Mrs. Gilang Baskara

Mrs. Gilang Baskara
Ch.49


__ADS_3

Gedung Baskara Group.


Mobil sport milik Gilang terlihat baru saja memasuki kawasan perusahaan. Mobil itu pun berhenti di depan Gedung.


“Ayo turun istriku.” Ajak Gilang.


Dengan malu-malu Marsya pun turun dari mobil itu. Beberapa karyawan yang melihat mereka dibuat kagum sebab ini kali pertama mereka melihat Gilang membawa istrinya ke kantor.


“Aku malu mas.” Ucap Marsya pelan, nyaris tidak terdengar.


“Tidak usah di hiraukan tatapan mereka. Ayo masuk.” Kata Gilang sambil menarik Marsya masuk.


Mereka pun berjalan masuk ke dalam. Sepanjang jalan menuju ruangan Gilang, Marsya hanya menunduk ke bawah tanpa mau mengangkat kepalanya.


“Kenapa menunduk terus sih, angkat kepalamu!” Kesal Gilang melihat Marsya seperti itu.


“Aku malu.”


“Tidak perlu malu, kamu kan istriku.”


Marsya masih tetap menunduk, ia tidak mau mendengar perkataan Gilang hingga sampai di ruangan presdir barulah Marsya mau mengangkat kepalanya.


“Tuan, Nyonya.” Sapa Doni sambil membungkukkan badannya tanda hormat.


“Hallo Doni.” Balas Marsya menyapa Doni, sekertaris Gilang.


Sungguh luar biasa melihat Tuan datang bersama Nyonya. Batin Doni terheran-heran.


Gilang pun membawa Marsya masuk ke dalam ruangannya.


Wow, ini kali pertama aku melihat ruangan kerja yang sebagus ini. Decak kagum Marsya dalam hati.


Pandangan Marsya terus mengarah ke setiap sudut ruangan Gilang, memperhatikan desain dan interior di ruangan itu.


Ternyata di ruangan itu ada salah satu pintu yang Marsya sendiri pun tidak tahu untuk apa.


“Itu pintu apa mas? Kamar mandi ya?” Tanya Marsya pada Gilang yang sudah mulai melakukan pekerjaannya.


“Bukan kamar mandi Sya, itu kamar untuk beristirahat. Eh tapi di dalamnya memang ada kamar mandi juga sih.” Jelas Gilang.


“Kalau mau masuk, masuklah.” Lanjutnya.


Tanpa banyak bertanya lagi, Marsya pun berjalan masuk ke ruangan itu. Ia pun penasaran seperti apa keadaan di dalam.


“Wah isi di dalam ruangan ini sangat lengkap ya. Disuruh tinggal disini pun pasti aku mau.” Kagum Marsya.


Setelah melihat-lihat semua sudut dan isi di dalam ruangan itu, Marsya pun keluar. Bertepatan saat itu Doni pun masuk ke dalam ruangan Gilang.


“Permisi Tuan, meeting akan di mulai 5 menit lagi. Semua sudah berkumpul di ruangan.” Ucap Doni.


“Kita ke sana sekarang.” Jawab Gilang.

__ADS_1


“Sya, aku akan meeting sebentar. Apa tidak apa-apa jika kamu sendiri disini?” Sambung Gilang, kali ini ia bertanya pada Marsya.


“Iya mas tidak apa-apa, aku akan menunggu disini saja.” Balas Marsya.


“Baiklah. Kalau ada hal yang kamu inginkan nanti, minta tolong pada karyawan yang ada saja ya.”


“Iya mas.”


Gilang dan Doni pun keluar dari ruangan presdir menuju tempat diadakan meeting nanti.


“Aku akan bersantai disini sambil menunggu mas Gilang selesai dengan meeting nya.” Gumam Marsya sambil menyandarkan diri di sofa.


Sedang asik memainkan ponselnya, tiba-tiba Marsya mendapat panggilan masuk dari suaminya, Gilang.


“Iya mas.” Sapa Marsya setelah menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan.


“Sya, ada berkas yang ketinggalan di meja. Tolong kamu lihat, berkasnya sudah aku pisahkan di map biru. Sedikit lagi Doni akan ke situ mengambilnya, jadi tolong kamu siapkan agar Doni tinggal datang dan membawanya kesini.” Instruksi Gilang.


“Iya mas, akan cari dulu.” Balas Marsya sambil berdiri dari tempatnya bersantai.


“Baiklah kalau begitu, aku tutup telponnya.” Kata Gilang.


Marsya menuju meja Gilang, mencari map biru yang Gilang sebutkan tadi.


Tapi yang ada di atas meja hanya beberapa kertas dan map berwarna merah.


“Tidak ada berkas yang mas Gilang maksud tadi disini.” Gumam Marsya bingung.


“Apa mungkin berkasnya ada di laci? Coba aku lihat saja, siapa tahu berkasnya ada di situ.” Sambung Marsya.


“Ketemu.” Senang Marsya.


Ia pun mengambil map itu keluar dari dalam laci.


Saat Marsya ingin menutup kembali laci meja itu, sorot matanya tertuju pada satu bingkai foto yang di balik.


Karena penasaran Marsya pun mengambil bingkai foto itu untuk melihatnya.


Deg.


Ternyata itu adalah foto Elena yang sedang bersandar di lengan Gilang, mereka sama-sama tersenyum pada kamera.


Marsya kaget melihat itu, perasaannya belum sepenuhnya pulih akan kebohongan Gilang dan sekarang ia harus melihat hal ini lagi.


Sedang sibuk berkutat dengan pikiran dan perasaannya, lamunan Marsya terpaksa harus buyar dengan ketukan pintu dari luar ruangan.


Dengan cepat Marsya menaruh kembali bingkai foto itu dan langsung menutup laci meja.


“Iya masuk.” Kata Marsya mempersilahkan orang itu masuk.


Marsya tahu itu pasti Doni yang datang.

__ADS_1


“Permisi Nyonya, saya ingin mengambil berkas yang tertinggal.” Ucap Doni setelah di persilahkan masuk.


“Oh ini berkasnya.” Balas Marsya sambil menyodorkan map biru itu pada Doni.


“Terima kasih Nyonya, saya akan kembali sekarang.” Pamit Doni.


“Doni tunggu.” Teriak Marsya sebelum Doni berjalan menjauh.


Doni pun berbalik sambil berkata “Iya Nyonya, apa Anda perlu sesuatu?”


“Saya mau pulang sekarang, saya bosan disini.” Ucap Marsya berbohong, sejujurnya ia ingin pulang dan menenangkan hati dan pikirannya saat ini.


“Nyonya bisa tunggu sebentar, saya akan ke sana memberitahu Tuan dulu.” Jawab Doni sopan.


“Jangan, nanti saja kau beritahu padanya. Aku akan pergi sekarang.” Cegah Marsya sambil meraih tasnya di meja.


“Nyonya saya mohon dengan sangat jangan seperti ini, saya bisa kena marah Tuan nantinya.” Kata Doni sambil menampakkan wajah memelasnya.


Karena merasa kasihan pada Doni, Marsya pun mengurungkan niatnya.


“Ya sudah kalau begitu. Pergilah, beritahu padanya.” Ucap Marsya.


Doni pun berjalan keluar dari ruangan itu menuju ruang meeting, sementara Marsya kembali duduk di sofa sambil menunggu Doni kembali.


Tidak berapa lama setelah Doni pergi, tiba-tiba pintu kembali terbuka. Ternyata yang datang bukan Doni melainkan Gilang, suaminya.


“Ada apa? Kenapa cepat sekali kamu ingin pulang?” Tanya Gilang sambil berjalan menghamiri Marsya di sofa.


“Aku bosan mas, aku mau pulang saja.” Jawab Marsya dengan pandangan mengarah ke tempat lain, ia malas melihat wajah Gilang sekarang.


“Baiklah. Nanti Doni yang antar ya, aku masih harus pimpin rapat soalnya.” Jelas Gilang sambil mengelus-elus kepala Marsya.


”Iya mas. Kalau gitu aku turun ke bawah sekarang.” Balas Marsya sambil beranjak dari duduknya dan langsung keluar dari ruangan itu tanpa melihat Gilang.


Ada apa ya? Kenapa Marsya seperti menghindar dariku. Kata Gilang dalam hati.


Gilang masih terus memperhatikan Marsya hingga wanita itu menghilang di balik pintu, ia ingin mengantar Marsya sampai ke bawah tapi rapat akan di mulai 5 menit lagi.


“Huft, kenapa tingkah Marsya beberapa hari ini tampak aneh ya.” Ucap Gilang sambil menghembuskan nafas kasar.


Bukan asal menilai, tapi yang Gilang perhatikan sikap Marsya beberapa hari ini tampak aneh. Mulai dari pindah kamar tanpa memberitahu, sampai tadi ia lihat Marsya seperti tidak ingin menatapnya.


“Apa mungkin Marsya seperti itu karena hormon kehamilan yang berubah-ubah?” Gumam Gilang.


“Ah sudahlah, aku hanya perlu bersabar sampai anak kita lahir nanti.”


Gilang pun kembali ke ruangan meeting, sedangkan Doni sudah Gilang tugaskan untuk mengantar Marsya pulang.


❤️


Oke readers, berhubung besok author sibuk urus kuliah jadi besok author libur up dulu ya🙏 Mohon pengertiannya🤗

__ADS_1


Bye👋🤣


Etss, jangan lupa vote, like dan komen😘 Kalau nanti author lihat vote, like dan komennya kurang, author mau tambah libur up lagi ah😜💃💃


__ADS_2