Meretas Rasa

Meretas Rasa
Membujuk Nay


__ADS_3

"Di sana? Maksud nya di mana, Rin? Jangan bilang.. dia juga termasuk komplotan yang dulu sudah menculik mu?!" Tuding Idham dengan pandangan menusuk.


Seketika, suasana dalam ruang inap pun berubah menjadi tegang.


"Bb.. bukan, Kak! Justru Erlan adalah orang yang menyelamatkan Rina!" Karina berteriak membela ku.


Entah kenapa, aku merasa tersanjung dengan pembelaan dari Karina itu. Aku pun membalas tatapan merendahkan dari Idham yang dilayangkan nya kepada ku.


"Kau bersungguh-sungguh, Rin? Bukan dia lah yang sebenarnya.."


"Bukan, akak! Sudah jangan bahas itu lagi. Rinaya mau makan!" Tegur Karina mengalihkan perhatian kembali kepada putri nya.


Ketiga pasang mata milik orang dewasa yang ada dalam ruang inap itu pun akhirnya kembali tertuju pada Rinaya. Sementara Rinaya menatap penuh harap pada Bubur yang ada di tangan ku.


Aku pun bergegas mendekati Rinaya kembali. Dan kali ini, Idham


tak lagi mengusik ku.


Saat aku sedang menyuapi Rinaya, ku dengar Idham berkata pada Karina.


"Bagaimana kalau kita makan siang dulu di kantin? Selagi menunggu Rinaya menghabiskan bubur nya?" Ajak Idham tiba-tiba.


"Mana bisa begitu, Kak? Erlan kan sedang menyuapi Rinaya.." tolak Karina. Sepertinya ia merasa tak enak hati kepada ku. Akhirnya aku pun ikut bicara.


"Gak apa-apa, Rin. Gantian saja makam nua. Nanti kalau kamu sudah selesai makan, baru aku makan," aku ikut membujuk Karina untuk makan terlebih dulu. Aku khawatir saat melihat wajah nya yang pucat itu.


"Tuh kan? Dia sendiri yang bilang begitu, Rin. Jadi, ayo, kita makan dulu ke kantin!" Ajak Idham kembali untuk yang kedua kali.


"Mm.. kamu mau aku belikan apa, Lan? Please jangan nolak! Biar aku ngerasa gak berhutang budi sama kamu,"


Ucap Karina terburu-buru, saat tadi ia sempat melihat ku hendak menyanggah ucapan nya lagi.


Ku tatap kedua mata Karina dalam-dalam. Dan aku mengerti, alsan nya tadi memang jujur apa ada nya.


"Sudah lah Rin. Jangan terlalu diambil pusing. Dia memamg suka rela menyuapi Rinaya. Sebagai lelaki yang baik, dia gak mungkin meminta pamrih atas kebaikan yang dia lakukan saat ini," ujar Idham, dengan nada menyindir.


Aku gantian menatap Idham lekat-lekat. Seperti nya firasat ku tentang lelaki di depan ku ini sungguhan benar. Aku jelas tak akan menyukai Idham. Entah sebagai kolega ataupun sekedar teman kenalan.

__ADS_1


Ini dikarenakan lelaki itu selalu saja menabuhkan gendang peperangan di setiap kalimat yang ditujukan nya kepada ku.


"Ya. Santai saja, Rin. Begini saja, belikan apa saja yang menurut mu enak. Aku bukan orang yang pemilih soal makanan," ucap ku pada akhirnya.


Seketika wajah Karina pun terlihat lebih lega. Dan melihat nya, aku pun ikut merasa lega.


"Nah. Kalau begitu, nanti aku akan membelikan mu sesuatu yang enak. Jadi, Aku titip Rinaya ya, Lan.." ucap Karina dengan wajah malu.


Aku memberinya anggukan singkat disertai senyuman. Dan Karina lalu berjalan kembali mendekati Rinaya.


"Sayang, Mama mau makan dulu ya sama Paman Idham? Rinaya baik-baik di sini ya sama Paman Erlan?" Pesan Karina pada putri nya itu.


"Iya, Mama. Rinai titip cake ya Ma? Rasa strawberry?" Mohon Rinaya mengajukan pinta.


"Nah.. Soal itu, nanti dulu deh ya, Sayang. Kita harus tanya dulu ke Bu dokter, apa kamu sudah boleh makan cake atau belum. Gak apa-apa ya, Sayang?" Jawab Karina dengan wajah bersalah.


Wajah Rinaya terlihat kecewa. Sehingga aku pun buru-buru menghibur gadis kecil ku itu.


"Jangan bersedih, Nay. Paman janji, kalau nanti Paman sudah gajian, dan Rinaya sudah sembuh, Paman akan membeli kan Nai cake apapun yang Nay suka. Rinai boleh makan sebanyak yang Nay mau. Boleh kan Mama?" Ucap ku mekinta ijin dadakan pada Karina.


Karina sedikit memelototi ku. Dan aku kebingungan karena tak tahu apa salah ku?


"Err.. mungkin gak sebanyak yang dimaksud Paman Erlan, Ya, Nak. Tapi jelas, kalau Rinaya sudah sembuh nanti, Paman akan mengajak Rinaya pergi membeli cake yang Nia suka. Setuju?!" Ujar Karina berkompromi.


"Paman nanti ajak Rinaya jalan-jalan beli cake? Iya Paman?!" Tanya Rinaya bersemangat.


Dengan linglung, aku pun serta-merta menganggukkan kepala ku.


"Ya. Tentu saja. Paman sudah berjanji kan?" Ucap ku mengiyakan ucapan Karina tadi.


Ku lirik Karina, dan ku dapati ia terkikik geli menertawai ku.


'Ah.. seperti nya wanita itu baru saja mengerjai ku. Yah. Sudah lah..' komentar ku dalam hati.


Karina dan Idham pun akhirnya berlalu pergi. Sementara aku menyuapi Rinaya hingga semua bubur porsi nya tandas tak bersisa.


Aku juga menyuapkan obat yang harus diminum oleh Rinaya. Dan jujur saja, meminta anak seumuran Rinaya untuk minum obat sungguh bukan pekerjaan yang mudah.

__ADS_1


Aku heran dengan ibu-ibu lain yang bisa memastikan anak mereka menelan obat hingga habis. Karena Rinaya yang menurut ku gadis yang penurut saja ternyata membuat ku kesulitan untuk membujuk nya agar meminum obat.


"Gak mau, Paman! Obat nya pahit..!" Tolak Rinaya untuk ke sekian kali.


"Tapi dengan minum obat ini, kamu nanti bisa cepat sembuh, Nai.. ayo, diminum ya?" Aku kembali membujuk.


"Enggak! Gak mau! Nai mau Mama! Huaaa!!"


Melihat Rinaya nangis, seketika aku pun jadi ingin ikut menangis. Ehh? Tidak. Maksud ku, aku jadi bingung sebingung-bingung nya. Beruntung sekali dewi penyelamat ku akhirnya tiba jua.


"Eh, Sayang.. kenapa nangis, Nai? Ini Mama sudah datang. Kenapa, ayo Nai, cerita sayang..?" Karina tiba-tiba saja menghambur masuk ke dalam ruangan. Diikuti oleh Idham di belakang nya yang membawa tentengan plastik.


"Huu..."


"Cup.cup.cup.. maafin Mama ya, Nai, mama lama ya? Maaf ya, Sayang.." ujar Karina membujuk anak nya agar kembali tenang.


"Kamu apain Rinaya?" Pertanyaan menuding itu sudah ku prediksikan akan ku terima. Namun tidak dari orang yang tak seharusnya.


Ku tatap Idham dengan pandangan garang. Berani benar ia menuduh ku melakukan sesuatu kepqda Rinaya? Coba saja dia sendiri yang menyuruh Rinai agar mau meminum obat. Bisa jadi lelaki itu justru akan lebih membuat gadis kecil ku menangis.


"Rinaya gak mau minum obat nya. Aku sudah berusaha membujuk," aku pun mengaku kepada semua orang di sana.


"Ooh.. begitu.. Rinai belum minum obat dari Bu Dokter, iya?" Tanya Karina pada putri yang kini bersembunyi dalam pelukan nya.


Rinaya lalu menggeleng.


"Kenapa belum, Sayang?" Tanya Karina bernada sedikit protes.


"...pahit, Ma.." jawab Rinaya ikut mengajukan protes.


"Tapi kan Nay tadi sudah janji mau habisin makanan dan obat nya? Janji itu kan harus ditepati. Sama seperti Paman Erlan yang sudah berjanji untuk ajak Nay jalan-jalan nanti. Coba, Nay suka gak, kalau Paman Erlan ingkar sama janji nya? Gak jadi jalan-jalan beli cake? Nay mau?" Tanya Karina dengan pertanyaan konstruktif.


Lagi-lagi ku lihat Rinaya menggeleng. Kali ini dengan gerakan yang lebih kencang.


"Nah. Kalau begitu, Nay juga harus tepati janji Nay dong. Habisin obat nya ya, Sayang?" Bujuk Karina kembali.


Dan, ajaib sekali. Perlahan, ku lihat Rinaya menganggukkan kepala nya pelan. Walaupun wajah nya merengut tak suka.

__ADS_1


'Luar biasa! Seperti itu ternyata caranya para ibu membujuk anak nya!' aku berhuray tanpa suara.


***


__ADS_2