Mrs. Gilang Baskara

Mrs. Gilang Baskara
Ch.48


__ADS_3

Menjelang subuh Marsya terbangun karena ingin buang air kecil.


Saat Marsya ingin beranjak turun, ia merasa sulit untuk bergerak karena tubuhnya seperti di kunci oleh seseorang.


Pandangannya beralih pada tangan kekar yang sedang memeluknya dengan erat, tangan yang Marsya tahu siapa pemiliknya.


Kenapa dia bisa masuk ke kamar ini. Batin Marsya bertanya-tanya.


Karena sudah kebelet, Marsya pun menyingkirkan tangan Gilang dari perutnya secara perlahan dan langsung pergi menuju kamar mandi yang ada di dalam kamar itu.


Setelah merasa lega, Marsya pun berniat kembali untuk tidur. Tapi saat melihat Gilang di sana membuat niatnya untuk kembali ke tempat tidur itu ia batalkan.


Marsya masih berdiri sambil memperhatikan Gilang dalam-dalam, pikirannya kembali berputar mengingat foto yang dikirim orang tak di kenal.


Jujur, kamu buat aku bingung mas dengan sikapmu akhir-akhir ini.


Beberapa bulan ini kamu baik sama aku, perhatian sama aku, sampai-sampai aku pikir kamu sudah mulai menerima keberadaan ku dan anak ini di sampingmu meskipun kata cinta belum keluar dari mulutmu.


Kamu buat aku mulai bergantung sama kamu, kamu buat aku berpikir kamu mulai suka sama aku lewat perhatian dan tutur katamu yang lembut. Tapi apa?


Disaat aku sudah mulai menaruh rasa padamu, malah kebohongan yang kamu tunjukkan sekarang.


Sebenarnya apa yang ada di pikiranmu hingga mau berubah baik padaku?


Apa mungkin ini sandiwara mu saja?


Mungkin memang benar berita yang aku lihat waktu itu, bahwa kamu dan nona Elena menjalin hubungan lagi.


Lalu untuk apa pernyataan yang kamu keluarkan di publik tentang pernikahan kita?


Sumpah aku mulai bingung sekarang. Melihatmu hari ini saja rasanya aku malas, sakit di hatiku masih ada jika mengingat foto itu dan pesan yang kamu kirim padaku.


Lama berkutat dengan pikirannya, Marsya pun memutuskan untuk tidur di sofa kamar itu.


Untuk saat ini, ia malas berurusan dengan Gilang.


***


Matahari sudah terbit dengan menampakkan sinarnya.


Gilang menggeliat sambil tangannya meraba-raba sisi sebelah, ia pikir Marsya masih terlelap di sebelahnya.


Kosong, itu yang Gilang dapati.


Dengan malas Gilang beranjak turun dari tempat tidur dan berjalan keluar dari kamar itu. Ia berniat untuk mencari Marsya.


Dengan muka bantal khas bangun tidur Gilang berjalan menuju dapur, karena ia pikir Marsya pasti ada di sana.


Tapi saat sampai disana tidak ada tanda bayangan istrinya itu, malah yang Gilang lihat hanya Bibi seorang.


“Bi, dimana istriku?” Tanya Gilang.

__ADS_1


“Di halaman belakang Tuan, ini Bibi mau antar susu Non Marsya.” Jawab Bibi.


“Sini Bi, biar Gilang saja yang bawa.”


Bi Suci pun menyodorkan susu yang telah ia buat tadi pada Gilang majikannya.


Gilang pun langsung pergi meninggalkan Bibi menuju Marsya di halaman belakang.


Saat tiba di halaman belakang, Gilang dapat melihat istrinya itu sedang duduk melamun dengan tatapan kosong mengarah pada tanaman-tanaman hijau disana.


“Sya, ini susunya.” Ucap Gilang, tangannya pun terulur pada Marsya.


Marsya menerima susu itu dari tangan Gilang.


“Makasih mas.” Balas Marsya dengan senyum dipaksakan.


“Sama-sama istriku sayang.” Sahut Gilang santai.


Marsya yang mendengar Gilang menyebutnya dengan sebutan ‘Istriku sayang’ hanya bisa tersenyum, senyum yang sulit diartikan.


“Kenapa kamu pindah ke bawah tanpa mengkonfirmasi dulu padaku?” Ujar Gilang membuka percakapan di antara mereka, setelah tadi mereka terdiam sebentar.


“Rencananya mau beritahu saat mas pulang sore, tapi karena mas bilang akan pulang larut jadi Marsya memutuskan untuk pindah saja dulu, nanti saat mas pulang baru beritahu.” Sangkal Marsya.


“Tapi kenapa harus berbohong pada Bibi?”


“Tidak, aku hanya takut Bibi tidak mau membantuku mengangkat barangnya.”


“Iya maaf mas.” Balas Marsya. Ia sudah malas berdebat dengan suaminya itu.


Beberapa menit kemudian.


Gilang beranjak dari tempatnya duduk “Sya, aku akan mandi dan ke kantor sekarang. Tunggu aku di meja makan, kita sarapan bersama.”


Marsya hanya mengangguk sebagai balasan.


***


Di meja makan, Marsya sedang duduk menunggu suaminya itu datang. Sedangkan Gilang terlihat baru saja turun dari kamar atas dengan pakaian rapinya.


Gilang mengambil posisi duduk di samping Marsya.


Dengan inisiatif Marsya mengambilkan piring dan mengisi nasi dengan beberapa lauk untuk Gilang.


“Terima kasih istriku sayang.”


Lagi dan lagi Marsya mendengar sebutan Gilang padanya, itu membuat Marsya sedikit risih.


Mereka pun menikmati sarapan bersama, lebih tepatnya hanya Gilang yang makan sedangkan Marsya hanya diam memperhatikan makanan dengan pikiran yang entah kemana.


“Ada apa?” Tanya Gilang setelah melihat Marsya yang hanya diam tanpa menyentuh makanannya.

__ADS_1


“Tidak ada apa-apa mas.” Jawab Marsya sambil tersenyum.


“Lalu kenapa tidak makan sarapanmu itu? Atau kau mau aku menyuapimu?” Balas Gilang.


“Tidak. Aku bisa makan sendiri.” Sahut Marsya cepat.


Marsya langsung menyendok kan makanan ke dalam mulutnya meskipun rasa makanan itu hambar menurutnya tapi tetap ia paksa menelannya.


Marsya tampak seperti orang yang tidak punya gairah hidup dan Gilang melihat itu.


“Kamu mau ikut aku ke kantor?” Tawar Gilang.


Mendengar itu membuat Marsya langsung mengalihkan pandangannya cepat pada Gilang.


“Memang boleh mas?” Tanya Marsya ragu.


“Bolehlah.” Jawab Gilang santai sambil mengunyah makanannya.


“Iya aku mau ikut.” Balas Marsya bersemangat.


Meskipun ia malas berurusan dengan Gilang saat ini, tapi mendengar Gilang mengajaknya keluar membuatnya senang.


Setidaknya bisa jalan-jalan keluar, daripada hanya di rumah saja. Aku juga penasaran melihat kantor mas Gilang. Batin Marsya.


Gilang yang melihat Marsya tersenyum senang seperti itu membuatnya pun ikut tersenyum dibuatnya.


“Tapi aku belum mandi, bagaimana?” Marsya baru menyadari kalau ia belum mandi pagi.


“Ya tinggal mandi dan bersiap-siap, apa susahnya.” Kata Gilang dengan santainya.


“Tapi kalau mas Gilang terlambat bagaimana?” Tanya Marsya.


“Kalau aku terlambat pun tidak akan ada yang marah. Aku kan bossnya.”


“Iya juga.” Gumam Marsya pelan.


“Kalau gitu Marsya akan bersiap-siap sekarang.” Lanjut Marsya.


Saat Marsya ingin berdiri menuju kamar untuk bersiap-siap, Gilang menahannya.


“Habiskan dulu sarapanmu, tidak baik menyisakan makanan seperti itu.” Ucap Gilang memberi perintah.


“Huft, baiklah.” Pasrah Marsya.


Marsya pun dengan cepat menghabiskan sarapannya, meskipun rasanya aneh di mulut Marsya tapi ia paksa untuk memakannya, daripada nanti Gilang berubah pikiran.


Setelah sarapan selesai, Marsya langsung beranjak menuju kamar. Sementara Gilang menunggu Marsya di ruang tengah sambil memainkan ponselnya.


❤️


Slow ya😂

__ADS_1


Jangan lupa vote, like dan komen nya🙏🤗


__ADS_2