
Saat memasuki ruang tengah, Marsya sudah di suguhkan dengan pemandangan Bi Suci yang tengah menggendong Ken dengan botol susu di mulut bayi kecil itu.
“Ken.” Panggil Marsya lirih, hal itu sontak membuat perhatian Bi Suci teralihkan pada Marsya.
“Non Marsya.” Kaget Bi Suci saat melihat Marsya tepat di depan matanya.
“Bi..” Panggil Marsya lirih. Rasa bersalah menyelimuti hatinya.
Marsya dengan cepat menghampiri kedua orang itu dan langsung memeluk mereka, melepas rindu yang selama ini Marsya tahan.
“Bi, maafkan Marsya.” Tangis Marsya pecah.
“Sudah Non, yang penting sekarang Non Marsya sudah kembali.” Hibur Bi Suci.
Marsya perlahan melepaskan pelukannya, tatapannya kini beralih pada bayi kecilnya yang sedang asik memainkan dot yang ada di mulutnya.
“Sini Bi, biar Marsya yang kasih susu.” Kata Marsya lembut.
Bertepatan saat Ken berpindah tangan pada Marsya, saat itu juga Gilang datang dengan muka yang di tekuk.
Bibi dan Marsya yang melihat pun di buat bingung dengan ekspresi Gilang.
“Ada apa mas?” Tanya Marsya.
“Tau ah.” Sahut Gilang sambil berjalan meninggalkan mereka, ia pun pergi menaiki tangga menuju kamar utama miliknya.
Marsya yang melihat itu hanya geleng kepala, tidak tahu lagi harus menanggapi seperti apa.
“Tuan seperti orang yang sedang kesal.” Kata Bi Suci.
“Entahlah Bi.” Jawab Marsya santai dengan wajah tanpa dosa.
Fokus Marsya sedari tadi hanya pada Ken, pangeran tampannya yang ia tinggalkan waktu itu hanya karena salah paham antara dirinya dan Gilang.
“Maafkan mama sayang.” Sesal Marsya sambil berulang kali menciumi pipi gembul Ken.
Marsya kemudian memberikan ASI nya pada Ken, dan betapa lahapnya Ken menghisapnya hingga Marsya harus menahan sakit karenanya.
Bibi yang melihat itupun hanya dapat tersenyum, akhirnya keluarga majikannya lengkap kembali.
__ADS_1
“Non, mau Bibi buatkan minum?” Tawar Bi Suci.
“Tidak usah Bi.” Jawab Marsya lembut.
“Ya sudah, Bibi kembali ke belakang ya Non.” Pamit Bi Suci.
“Iya Bi.” Balas Marsya.
Sepeninggalan Bibi, Marsya kembali fokus pada Ken. Mata bayi kecil itu perlahan menutup, dan gerakan menyedot pun berhenti menandakan bahwa bayi kecil itu sudah terlelap dalam tidurnya.
Marsya pun berdiri dari tempatnya, membawa Ken dalam gendongannya untuk naik ke kamar mereka.
Saat memasuki kamar, yang pertama Marsya lihat adalah suaminya yang tengah berbaring miring membelakangi pintu.
Perhatian Marsya teralih pada box bayi dan meja khusus yang berisi perlengkapan baby Ken, melihat itu Marsya tersenyum haru. Ia tidak menyangka Gilang bisa sesigap itu menyiapkan semuanya.
Setelah pintu di tutup dengan pelan, Marsya kembali berjalan menuju tempat tidur untuk membaringkan Ken di samping papanya.
Gilang yang memang tidak tidur, bisa merasakan pergerakan di belakangnya.
“Ken bobo sama papa dulu ya, mama mau ke bawah.” Kata Marsya pelan sambil mengecup pipi Ken, sebelum beranjak turun tidak lupa Marsya menyusun bantal disekitar bayi kecil itu untuk menghindari hal yang tidak di inginkan.
“Mas..” Pekik Marsya kaget.
“Mau kemana?” Tanya Gilang.
“Mau ke bawah.” Jawab Marsya santai.
“Untuk apa?” Tanya Gilang menyelidik.
“Aku mau lihat halaman belakang dulu.”
“Tidak usah, lebih baik temani aku disini. Lagipula kamu masih berhutang penjelasan padaku.” Ucap Gilang mengingatkan.
“Penjelasan apalagi?” Balas Marsya pura-pura tidak tahu, padahal sebenarnya ia tahu Gilang pasti ingin menanyakan perihal surat cerai itu.
“Tentang surat itu, bagaimana bisa kamu mengurusnya sedangkan saat itu kamu sedang dalam keadaan hamil. Apakah para petugas disana buta sampai tidak melihat perutmu itu.” Kata Gilang kesal. Setiap mengingat surat cerai itu, perasaan kesal dan marah akan muncul dalam hatinya.
“Pelan-pelan bicaranya mas, Ken sedang tidur.” Ucap Marsya mengingatkan.
__ADS_1
“Emm.. itu sebenarnya, Leo yang membantuku mengurus surat itu.” Lanjut Marsya menjlaskan.
“Leo?” Tanya Gilang tidak percaya. Marsya hanya menganggukan kepalanya.
“Pria itu sungguh kurang ajar! Sya, ku peringatkan jangan lagi berhubungan dengan pria itu. Dia itu punya niat jahat, dan aku pun belum tahu apa sebenarnya motif dari pria itu melakukan ini. Doni masih sementara menyelidikinya.” Balas Gilang.
“Tidak mungkin Leo jahat mas, selama ini dia baik pada ku.” Ucap Marsya tidak percaya.
“Itu karna dia punya niat terselubung Sya. Dia berbohong soal diriku yang pergi ke hotel dengan wanita dan dia juga sudah menghasut warga hingga proyek yang kita kerjakan terhambat. Dana perusahaan untuk proyek juga di bawa lari oleh seseorang, dan perasaan ku mengatakan itu pasti orang suruhan Leo.” Balas Gilang menggebu-gebu.
“Sampai sekarang pun, aku bingung untuk apa pria itu melakukan hal ini.” Sambung Gilang.
Marsya tercengang mendengar penuturan Gilang, ia tidak menyangka Leo yang selama ini ia anggap baik ternyata adalah orang yang jahat.
“Tapi darimana mas Gilang tahu?” Tanya Marsya penasaran.
“Karna kami sudah menangkap pelaku yang menghasut warga saat itu. Dan orang itu mengaku Leo Bramasta yang menyuruhnya, tentu saja dengan ancaman baru orang itu mau mengakui kesalahannya.” Jawab Gilang.
“Jadi mulai sekarang jauhi Leo itu, kita tidak tahu apa yang akan ia lakukan padamu kedepannya.” Lanjut Gilang.
“Lalu apa yang akan mas Gilang lakukan padanya?” Tanya Marsya lagi.
“Tentu saja aku akan menjebloskannya ke dalam penjara setelah semua bukti di dapat. 1 bukti pengakuan sudah kita dapatkan, hanya tinggal menunggu waktu untuk menemuinya dan menanyakan apa tujuannya melakukan hal ini.” Jawab Gilang santai.
“Huu, rasanya masih tidak percaya Leo bisa melakukan hal seperti itu.”
“Makanya itu, kedepannya jangan sembarangan menerima bantuan dari orang yang tidak di kenal.” Tutur Gilang lembut.
“Iya mas.” Balas Marsya.
***
Hari itu mereka habiskan bersama Ken, menemani bayi itu, mengajak Ken berkomunikasi dengan bahasa bayi dan sebagainya.
Mereka persis seperti keluarga bahagia pada umumnya.
❤️
Jangan lupa like, vote dan komen🤗
__ADS_1
Vote yang banyak ya readers, hari Senin nih😜🤭