
Aku sedang duduk bercengkrama dengan Amir saat ku lihat Karina kembali pulang di antar oleh seorang lelaki asing. Lelaki sama yang kemarin mengantarkan Karina pulang ke rumah.
Tak lama kemudian, indera super ku secara tak sengaja menangkap obrolan di antara keduanya dalam jarak belasan meter di antara kami. Di mana aku masih duduk dengan Amir di depan teras rumah Mark. Sementara Karina dan lelaki itu masih berdiri di depan pintu pagar rumah Karina.
'Karina, tunggu dulu! Ada yang ingin ku katakan kepada mu!' panggil suara barito yang ku duga milik lelaki yang telah mengantarkan Karina pulang.
'Ya? Ada apa Gun?' sahut Karina terdengar begitu ramah.
'Aku..menyukai mu. Bisakah kita berhubungan lebih dari sekedar rekan kerja? Maksud ku, alu ingin serius berhubungan dengan mu, Rin..' ungkap lelaki asing tersebut.
Saat mendengar ucapan lelaki itu, tanpa sadar aku malah menggebrak meja di samping ku. Sehingga Amir yang duduk di samping ku pun jadi terkejut.
Buru-buru aku meminta maaf kepada Amir. Dan kembali menajamkan indera super ku lagi untuk mendengar percakapan di depan gerbang rumah Karina itu.
'Gunawan..' panggil Karina kemudian.
Telinga ku seketika menegak berdiri. Aku gak ingin melewatkan satu kata pun jua dari mulut Karina saat ini. Jadi ku abaikan ucapan Amir di samping ku. Dan fokus mencuri dengar perbincangan Karina bersama seseorang yang baru saja menembaknya tadi.
'Nama nya Gunawan. Huh! Terdengar biasa!' aku mengejek nama lelaki itu dalam likiran ku.
'Aku ini janda dengan satu anak. Apa kamu masih mau berhubungan serius dengan ku?' ujar Karina mengungkapkan status nya saat ini.
"Bagus sekali, Rin!" Aku tak sadar telah menggumamkan komentar ku barusan. Sehingga ku dengar Amir lalu memanggil nama ku.
"Erlan? Kamu barusan ngomong sama siapa?" Tanya Amir dengan raut wajah keheranan.
Aku pun tergeragap. Merasa malu karena tertangkap basah telah bergumam sendirian. Amir memang belum mengetahui tentang kemampuan super ku yang bisa mendengar suara dalam jarak jauh hingga seratus meter jauh nya. Jadi lelaki itu jelas akan kebingungan saat mendengar komentar ku atas ucapan Karina tadi.
Karena Amir jelas tak bisa mendengar percakapan Karina dan lelaki bernama Gunawan itu saat ini.
"Ehh.. itu.. mm.. maaf. Aku melantur tadi. Kalau gitu, kita sudahi dulu ya sampai di sini. Kurasa aku perlu beristirahat untuk.. well, yah. Untuk tidur, maksud ku. Haha!" Aku tertawa garing.
Dan aku pun harus menyerah saat tatapan Amir kepada ku masih tetap tak berubah saat aku pergi meninggalkan nya masuk ke dalam rumah.
Amir mestilah mengira aku berubah jadi aneh karena berbincang sendirian tadi.
__ADS_1
"hh.."
Selagi berjalan menuju kamar ku, ku tajam kan kembali pendengaran ku untuk menangkap perbincangan Karina dan juga Gunawan.
'..hati-hati di jalan ya, Gun.. makasih.. untuk semuanya,' ucap Karina se pendengaran ku.
"Hah? Sudah selesai? Seperti nya tadi aku melewatkan banyak hal. Tapi aku penasaran. Bagaimana jawaban Gunawan dan tanggapan Karina lagi ya. Apa sekarang mereka sudah berpacaran begitu?" Gumam ku sendirian saat menutup pintu kamar ku.
Aku pun merebahkan badan ke atas kasur. Dan tetap mengikuti langkah kaki Karina saat ia berjalan masuk ke dalam rumah nya, membuka pintu, lalu menutup nya lagi.
Aku terus mengikuti suara-suara yang dibuat oleh gerak Karina saat ini. Kegiatan penguntitan ini baru ku hentikan saat tiba-tiba saja ku dengar Karina berkata,
'Mandi dulu deh. Badan udah gerah banget. Uhh.. kenapa akhir-akhir ini **** * ku kerasa gatal ya?' gumam Karina dengan suara yang hampir tak terdengar.
Sampai di sana saja kegiatan penguntitan itu ku lakukan. Karena aku masih cukup tahu diri untuk tidak mengikuti kegiatan Karina di kamar mandi.
"miss Vi? Siapa itu ya? Mungkin teman mengajar nya? Tapi.. tadi Karina menyebut nya dengan embel-embel 'ku'? Hm.. ah sudah lah. Mungkin bukan hal yang terlalu penting!" Gumam ku asal.
Setelah nya, aku pun bangkit dan keluar kamar kembali. Ku cari keberadaan Amir yang sedang menyeduh kopi di dapur. Dan setelah nya, aku pun ikut menyeduh kopi pula untuk ku sendiri.
***
Keesokan hari nya, aku kembali bekerja. Rutinitas kerja-pulang ke rumah-kerja sudah menjadi kegiatan ku sehari-hari.
Sikap Mark kepada ku semakin akrab semenjak ia akhirnya mempercayai ku sebagai Papa Erlan nya. Keakraban ini bahkan ditunjukan nya pula saat kami masih berada di kantor.
Kadang kala ia bergurau dan memanggil ku dengan sebutan 'Papa' di saat aku tak sengaja bertemu dengan nya di kantor.
Panggilan ini sontak saja membuat semua orang yang ada di sekitar kami saat itu jadi terkejut dan memandang aneh ke arah Mark.
Tapi Mark tak memperdulikan hal itu. Ia tetap saja mengajak ku berbincang di setiap kesempatan luang yang ia miliki.
Di hari ke empat sejak kedatangan Amir, Nila akhirnya datang berkunjung ke rumah Mark. Saat kami bertemu, Nila agak mengabaikan kehadiran ku. Sehingga sikap nya ini mengundang rasa penasaran Amir.
"Kami kenapa, Nil? Seperti nya kamu tak suka benar dengan Erlan. Padahal dia itu kan.."
__ADS_1
Aku memberi isyarat kepada Amir untuk tak meneruskan ucapan nya. Dan Amir, yang meski kebingungan dengan permintaan ku itu, akhirnya tetap mengikuti keinginan ku juga.
Amir pun tak jadi memberikan kejelasan tentang identitas asli ku kepada Nila.
"Paman. Lama gak ketemu kok yang dibahas malah orang lain sih?!" Keluh Nila merajuk.
Putri ku itu bergelayut manja ke pundak Amir. Sehingga untuk sekilas, aku sempat merasa iri dibuat nya..
'Senang benar Amir bisa digelayuti seperti itu oleh Nila. Padahal kan aku lah Papa kandung nya!' keluh ku tanpa suara.
"Soalnya Paman heran. Princess Paman ini kan terkenal paling cantik dan juga ramah sedunia. Tapi kenapa tiba-tiba jadi jutek begini ya? Kamu tuh gak cocok sayang dengan muka jutek mu itu.." goda Amir kepada Nila.
Giliran aku yang memandang aneh ke arah Amir saat ini. Tak menyangka kalau sang jendral yang terlihat mulai sepuh itu ternyata pandai juga memuji.
"Dih, Paman suka gitu deh! Nila kan jadi malu! Nila tuh memang paling ramah sedunia, Paman. Tapi cuma ke orang-orang baik aja! Kalau ke orqng-orang jahat sih, ngapain Nila baik-baikin! Gak ada faedah nya!" Ujar Nila memandang ketus ke arah ku.
Aku menangkap Nila yang menjulurkan sedikit lidah nya ke arah ku. Dan aku pun terperangah. Karena sikap bocah nya itu sungguh teramat mirip dengan Laila ku semasa hidup nya dulu.
Amir seperti nya mengerti dengan apa yang ada di pikiran ku. Sehingga ia pun mengomentari sikap Nila barusan.
"Nila. Jangan begitu dong. Kamu kadang-kadang masih bersikap kekanakan deh. Padahal umur mu sudah siap untuk menikah lho. Jadi ingat, rasa-rasanya dulu mendiang Mama mu juga sering melakukan itu dengan mendiang bibi Arline mu.." ucap Amir mengenang masa lalu.
"Hahaha!" Tanpa sadar aku terkekeh lepas. Mengingat kalau ucapan Amir itu memang ada benar nya.
Dulu, Laila dan Arline memang begitu kompak dalam segala hal. Termasuk juga soal sikap kekanakan mereka yang sering kali membuat kami di sekitar nya jadi geleng-geleng kepala.
Tak jarang keduanya pun terlibat perseteruan khas macam pertengkaran bocah TK saja. Melempar bantal, menjulurkan lidah, lomba makan terbanyak, dan sejenis nya.
"Ngapain ketawa lebar-lebar?! Ngetawain aku ya!" Tuding Nila dengan pandangan sengit ke arah ku.
"Nila! Jangan begitu! Dia itu kan Papa..Mu!" Tegur Amir tanpa bisa ku cegah.
Nila pun seketika terkejut. Entah karena menerima teguran dari Amir. Atau karena isi dari ucapan Amir barusan.
***
__ADS_1