Meretas Rasa

Meretas Rasa
39. Fakta tentang Labib


__ADS_3

Sekitar setengah jam kemudian, pintu kamar ku diketuk oleh Mark.


Tok. Tok. Tok.


"Bang, Mark masuk ya?" Sapa Mark di balik pintu.


"Ya, Mark. Masuk saja!" Aku mempersilahkan.


Aku yang sudah rebahan pun segera bangun dan mengambil posisi duduk.


Mark lalu masuk dan mendekati ku.


"Abang udah baikan?" Tanya Mark.


"Alhamdulillah, sudah Mark. Sudah sembuh kok!" Aku memberikan Mark senyuman tipis.


"Syukurlah.. oh ya. Abang udah makan?" Tanya Mark sambil mengambil posisi duduk di atas kasur ku.


"Sudah tadi. Kamu sudah makan, Mark?"


"Belum. Ini mau ngajak makan Abang. Sekalian ngenalin Abang ke sahabat ku, Labib. Tapi, tadi sore Abang udah ketemu sih ya, sama Labib?" Seloroh Mark.


"Iya. Dia..teman SMA kamu, Mark?" Tanya ku mencoba mengorek informasi tentang Labib.


"Iya, Bang. Kita tuh temanan mulai dari TK, SD, SMP, sampai SMA. Pas kuliah aja kita ambil jurusan yang beda. Saya ambil jurusan bisnis. Kalau Labib pilih jurusan Arkeologi. Ngikutin jejak Mama Papa nya yang juga seorang peneliti," jawab Mark.


Aku membuka ingatan lama ku terkait Nunik. Seingat ku Nunik adalah dosen di sebuah universitas negeri, sekaligus juga seorang peneliti. Tapi aku lupa ia seorang profesor di bidang apa.


"Ooh.. hebat ya berarti. Dia, anak tunggal?" Tanya ku berlanjut.


"Enggak, Bang. Labib itu anak ke dua dari lima bersaudara. Tapi cuma dia satu-satu nya anak cowok di keluarga nya. Hahaha. Sering banget dia cerita kalau dia digangguin terus sama semua saudara cewek nya. Bayangin aja, Bang! Empat saudara cewek! Gila banget gak tuh! Saya dengan satu Nila aja udah cukup bikin pusing! Apalagi empat!" Cerita Mark panjang kali lebar.


"Ooh.. Apa nama ibu nya adalah Nunik?" Tanya ku tiba-tiba.


"I..ya. ehh?? Bagaimana Abang bisa tahu?!" Tanya Mark tampak sangat terkejut.


Aku terlebih dulu memberinya senyuman satir. Sebelum akhirnya menjawab.

__ADS_1


"Jika aku mengenal Mama mu. Sudah tentu aku mengenal sahabat baik nya juga kan, Mark? Nunik itu kan sahabat dekat nya Laila.." ujar ku dengan santai nya.


Hening.


Mark terdiam smabil menatap ku dengan pandangan heran dan tak percaya. Hh.. rasanya memang sulit untuk membuat nya percaya kalau aku benar adalah Papa nya yang telah tiada. Tapi ya sudah lah. Lambat laun Mark pasti juga akan mempercayai ku nanti.


"Ya sudah. Kamu makan dulu, sana. Jangan terlalu larut, makan malam nya. Itu gak baik untuk kesehatan lambung mu!" Aku mengingatkan Mark.


Mark pun langsung bangun dan mengikuti saran ku.


"Kalau begitu, saya makan dulu ya, Bang. Abang juga, selamat beristirahat!" Ucap Mark sebelum ia kembali menutup pintu kamar ku.


Sepeninggal Mark, aku terduduk lama sambil memikirkan Laila ku lagi. Entah kenapa akhir-akhir ini aku tak terlalu sering mengingat nya. Padahal belum genap sebulan sejak Laila ku tiada.


Tadi nya ku pikir aku akan butuh waktu lama untuk meratapi kepergian Cinta ku. Tapi mungkin memang ini yang terbaik. Karena dengan begitu. Aku bisa fokus menunaikan janji ku kepada Laila. Bahwa aku akan menjadi penjaga bagi kedua anak kami.


Tentang Labib ini, aku ingin mengenal nya lebih baik. Seingat ku dulu Laila ingin sekali menjodohkan salah satu anak kami dengan anak nya Nunik. Siapa tahu bila Labib memang seorang pria yang baik, maka aku akan membiarkan nya mendekati Nila kami.


"Hh.."


Bisa dibilang, kegelapan membuat ku takut pada kematian yang bisa sewaktu-waktu datang menghampiri. Ya. Aku merasa takut pada kematian.


***


Keesokan pagi nya, aku bangun pagi-pagi dan sudah rapih dengan setelan kemeja dan celana biru gelap.


Aku lalu menjumpai Mark dan juga Labib di ruang makan. Seperti nya Mark baru saja memberi bubur ayam.


"Bang! Sarapan dulu, Bang! Ada bubur ayam nih!" Ajak Mark dengan ceria.


Aku mendekati kedua nya, dan duduk pada salah satu kursi yang mengelilingi meja panjang di ruang makan.


Ku sapa keduanya dengan senyuman ramah.


"Pagi semua. Dan.. halo, Labib. Perkenalkan. Nama ku Erlan. Tapi kamu juga bisa memanggil ku dengan nama Aro!" Aku menyapa Labib dengan ramah.


Kemarin sore, aku tak sempat berkenalan dengan Labib. Karena kecanggungan ku untuk berbaur dengan orang asing. Apalagi dia adalah teman dari putra ku.

__ADS_1


Aku yang merasa kalau diri ku lebih tua dari mereka pun tak berani berbaur dengan kedua nya.


Akan tetapi setelah semalam aku tak sengaja mencuri dengar percakapan mereka, dan ku ketahui identitas Labib yang ternyata adalah anak dari Nunik, sahabat Laila ku. Akhirnya aku memutuskan untuk mengenal pemuda itu lebih baik.


Apalagi Labib juga ternyata menyukai Nila. Siapa yang tahu, bila dia akan menjadi menantu ku nanti nya, bukan? Aku harus memastikan kalau Nila akan memiliki pendamping yang terbaik. Yang mencintai nya dengan sepenuh hati. Seperti cinta ku pada Laila hingga saat ini.


"Halo, Bang Erlan! Saya Labib, teman sekolah nya Mark," ucap Labib memperkenalkan diri.


"Kata Mark, kamu teman masa kecil nya juga ya?" Tanya ku dengan nada snatai.


"Hahaha. Iya, Bang. Kita udah kenal, bahkan sedari saya masih dalam perut Mama. Kata Mama, Mark sering banget pegangin perut nya sewaktu Mama hamil, mengandung saya," ujar Labib bercerita.


"Oh ya? Ku dengar Mama kamu juga seorang peneliti. Apa dia juga seorang dosen?" Tanya ku menyelidik.


Mark memberi ku tatapan menilai. Ia seperti nya tahu kalau aku sedang membuktikan kepada nya atas pengetahuan ku tentang Nunik, ibu nya Labib.


"Wah. Iya, Bang! Kok Abang bisa tahu sih? Yang pasti. Bukan dari Mark kan? Soal nya Mark gak tahu kalau Mama pernah jadi dosen. Sejak Mama melahirkan si bungsu Nola, Mama mulai berhenti mengajar. Kata nya sih repot. Mau fokus ngurusin kami aja, anak-anak nya," ujar Labib melanjutkan cerita nya.


Ku beri Mark pandangan penuh arti. Dan ia langsung memalingkan pandangan nya ke arah yang lain. Tampak menolak fakta yang baru saja ku buktikan kebenaran nya pada lelaki itu.


"Hh.." aku menghela napas letih. Perjalanan ku untuk membuat Mark percaya bahwa aku adalah Papa nya, masih panjang ku kira.


Mungkin aku harus bertemu dengan Nunik dulu baru Mark bisa percaya kepada ku.


"Ya sudah. Kita berangkat sekarang yuk, Bib? Eh? Abang kok pakai kemeja. Memang nya Abang hari ini mau kerja?" Tanya Mark baru sadar dengan pakaian yang ku kenakan.


"Iya, Mark. Kan kaki ku sudah sembuh. Dan, Labib mau ke kantor kita juga?" Tanya ku heran, karena tadi Mark mengajak serta Labib pergi bersama nya.


"Hahaha. Buka, Bang. Saya cuma mau anterin dia ke rumah lama Mama nya. Mau ambil motor gede nya yang ditinggal di sana. Yah, buat dia jalan sendiri ke mana-mana kan bisa, gitu," jawab Mark menjelaskan.


"Ooh.."


Dan, tetiba saja aku teringat pada motor gede ku. Aku sebenarnya ingin menanyakan keberadaan motor ku itu kepada Mark. Akan tetapi seperti nya sekarang bukan lah waktu yang tepat. Alhasil ku urungkan niat ku itu.


Kami bertiga akhirnya pergi meninggalkan rumah Mark dengan menaiki Alphard milik nya.


***

__ADS_1


__ADS_2