku sebagai Erlan hanya tinggal, Amir, Nunik (sahabat Laila) serta Darman (adik tiri Laila). Sayang nya ketiga ornag tersebut tak ada di Indonesia saat ini.
Syukurlah Amir katanya hendak pulang. Jika benar begitu, aku ingin sekali bertemu dnegan nya lagi. Aku berharap ia masih mengingat beberapa kenangan saat kami bercengkrama dulu, saat aku masih hidup sebagai Erlan.
"Bisakah aku bertemu dengan nya, Mark?" Tanya ku lagi meminta tolong.
__ADS_1
"Boleh saja. Tapi kenapa..? Oh! Hmm.. saya tebak ya. Apa ini soal keinginan Abang untuk membuktikan kepada saya dan juga Nila tentang identitas Abang sebagai Papa Erlan?" Mark menebak tepat tujuan ku ingin bertemu dengan Amir.
Aku langsung saja mengangguk.
"Abang tahu, kah? Sebenar nya, tanpa perlunmembuktikan kalau Abang adalah Papa pun saya sudah yakin kalau Abang tak memiliki niat yang buruk kepada saya dan juga Nila. Maksud saya, Abang bisa saja memikat Nila dengan muah nya bukan, bila memang yang Abang incar dari keluarga saya adalah harta..?" Ujar Mark meyampaikan isi pikiran nya.
"Tapi.. Abang tidka melakukan nya. Abang tetap bersikukuh kalau Abang adalah suami pertama Mama yang sudah meninggal. Dan saya juga menyaksikan bagaimana Abang memeprlakukan mendiang Mama. Itu sungguh.. menyentuh hati saya, Bang," lanjut Mark lagi.
"Abang tak perduli tentang usia Mama yang sudah menua. Abang juga tak perduli tentang kondisi fisik Mama yang tak sedang sehat. Abang merawat Mama dengan sangat baik. Bahkan jauh lebih baik dari kami, anak kandung nya sendiri.."
"Sejak saya menyaksikan sendiri bagaimana Abang memperlakukan Mama semasa beliau masih hidup, bahkan hingga Mama meninggal, saya bisa pastikan kalau Abang bersungguh-sungguh tentang perasaan Abang terhadap mendiang Mama,"
"Memang, secara akal sehat, rasa nya tidak mausk akal. Bila lelaki prima seperti Abang menyukai Mama saya. Dan lebih tidak masuk akal lagi tentnag cerita Abang soal transmigrasi jiwa ke tubuh yang lain itu.. tapi, saya akan mengesampingkan semua itu, Bang. Saya akan tetap memberikan respect dan rasa terima kasih saya yang sebesar-besar nya kepada Abang,"
"Terima kaish, sudah membuat Mama saya sering tersenyum di sisa akhir hidup nya itu. Saya pribadi mengakui, kalau saya dan Nila tak pernah melihat Mama sebahagia saat itu. Kecuali mungkin saat mendiang Papa Kiyano juga masih ada,"
Mendnegar nama Kiyano disebut, spontan saja mulut ku mengerucut. Kecemburuan itu wajar bila maish kembali hadir. Karena itu adalah bukti bahwa aku masih mencintai Laila, bahkan hingga jasad nya telah lama mati..
"Maaf ya, Bang. Saya tahu, kalau Abang seperti nya tak suka setiap kali saya membincangkan tentang Papa Kiyano. Tapi Bang, maksud saya mengatakan semua ini adalah, agar Abang mengetahui kalau Mama juga sangat bahagia saat bersama-sama dengan Bang Erlan," lanjut Mark lagi.
"Karena itu, Bang. Saya kira, itu berarti Mama juga memiliki rasa sayang yang sama besar nya kepada Abang. Saya bisa melihat itu dari cara Mama setiap kali melihat Abang. Kalian saling memandang seperti..sepasang kekasih sejati.
Deg..
Hatiku nyeri kala mendengar Mark berbicara seperti itu.
"Dan, karena itu jugabl lah Bang. Saya bisa mengira kalau Mama juga pasti ingin Abang melanjutkan hidup Abang dengan kebahagiaan yang penuh. Jika bersama dengan Karina, Abang bisa kembali hidup bahagia, kenapa Abang menolak cinta yang datang ke hadapan Abang?" Tanya Mark dengan tatapan serius.
Deg.
Deg.
Mendengar pertanyaan Mark itu, bibir ku tiba-tiba menjadi kelu. Sementara hati ku seketika membeku.
Aku sungguh tak tahu, jawaban yang seharusnya ku berikan atas pertanyaan Mark itu.
***
__ADS_1