Meretas Rasa

Meretas Rasa
Dibonceng Karina


__ADS_3

Setelah Karina sudah rapih, kami pun lalu berjalan menuju garasi mobil nya. Rencana nya kami hendak pergi ke rumah sakit dengan menaiki motor Karina.


Tiba-tiba saja aku jadi teringat dengan motor gede milik ku dulu. Entah ke mana keberadaan nya kini. Seingat ku di rumah kami yang ditempati Nila, motor ku tak berada di sana. Mungkin nanti aku harus menanyakan nya kepada Mark.


"Jadi, kita bisa membahas tentang penguntit itu lagi nanti setelah Rinaya kembali sehat. Gak apa-apa kan, Lan? Maaf.." ujar Karina terlihat merasa bersalah, saat ia membuka rolling door garasi nya.


Aku sigap mengangkat rolling door garasi untuk membantu Karina. Sambil berujar santai.


"Ya santai saja, Rin. Mm.. Makasih ya, Rin. Karena kamu sudah membolehkan ku ikut menjenguk Rinaya ke rumah sakit?" Ucap ku tiba-tiba.


Aku juga tak tahu, kenapa aku mengatakan ini pada Karina. Namun, saat membayangkan kalau saat ini Rinaya sedang terbaring lemah di rumah sakit.. sesuatu dalam hati ku serasa tercubit.


Pikir ku, mungkin labuan perasaan ku sebagai seorang ayah yang sempat dihentikan oleh kematian, kini bermuara pada gadis kecil tersebut.


Lagipula aku masih mengingat benar, saat Laila dulu hamil, aku juga sangat berharap kalau salah satu anak dalam kandungan nya adalah seorang anak perempuan.


Aku ingin memiliki banyak copy an Laila, dalam bentuk buah cinta kami.


Dan ya. Pada akhirnya aku memang mendapatkan Nila sebagai anak ku. Namun sayang nya Nila telah tumbuh menjadi gadis dewasa.


Karena itulah rasa kasih sayang yang ku miliki untuk memanjakan putri ku sendiri sempat tak memiliki muara untuk menyalurkan nya. Ini sedikit mengganggu ku sejak aku terbangun dalam tubuh Aro.


Sampai akhirnya aku ditugaskan untuk menjadi penjaga ratu Charrine (Karina) serta putri semata wayang nya, Putri Rinaya.


Dalam sosok Rinaya lah akhirnya aku bisa melanjutkan impian ku untuk menjadi seorang ayah. Ya. Aku telah menyayangi Rinaya seperti layaknya putri ku sendiri.


Kini Karina menatap ku sebentar saja saat aku meminta ijin kepada nya untuk menjenguk Rinaya. Sampai kemudian ia menyampaikan persetujuan nya.


"Ya. Santai saja, Lan. Bukan kah kamu itu Paman Baik nya?" Sahut Karina sambil tersenyum tipis.


Karina kemudian berlalu untuk membersihkan diri. Sementara aku yang ditinggalkan nya langsung merasakan hangat di hati.


Bagaimana tidak? Karina mengakui ku untuk menjadi seorang Paman bagi putri nya. Padahal aku sama sekali tak memiliki hubungan darah dengan mereka.


'Terima kasih..' lirih ku tanpa suara, sambil menatap sosok wanita berhati baik di hadapan ku itu.


Karina lalu mengeluarkan sebuah motor matic model jadul ke halaman rumah nya. Dan aku pun kembali menurunkan rolling door garasi nya dan mengunci nya kembali. Setelah selesai, ku serahkan kunci nya kembali kepada Karina.

__ADS_1


Aku lalu menunggu Karina melajukan motor nya hingga berada di luar pagar rumah. Ku tutup kembali pintu pagar nya, lalu ku tatap Karina lama.


Yang ku tatap masih saja duduk diam di atas jok pengemudi.


"Nunggu apa lagi, Lan?" Tanya Karina terlihat bingung.


"Biar aku yang bawa motor nya?" Aku meminta ijin.


"Hey, ini kan motor ku. Jadi biar aku ya yang bawa!" Karina membuat keputusan.


"Err..tapi aku kan cowok..?" Protes ku menggantung.


"Lha iya. Aku juga tahu, Lan kalau kamu cowok. Kamu juga tahu kan kalau aku tuh cewek? Terus memang nya kenapa?" Balas Karina masih tak mengerti.


"Ehem!!" Terlebih dulu ku garuk tengkuk ku yang sebenarnya tak merasa gatal. Baru kemudian menambahkan penjelasan pada wanita di depan ku itu.


"Maksud ku, aku kan cowok. Masa iya dibonceng sama.. cewek?" Ucap ku sambil meringis malu.


"Oh! maksud mu itu toh... Hmm.. ya sudah. Kamu yang bawa deh. Eh, tapi kamu bisa gak, Lan? Kemarin aja aku harus belajar naik motor lagi karena agak lupa sedikit cara nya gimana," jujur Karina mengaku.


"Aku..bisa kok!" Ucap ku dengan yakin nya.


...


...


Bruakk!!


Aku menabrak tiang pohon yang berada tak jauh dari rumah orang tua Karina. Beruntung aku ingat untuk menginjak rem. Jadi benturan yang terjadi tidaklah terlalu kencang.


Meski begitu, kaki ku sempat tertimpa body motor yang ku kendarai. Namun aku tak menghiraukan rasa sakit yang ku rasakan.


Dengan gerakan cepat, ku matikan mesin motor, lalu ku seimbangkan lagi body motor nya. Setelah motor berdiri di atas standar nya, aku pun bergegas membantu Karina yang masih terduduk di dekat tiang.


"Maafin aku, Karina! Aku gak sengaja!" Seru ku menyesal, merasa bersalah.


Karina langsung memelototi ku. Dan sekilas aku jadi teringat saat Laila sedang marah kepada ku. Tatapan mereka sama garang nya.

__ADS_1


Karina lalu berdiri, menepiskan debu dan rumput yang menempel di baju dan juga celana kulot yang ia kenakan. Lalu berdiri berkacak pinggang di depan ku.


Tangan kanan Karina tiba-tiba terjulur ke depan.


"Mana kunci nya?!" Pinta Karina dengan nada mendesak.


Dan aku yang masih diliputi oleh perasaan bersalah pun langsung mengembalikan kunci motor yang ku pegang kepada si empunya.


"I..ini, Rin.." ucap ku dengan kepala tertunduk.


Tanpa berkata apa-apa lagi Karina langsung berjalan menuju tempat motor nya terparkir. Ia lalu memasukkan kunci tadi ke lubang nya, dan menstarter motor nya kembali.


Sepanjang Karina melakukan itu, aku hanya menatap nya di pinggiran jalan. Tak tahu, apakah aku masih diijinkan ikut dengan nya ke rumah sakit atau tidak.


Dalam hati aku sudah merancang rencana. Jika memang Karina pergi meninggalkan ku di sini, maka aku hanya akan mengikuti nya dengan inner power ku saja. Mudah bukan?


"Hey! Kok malah melamun sih?! Ayo cepat naik! Katanya mau jenguk Rinay?!" Omel Karina dengan wajah merengut.


"A..aku masih boleh jenguk Rinaya?" Tanya ku dilimpahi oleh perasaan haru.


"Masih! Kecuali kalau kamu gak jadi jenguk Rinaya, ya aku tinggal kamu di sini deh ya!" Dumel Karina berlanjut.


"Ma..mau! Aku mau Rin!" Cicit ku langsung naik ke jok di belakang Karina.


Kali ini aku tak lagi memperdulikan rasa gengsi atau malu karena membonceng di belakang perempuan. Yang utama dalam benakku kini adalah aku bisa menjenguk Rinaya di rumah sakit.


Apalagi ku sadari kalau kaki ku sedikit sakit saat melangkah tadi. Mungkin efek karena tertimpa body motor saat terjatuh tadi.


"Nah. Seharusnya dari awal memang biar aku saja yang bawa motor nya!" Karina lanjut mengonel.


Aku tak pernah menduga kalau akan datang masanya saat aku akan diomeli seperti ini lagi oleh seorang perempuan.


Dulu sekali, Laila lah yang sering mengomeli ku seperti ini. Dan kini, Karina.


Tapi aku tak membalas omelan wanita itu. Karena ucapan nya itu memang ada benar nya.


Aku lah yang salah karena tadi memaksa untuk membawa motor nya. Padahal sudah jelas kalau aku pun sebenar nya sedikit lupa dengan cara mengendarai motor. Sampai akhirnya terjadilah insiden tabrakan seperti tadi.

__ADS_1


***


__ADS_2