
Setelah Doni kembali ke ruangannya.
Gilang lalu meraih ponselnya dalam saku jas untuk menghubungi orangtuanya.
“Hallo ma.” Sapa Gilang pada mama Lily.
“Hallo nak, bagaimana kabar kalian?” Tanya Lily Baskara.
“Kami baik ma.” Jawab Gilang.
“Papa dimana?” Tanya Gilang lagi.
“Di kamar, lagi istirahat.” Jawab Lily.
Kevin Baskara memang telah keluar dari rumah sakit beberapa hari yang lalu. Mereka ingin kembali ke Indonesia, tapi dokter menyarankan agar Kevin menunggu sampai kondisinya fit kembali.
“Tolong berikan ponsel ini pada papa, ada yang ingin Gilang bahas dengannya.” Pinta Gilang.
Setelah menunggu beberapa menit.
“Hallo, ada apa?” Suara serak pria paru baya, yang Gilang tahu itu adalah papanya.
“Bagaimana keadaan papa?” Tanya Gilang basa-basi.
“Sudah lebih baik. Hanya butuh istirahat beberapa hari lagi.” Jawab Kevin.
“Baguslah kalau begitu. Pah, apa papa pernah membuat salah satu perusahaan orang bangkrut?” Tanya Gilang ragu.
“Ada apa memangnya?” Kevin balik bertanya.
“Tidak apa-apa pah, Gilang hanya ingin tahu.”
“Seingat papa hanya satu yang pernah bermasalah dengan perusahaan kita.” Balas papa Kevin.
“Kenapa bisa mereka bermasalah dengan perusahaan pah?” Tanya Gilang semakin penasaran.
“Ada satu perusahaan yang sempat ingin menjatuhkan kita, mereka memfitnah bahkan menyuruh orang untuk mencuri data perusahaan kita hanya karena iri dengan kesuksesan kita. Karena sudah keterlaluan, papa menyuruh orang menyelidiki hal itu mencari tahu siapa dalangnya dan mencari kesalahan mereka.”
“Setelah di selidiki ternyata mereka banyak melakukan penipuan dan kecurangan dalam pekerjaan, itu sebabnya papa mengungkapkan seluruh kesalahan mereka di hadapan publik untuk memberikan efek jera pada mereka.”
“Dan hanya dalam dua hari, perusahaan itu langsung bangkrut.” Lanjut Kevin menjelaskan.
“Beberapa minggu kemudian …” Kevin menghentikan penjelasannya.
“Kemudian apa pah?” Tanya Gilang penasaran.
“Kemudian beberapa minggu setelahnya, terdengar kabar bahwa pemilik perusahaan itu bunuh diri karena tidak sanggup hidup dengan kemiskinan, beberapa hari berselang sang istri juga menyusul suaminya karena syok melihat suaminya bunuh diri.” Jelas Kevin sambil menghela napasnya.
Gilang syok mendengar penjelasan dari papanya.
Berarti apa yang Leo katakan benar. Tapi ini juga bukan salah papa sepenuhnya, ini karena kesalahan orangtua Leo sendiri yang terlalu tamak dan iri dengan kesuksesan orang lain. Batin Gilang berkecamuk.
__ADS_1
“Memangnya ada apa Gilang, darimana kamu tahu tentang hal ini?” Tanya Kevin lagi.
“Tidak apa-apa pah. Gilang sempat mendengar beberapa orang bercerita tentang hal ini dan menyebut nama perusahaan kita, jadi karena penasaran Gilang berpikir untuk menanyakan langsung pada papa.” Ucap Gilang berbohong.
Gilang terpaksa melakukan hal itu karena tidak ingin menambah beban pikiran papanya, apalagi papa Kevin masih dalam tahap pemulihan.
“Ya sudah pah, Gilang tutup dulu telponnya. Nanti saat papa sudah pulih sepenuhnya, kembalilah ke Indonesia jika ingin bertemu cucu kalian.” Kata Gilang penuh perhatian.
“Pasti, kami pasti akan segera pulang.” Ucap Kevin penuh keyakinan.
Setelah sambungan telepon di putuskan, Gilang kembali melanjutkan pekerjaannya dengan memeriksa beberapa berkas penting sebelum di tanda tangani olehnya.
***
Beberapa hari berlalu, semua berjalan seperti semula.
Leo sudah di tangkap atas kejahatannya, perusahaannya juga bangkrut karena berita ini.
Tidak di sangka Leo akan mengalami hal yang sama dengan apa yang terjadi pada ayahnya.
Yang membedakan hanya motifnya, kalau sang ayah melakukan itu karena tamak dan iri, Leo justru melakukannya karena merasa dendam pada keluarga Baskara.
Dengan kejadian ini, Gilang dapat mengambil hikmah kalau melakukan sesuatu pasti ada konsekuensinya yang harus kita tanggung atas apa yang telah kita pilih.
***
Sabtu pagi.
Bayi kecil itu hanya diam menghisap jempolnya tanpa menganggu tidur nyenyak orangtuanya.
Pintu kamar terbuka pelan-pelan, dengan mengendap-endap seseorang masuk dan langsung meraih baby Ken dalam gendongannya tanpa memberikan pergerakan yang dapat menbangunkan tidur pasangan muda itu.
Setelah mendapatkan baby Ken, orang itu berjalan keluar sambil mengendap-endap.
Beruntungnya orang itu karena Ken hanya diam saja, tidak menangis.
***
“Hoamm..” Marsya terbangun dari tidurnya.
Marsya mengerjapkan matanya beberapa kali untuk mengumpulkan seluruh kesadarannya.
Saat Marsya menoleh ke samping, tempat baby Ken sudah kosong dan suaminya masih terlelap di tempatnya.
“Ken.” Gumam Marsya.
“Astaga mas, Ken hilang.” Panik Marsya.
Mendengar teriakan Marsya, Gilang yang kaget langsung bangun dari tidurnya.
“Ada apa sayang?” Tanya Gilang.
__ADS_1
“Mas, Ken tidak ada di tempatnya.” Ujar Marsya panik.
Dua orang itu langsung bangkit berdiri mencari Ken di seluruh tempat yang ada di dalam kamar itu.
Nihil, Ken tidak ada di sana.
“Ya ampun mas, bagaimana ini.” Marsya sudah akan menangis saat itu.
Gilang juga mulai berpikiran negative, ia takut Leo akan menyuruh orang melakukan hal buruk pada keluarganya.
Ya Tuhan, lindungi Ken di manapun dia berada. Doa Marsya dan Gilang dalam hati.
Saat Marsya dan Gilang akan keluar dari kamar untuk mencari Ken di seluruh mansion itu, samar-samar mereka mendengar suara dua orang yang sedang tertawa di bawah.
Tanpa pikir panjang, Gilang dan Marsya langsung berlari ke bawah mencari asal suara itu.
Sesampainya di bawah Gilang dan Marsya langsung membulatkan matanya kaget melihat dua orang yang sangat mereka rindukkan.
“Papa, mama.” Panggil Gilang dan Marsya bersamaan.
“Kalian sudah bangun?” Tanya Lily langsung.
Marsya langsung berlari memeluk mertuanya itu.
“Mama.” Gumam Marsya sambil mendekap erat Lily dalam pelukannya.
Sementara Gilang, pria itu berjalan mengampiri Kevin yang sedang asik bermain bersama sang cucu.
“Kenapa papa tidak beritahu kalau akan datang, kalau begitu kan kami bisa menjemput kalian di bandara.” Ucap Gilang.
“Kami sengaja, karena kami ingin memberi kejutan pada kalian.” Jawab Kevin santai.
“Ken benar-benar mirip denganmu Gilang.” Ucap Lily menimpali obrolan ayah dan anak itu.
“Kan anak Gilang ma, gimana sih.” Sahut Gilang kesal.
Mereka langsung tertawa terbahak-bahak melihat wajah kesal Gilang saat itu.
Hari itu semua keluarga Baskara berkumpul, bercerita dan bercanda menikmati waktu bersama.
Kebahagian menyelimuti keluarga itu dengan pulangnya papa Kevin dan mama Lily kembali.
END.
❤️
Terima kasih author ucapkan untuk para readers yang telah menyempatkan waktunya membaca novel Mrs. Gilang Baskara 🙏
Terima kasih untuk vote dan like serta komen kalian selama ini❤️
Kalian the best🤗
__ADS_1
Doakan ya biar author punya waktu luang untuk kembali menulis novel lain yang tak kalah seru dengan Mrs. Gilang Baskara 😊🙏