
Ucapan Nila di mobil wakti itu terus terngiang-ngiang hingga beberapa hari berikut nya. Sampai aku merasa hampir gila dibuat nya.
"Menjalin hubungan serius dengan Karina? Secepat ini? Laila ku bahkan belum genap dua bulan pergi.. bagaimana bisa aku mengkhianati nya secepat ini?" Gumam ku kala aku sedang sendirian di kamar atau ruang kantor.
Sayang nya, Karina yang hampir setiap hari mampir ke rumah untuk mengantarkan makanan atau Rinaya pun juga seperti berusaha untuk mengajak ku berbincang serius soal hubungan kami.
Tapi setiap kali ku rasa ia mulai berkata serius, aku langsung buru-buru membuat alasan untuk pergi. Bahkan sampai Mark mengomentari sikap ku ini sebagai pengecut pun aku tetap tak perduli.
Sayang nya takdir juga seperti hendak menantang keteguhan ku dalam mencintai masa lalu ku. Hal ini terjadi pada suatu sore di akhir pekan.
Kala itu, seperti biasa Karina kembali berkunjung ke rumah untuk menemani Rinaya yang ingin bertemu dengan ku. Kemudian Mark mengajak Rinaya pergi keluar untuk membeli es krim. Sehingga jadilah aku merasa kikuk karena berduaan dengan Karina di teras rumah.
"Jangan lari lagi, Lan. Apa kamu gak capek apa? Kita bisa ngobrol secara dewasa gak sih? Jangan buat aku pikir kalau kamu sekarang lagi kesurupan setan nya Jerry!" Ancam Karina saat melihat ku hendak bangkit dari kursi teras yang ku duduki.
"Ehh? Jerry siapa?" Tanya ku spontan kebingungan.
"Jerry! Jerry-nya Tom and Jerry itu lho! Kerjaan nya sehari-hari kan lari melulu dari Tom! Kayak kamu yang selalu lari kabur setiap kali aku mau ajak obrol serius!" Tukas Karina berapi-api.
"Buahaha! Ups.. sorry.. maaf, Rin.. hehehe.m analogi kamu barusan itu agak kelewatan gak masuk akal soal nya. Masa iya aku bisa kesurupan setan tokus yang cuma ada di film kartun itu sih?" Ujar ku membela diri.
"Ya bisa aja kan. Habis nya kamu emmang suka nya main kabur-kaburan kan? Jadi, sekarang juga aku mau ngobrol serius sama kamu, Lan! Dengarkan aku baik-baik. Jangan main kabur-kaburan lagi!" Ancam Karina berulang.
"Oke.. sorry. Yaudah. Silahkan ngomong deh. Aku dengarkan kamu baik-baik," aku pun akhirnya mengalah dan kembali duduk dengan tak tenang di atas kursi ku ini.
"Seperti yang sudah kamu tahu, Lan. Kalau aku tuh suka kamu!" Ucap Karina tanpa malu-malu.
"Mm.. iya. Terus?"
"Dan aku juga tahu kalau kamu juga mula suka aku," lanjut Karina dengan nada yakin.
"Mm.. tahu dari mana?" Tanya ku spontan.
Dan aku langsung menyesal karena kelepasan bertanya. Karena sesaat kemudian..
Bletak!
Pundak ku di tepak Karina dengan cukup kencang. Hingga aku bahkan sampai meringis nyeri.
"Aduh Rin! Bisa kan kita ngobrol aja.. kok main KDRT segala sih?" Keluh ku dengan spontan nya lagi.
"Maka nya, kalau ngomong tuh dipikir baik-baik dong! Tahu dari mana lagi, kamu nanya. Jelas-jelas mata kamu bilang begitu, Lan.. jangan bohong sama diri sendiri. Bohong itu dosa tahu!" Karina bersikukuh dengan argumentasi nya.
Sesaat kemudian, aku kembali menunjukkan ekspresi serius ku pada Karina. Kepada wanita itu kemudian aku berkata dengan sejujur nya.
__ADS_1
"Rin.. maaf. Untuk saat ini, aku belum bisa membalas perasaan kamu. Bagaimana pun juga istri ku.. maksud ku, wanita yang paling ku cintai selama ini baru saja meninggal kurang dari dua bulan yang lalu.."
"Aku tahu. Mark memberi tahu ku tentang mendiang Mama nya dan juga kamu, Lan. Aku terima itu. Semisal kamu memang masih belum bisa melupakan.. Laila, it's okay. Aku gak masalah," ucap Karina dengan santai nya.
"Serius?" Tanya ku tak percaya.
Biasnaya setahu ku seorang wanita paling sensitif jika lelaki yang ia sukai berbicara tentang mantan nya. Dalam hal ini adalah aku yang membincangkan cinta ku, Laila.
"Serius! Dua rius malah, Lan! Aku bisa sedikit mengerti apa yang kamu rasakan terhadap mendiang. Tapi yang mau aku bahas saat ini bukan nya masa lalu kamu, Lan.. aku mau bincangin tentang masa depan aku dan juga kamu," lanjut Karina dengan tatapan teguh.
Keteguhan yang sering ku lihat dulu, saat ia maaih bergelar sebagai ratu dari kerajaan Goluth saat kami masih berada di Dunia yang lain.
Keteguhan itu pula yang membuat ku jadi malu sendiri. Karena aku merasa kalah setiap kali berhadapan dengan tatapan teguh nya Karina.
Seperti saat ini. Aku akhirnya mengalihkan pandqngan ku ke tanaman yang tumbuh di pekarangan rumah Mark. Sementara indera ku terus menangkap kalimat demi kalimat yang Karina ucapkan.
"Aku mau ajak kamu serius soal hubungan ini, Lan. Tentang masa depan kita. Jangan fokus ke masa lalu, Lan. Orang aja kalau jalan tuh lihat nya ke depan. Bukan ke belaknag. Kalau jalan sambil lihat ke belakang, yang ada malah nanti kamu kesandung batu, atau nyemplung ke got, atau malah terjun sekalian ke jurang?" Celoteh Karina lebih lanjut.
Dan aku tersneyum-senyum mendengar nya.
"Hh.. beri aku waktu, Rin. Jangan meminta ku membuat keputusan yang terburu-buru," ucap ku akhirnya.
"Aku gak bermaksud untuk buat kamu terburu-buru, Lan. Memang nya aku gak ngerasa malu apa ngomong gini ke kamu? Malu tahu!"
"Tapi yang ku nilai selama ini, Lan, kamu tuh fokus ke masa lalu kamu aja. Kamu capek mikirin tentang yang udah lewat. Jadinya kamu lupa untuk nikmatin hidup mu yang sekarang dan buat dirimu sendiri bahagia. Aku gak mau kamu hidup kayak gini, Lan.."
"Kalau pun kamu punya wanita lain yang mau kamu jadikan sebagai teman hidup. It's okay. Aku akan terima. Sekalipun itu bukan dengan ku, yang penting kamu fokus untuk hidup bahagia, Lan. Fokus dengan jalan mu di hadapan. Jangan sampai kamu merasa menyesal karena waktu yamg harus kembali direnggut dari mu saat ini,"
"Kamu pernah ngalamin kecelakaan itu kan. Gimana rasanya semua kesempatan untuk hidup bahagia dengan Laila itu direnggut darimu, kamu masih ingat gimana rasanya kan, Lan?"
"Maaf kalau aku harus mengungkit ini. Tapi ku pikir kamu memang perlu diketok untuk sadar kalau kamu tuh hidup di masa sekarang. Jadi nikmatilah semaksimal nungkin!" Ujar Karina mensihati ku.
Aku terdiam. Metasa mental ku dipukul dengan telak oleh ucapan Karina barusan.
Setelah itu, Karina pamit pulang ke rumah nya. Dan tak lama berselang, Mark datang sendiri. Rinaya sudah di antarkan nya pulang ke rumah.
Mark melihat ku termenung di depan teras. Sehingga ia pun seperti hendak mengajak ku berbincang. Tapi aku menolak untuk bercakap-cakap lagi dengan siapa pun di sisa hari ini.
Benak ku yerlalu kalut disebabkan oleh ucapan Karina tadi.
'Menatap masa depan? Boleh kah aku, Yang..?' tanya ku lirih kepada angin dingin yang masuk melewati jendela kamar ku yang terbuka.
***
__ADS_1
Suatu siang, saat aku masih berada di kantor. Mark tiba-tiba saja masuk ke ruang kerja ku.
Kedatangan nya sungguh mengejutkan ku. Karena tak biasanya ia mampir ke ruang kerja ku seperti siang itu.
Dengan wajah panik, Mark berkata.
"Bang! Bang Erlan! Karina, Bang!" Teriak Mark tak jelas.
"Mark.. tolong lah. Jangan bahas soal Karina dulu selagi kita masih di kantor. Ada banyak file yang harus ku.."
Ucapan ku dipotong tiba-tiba oleh Mark.
"Karina kecelakaan, Bang! Parah! Sampai koma!" Pekik Mark dengan nada genting.
Brak.
Map yang ku pegang, seketika terjatuh ke atas meja. Bunyi derak nya terdengar sangat jelas di keheningan ruangan yang memekakkan telinga.
"Jangan bercanda kamu, Mark?" Tanya ku curiga.
Bukan nya kenapa. Akhir-akhir ini Mark memang sering gencar mencomblangi ku untuk berhubungan dengan Karina. Aku sendiri tak tahu. Apa sebab nya sehingga ia melupakan crush nya kepada Karina dengan begitu cepat, dan malah menyodorkan Karina kepada ku dengan begitu gigih.
"Saya serius, Bang! Tadi saya sempat balik ke rumah untuk ambil map yang ketinggalan. Pas mau berangkat lagi, saya gak sengaja dengar penbantu Karina ngomong gitu ke penjaga rumah nya. Katanya dia baru aja ngabarin ke Bang Idham soal Karina,"
"Karena penasaran, ya saya tanya lah ke Bibik nya itu. Soalnya dia panik banget kan. Terus ya bibik nya ngasih tahu kalau Karina baru aja kecelakaan tadi pagi. Dia ditabrak sama mobil.."
Belum selesai Mark bicara, aku sudah langsung melesat keluar pintu dengan kecepatan inner power ku.
Wuushh!!
Benakku begitu kalut, sehingga setiba nya di lobi aku langsung berhenti dan kembali lagi ke atas, ke ruang kerja ku. Di sana, Mark masih berdiri di tempat yang smaa dan menatap bingung ke kursi kerja ku yang kosong.
Aku menepuk bahu nya kencang.
"Mark!"
"Aaaa!" Teriak Mark terkejut.
Aku mengabaikan teriakan nya. Dan langsung menanyakan apa yang lupa ku tanyakan padanya tadi.
"Di mana Karina dirawat?" Tanya ku mendesak jawaban dari Mark.
***
__ADS_1