Meretas Rasa

Meretas Rasa
Karina Koma


__ADS_3

"Di mana Karina dirawat?" Tanya ku mendesak jawaban dari Mark.


"Di Rumah Sakit Bunda Mulia ruang Anyelir nomor.7.."


Begitu ku dengar informasi yang ku butuhkan, aku langsung pergi meninggalkan Mark lagi secepat inner power ku mampu melajukan diri ini.


Wuushh!!


Ku terabas angin siang di bawah matahari yang mulai terik. Keramaian jalanan bagi ku tak berarti karena aku mampu berpacu di antara sela-sela mobil dan motor yang berlalu lalang.


Tak sampai sepuluh menit, aku pun tiba di lobi rumah sakit Bunda Mulia. Aku langsung menujukan langkah ke meja resepsionis dan bertanya kepada perawat wanita yang berjaga di sana.


Tapi mungkin karena kemunculan ku yang terlalu tiba-tiba sehingga membuat perawat itu terkejut hingga terjengkang dari atas kursi nya. Dipikir nya aku mungkin hantu yang muncul untuk menakuti nya.


"Permisi.." ucap ku sedikit terengah.


"Aargh!"


Gabruk.


Perawat itu benar terjatuh ke belakang. Ku tepis rasa bersalah yang muncul ke permukaan. Dan menanyakan kepada nya jalan menuju ruang rawat Karina.


"Maaf, Sus. Ruang Anyelir nomor 7 di mana ya?" Tanya ku dengan nada genting.


Setelah memastikan kalau aku sungguhan manusia, perawat itu lalu menjawab pertanyaan ku. Meski dengan terbata-bata.


Dan lagi-lagi aku langsung melesat pergi meninggalkan penjaga resepsionis yang sudah pasti ketakutan dan menganggap ku hantu nyasar di siang bolong itu.


Aku tak perduli. Bagi ku yang terpenting saat ini adalah Karina.


Jantung ku berdetak begitu cepat, oleh sebab rasa takut yang mendera seluruh pikiran dan jiwa ku.


Aku sungguh takut. Sungguh benar-benar takut.


'Bagaimana jika kedatangan ku terlambat? Seperti kepulangan ku menemui Laila kembali yang juga sangat amat terlambat..' benak ku dipenuhi oleh beragam pemikiran sejenis.


Tak sampai dua menit, aku sudah sampai di ruangan tempat Karina dirawat.


Begitu masuk, tak ada siapa pun di sana. Jadi tak ada lagi yang terkejut dengan kemunculan ku yang tiba-tiba.


Meski begitu, gantian aku yang dibuat terkejut, saat ku dapati sosok Karina dalam balutan perban hampir di sekujur kepala, lengan dan juga kaki nya. Jejak-jejak darah tampak menembus perban-perban itu.


Aku langsung menghampiri Karina yang tak sadarkan diri. Ku raih jemari tangan nya dengan selembut dan sepelan mungkin. Aku tak ingin membangunkan nya dalam rasa sakit akibat sentuhan ku yang mungkin kasar.


Ku tatap wajah Karina yang tampak tidur dalam damai. Jika saja bukan karena lebam dan lecet di pipi dan juga dagu nya. Sebelah mata Karina pun membengkak.


Bisa ku bayangkan, betapa besarnya bahaya maut yang telah dilewati oleh wanita di hadapan ku itu.


"Rin.."

__ADS_1


Aku memanggil nama Karina dengan selembut mungkin. Namun hening saja yang menyahuti panggilan ku tadi.


"Rin.." panggil ku berulang.


Tapi lagi-lagi tak ada sahutan dari Karina yang terbaring diam.


Lama ku pandangi wajah Karina sambil mengusap jemari tangan nya yang dipasangi jarum infus.


Berbagai pikiran berkecamuk di benak ku. Entah itu rasa sedih, bersalah, menyesal, dan juga rindu, semuanya campur aduk menjadi satu.


Jika saja waktu bisa ku putar ulang, aku ingin menyimpan memori untuk membahagiakan Karina lebih lama.


"Andai saja.."


Gumaman ku terpotong oleh suara seseorang yang ku kenal. Suara itu datang mendekati kamar inap Karina.


"Urus semua yang bisa kami tangani sendiri dulu, Jer. Aku harus mengurus adik ku dulu yang kecelakaan.." suara Idham, kakak angkat Karina yang sedang menelpon seseorang.


"Ya. Aku percaya padamu. Kalau ada yang tak bisa kamu tangani, baru hubungi aku, oke?" Ucap Idham kembali.


Cklek.


Pintu kamar inap Karina terbuka. Dan Aku pun bergegas menyamar kan diri di pojok ruangan. Ku gunakan inner power ku untuk mengkamuflase kan diri, sehingga Idham tak menyadari keberadaan ku di ruangan itu.


Beruntung kemeja yang ku kenakan saat ini berwarna putih. Jadi ini cukup mempermudah usaha kamuflase yang ku lakukan.


Ku perhatikan gerak-gerik Idham saat menghampiri Karina yang terbaring diam.


Ku picingkan mata ku. Aku langsung didera oleh perasaan tak suka pada aksi pemuda itu. Terutama pada cara pandang nya terhadap Karina. Yang menurut ku tak seperti pandangan milik seorang kakak kepada adik nya.


Kemudian ku dengar Idham berbicara dengan suara yang sangat pelan.


"Kenapa kamu bisa begini, Rin? Kamu bikin aku khawatir banget.."


Suasana kembali hening cukup lama. Sebelum akhirnya Idham melanjutkan kembali perkataan nya.


"Kalau boleh, aku mau kita selalu bersama-sama, Rin. Kapan pun dan di mana pun. Sayang nya, kamu udah nolak aku. Kenapa Rin? Kita kan gak ada hubungan darah?!" Tanya idham dengan nada sedikit meninggi.


'Benar dugaan ku selama ini. Idham memang mempunyai perasaan lebih dari sekedar kakak kepada Karina..' gumam ku dalam hati.


"Sayang nya, kamu sudah terlanjur menganggap ku sebagai kakak. Cih.kakak! Bukan itu yang aku harapkan dari kamu, Rin! Bukan itu!" Idham mulai terlihat gusar.


Aku was-was dan bersiap untuk menyergap pemuda itu, semisal ia bermaksud untuk mencelakai Karina ku.


'Ah.. Karina ku.. lagi-lagi aku menyatakan kepemilikan atas wanita itu.. Karina.. apa yang sudah kamu lakukan pada ku?' lanjut ku bergumam dalam hati.


Dan aku kembali mendengar suara Idham bermonolog.


"Dulu aku menyesalkan karena tak tegas meminta mu untuk menikah dengan ku, Rin. Sehingga kamu akhirnya malah diculik di Manhattan..!" Ujar Idam dengan nada menyesal.

__ADS_1


"Lalu kamu kembali, Rin. Sayang nya jawaban mu masih juga sama. Kali ini, aku malah sangat terlambat. Karena ternyata kamu sepertinya sudah menyukai lelaki lain.." lanjut Idham berbicara sendiri.


'Apa yang dimaksudnya itu adalah..aku?' aku menebak-nebak.


"Akhirnya aku kembali mengalah, Rin. Apapun itu asal kamu bahagia. Tapi pada akhirnya kamu malah jadi begini! Di mana lelaki yang kamu sukai itu sekarang, Rin?! Dia bahkan gak ada di sini untuk menemani mu!" Kecam Idham dengan nada suara yang kembali meninggi.


Aku yang mendengar nya, langsung menunduk merasa malu.


Aku mungkin sudah berada lebih dulu di kamar inap Karina, dibandingkan dengan Idham. Akan tetapi keberanian ku jauh di bawah pemuda itu yang berani menampakkan dirinya secara terbuka. Tak seperti aku yang begitu pengecut dan malah bersembunyi di balik kekuatan inner power kamuflase ku ini.


"Di mana lelaki itu, Rin?! Gak ada! Bik Tum cerita, kalau teman lelaki yang kamu sukai itu sudah tahu kalau kamu kecelakaan. Jadi seharusnya lelaki itu juga sudah tahu, bukan?" Lanjut Idham berkata-kata.


"Tapi di mana dia sekarang Rin? Dia gak ada untuk kamu! Aku benci lihat kamu berjuang sendiri mengejar lelaki yang gak punya rasa sama kamu itu, Rin. Aku benci setiap kali kamu cerita soal lelaki itu yang punya masalah dengan masa lalu nya. Aku benci dia, Rin. Jujur saja!"


"..."


Keheningan di ruang inap Karina itu mencekik benak dan jiwa ku. Aku yang mendengar pernyataan Idham tadi tak memiliki keberanian untuk sekedar menyahut atau hanya menunjukkan diri ku saja.


Bahkan saat Idham pergi keluar lagi untuk menemui dokter yang merawat Karina, aku masih menyelubungi tubuh ku dengan inner power kamuflase di pojok ruangan inap ini.


Pengecut.


Pecundang.


Ku rasa aku memang seperti itu.


***


Hari terus berganti, hingga tak terasa dua minggu berlalu sudah sejak kecelakaan Karina terjadi.


Karina masih koma tak sadarkan diri. Dan ini membuat ku cemas setengah mati.


Menurut penuturan dokter yang ku dengar, secara fisik, tubuh Karina sebenar nya mulai stabil dan mendekati pulih. Namun aneh nya wanita itu tak kunjung sadarkan diri.


Entah apa penyebab nya, tapi yang jelas dokter mengatakan penyebab nya bisa oleh berbagai faktor. Salah satu nya adalah keinginan dari pasien untuk bangkit sadar yang entah terlalu kecil, sehingga respon otak nya pun membalas dengan tetap membuat nya terbaring koma.


"Rin.. bangun lah.. sudah lama kamu di rumah sakit ini, Rin.. kamu gak ingat Rinaya apa? Kamu gak ingat Mama kamu apa? Kamu gak ingat juga sama.. aku apa?" Bisik ku di dekat Karina, saat hanya ada kami berdua saja di kamar inap nya.


Selama dua minggu ini, Idham lah yang paling sering menjaga Karina di rumah sakit. Pemuda itu biasanya akan datang di waktu pagi dan pulang pada malam hari nya.


Dan sepanjang Idham berjaga, aku sama sekali tak berani menunjukkan diri ku di hadapan pemuda itu. Rasa-rasa nya ego ku sedikit terpukul oleh ucapan Idham yang mengatakan bahwa aku tak memperdulikan Karina.


Padahal kan sebenar nya aku.. sangat perduli pada adik angkat nya itu.


Tapi aneh nya, aku tetap saja bersembunyi di balik bayang setiap kali kunjungan ku ke kamar inap Karina ternyata bersinggungan dengan jam besuk nya Idham.


Fokus ku saat ini adalah agar Karina bisa segera tersadar dari koma nya.


Dan harapan ku itu akhirnya terkabul juga pada hari ke tujuh belas sejak Karina dirawat di rumah sakit. Karina akhirnya sadarkan diri di penghujung sore itu.

__ADS_1


***


__ADS_2