Mrs. Gilang Baskara

Mrs. Gilang Baskara
Ch.35


__ADS_3

Gedung Baskara Group.


Gilang baru saja tiba di ruangannya, ia langsung mendudukkan diri pada kursi kebesarannya.


Tidak lama, terdengar bunyi ketukan pintu dari luar.


Tok..tok..tok


“Masuk.” Sahut Gilang.


Doni berjalan sambil membawa beberapa


berkas di tangannya.


“Permisi Tuan, ini berkas yang memerlukan tanda tangan anda.” Ucap Doni sambil menyerahkan berkas tersebut.


“Letakkan saja di sana.” Tunjuk Gilang pada ujung meja, agar Doni meletakkannya di sana.


“Kalau begitu saya permisi Tuan.” Pamit Doni ingin kembali pada tempatnya.


“Doni tunggu.” Cegah Gilang sebelum Doni menghilang di balik pintu.


“Ya Tuan.”


“Bagaimana dengan perkembangan proyek hunian bersama Tuan Bramasta?”


“Untuk tempat pembangunannya, dari pihak Tuan Bramasta katanya akan melakukan diskusi bersama para warga yang tidak ingin menjual tanah mereka.” Jelas Doni.


“Proyek itu masih belum bisa berjalan pak, karena ada beberapa warga yang merasa keberatan melakukan pembangunan di sekitaran sana.” Timpal Doni lagi.


“Kenapa bukan kau saja yang mengurus masalah disana.” Tanya Gilang lagi.


“Maaf pak, waktu itu saya sudah menawarkan diri untuk mengurus masalah itu. Tapi, dari pihak pak Bramasta mengatakan mereka yang akan mengurusnya, karena mereka bilang mereka ingin terlibat langsung di lapangan.” Jawab Doni panjang lebar.


“Ya sudah, biarkan saja dulu. Kita lihat sampai dimana mereka mampu menyelesaikan masalah itu dengan warga.”


“Tapi Doni, sebaiknya kau awasi saja terus mereka. Ini merupakan proyek yang lumayan, aku tidak mau ada kesalahan di dalamnya.” Ujar Gilang lagi.

__ADS_1


“Baik Tuan.” Jawab Doni tegas.


“Ya sudah, kembalilah ke tempatmu.”


Doni membungkukan badanya, dan langsung pergi mengilang di balik pintu ruangan presdir.


Gilang pun kembali dengan pekerjaan nya, membaca satu per satu berkas sebelum ia tanda tangani.


***


Mansion.


Setelah sarapan, Marsya beralih pada halaman belakang tempat favoritnya jika di rumah.


Marsya senang memandangi tanaman-tanaman hijau karena menurutnya itu bisa menyegarkan pikirannya.


“Sebaiknya aku menelfon ibu sekarang, sudah beberapa hari ini aku lupa menanyakan kabar mereka.” Gumam Marsya.


Marsya mengambil ponselnya yang ia letakkan di atas meja, ia kemudian mencari nomor sang ibu untuk di telfon.


“Halo nak.” Sapa Bu Lina, orangtua Marsya.


“Halo Bu, bagaimana kabar ibu? Maaf Marsya baru menelfon sekarang.” Ucap Marsya dengan nada lembut.


“Kabar ibu baik nak, adikmu juga baik. Tidak apa-apa, ibu mengerti nak karena sekarang yang menjadi prioritas utamamu adalah suamimu.” Balas ibu, pengertian.


“Terima kasih bu, ibu memang yang paling mengerti Marsya.”


“Bu, Marsya rindu sama ibu sama adek. Marsya pengen sekali mengunjungi ibu tapi kondisinya sekarang tidak mendukung.” Kata Marsya sambil memelas sedih.


“Tidak apa-apa nak, datanglah saat kamu ada waktu. Rumah ini akan selalu terbuka untuk anak ibu.” Mendengar kata-kata sang Ibu membuat mata Marsya berkaca-kaca.


“Maafin Marsya ya bu, kalau Marsya belum bisa bahagiakan ibu dan adek.” Ucap Marsya, tanpa sadar air mata menetas dari pelupuk matanya.


Marsya merasa ia gagal menjaga keluarganya setelah ayahnya meninggal, ia bahkan merasa tidak menjadi contoh yang baik untuk adiknya karena kejadian waktu itu, saat kesuciannya di renggut.


Sebisa mungkin Marsya menahan isakan yang keluar dari mulutnya, ia tidak mau sang ibu pikiran di sana.

__ADS_1


“Untuk apa Marsya minta maaf, kamu tidak salah nak. Justru ibu yang merasa bahwa ibu telah gagal dalam menjaga kalian setelah kepergian bapak. Seharusnya juga ibu yang mencari nafkah, bukan kalian.” Dari seberang sana terdengar suara Bu Lina yang serak seperti orang yang menahan tangis.


“Marsya juga minta maaf Bu, kalau Marsya tidak menjaga diri dengan baik selama merantau hingga kejadian seperti ini harus terjadi dan membuat ibu harus menanggung malu atas perbuatan Marsya.”


“Sudahlah nak, mungkin ini memang sudah di atur oleh Yang Maha Kuasa.” Hibur Bu Lina pada anaknya.


“Bu Marsya punya berita bahagia buat ibu.” Ujar Marsya untuk mengalihkan suasana haru itu.


“Berita apa?” Tanya ibu Lina.


“Marsya hamil Bu, dan sekarang perut Marsya sudah mulai membesar. Maaf ya Bu, Marsya baru bilang sekarang karena saat itu banyak hal yang harus Marsya urus hingga lupa memberikan kabar baik ini pada ibu.” Kilah Marsya tidak ingin sang ibu tahu tentang awal suram dalam pernikahannya.


“Wah, ibu ikut bahagia nak. Semoga kamu dan cucu ibu di beri kesehatan selalu.” Kata Ibu Lina sambil memanjatkan doanya.


“Amin.” Balas Marsya.


“Oh iya bu, nanti Marsya kirim uang ya ke ibu untuk di pakai membeli keperluan ibu dan adek.” Ucap Marsya sebelum mengakhir sambungan telepon.


“Tidak usah Sya, tadi suamimu sudah mengirimkan uang yang lebih untuk ibu dan adek. Ibu bersyukur kamu mendapatkan suami yang baik seperti nak Gilang.” Jawab Ibu Lina.


“A..Ah i..iya Bu. Baiklah kalau begitu, Marsya tutup telepon nya ya.” Kata Marsya sambil menutup telepon setelah memberikan salam pada sang ibu.


Mas Gilang kirimin ibu uang? Sejak kapan?


Kenapa aku tidak tahu tentang hal ini.


Jadi betul mas Gilang perlahan sudah berubah.


Maaf ya Bu, Marsya sudah menutupi banyak hal dari ibu. Batin Marsya berbicara dalam hati.


❤️


(Btw, sumpah deh disini author ngetiknya sambil mata berkaca-kaca. Nggak tahu juga sih, kek sedih berasa di posisinya Marsya😭)


Karena author udah up 2 bab, jadi minta dukungannya ya lewat vote, like , komen dan rate/bintang 5 nya🙏🙏


Biar author tambah semangat, biar bisa nulis bab yang banyak dan up yang banyak🤗

__ADS_1


__ADS_2