
Keesokan harinya.
Marsya yang biasanya setiap pagi sudah ada di dapur sekedar menyapa dan berbicara serta memasak bersama bibi, hari ini belum juga keluar dari kamar semenjak kejadian tadi malam saat Gilang membentaknya.
Semalam pun saat makan malam ia tidak berani keluar hingga bibi yang datang mengantarkan makanan ke dalam kamar Marsya.
***
Di dalam kamar Marsya.
Marsya terbangun dan buru-buru berjalan ke dalam kamar mandi sambil menutup mulutnya, saat ini ia merasa perutnya seperti di aduk dari dalam.
Huek…Huek…Huek
Lagi dan lagi yang keluar hanyalah cairan bening dari mulutnya, sudah beberapa hari ini yang Marsya muntah kan hanyalah cairan bening.
Marsya paham ini adalah hal biasa yang sering terjadi pada ibu hamil ‘Morning Sickness’.
“Huft, sampai kapan aku akan seperti ini. Sayang kamu baik-baik ya di dalam.” Marsya berbicara sambil mengelus perutnya yang sudah mulai membesar.
Kalau di pikir-pikir dari hari dimana aku di nyatakan hamil, aku belum pernah memeriksa keadaan janin yang ada di di dalam perutku. Batin Marsya.
Apa sebentar aku suruh saja bibi menemaniku untuk periksa kandungan ya, tidak mungkin juga mas Gilang mau menemaniku apalagi setelah kejadian kemarin. Hari ini pasti mas Gilang masih kesal jika melihatku. Batin Marsya lagi.
Marsya lalu berjalan keluar setelah membersihkan mulut dan membasuh wajahnya.
“Kira-kira sudah jam berapa sekarang?” Gumam Marsya sambil beralih meraih ponselnya yang ada di samping nakas untuk melihat waktu.
“Sudah jam 8, mas Gilang udah pergi belum ya. Aku takut bertemu dengannya sekarang.”
“Lebih baik tunggu saja sampai jam 9 baru keluar dari kamar.”
Sambil menunggu Gilang pergi ke kantor, Marsya kembali naik ke atas tempat tidur duduk bersandar sambil selonjoran di kasur memainkan ponselnya.
***
Sementara di kamar atas.
Gilang sedang bersiap-siap untuk turun sarapan dan habis itu ia akan pergi ke kantor.
__ADS_1
Saat tiba di meja makan, semua sudah siap. Ada teh herbal yang biasa Gilang minum dan ada juga roti serta makanan yang tadi bi Suci masak.
Gilang lalu makan dengan tenang nya sambil berpikir apa yang sedang Marsya lakukan di kamar hingga jam segini Marsya belum keluar.
Dari semalam ia bahkan tidak muncul di hadapan ku. Apa dia sudah makan dan minum susu hamilnya ya? Kalau terjadi apa-apa sama anak ku yang ada di dalam kandungannya, awas saja dia. Batin Gilang.
”Bi.. Bibi” Panggil Gilang.
Bi Suci lalu muncul dari belakang setelah mendengar namanya di panggil oleh Gilang.
“Iya tuan.” Jawab Bi Suci sambil menundukkan kepala.
“Apa Marsya tadi sudah makan dan minum susu hamilnya?” Tanya Gilang.
“Belum tuan. Nona Marsya dari tadi belum keluar dari kamar tuan.” Jawab bi Suci.
“Bibi buatkan dia susu hamil yang biasa dia minum, nanti biar saya yang antarkan ke dalam kamarnya.” Kata Gilang, ia memang berniat mengantar susu hamil sekaligus untuk melihat keadaan Marsya di dalam karena dari semalam Marsya belum juga keluar.
Bibi kaget mendengar tuan nya mau mengantarkan susu pada Marsya, bibi takut Gilang akan kembali memarahi Marsya.
Dengan pasrah bibi pun menyiapkan susu itu, lalu memberikan nya pada Gilang untuk di antarkan.
Tok..Tok..Tok
“Buka pintunya.” Teriak Gilang.
Di dalam kamar Marsya sudah panik setengah mati, apalagi mendengar teriakan Gilang yang menyuruhnya membuka pintu.
“Saya bilang buka pintunya.” Teriak Gilang lagi.
Dengan takut-takut Marsya berjalan menuju pintu dan membukanya. Gilang langsung menerobos masuk ke dalam setelah pintu di buka.
Marsya masih mematung di tempatnya sambil menunduk tidak berani menengok pada Gilang.
“Ini minum!!. Kalau bukan karena memikirkan anak ku yang ada di perut mu itu, aku tidak akan mau capek-capek ke kamar ini untuk mengantarkan susu ini.” Kata Gilang.
“Awas saja kamu jika terjadi apa-apa dengan anak ku di dalam.” Ancam gilang.
Marsya lalu meraih gelas susu yang ada di tangan Gilang lalu meminumnya di hadapan Gilang, agar pria itu melihatnya.
__ADS_1
Setelah susu itu habis, gelas yang masih ada di dekat mulut Marsya langsung di rampas oleh Gilang hingga membuat Marsya kaget karena nya.
Tanpa berkata apa-apa Gilang langsung keluar dari kamar itu setelah Marsya menghabiskan segelas susu yang ia berikan.
Matanya bengkak. Batin Gilang setelah keluar dari kamar itu.
Kembali pada Marsya Marsya.
Melihat kelakuan Gilang membuat Marsya hanya mampu menghela napas sambil mengelus dada.
Ingin rasanya tadi ia memuntahkan susu itu karena tidak tahan dengan baunya.
Tapi melihat tatapan tajam Gilang yang memperhatikan dirinya minum membuat Marsya berusaha mati-matian menelan susu itu.
***
Sudah melihat dan mengetahui keadaan Marsya. Gilang lalu bergegas pergi menuju kantor dengan mobil miliknya.
Melihat tuan nya yang sudah pergi, bi suci pun datang menghampiri Marsya di dalam kamar untuk melihat keadaannya.
“Non tidak apa-apa. Apa tuan menyakiti non Marsya.” Tanya bi Suci setelah tadi di persilahkan Marsya untuk masuk.
“Tidak kok bi, Marsya tadi hanya di suruh minum susu karena mas Gilang tidak mau terjadi apa-apa dengan anaknya yang ada di perut Marsya.” Kata Marsya sambil tersenyum miris dengan nasibnya, suaminya hanya peduli pada janin yang ada di dalam perutnya tanpa mau mempedulikan dirinya sebagai ibu anak itu.
Kasihan sekali nasib ku ini. Batin Marsya.
“Oh iya bi, sebentar temani Marsya ya ke dokter kandungan untuk periksa. Semenjak hamil Marsya belum pernah pergi untuk memeriksakan kandungan Marsya.” Kata Marsya lagi.
“Baik non. Tapi sebelum itu sebaiknya non sarapan dulu baru bersiap-siap untuk pergi. Tadi juga tuan berpesan agar bibi menyiapkan makanan untuk non Marsya. Tuan sepertinya peduli pada anda, atau mungkin tuan merasa bersalah sudah membentak non Marsya semalam.” Kata bibi bertanya-tanya.
“Tidak mungkin bi, mas Gilang begitu karena memikirkan anak nya yang ada di perut Marsya.” Kata Marsya yang masih ingat betul dengan kata-kata Gilang tadi saat menyuruhnya minum susu yang Gilang bawakan.
Mereka berdua kemudian berjalan keluar dari kamar Marsya menuju meja makan untuk sarapan.
Setelahnya mereka bersiap-siap untuk pergi memeriksakan kandungan Marsya di rumah sakit.
***
Jangan lupa vote, like dan komen ya kakak-kakak semua🤗
__ADS_1