Mrs. Gilang Baskara

Mrs. Gilang Baskara
Ch.55


__ADS_3

Beberapa hari berlalu dan selama itu juga Marsya berusaha terlihat biasa saja.


Sebisa mungkin Marsya menekan rasa sakit hatinya jika berada di dekat Gilang, senyum yang selalu ia tunjukkan pada semua orang yang ada di mansion beberapa hari ini adalah senyum palsu untuk menutupi sakit hati itu.


Dan mengenai surat perceraian itu, Marsya sudah mendapatkan nya dari Leo. Berkat kenalan Leo yang membantu Marsya, surat itu bisa jadi hanya dalam beberapa hari saja.


Lalu, beberapa hari yang lalu Lily Baskara juga sempat menghubungi Gilang untuk memberitahu bahwa Kevin Baskara sedang sakit. Lily juga sempat menanyakan kabar tentang menantu dan cucunya.


Lily sangat menyayangkan hal ini, di saat menantunya akan berjuang melahirkan sang cucu justru Lily tidak bisa menemani mereka karena harus merawat suaminya yang juga sedang sakit. Lily pun berpesan pada Gilang untuk selalu siaga menjaga Marsya menjelang kelahiran anak mereka.


***


Sore itu di mansion milik Gilang.


Marsya sedang berada di kamar, ia sedang mengepak beberapa keperluan untuk persiapan melahirkan.


Marsya melakukan itu untuk berjaga-jaga jika nanti tiba-tiba ia akan melahirkan, Gilang dan dirinya tidak perlu repot nanti.


Dan lagi, sudah beberapa hari ini juga Marsya merasakan mual, muntah dan kadang juga diare.


Hal itu juga sudah Marsya konsultasi kan pada dokter Stella, dan dokter Stella pun mengatakan itu hal yang wajar menjelang proses persalinan karena saat waktu persalinan semakin dekat, usus akan bekerja lebih banyak dari biasanya untuk memproduksi hormon yang akan mempermudah dalam proses persalinan nanti.


Ada kalanya Marsya akan merintih di tengah malam karena merasa perutnya sakit, dan Gilang akan dengan sigap mengelus-elus perut Marsya hingga sakit itu hilang.


***


Saat Marsya Sedang sibuk mengemas beberapa barang miliknya, tiba-tiba saja terdengar suara pintu akan di buka dari luar.


Dengan cepat Marsya menutup tas itu dan melemparkannya pada tumpukan tas yang lain.


“Kamu sedang apa Sya?” Terdengar suara pria yang tak lain adalah Gilang. Rupanya Gilang baru saja pulang kerja.


“I..itu mas. Aku lagi siapin barang-barang yang diperlukan nanti saat melahirkan, untuk berjaga-jaga mas.” Jawab Marsya sambil menampilkan senyum tipis di bibirnya.


Gilang bingung melihat tumpukan tas yang menurutnya terlalu banyak untuk ukuran perlengkapan bayi dan beberapa keperluan Marsya, sedangkan mereka mungkin hanya beberapa hari saja di rumah sakit.


Karena Marsya memilih melahirkan normal, itu artinya dua atau tiga hari pasca melahirkan Marsya sudah bisa pulang bukan?


“Loh, apa tidak terlalu banyak barang yang akan kita bawa itu?” Tunjuk Gilang pada tumpukan tas itu.


Marsya bingung ingin memberi alasan apa pada Gilang, karena sesungguhnya ada satu tas besar yang Marsya gunakan untuk mengisi beberapa pakaian miliknya yang akan ia bawa setelah berpisah nanti.

__ADS_1


“I .. itu mas, memang barang untuk dedek bayinya banyak mas.” Elak Marsya.


“Benarkah?” Gilang masih tidak percaya.


“Iya mas.”


“Mas sini deh, ada hal yang ingin aku bicarakan.” Sambung Marsya, berusaha mengalihkan topik.


Gilang pun berjalan menghampiri Marsya, ia lalu mendaratkan tubuhnya di samping Marsya.


Posisi mereka saat ini duduk bersampingan di sisi ranjang.


“Apa yang ingin kamu bicarakan?” Tanya Gilang sambil meraih Marsya ke dalam pelukannya.


Entahlah Gilang tiba-tiba saja ingin mendekap wanita itu dalam pelukannya.


Dengan menghela napas panjang “Apa boleh aku yang memberi nama untuk anak kita?” Tanya Marsya bimbang.


Marsya rasanya ingin menangis sekarang, pikirannya tak karuan.


“Boleh, memangnya nama seperti apa yang kamu inginkan?” Tanya Gilang lembut sambil tangannya mengelus-elus punggung Marsya yang berada dalam dekapannya.


“Jika anak kita nantinya laki-laki, aku ingin menamainya ‘Kenward’. Jika anak kita nantinya ternyata perempuan, aku ingin menamainya ‘Kanaya’. Kamu tidak keberatan bukan?” Tanya balik Marsya.


Memang sampai sekarang Gilang dan Marsya belum mengetahui jenis kelamin bayi itu.


Mereka lebih memilih merahasiakannya karena menurut Gilang, apapun jenis kelamin bayi itu toh mereka tetap akan menyayanginya.


“Apa boleh aku bertanya lagi?” Marsya kembali bersuara, setelah tercipta keheningan sebentar.


“Bolehlah Sya, kamu boleh bertanya sebanyak apapun.”


Untuk sementara Marsya diam, berusaha menguatkan hatinya agar tidak menangis di depan Gilang.


“Apa kamu bisa menjaga dan menyayanginya dengan baik, kalau saja nanti aku tidak bisa ada di sisinya untuk menjaganya?” Tanya Marsya pelan, matanya pun juga sudah berkaca-kaca.


“Bisalah Sya. Aku pasti akan menyayanginya dan menjaganya dengan baik karena dia adalah anak ku, darah daging ku. Lagian kenapa juga kamu bertanya seperti itu seolah-olah kamu akan pergi darinya?” Timpal Gilang bingung dengan pertanyaan Marsya yang menurutnya sangat aneh.


“Tidak mas, mana mungkin. Aku juga kan hanya bertanya saja.” Balas Marsya.


Perlahan Marsya melingkarkan tangannya memeluk Gilang, meskipun hatinya sudah di sakiti oleh Gilang tapi perasaan cintanya pada Gilang tidak bisa di bohongi.

__ADS_1


Hidup bersama dalam beberapa bulan, sering di perhatikan dengan kasih sayang, meskipun Marsya tahu kasih sayang yang Gilang tunjukkan hanya sandiwara tapi itu sudah cukup membuat benih cinta itu tumbuh dalam hatinya.


Aku harap kamu bisa menjaga anak kita dengan baik, sesuai dengan apa yang kamu katakan tadi.


Rasanya berat sekali harus melakukan ini, tapi aku juga tidak sanggup jika harus hidup dalam sandiwara mu.


Aku hanya bisa berdoa semoga Tuhan senantiasa menjagamu dan anak kita nanti.


Mah, Pah, Marsya minta maaf kalau nanti mengecewakan kalian.


Air mata menetes dari pelupuk mata Marsya tanpa Gilang sadari. Dengan cepat Marsya menghapus air mata itu.


“Terima kasih mas.” Ucap Marsya sambil melepaskan pelukannya dari Gilang.


“Terima kasih untuk apa?” Tanya Gilang bingung.


“Terima kasih karena kamu mau memberiku kesempatan untuk memberi nama pada anak kita.” Jawab Marsya.


“Itu juga hak kamu Sya. Kamu aneh deh dari tadi.” Balas Gilang.


Marsya hanya menunjukkan senyum di bibirnya sebagai tanggapan.


“Kamu pasti capek habis pulang kerja, mandi dulu baru makan.” Kata Marsya lagi.


“Ya, akhir-akhir ini banyak sekali masalah di perusahaan. Aku pusing pikirnya.”


“Aku mandi dulu, oke.” Lanjut Gilang.


Gilang pun menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya yang sudah gerah dan lengket.


❤️


Gimana-gimana?


Gak boleh protes loh🤭😂


Ikuti saja alurnya ya👍


Kritik juga boleh, tapi dengan kata-kata yang sopan ya🙏


Oh iya bagaimana untuk nama anak mereka? Kalian boleh browsing di internet untuk arti nama mereka.

__ADS_1


Terakhir, tidak bosan-bosannya author minta dukungan kalian lewat vote, like dan komen👍🙏


__ADS_2