Meretas Rasa

Meretas Rasa
Dilamar Karina?


__ADS_3

"Asslaamu'alaikum! Ah! Maaf menunggu lama, semuanya!"


Labib tiba-tiba masuk sambil membawa sebuah boks besar seukuran tubuh nya. Selanjutnya ia meletakkan boks tersebut di hadapan Nila.


Perhatian kami semuanya pun langsung tertuju pada boka tersebut.


"Happy birthday Nil.. ini kado ku buat kamu!" Ujar Labib dnegan wajah berseri.


Pandangan pemuda itu lalu bergeser ke samping ku. Dan sepertinya pemuda itu baru tersadar dengan keberadaan Karina. Wajah nya tiba,-tiba memerah malu..


"Ehh, ada tamu juga.. mm.. salam kenal. Saya Labib," sapa Labib dengan ramah ke Karina.


Ku lihat Karina balas menyapa pemuda itu dengan keramahan yang sama.


"Hai, Labib! Nama ku Karina. Aku kekasih nya Erlan!" Sapa Karina melanjutkan akting nya.


Mata Labib pun membuka lebar. Kini pandangan nya fokus tertuju kepada ku.


"Bang Erlan! Abang sudah punya pacar ternyata! Saya kira.."


Ucapan Labib tiba-tiba saja terhenti. Pandangan nya secepat kilat melesat ke arah Nila. Aku tahu apa yang ada di benak pemuda itu. Pastilah ia merasa khawatir kalau Nila akan tersakiti dengan kemunculan Karina sebagai kekasih pura-pura ku.


"Hh.. sudah. Sebaik nya kita langsung makan saja yuk, sekarang!" Ajak ku kepada semua orang di ruang TV saat itu.


"Ya. Tentu. Tentu. Ayo kita makan sekarang!" Ajak Labib ikut mendukung ku.


Pemuda itu lalu melirik ke arah Mark yang terlihat lebih pendiam dari biasanya. Labib terlihat kebingungan. Seperti nya ia belum mengetahui perihal Mark yang juga menyukai Karina.


'Hh.. aku harus mengatakan kepada Mark tentang Karina tidak ya.. tapi sepertinya aku tak usah mengatakan nya saja lah. Mark lebih pantas untuk bersanding dengan Lala..' gumam ku dalam hati.


Baru beberapa langkah berjalan, muncul suara lain Yang datang dari arah pintu yang Masih terbuka separuh. Sepertinya tadi Labib lupa untuk menutup pintu nya, karena harus membawa boks besar hadiah untuk Nila.


"Mama!" Seru suara Rinaya yang langsung berlari menghambur ke arah Karina.


Karina segera berjongkok dan mengajak putri nyabitu berbincang.


"Rinai sudah bangun, Sayang? Maafin Mama ya, Nak. Mama ke rumah Paman tanpa bilang-bilang ke Nai. Soalnya tadi Nai kan lagi bobo ya.. Nai ke sini sama Bibi?" Tanya Karina kepada putri nya itu.


Rinai lalu mengangguk, masih sambil memeluk leher Mama nya.

__ADS_1


"Nyonya, saya ajak pulang Non Rinaya lagi atau bagaimana ya, Nyonya?" Sebuah suara bertanya dari muka pintu.


Tampak nya itu adalah asisten rumah tangga Karina yang tadi telah mengantarkan Rinaya kemari.


"Bibi pulang duluan saja, Bi. Biar nanti Dinaya pupang sama saya aja," tukas Karina dengan ramah.


"Baik, NYonya. Kalau begitu, saya pulang duluan ya, Nyonya.." pamit si Bibi sebelum menghilang pergi.


"Rinaya, Sayang.. Sapa dulu paman nya dong!" Titah Karina menegur sang putri.


Rinaya lalu melepas pelukan nya di leher Karina, kemudian ia mengedarkan pandangan nya ke sekitar.


Pertama kali yang ia sapa adalah aku. Dipeluk nya kaki ku sebisa tangan nya meraih.


"Paman Baik.. ini rumah Paman?" Tanya Rinaya kepada ku.


Aku ikut berjongkok seperti Karina. Baru kemudian menjawab pertanyaan Rinaya.


"Bukan, Nai. Ini ruh rumah Kakak Mark. Itu lho, kakak yang ganteng itu tuh!" Tunjuk ku ke arah Mark.


Mark akhirnya bisa kembali tersenyum santai. Meski ia baru bisa tersenyum kepada Rinaya saja. Sementara kepada ku, Mark tampak menghindari tatapan ku.


Terlebih dengan kedatangan Rinaya. Gadia kecil ku itu terus minta dipangku oleh ku. Bahkan aku pula yang diminta nya untuk menyuapi cake ulang gahun di meja.


Bisa dibilang, yang paling merasa bahagia pada malam itu adalah Rinaya.


***


Sekitar jam sembilan, Rinaya audah kembali mengantuk. Ia bahkan tertidur di pangkuan ku sekitar jam setengah sepuluh nya.


"Semua nya, aku pulang mengantarkan Rinai dan Karina dulu ya.. kalian lanjutkan saja obrolan nya," pamit ku kepada Mark, Nila dan juga Labib.


Acara makan berlangsung seperti acara pemakaman saja. Aku jadi tak betah berlama-lama berkumpul dengaj kedua anak ku yang tengah patah hati itu.


***


Di depan kamar Rinaya..


Cklek.

__ADS_1


Karina baru saja menutup pintu kamar putri nua.


Aku pun langsung berbalik dan hendak kembali pulang ke rumah Mark. Namun Karina mengajak ku mengobrol di perjalanan.


"Bagaimana menurut mu? Apakah usaha kita berhasil malam ini, Lan?" Tanya Karina dengan seringai jahil.


Melihat seringai di wajah cantik nya itu, aki yang tadi nya merasa kesal pada Karina pun tak jadi bisa memarahi nya lagi.


"Hh.. taktik mu sungguhan brutal, Rin. Kamu sudah buat kedua anak ku patah hati di perayaan hari lahir mereka. Seharusnya aku marah kepada mu. Tapi.."


Ucapan ku langsung disambung oleh Karina.


"Tapi kau juga tak keberatan dnegan hasil akhirnya, bukan? Ku rasa kau tak lagi perlu memusingkan bila putri mu itu akan tetap ngotot mempertahankan rasa suka nya kepada mu. Jadi, kau seharusnya berterima kasih kepada ku, bukan?" Imbuh Karina terlihat berbangga diri.


"Hehehe.. yah.. terima kasih kalau begitu. Puas?" Ucap ku bernada sarkastis.


Meski aku juga harus berterima kasih kepada Karina, namun tetap saja. Aku pun pasti merasakan sedih atas patah hati nya kedua anak ku yang telah dewasa itu.


Sekarang aku sudah berada di depan pintu masuk rumah Karina. Tanpa berbalik, aku terus melangkah pulang menuju rumah sebelah. Di mana ku tahu pasti, Mark dan Nila pasti akan memborbardir ku dengan oertanyaan-pertanyaan.


"Jh.." aku kembali menghela napas letih.


Dan sepertinya Karina mendengar suara ******* ku. Sehingga ia pun kembali memanggil ku.


"Lan?" Panggil nya bernada ceria.


Sebenarnya aku masih sedikit kesal pada Karina. Namun karena wanita itu telah berusaha sebisa dirinya untuk membantuku mengatasi masalah terkait Nila, akhirnya mau tak mau aku pun kembali menoleh kepada nya.


"Ya?" Tanya ku dengan nada malas.


Ku lihat Karina tampak menyenderkan samping tubuh nya ke daun pintu. Dan aku sempat kembali dibuat ternganga oleh kecantikan wajah nya saat menerima pantulan cahaya lampau di teras rumah nya.


'Sungguh cantik..' bisik ku tanpa suara.


"Kalau nanti Nila nanya tentang keseriusan hubungan kita. Kamu bisa bilang, kita udah di tahap siap untuk menikah. Oke, Lan?" Imbuh Karina, sebelum akhirnya ia masuk ke dalam rumah dan menutup pintu nya di depan mata ku.


Tik. Tik. Tik..


"Huh? Apa barusan, dia melamar ku?" Gumam ku sungguh merasa bingung.

__ADS_1


***


__ADS_2