
"Hey, Lan! Seperti nya aku mulai menyukai mu. Jadi, bisa kah kau menyukai ku juga?" Tanya Nila dengan pandangan berani.
"Maksud kamu, kamu suka aku karena aku baik kan, Nil? Ah! Ucapan mu itu membuat ku kaget sekali, Nil. Ya. Ya. Aku juga menyukai mu. Tentu saja!" Jawab ku santai.
"Bukan begitu, Lan... Maksud ku.. aku tuh suka kamu, selerti kamu yang menyukai.. Mama ku. Begitu maksud ku.." ucap Nila dengan suara lirih.
"Hah?!!"
Aku terkejut setengah mati. Benar-benar terkejut dengan pernyataan Nila tadi.
"Su..suka.. cinta, maksud kamu, Nil?!" Tanya ku lagi memastikan.
"Ya," jawab Nila kembali dalam bisikan pelan.
Aku terkejut setengah mati saat mendengar pernyataan cinta Nila tadi.
"Tapi, Nil. Aku ini Papa kamu!" Jawab ku seketika di detik berikut nya ia menyatakan cinta.
Ku lihat Nila mengerutkan kening. Tampak jelas kalau ia tak menyukai pernyataan ku barusan.
"Kalau kamu mau nolak aku, ya gak apa-apa. Tapi jangan kasih alasan yang absurd kayak gitu dong, Lan. Itu gak masuk diakal banget kan?" Balas Nila yang kini menyilangkan kedua tangan nya di depan dada.
"Memang ini gak masuk di akal. Tapi, Nil, aku memang sungguh Papa kamu, Erlan!" Aku mencoba untuk menjelaskan status ku yang sebenar nya kepada Nila.
Selama ini memang aku baru menceritakan tentang transmigrasi yang terjadi kepada ku, pada Mark. Sementara Nila belum sempat ku ceritakan.
Kenapa begitu? Karena baru akhir-akhir ini saja Nila bersikap ramah kepada ku. Karena sebelum-sebelum nya putri ku itu mencurigai ku memiliki niatan buruk terhadap Mama nya.
"Stop! Oke. Aku tahu kalau kamu sepertinya memang cinta banget sama Mama. Dan Mama sepertinya juga menagganggap kamu seperti mendiang Papa Erlan. Entah bagaimana?" Nila memotong cerita ku.
Lebih lanjut lagi, Nila kembali berkata.
"Tapi aku juga gak mau tahu cerita cinta yang kamu punya bareng Mama. Aku cuma mau kamu tahu kalau aku suka kamu, Lan. Menurut ku, lebih baik aku mengatakan nya sekarang. Jadi kamu bisa segera putusin untuk ngasih jawaban ya atau ya ke aku," imbuh Nila dengan kalimat yang absurd pula.
'Apa kata nya tadi? Aku hanya punya jawaban ya dan ya saja? Dia gila atau apa sih?!' batin ku protes.
__ADS_1
"Jangan aneh deh, Nil. Jelas aku bakal nolak kamu, lah! Kamu kan anak ku bersama Laila!" Jawab ku lantang.
Nila langsung melotot kaget. Dan aku pun balas memelototi nya.
"Lagi-lagi kamu ngasih jawaban yang gak masuk diakal! Siapapun juga gak bakal percaya sama omongan mu itu lah, Lan! Aku anak kamu dan Mama? Memang nya waktu kalian ML-an, kamu umur berapa sih? Dua atau tiga tahun, hah?" Tanya Nila dengan pandangan meledek.
ML \= making love.
Aku semakin memelototi nya.
"Kurang ajar benar kamu, Nil! Jaga ucapan mu! Tega benar kamu menuding Mama mu melakukan itu sama anak kecil!" Amuk ku marah.
Sekilas ku tangkap tatapan bersalah di mata Nila. Apalagi saat kulihat ia melorik bersalah kepada Mama nya yang masih tertidur hingga saat ini jua.
"Hey! Aku kan cuma mengandaikan! Kan kamu sendiri yang bilang kalau aku ini anak kamu dan Mama. Memang nya sekarang umur kamu berapa sih? Paling juga gak lebih dari tiga puluh tahun kan?!" Balas Nila mengamuk.
"Syyuutt! Jangan berisik! Mama kamu lagi tidur!" Aku menegur Nila, saat ku lihat pergerakan pada tangan Laila ku.
Tidur nya mungkin terusik dengan kebisingan yang diciptakan oleh perbincangan ku bersama Nila.
Nila balas memelototi ku dan berbisik pula.
Saat aku melihat kembali pergerakan pada tangan Laila, langsung saja aku mendekati Nila lalu menarik tangan nya keluar kamar.
Sampai di depan kamar Laila, aku hendak melepaskan pegangan tangan ku, namun Nila malah menahan nya erat.
"Jadi, bisa kan kamu pertimbangin perasaan ku ini, Lan? Maksud ku, kamu bisa juga kan belajar menyukai ku seperti kamu menyukai Mama ku saat ini?" Pinta Nila penuh harap.
"Aku gak bisa, Nil! Kamu jangan ngaco deh! Aku tuh Papa kamu! Harus ku bilang berapa kali sih biar kamu mau ngerti!" Ucap ku penuh emosi.
Plak.
Dalam gerakan kilat, tangan yang tadi menahan genggaman ku erat-erat, tiba-tiba saja melepaskan diri nya lalu mendaratkan tamparan kencang ke pipi kanan ku.
Dengan mata memerah karena marah, Nila pun mengumpati ku.
__ADS_1
"Dasar breng sek! Aku bukan anak mu, Lan! Kamu memang gila!" Umpat Nila sebelum akhirnya berlari masuk ke dalam kamar milik nya.
"Nil! Nila!" Aku mengejar Nila segera.
Sayang nya pengejaran ku berakhir gagal. Karena Nila telah terlebih dulu menutup pintu kamar nya kencang-kencang, tepat di depan wajah ku.
BRAK!
Tepat sebelum pintu tertutup, ku dapati luka pada mata bening milik putri ku itu.
Ya. Aku telah melukai perasaan nya. Aku telah melukai Nila.
***
Beberapa hari berikut nya, ku sadari Nila menghindari ku. Ia selalu terburu-buru berangkat ke kampus. Tak sarapan pagi. Dan selalu pulang larut.
Inti nya, Nila benar-benar menghindar untuk tak bertegur sapa dengan ku.
Aku membiarkan nya bersikap seperti itu. Karena aku sendiri bingung untuk menyikapi nya dengan cara bagaimana lagi?
Ku pikir, mungkin dengan tak saling bertegur sapa seperti ini, akan membuat perasaan absurd Nila terhadap ku itu perlahan menghilang. Seperti debu yang disapu air hujan secara perlahan.
Hanya saja aku meminta tolong pada Bik Tum untuk membuatkan Nila bekal. Aku khawatir bila Nila tak sarapan pula di kampus nanti. Jika begitu, tentu lah aku akan merasa bersalah sekali. Terutama kepada Laila.
Jika Laila tahu tentang perasaan cinta yang ditujukan Nila kepada ku, ku tebak ia pun akan sama terkejut nya seperti ku. Namun aku sengaja menutupi tentang permasalahan ini dari Laila. Aku tak ingin menambah beban pikiran Cinta ku itu.
Apalagi akhir-akhir ini kondisi kesehatan Laila kembali menurun. Telah dua kali aku dibuat panik karena Laila tiba-tiba saja berhenti bernapas.
Ya. Dalam dua kejadian itu, aku benar-benar dibuat ketakutan setengah mati, bila Cinta ku akan pergi meninggalkan ku pula.
Nila dan Mark sama panik nya dengan ku. Karena itulah, kami bersepakat untuk membawa Laila kembali ke rumah sakit.
Sayang nya, usaha kami itu tak bisa menghalau suratan takdir yang telah digoreskan pada garis tangan Laila.
Karena tepat di hari kedua Laila dirawat di rumah sakit, Cinta ku itu menghembuskan napas terakhir nya di sana.
__ADS_1
Ya. Laila ku telah tiada, kini.
***