Meretas Rasa

Meretas Rasa
Perpisahan Lewat Mimpi


__ADS_3

Setelah aksi luar biasa membujuk Nay yang dilakukan oleh Karina. Berbagai drama kembali terjadi di ruang inap tersebut. Pembuat nya tak lain dan tak bukan adalah Idham.


Lelaki itu selalu saja mencoba untuk memancing emosi ku. Sejauh ini, Karina selalu membelaku. Jadi aku merasa tenang. Namun, pada suatu kesempatan, aku dibuat kesal pada wanita itu karena justru Karina membuat ku jadi kehilangan muka di hadapan Idham.


Ini terjadi, saat aku hendak berpamitan pulang menjelang sore tiba.


"Aku pamit pulang ya, Rin," ucap ku setelah kulihat Rinaya kembali tertidur.


"Oh, sebentar, Lan! Kak, kakak mau ke bandara juga kan sore ini? Mau pulang sekarang?" Tanya Karina pada Idham, kakak angkat nya.


"Iya. Memang nya kenapa, Rin? Kamu mau antar Kakak ke bandara?" Tanya Idham terlihat berharap.


"Bukan. Itu.. bisa tolong sekalian anter Kak Erlan pulang? Rumah nya di samping rumah kita. Kakak pasti mau pulang dulu kan nengokin Mama?" Ujar Karina menebak schedule Idham.


"Huh? Nganterin..dia? Memang nya dia gak bawa kendaraan apa ke sini?" Tanya Idham to the point.


"Bukan begitu! Tadi itu kita boncengan bareng naik matic ku, Kak.."


"Oh.. Jadi dia nebeng kamu, Rin? Gak punya kendaraan ya, Lan?" Ledek Idham terang-terangan.


"Kakak! Jangan julid deh!" Tegur Karina dengan raut marah.


Sementara itu, aku sudah ingin membenamkan diri ku saja ke dalam tanah saat itu jua. Bisa-bisa nya Karina mengatakan kepada Idham tentang aku yang menebeng pada nya. Hilang sudah harga diri ku sebagai lelaki!


"Sudah, Rin! Gak usah!" Ucap ku dengan nada kesal.


Karina seperti nya tahu kalau aku tengah merasa kesal. Namun dia salah paham pada penyebab kekesalan ku ini. Pikirnya aku mungkin kesal karena ucapan Idham.


Padahal sungguh, ucapan Idham tak berarti sama sekali bagi ku.


"Sebentar, Lan! Maafin Kak Idham ya? Dia memang omongan nya suka ketus. Tapi sebenarnya orang nya baik, kok. Kakak! Minta maaf sama, Erlan!" Tegur Karina mengingatkan.


"Dih. Kakak mana ada salah omong, Rin. Memang dia tuh nebeng kan sama kamu?" Ulang Idham mengejek ku.


Aku pun sudah tak tahan. Akhirnya setelah mengatakan kalimat perpisahan sekali lagi, aku segera hengkang dari ruangan tersebut. Menjauh dari lelaki kunyuk yang sungguh membuat ku kehilangan muka di hadapan nya.


"Sudah. Gak apa-apa Rin. Aku bisa pulang dengan kedua kaki ku kan?" Ucap ku sambil memberi Karina pandangan penuh arti.


Karina seperti nya paham dengan maksud ucapan ku itu. Jadi ia tak langsung menyanggah ucapan ku.


"Tapi..."


Aku tak menunggu Karina menyelesaikan ucapan nya. Karena sedetik setelah aku menutup pintu kamar inap Rinaya, aku pun menggunakan inner power ku untuk melesat secepat angin.


Wushh!!


***

__ADS_1


Malam hari nya, Mark pulang membawa dua bungkus makanan siap saji. Sementara aku sedang mengusap betis ku yang merasa nyeri sehabis ku ajak melaju cepat, sepulang dari menjenguk Rinaya tadi.


Sebenarnya, jika saja kaki ku dalam kondisi prima, aku akan baik-baik saja untuk menempuh jarak 3 km tersebut. Namun, karena seperti nya kaki ku sempat terkilir usai kejadian menabrak sebelum berangkat ke rumah sakit, jadilah kini aku merasakan sendiri kaki ku bengkak.


Kini aku sedang menetralkan aliran chi dalam tubuh ku ke bagian kaki ku yang sakit. Saat itu lah Mark pulang dan melihat kondisi kaki ku yang terluka.


"Ya ampun, Bang! Itu kaki kenapa??!" Tanya Mark terlihat ngeri saat melihat kondisi kaki ku.


"Panjang ceritanya," jawab ku singkat, masih sambil serius mengalirkan aliran chi pada kaki ku.


"Ya udah. Pendekin aja cerita nya, Bang!" Tanya Mark mengulang.


Ku tengok sebentar wajah Mark, baru kemudian ku berikan jawaban yang ia inginkan.


"Keseleo!" Jawab ku pendek.


"Parah amat! Kok bisa sampai begitu sih? Itu urat nya sampai nonjol begitu, Bang. Mau saya antar ke tukang urut kah?" Mark menawarkan bantuan.


"Gak perlu, Mark. Makasih. Ini sebentar lagi juga bakal membaik," aku menolak tawaran Mark secara halus.


"Serius, Bang? Eh, ini, saya bawain hokben. Tadi sekalian lewat. Abang udah makan?" Tanya Mark sambil duduk di sofa seberang tempat ku duduk saat ini.


"Belum. Makasih ya, Mark.."


"Iya sama-sama. Makan aja semua, Bang. Saya udah makan tadi pas meeting. Maka nya pulang malam begini. Kalau gitu, saya mau mandi dulu ya, Bang!" Pamit Mark lalu menghilang ke dalam kamar nya.


Beruntung tengah malam itu Mark hendak pergi ke dapur dan tak sengaja mendengar suara ku yang mengigau.


Ia lalu mengecek dan mendapati ku yang demam. Alhasil ia pun mengompresi kepala ku sebisanya. Dan ia juga memaksa ku menelan pil pereda panas.


Aku tak mengingat banyak hal tentang apa yang dilakukan Mark kepada ku. Hanya saja aku mengingat jelas mimpi yang ku alami semalam tadi. Mimpi tentang Cinta ku, Laila.


***


Flashback mimpi semalam.


Tiba-tiba aku sudah duduk di bangku sebuah taman bunga yang sangat indah. Sejauh mata memandang, ku lihat tak ada siapa pun di sana.


Aneh nya. Aku merasa damai dan tak ingin segera pergi dari taman bunga itu. Ku nikmati saja semilir angin yang membuat ku merasa sejuk, juga aroma harum bunga entah apa yang tersebar indah di taman bunga itu.


"Mas.. kamu terluka.."


Aku tersentak kaget saat mendengar suara itu. Itu adalah suara Laila ku.


Segera saja ku tolehkan wajah ku ke kiri. Dan ternyata, tepat di samping ku, entah sejak kapan, Laila telah duduk menatap ku khawatir.


Yang membuat ku tercengang adalah wajah Laila kini kembali muda. Ia persis seperti Laila saat aku pertama kali mengenalnya dulu. Saat usianya masih menginjak pertengahan dua puluhan.

__ADS_1


"Laila..?! Kamu di sini?!" Tanya ku dengan suara tecekat.


"Ya, Mas. Aku ingin menengok mu. Ternyata, kamu malah terluka begini. Lain kali, lebih berhati-hati ya, Sayang? Jangan buat aku khawatir!" Keluh Laila mengajukan protes.


Aku tak segera menjawab ucapan Laila. Pikiran ku masih terkesima dengan keberadaan Laila ku yang kembali menjadi muda.


"Maaf.." hanya itu saja yang berhasil keluar dari mulut ku.


Dan ku lihat Laila ku tersenyum tipis setelah nya.


"Kamu gak salah juga sih. Tapi, Yang. Lama gak ketemu, kamu kenapa jadi tambah bodoh sih?" Ledek Laila tiba-tiba.


Aku ingin marah saat Laila meledeki ku bodoh. Namun, aku tak bisa. Ku tatap saja wajah Laila dengan pandangan yang masih juga terkesima.


"Aku bodoh?" Tanya ku membeo.


"Iya! Lain kali, kalau ketemu sama wanita itu lagi, bersikap lah lebih pintar, Mas! Dia itu wanita yang pintar loh! Aku gak mau nanti Mas dibodoh-bodohi sama dia!" Rutuk Laila memberi ku nasihat.


"Dia? Wanita itu? Maksud kamu siapa, Sayang?" Tanya ku bingung.


Aku tak tahu, apa maksud pembicaraan Laila ini. Tiba-tiba saja ia menasihati ku agar bersikap lebih pintar di hadapan seorang wanita. Maksud nya siapa? Aku tak pernah dekat dengan wanita lain selain Laila. Dan mungkin juga.. Nila.


Ya. Mungkin maksud nya adalah Nila? Akhirnya aku pun menanyakan nya langsung kepada Laila ku.


"Maksud kamu Nila, Sayang? Putri kita?" Tanya ku menebak-nebak.


Laila kemudian menggeleng pelan. Namun sesaat berlalu, ku lihat wajah nya menampakkan senyum sedih.


"Aku kasihan sama Nila, Yang. Jalan cinta yang harus ia lalui, ternyata lebih sulit dibanding kebanyakan orang lain nya.." lanjut Lailaku bicara.


"Huh? Maksud kamu apa Yang? Aku sama sekali enggak.."


Belum selesai aku bicara. Laila tiba-tiba saja berdiri.


"Ah. Aku harus pergi sekarang, Yang. Waktu ku sudah habis.."


"Tidak! Jangan pergi, Yang! Please! Aku masih kangen kamu! Aku mau ikut kamu aja boleh ya?" Ku tahan lengan Laila agar ia tak beranjak pergi.


Namun dengan perlahan, Laila melepaskan pegangan tangan ku pada lengan nya. Dan ia lalu berkata.


"Maaf, Yang. Pertemuan kita hanya sampai di sini saja. Kamu, berbahagia lah dengan cinta mu yang baru nanti ya? Aku ridha kok, Lan. Selamat tinggal.."


"Tidak! Laila! Laila! Jangan pergi!!"


Dan aku pun tiba-tiba terbangun oleh tepukan Mark di wajah ku.


Flashback selesai.

__ADS_1


***


__ADS_2