
"Karena aku melihat mu dengan mata kepala ku sendiri, Lan..ah.. tidak. Bukan aku sih. Maksud ku adalah.. ruh ku, Lan.." ungkap Karina dengan jujur.
"??!!!" Jawaban nya itu sontak saja membuat bulu kuduk ku meremang seketika.
"Maksud kamu, Rin..?" Tanya ku dengan kalimat menggantung.
"Anggap saja seperti itu, Lan.. hh.. aku haus.." elak Karina untuk bercerita.
Aku tak memaksa nya. Kaena ku pikir ia mestilah masih terlalu letih untuk bercerita panjang kali lebar.
Dengan sigap, ku sodorkan segelas air putih di atas nakas ke tepi bibir Karina. Dan ia pun meneguk nya dengan rakus.
Setelah separuh isi gelas habis ditandasnya, Karina lalu berkata lagi.
"Kenapa kamu ada di aini, Lan? Apa yang membawa mu ke sini?" Tanya Karina perlahan.
Mendengar nya bertanya seperti itu, tiba-tiba saja aku dilanda oleh rasa gugup. Aneh nya, mata ku seolah sudah terpaku dan tak bisa berpaling dari dua gemintang cokelat milik Karina.
"Aku.. mau minta maaf, Rin.." ungkap ku jujur, pada akhirnya.
Karina kembali terdiam dan memandang ku lama. Sesaat kemudian, ia memejamkan kedua mata nya. Dan aku sedikit gelisah karena tak lagi bisa membaca isi hati nya lewat matanya yang kini telah tertutup itu.
"Cuma itu aja? Minta maaf?" Tanya Karina lagi.
Kali ini, aku menangkap kekecewaan dalam nada suara nya.
Menyadari kalau aku telah membuat nya terluka, buru-buru ku raih tangan Karina untuk kemudian ku kecup sepenuh hati.
Setelah melalui dua minggu lebih berpikir, aku akhirnya sampai pada keputusan untuk menerima perasaan cinta yang entah sejak kapan ku miliki terhadap wanita di depan ku itu.
Aku mengaku telah kalah. Aku menyadari bahwa hati ku telah diretas oleh perasaan cinta yang sudah sangat lama ku patri kan hanya untuk Laila seorang.
Jujur saja, bahkan saat aku menyadari perasaan cinta ini pun, aku masih tetap mencintai Laila ku.
Ketiadaan nya di dunia ini tak lantas meniadakan pula rasa cinta ku terhadap nya. Tapi aku tak bisa menjelaskan, mana cinta yang lebih besar. Apakah cinta ku kepada Laila, ataukah cinta ku kepada Karina.
Dua-dua nya menempati tahta nya sendiri dalam hati ku. Tak tergantikan. Tak tersaingi. Aku sudah berdamai dengan perasaan ku sendiri untuk menerima dualisme cinta ini.
Aku tak ingin lagi menjadi pecundang yang lari dari perasaan ku sendiri.
Ku putuskan untuk merengkuh rasa cinta yang secara perlahan telah meretas jauh ke dalam hati ku. Hingga membuat ku tak mampu berpaling dari nya, walau sekejap mata pun jua.
Ya. Aku sungguh mencintai Karina.
"Aku mencintai mu, Rin.." ungkap ku jujur pada akhirnya.
Kedua netra Karina seketika terbuka lebar. Ia menatap ku lama dengan pandangan yang lagi-lagi sulit untuk ku artikan.
Setelah tersiksa dalam kediaman yang dilakukan oleh wanita itu, akhirnya Karina membalas pernyataan cinta ku dengan kalimat serupa darinya.
Dengan tersenyum, Karina pun berkata.
__ADS_1
"Aku juga mencintai mu, Lan. Sudah sejak lama aku mengatakan nya padamu, bukan?" Ujar nya seraya tersenyum simpul.
Detik berikut nya. Aku meraih tangan nya untuk kemudian ku genggam dengan penuh kasih.
Kami saling bertatapan sambil bertukar senyuman yang dibinari oleh serbuk rasa cinta dan juga kasih.
Ku dapati kedamaian merengkuh jiwa ku, usai kami akhirnya saling terbuka dan menerima perasaan cinta yang baru terjalin ini.
Sementara itu, dalam hati, ku bisikkan kalimat cinta ku kepada Laila.
'Ridhoi aku untuk mencintai lagi, ya, La? Aku berjanji. Nama mu pun akan selalu ku bisikkan di setiap waktu ku. Jangan bersedih, karena aku yakin. Pertemuan kita akan kembali terjadi nanti..' gumam batin ku melirih.
***
Beberapa bulan berikut nya..
Hari ini, Nila menikah dengan Labib. Dan berdampingan dengan kursi pelaminan mereka juga, Mark bersanding serasi dengan Lala.
Ya. Kedua putra dan putri ku itu akhirnya melepas lajang nya di waktu yang bersamaan. Sungguh, ini hanya kebetulan semata. Kebetulan saja Nila akhirnya menerima lamaran Labib kepada nya sekitar sebulan setelah kecelakaan Karina terjadi.
Dan di waktu yang bersamaan, Mark juga akhirnya menyadari kalau ia memiliki perasaan lebih terhadap Lala. Itu disadari nya saat mereka tak sengaja bertemu kembali saat acara lamaran Nila dan Labib.
Saat itu, Lala datang bersama seorang lelaki yang diakui nya sebagai teman dekat nya.
Sekitar dua minggu setelah nya, Mark memberi kabar kepada ku, kalau ia oun berencana untuk menikahi Lala segera.
Saat mendengar penuturan nya itu, aku sempat dibuat terkejut. Tapi aku oun telah lana tahu tentang perasaan Mark tersebut. Jadi aku langsung memberikan restu kepada nya.
Jadilah akhirnya si kembar menikah di waktu yang bersamaan.
Acara berlangsung sangat meriah. Ada banyak tamu yang hadir untuk memberikan ucapan selamat pada kedua anak ku itu.
"Yang.. Rinaya udah mengantuk. Aku pulang duluan ya?" Tegur Karina di samping ku.
Aku yang sedang melamun melihat kedua anakku di pelaminan pun segera tersadar dan menoleh ke arah Karina.
Ia kini sedang menggendong Rinaya yang sepertinya sudah tertidur.
Dengan sigap, ku ambil tubuh Rinaya untuk selanjutnya ku pindahkan hingga menyandar ke bahu ku kini. Selanjutnya ku balas sahutan Karina ku tadi.
"Oke. Aku antar kalian pulang ya, Rin.." ucap ku menawarkan diri.
"Tapi.. acaranya kan belum selesai.." sangga Karina dengan raut gak enak hati.
"Gak apa-apa. Mereka akan mengerti kok," kilah ku beralasan.
Kemudian aku mengajak Karina keluar dari ruang pesta dan menuntun Karina masuk ke dalam mobil. Rinaya kini kembali berada di pelukan Mama nya itu. Sementara aku duduk di depan roda kemudi.
Brak.
Pintu mobil ku tutup kemudian. Dan selanjutnya, mobil yang ku kendarai pun akhirnya melaju, membelah jalanan.
__ADS_1
***
Begitu sampai di depan rumah Karina, aku kembali meraih tubuh Rinaya dan menggendong nya hingga ke kamar. Setelah mengantarkan gadis kecil ku itu tidur di kamar nya, aku pun kembali turun dan keluar dari rumah itu. Dengan Karina yang mengekor di belakang ku.
Sesampai nya di depan pintu..
"Aku balik pagi ke pesta ya, Rin. Kamu juga, istirahat lah.." pesan ku pada Karina sambil tersenyum hangat.
Karina membalas senyuman ku dengan senyuman milik nya yang secerah mentari. Membuat ku silau oleh rasa cinta yang ku rasakan dalam diri ini.
"Kamu juga, Lan.. jangan bergadang ya.." pesan Karina kemudian.
Aku hendak kembali ke mobil ku, namun langkah ku tertahan oleh panggilan Karina yang tiba-tiba.
"Lan!" Panggil Karina.
"Hmm?" Tanya ku langsung membalikkan badan.
"Tentang kita, aku mau bulan depan ya pesta nya! Gak usah yang mewah-mewah! Yang sederhana aja!" Pinta Karina tiba-tiba.
Aku terkekeh lepas. Cintaku ini memang paling berani mengemukakan keinginan nya. Dan aku seringkali ditodong dengan keinginan-keinginan nya itu.
"Iya.. kita menikah sebulan lagi ya, Rin! Jangan lupa pakai kebaya merah!" Pinta ku membalas nya dengan sedikit nada canda.
Karina tak marah. Ia malah membalas candaan ku dengan candaan pula.
"Kamu juga, Lan! Jangan lupa pakai topi blangkon ya! Hihihi.." kekeh nya terlepas begitu renyah terdengar di telinga.
"Siap!! Udah dulu ya, Yang.. aku mau balik dulu ke pesta anak-anak!" Pamit ku kemudian.
"Iya! Jangan lupa bawa oleh-oleh nya ya!" Pesan Karina untuk yang terakhir kali.
Dan aku membalas nya dengan tawa yang terlepas bebas.
***
Ah.. cinta..
Hadirnya sungguh bagai melodi merdu yang membuat hati ini berkubang dalam bahagia..
Meski terkadang melodi sendu nya pun membuat hati ini begitu nelangsa,
Namun cinta tetap lah cinta..
Keberadaan nya menciptakan nuansa bagi jiwa yang gersang bak Padang sahara..
***
TAMAT.
***
__ADS_1