
"Maaf, karena Lala datang terlambat. Lala.."
Seorang wanita muda dengan paras cantik mempesona kini duduk di samping Nila di sofa ruang tengah.
Dia adalah putri angkat Kiyano. Yang juga berarti adalah saudara angkat nya anak-anak dari hubungan pernikahan yang terjalin di antara Kiyano dan juga Laila beberapa tahun berselang wafat nya aku.
Jujur saja, pertama kali aku mengetahui kalau ternyata Laila menikah lagi setelah tubuh asli ku mati, aku sedikit merasakan sakit hati. Satu-satu nya penghiburan ku adalah dalam pernikahan mereka tak memiliki anak kandung hasil hubungan kedua nya.
Fakta ini baru ku ketahui tak lama sebelum Laila dibawa ke rumah sakit. Atau lebih persis nya adalah beberapa hari sebelum ia meninggal.
Lala menangis dalam diam. Dari gelagat nya aku bisa menilai kalau wanita ini berpembawaan jauh lebih tenang dan dewasa dibandingkan Nila.
Ku lihat kemudian Mark yang menepuk-nepuk pundak Lala berkali-kali.
"Gak apa-apa, La. Mama pasti mengerti," hibur Mark dengan suara barito nya yang dipelankan.
"Tapi, Kak.. Lala sungguh menyesal karena gak bisa nemuin Mama untuk yang terakhir kali! Padahal sebenar nya minggu kemarin Lala niat untuk main ke sini. Tapi karena.." Lala menjeda kalimat nya.
Ku sadari Lala yang bertukar pandang dengan Mark sekilas waktu. Dan ingat lah aku pada curhatan Mark kepada Nila beberapa pekan yang lalu.
Tentang Lala yang menyatakan cinta nya kepada Mark. Juga tentang Mark yang menolak Lala karena pemuda itu tak memiliki perasaan lebih dari seorang kakak pada sang adik.
Mark dan Lala tiba-tiba memutus ikatan mata di antara kedua nya dengan begitu saja. Samar ku lihat wajah kedua nya memerah sambil menatap ke dua arah yang berbeda.
'Hmm.. menarik. Seperti nya Mark tak hanya sebatas menganggap Lala sebagai adik angkat nya saja..' komentar ku dalam hati.
"..Karena satu dan lain hal, jadi Lala gak jadi main deh minggu lalu. Sekarang Lala menyesal sekali," curhat Lala tentang penyesalan nya tak bisa menjumpai Laila.
"Ehem!"
Ku lihat Mark yang mencoba melegakan tenggorokan nya dengan berdehem. Baru kemudian menatap Lala kembali dengan pandangan simpatik.
"Jangan terlalu menyalahkan diri sendiri, La. Yang penting, Mama pastilah sekarang juga sudah tenang kan ya di alam nya yang baru. Mama gak lagi ngerasain sakit. Dan pasti sekarang Mama juga bahagia karena bisa berkumpul lagi dengan Papa Kiyano, kan?" Ujar Mark panjang kali lebar.
Nyes..
Hati ku serasa dicubit kencang sekali. Gemuruh cemburu itu kembali datang menerjang menerkam hati ku yang masih merasakan lara atas kepergian Laila.
__ADS_1
'Benar kah begitu, Yang? Kamu bahagia bisa kembali berkumpul dengan Kiyano... Dan meninggalkan ku di dunia ini seorang diri? Jika benar begitu, kamu kejam sekali padaku, La..!' gumam ku getir di dalam hati.
Mark seperti nya menyadari perubahan ekspresi di wajah ku. Sadarlah ia kemudian bahwa aku pasti tak suka dengan perbincangan terkait Kiyano.
Putra ku itu lalu memberi ku pandangan maaf. Sementara aku mengabaikan nya.
Biarlah.. ku rasa amarah ini membantu ku menyembuhkan luka yang masih menganga atas kepergian Laila. Meski pun aku tahu pasti, kalau aku tak akan pernah bisa marah lama terhadap cinta ku itu.
Karena rasa cinta ku kepada nya yang terlampau besar, sehingga pemaafan ku selalu mendahului amarah dan juga cemburu yang kurasakan terhadap hubungan nya bersama dengan Kiyano dulu.
Hh.. Beruntung aku tak bertemu dengan Kiyano. Jika kepulangan ku disambut pula dengan harus melihat wajah nya yang menjengkelkan itu, aku mestilah akan habis-habisan memukuli nya. Karena dia telah berani mencuri cinta ku di saat aku tak bersama Laila.
Walaupun.. yah.. aku juga harus mengucapkan terima kasih kepada Kiyano juga sih. Karena menurut cerita Mark, Kiyano pernah menyelamatkan kedua anak ku dari penculikan sewaktu kedua nya maaih kecil.
Penculikan yang dilakukan oleh Azki, sahabat ku aendiri.
Azki! Ya Tuhan! Entah apa yang telah merasuki sahabat ku hingga ia nekat melakukan hal itu. Tapi menurut cerita Mark (Mark mendengar nya dari cerita Oma Mutia), Azki sebenar nya memiliki masalah kejiwaan. Dan dia ternyata telah terobsesi tentang ku sejak lama.
Aku sungguh tak menyadari hal ini. Karena itu lah, kekesalan ku terhadap Kiyano langsung berkurang banyak saat ku ketahui perjuangan nya dalam menyelamatkan kedua anak ku, dulu.
Meski begitu, tetap saja. Sebisa mungkin aku selalu menghindari topik tentang Kiyano. Karena aku tak bisa menahan rasa cemburu itu membakar dadaku.
"Ya.. Kakak benar. Mama pasti sekarang sudah bahagia karena bisa berkumpul lagi dengan Papa.." sahut Lala sambil merenung.
Cukup sudah! Hati ku mulai kembali memanas, dengaj pernyataan Mark dan juga Lala sesaat tadi.
Aku pun tiba-tiba bangkit berdiri dan hendak menenangkan diri di teras rumah saja.
Tanpa kata-lata, aku pun pergi mengasingkan diri ke teras rumah.
Ku pandangi lalu lalang kendaraan yang bisa terlihat dari teras rumah ini. Dan ingatan ku kembali membayangkan sebentuk wajah yang sudah sangat ku rindukan. Meski perpisahan kami bahkan belum genap waktu seharian.
"Lan.."
Aku terkejut dari lamunan singkat ku, saat ku dengar suara halus memanggil nama ku dari belakang.
Untuk sesaat, aku sempat menduga kalau yang memanggil ku barusan adalah Laila. Karena memang seperti itu lah persis nya nada suara Laila saat memanggil ku.
__ADS_1
Begitu berima. Begitu bernada. Dan.. begitu penuh cinta.
Seketika aku pun berbalik dan menghadap Nila. Aku memandang nya sekilas saja. Sebelum akhir nya melayangkan pandangan ku kembali ke jalanan di kejauhan sana.
Beberapa saat kemudian, ku dengar Nila kembali bicara.
"Setelah ini, apa yang akan kamu lakukan? Maksud ku, kalau kamu mau, kamu masih boleh tinggal di samping rumah ini, Lan. Mama juga gak akan suka kalau kamu pergi dari sini," ucap Nila terbata-bata.
Aku menyadari maksud lain di balik setiap pernyataan yang keluar dari mulut Nila.
Putri ku itu ingin menahan ku untuk tetap berada di rumah ini.
Aku tak menoleh ke arah Nila saat ku berikan jawaban ku kemudian.
"Aku akan pergi dari rumah ini, Nil. Aku akan bekerja di salah satu cabang kantor milik Mark," jawab ku memaparkan rencana.
Ya. Perbincangan tentang pergi bekerja ini sebenarnya sudah ku bicarakan bersama Mark saat kami masih berada di rumah sakit. Tak lama saat rumah sakit mempersiapkan jasad Laila untuk dikebumikan.
Tawaran Mark itu belum sempat ku jawab saat itu. Karena aku yang masih diselimuti oleh kabut kesedihan nan begitu pekat usai kehilangan Cinta ku.
Tapi kini, saat pandangan ku melayang ke lalu lalang kendaraan di kejauhan, sebuah jawaban pun tercetus begitu saja dari mulut ku. Meski bukan Mark lah yang mendengar keputusan ku ini untuk yang pertama kali. Melainkan, Nila yang kini duduk di samping ku.
"Pe..pergi?" Tanya Nila mengulang.
Aku menangkap nada suara nya yang sedikit bergetar. Tahu lah aku kalau Nila seperti nya tak menyukai keputusan ku ini.
Batin ku pun seketika meronta. Ingin ku peluk Nila dan mengatakan kepada nya kalau aku tak akan pernah mengabaikan nya. Namun aku tahu, sikap itu hanya akan membuat perasaan Nila terhadap ku kian membesar saja.
Ku sadari kalau kepergian ku ini semata-mata ku lakukan untuk meredam perasaan cinta yang tak seharus nya ditujukan oleh Nila terhadap ku.
Rasa cinta yang Nila miliki saat ini terhadap ku bukanlah jenis cinta yang ku harapkan ada dalam hati nya.
Aku tak ingin Nila mencintai ku selayak nya seorang wanita pada kekasih hati nya.
Aku ingin Nila mencintai ku seperti seorang anak kepada Papa nya. Karena memang itulah hubungan ku yang sebenar nya terhadap Nila.
Aku adalah Papa nya di kehidupan ku yang dulu.
__ADS_1
***