Mrs. Gilang Baskara

Mrs. Gilang Baskara
Ch.29


__ADS_3

Hari ini merupakan hari keenam Gilang dan Marsya berada di Perancis.


Pagi ini Gilang berencana menemui teman dekatnya yang bekerja di negara Perancis sebelum besok dirinya dan Marsya akan kembali pulang ke negara Indonesia.


Gilang berencana akan bertemu dengan temannya di sebuah café bernama Le Mini Palais yang merupakan salah satu café terbaik di Paris.


“Mah, pah. Aku akan keluar sebentar untuk menemui temanku yang ada di sini.” Kata Gilang sambil berjalan menghampiri kedua orangtuanya yang berada di teras depan rumah.


“Dimana Marsya? Apa kamu tidak ingin mengajak nya?” Tanya Lily.


“Marsya sedang di kamar, Gilang tidak ingin mengajaknya karena takut kejadian seperti kemarin akan terulang.” Jelasnya.


“Ya sudah, pergilah.” Kata Kevin Baskara.


Gilang akhirnya pamit dan pergi meninggalkan kediaman Baskara menuju tempat yang sudah ditentukan.


***


Café Le Mini Palais.


“Maaf aku terlambat.” Kata seorang pria yang saat ini berada di hadapan Gilang.


Sambil menyesap minuman yang tadi ia pesan Gilang menjawab dengan kesal.


“Kau selalu seperti itu dari dulu, datang tidak pernah tepat waktu.” Dengus Gilang kesal.


Hanya pria ini yang berani membuat seorang Gilang Baskara menunggu.


“Mark untung kau adalah teman sekaligus sahabatku, kalau tidak mungkin saja saat ini aku sudah menghancurkan perusahaan mu itu.” Kata Gilang lagi menyerukan kekesalan nya.


“Santai bro, kau pun sendiri tahu kalau aku saat ini tengah sibuk-sibuknya memperbesar usahaku.” Kata Mark dengan santainya.


Mark adalah salah satu teman dan sahabat yang paling dekat dengan Gilang.


Mereka sudah berteman sejak duduk di bangku kuliah dulu.


“Aku sudah pernah menawarkan diri untuk membantumu, tapi kau malah menolak tawaran ku itu.” Ujar Gilang.


“Aku kan juga sudah jelaskan padamu, aku ingin mendirikan usaha ku ini tanpa bantuan dulu, agar akupun bisa belajar mandiri tuan Gilang Baskara yang terhormat.” Balas Mark.


“Ya ya ya. Jadi bagaimana sekarang perkembangan usaha mu itu?” Tanya Gilang lagi, malas berdebat dengan sahabatnya itu.


“Lumayan, perkembangannya saat ini sungguh melebihi ekspetasi ku.” Jawab Mark menjelaskan,


“Tunggu dulu, kau belum menjawab pertanyaan ku kemarin saat kau menghubungi ku untuk bertemu.” Kata Mark lagi, bertanya.


“Pertanyaan yang mana?” Jawab Gilang pura-pura lupa.

__ADS_1


“Hei, kau belum menjawab soal kedatangan mu kemari?” Kata Mark mengingatkan.


“Oh itu, memang kenapa jika aku datang. Terserah akulah mau datang kemana saja dan kapan saja!” Jawab Gilang menyombongkan diri.


“Sombong sekali dirimu tuan. Tapi kan pasti ada alasan kedatanganmu ke kota ini?” Tanya Mark pantang menyerah sebelum mendapatkan jawaban yang bisa memuaskan keingintahuannya.


“Kau terlalu kepo Mark.” Sinis Gilang.


“Jangan panggil aku Mark, jika tidak bisa mendapatkan apa yang aku mau.” Kata Mark sambil menepuk-nepuk dadanya, menyombongkan diri.


“Huh!” Dengus Gilang, jengah melihat tingkah sahabatnya.


“Mama dan papaku akan tinggal sementara waktu disini, jadi aku datang berkunjung untuk melihat keadaan mereka.” Jelas Gilang akhirnya.


“Apa? Kenapa kau tidak memberitahu ku kalau om dan tante sedang berada disini. Kalau aku tahu, aku pasti akan datang sesekali berkunjung ke rumah keluarga kalian.” Kata Mark sedikit kesal karena Gilang tidak memberitahu hal penting ini padanya.


Mark memang cukup dekat dengan keluarga Gilang karena saat di Indonesia dulu, Mark sering sekali berkunjung bahkan menginap di rumah Gilang.


“Aku saja baru teringat kemarin jika kau saat ini sedang berada disini.” Balas Gilang tanpa dosa.


“Kau sungguh terlalu Gilang.” Kata Mark pura-pura bersedih.


Saat mereka tengah asik berbincang seseorang datang menghampiri mereka.


“Tuan Gilang senang sekali bisa bertemu anda lagi disini.” Sapa Leo dengan wajah menyebalkan nya menurut Gilang.


“Ya tuan Bramasta, senang bertemu anda lagi.” Ujar Gilang dengan senyum yang dipaksakan.


“Kalau kalian tidak keberatan, apa boleh saya bergabung disini?” Tanya Leo.


Sejenak Mark dan Gilang saling tatap berbicara lewat tatapan mata.


Mark sebenarnya tidak masalah dengan hal itu, karena ia pun baru pertama kali melihat orang yang Gilang panggil tuan Bramasta itu.


“Oh i…iya silahkan.” Akhirnya Mark lah yang menjawab, karena tidak enak membuat Leo menunggu lama persetujuan mereka.


Leo akhirnya duduk bersama mereka.


Suasana langsung menjadi hening dan canggung, Mark yang merasa aneh pun pura-pura izin ingin pergi ke kamar mandi.


“Sepertinya aku ingin buang air kecil, saya permisi ke toilet sebentar.” Kata Mark, buru-buru menghilang dari suasana canggung itu.


***


Setelah ditinggal oleh Mark, di antara Gilang dan Leo belum ada pembicaraan apapun hingga Leo yang duluan membuka percakapan di antara mereka.


”Bagaimana keadaan Marsya tuan Baskara?” Tanya Leo.

__ADS_1


“Dia baik-baik saja.” Jawab Gilang singkat.


“Saya baru tahu ternyata anda lah majikan yang Marsya ceritakan waktu itu.” Kata Leo lagi.


Kata-kata Leo tadi justru membuat Gilang bingung.


“Maksud anda?” Tanya Gilang penasaran.


“Iya. Anda kan majikan Marsya? Marsya bercerita kalau dia kesini bersama majikan nya yang sedang berlibur bersama keluarga mereka.”


“Dan dia bilang karena majikan nya baik, makanya ia di ajak ke kota ini.” Jelas Gilang lagi.


“Majikan?” Ucap Gilang masih tidak mengerti.


“Iya. Tuan Baskara kalau saya boleh meminta, bisakah anda menjaganya dengan baik selama suaminya tidak ada di sampingnya.”


“Kasian dia harus bekerja dalam kondisi perut membesar di tambah suami yang sedang berada jauh di kampung.” Kata Leo panjang lebar.


“Hak apa anda berbicara seperti itu?” Tanya Gilang yang mulai emosi dengan kata-kata Leo.


“Saya hanya meminta tolong sebagai temannya, sejak awal bertemu dengannya saya tahu Marsya adalah wanita yang baik.” Jawab Leo.


“Anda terlalu jauh mencampuri urusan orang, tuan Bramasta. Dan perlu saya tegaskan lagi, anda tidak perlu mengkhawatirkan Marsya yang jauh dari suaminya. Karena saat ini suaminya sedang berada di had….”


“Maaf aku terlalu lama berada di toilet.” Kata Mark saat tiba di hadapan mereka.


Hal itu membuat kata-kata Gilang tidak selesai, karena sudah di potong dengan kedatangan Mark.


“Gilang aku akan kembali ke perusahaan sekarang, apa kau masih akan tetap disini bersama tuan Bramasta?” Tanya Mark pada Gilang.


“Tidak! Aku juga akan kembali sekarang.” Jawab Gilang.


“Ya sudah kalau begitu, aku akan menghubungi mu nanti lewat telefon. Tuan Bramasta saya permisi, dan salam kenal. Senang bertemu dengan anda.” Balas Mark, sekaligus berpamitan pada mereka.


Gilang akhirnya beranjak dari tempatnya untuk menyusul Mark yang sudah berjalan duluan keluar dari café itu.


“Sekali lagi tuan Bramasta, anda tidak perlu khawatir tentang Marsya. Karena saya rasa itu bukan urusan anda.” Ujar Gilang sebelum menghilang dari hadapan Leo, meninggalkan Leo sendiri.


Lagi dan lagi Leo di tinggal sendirian setiap mereka bertemu, hahaha.


Selepas kepergian Gilang dari tempat itu, menyisakan Leo seorang diri.


“Hem.” Gumam Leo sambil tersenyum sinis, entah apa yang sekarang ada dalam pikirannya.


❤️


Akhirnya author bisa nulis panjang banget episode ini, berkat kalian juga yang sudah memberi semangat❤️ Dukung terus ya dengan vote, like dan komennya🙏😘

__ADS_1


__ADS_2