Meretas Rasa

Meretas Rasa
38. Lelaki Botak?


__ADS_3

Di saat aku merasa jantung ku sudah tak mampu lagi menahan dentuman maha kencang nya, tiba-tiba saja indera pendengaran ku yang tajam menangkap suara langkah orang lain yang hendak masuk ke dalam rumah.


Serta merta aku langsung mengibaskan tangan Karina yang tadi ku pegang. Dan aku langsung mengambil posisi duduk menjauh dari Karina.


Sepanjang aku melakukan itu. Karina masih diam terpaku dalam posisi tubuh nya yang juga masih membungkuk. Kedua mata nya mengikuti gerak tubuh ku.


"Bang, saya lupa bil..ang. eh, Karina masih di sini? Kirain udah berangkat kerja!" Ujar Mark sambil mendekati kami.


Karina langsung menegakkan punggung nya lagi dalam posisi berdiri. Dan aku sempat menangkap kerlingan tajam dari kedua mata nya itu. Ia tampak kesal sekali kepada ku.


"Iya. Ini juga baru mau pamitan. Kalau gitu, aku duluan berangkat ya, Mark!" Pamit Karina kepada Mark. Namun ia mengacuhkan ku.


Begitu sosok Karina menghilang di balik pintu, ku dengar Mark bertanya.


"Karina kenapa, Bang? Kayak marah gitu?" Tanya Mark tiba-tiba.


"Huh? Iya kah? Gak tahu. Kamu salah sangka kali..atau mungkin kamu yang sudah buat dia kesal?" Aku melempar tudingan kepada Mark.


"Hah?? Enggak lah! Tadi pas ketemu di depan pagar dia masih baik-baik aja kok. Pas barusan aja kayak nya muka nya kusut.." Mark mengelak tudingan ku.


"Ah.. cuma perasaan mu aja kali, Mark. Oh ya, kamu tadi lupa bilang apa?" Aku mengingatkan Mark tentang alasan nya kembali.


"Iya! Aku lupa bilang kalau Minggu nanti Nila mau ke sini untuk menginap. Dia mau rayain ultah nya kita dengan cara dinner di sini aja katanya,"ujar Mark memberi tahu.


"Udah? Itu aja?"


"Dan nanti sore sahabat kecil ku, Labib datang. Kemungkinan besar dia mau menginap di sini. Gak apa-apa ya, Bang?" Tanya Mark.


"Oh begitu.. ya gak apa-apa. Ini kan rumah kamu Mark.." aku mempersilahkan Mark membawa teman nya menginap.


"Tapi kan biar nyaman juga gitu, ya saya kaish tahu dulu Bang Erlan. Apalagi kemungkinan nanti saya pulang aetelah maghrib lagi, Bang. Takut nya Labib keburu datang ke sini, nanti tolong suruh dia istirahat aja di kamar saya. Gak dikunci kok!" Imbuh Mark.


"Ya. Nanti akan ku ingat pesan mu itu, Mark!" Jawab ku.


"Makasih ya, Bang! Kalau begitu, saya berangkat sekarang ya, Bang?" Pamit Mark sebelum menghilang kembali keluar rumah.

__ADS_1


Menjelang siang, aku sudah mengaktivasi nomor ponsel ku yang baru. Hal pertama yang ku lakukan adalah menyimpan nomor Mark yang sudah ia tuliskan di belakang kotak bungkus ponsel baru ku.


Setelah menyimpan nomor Mark, aku juga langsung men download beberapa aplikasi yang sekiranya penting menurut ku termasuk adalah layanan pesan antar makanan.


Siang itu, aku memesan makanan ku via on line untuk pertama kali nya dengan ponsel yang baru. Syukurlah aku masih memiliki beberapa lembar uang cash yang dulu pernah Karina berikan kepada ku.


Sebenarnya Mark juga sudah memberi ku sebuah kartu milik ku sendiri. Dan di dalam nya juga terdapat sejumlah uang dengan tujuh digit di saldo nya. Menurut Mark, itu adalah bentuk terima kasih nya karena aku sudah menemani Mama nya di sisa akhir hidup Laila.


Pada mula nya aku menolak uang tersebut. Namun Mark memaksa ku hingga berkali-kali. Jadi lah akhirnya aku menerima kartu ATM tersebut pada akhirnya.


Namun kini, setelah menghabiskan aisa makan siang ku, sore hari nya pemuda bernama Labib itu benar datang ke rumah Mark.


Saat itu Mark belum juga pulang. Karena itulah aku mempersilahkan Labib beristirahat di kamar Mark, sesuai pesan Mark kepada ku tadi pagi.


Selepas maghrib, Mark pulang. Dan kesempatan ku untuk bisa dikenali sebagai Erlan yang sebenarnya oleh kedua darah daging ku itu akhirnya kembali muncul. Terutama saat aku tahu identitas sebenar nya dari seorang Labib.


Saat itu aku sedang berada di kamar ku dan menunaikan shalat. Lalu aku mendengar suara mobil Mark pulang.


Bersamaan dengan itu, ku dengar langkah kaki Labib menuruni anak tangga. (Terima kasih untuk pendengaran super ku!) Hingga akhirnya ia membukakan pintu dan bertegur sapa dengan Mark.


"Bercanda kamu, Mark! Bukan kah baru sebulan yang lalu terakhir kali kita bertemu? Kamu sendiri kan, yang datang mengunjungi kami di Singapore?" Sanggah Labib atas ucapan Mark sesaat tadi.


"Ah.. yang itu sih jangan dihitung lah Bib! Itu kan gak sengaja jumpa nya. Tante Nunik gimana? Udah membaik kondisi nya?"


Deg. deg.


Ba dump. Ba dump.


Begitu mendengar nama Nunik, seketika ingatan ku pun melayang kepada Nunik, sahabat dekat nya Laila dulu.


'Ah! Kenapa aku bisa sampai lupa dengan Nunik?!' aku merutuk sendiri di dalam kamar.


"Alhamdulillah sudah membaik. Mama titip pesan. Maaf karena gak bisa tengokin Tante Laila untuk yang terakhir kali. Soalnya reumatik nya sempat kumat juga kan beberapa pekan terakhir.." ujar Labib, kemudian.


'Jadi, Labib adalah anak dari Nunik? Hmm.. tapi seingat ku anak nya Nunik itu perempuan. Siapa nama nya . Mmmmmm.. baby Nan bukan ya?' aku kembali sibuk menduga sendiri di dalam kamar.

__ADS_1


"Iya gak apa-apa. Kak Nania mau married kan bulan depan? Pesta nya mau di Singapore atau di sini, Bib?" Tanya Mark kemudian.


'Tuh kan! benar Nania nama nya!' aku berseru sendiri di kamar ku.


"Gak tahu. Katanya sih pingin di sini. Tapi melihat kondisi Mama sekarang, kemungkinan besar kayak nya bakal di Singapore deh," jawab Labib.


"Oh.. eh ya, kamu mau di sini sampai hari apa?" Tanya Mark tiba-tiba.


"Ya sampai selesai acara milad kalian lah! Aku udah bilang kan ke kamu, Mark. Kalau aku mau nembak kembaran mu itu pas acara dinner nanti!" Jawab Labib bersemangat.


'Ooh.. rupa-rupa nya Labib menyukai Nila kami. Hmm.. aku harus menilai benar-benar pemuda ini. Apa benar dia adalah pemuda yang baik untuk Nila ku!' aku tetiba membuat tekad baru.


"Wah.. ku rasa kau harus ekstra berpikir soal acara menembak mu itu ya, Bib!" Seloroh Mark kemudian.


"Kenapa memang nya?" Tanya Labib.


"Karena sepertinya adik ku itu sudah menyukai pria lain! Kau kalah cepat, Bib!" Ujar Mark memberi tahu.


Mendengar ucapan Mark itu, aku seolah merasa kalau ia sedang membincangkan ku. Dan ternyata anggapan ku itu benar terbukti dengan ucapan Mark selanjutnya.


"Siapa lelaki yang disukai oleh Nila, Mark? Aku ingin mengenal nya!" Tanya Labib terdengar garang tiba-tiba.


Glek.


Untuk sesaat, aku merasa kesulitan untuk menelan saliva ku sendiri.


"Yah.. itu sih mudah. Kita hanya perlu turun lagi ke bawah dan menjenguk nya di kamar. Kau nanti bisa bertemu langsung dengan rival mu itu, Bib!" Jawab Mark dengan nada santai.


"Maksud mu?!"


"Kau sudah bertemu dengan lelaki lain yang tinggal di rumah ini kan? Dia yang sudah menyambut mu di depan pintu, bukan?" Tanya Mark tiba-tiba.


"Err... Maksud mu lelaki botak itu yang disukai Nila?!!" Pekik Labib terdengar begitu terkejut.


Dan seketika, aku langsung memegang kepala ku yang ceplak. Aku pun seketika bergumam pelan, "aku kan tidak botak!" Protes ku atas ucapan Labib barusan.

__ADS_1


***


__ADS_2