
Keesokan harinya, di rumah sakit medika tempat Marsya check up kandungan.
Gilang dan Marsya masih menunggu giliran mereka untuk di panggil.
Saat tiba di rumah sakit, semua mata tertuju pada mereka hingga membuat Marsya tidak nyaman. Marsya tahu yang mereka lihat bukanlah dirinya, melainkan lelaki yang berada di sampingnya.
“Ya ampun, bukankah itu Tuan muda Baskara? Jika di lihat secara langsung dia kelihatan sangat tampan. Aku juga ingin memiliki satu yang seperti dia.” Bisik-bisik para wanita yang masih bisa di dengar oleh Marsya.
“Iya, siapa wanita yang berada di sampingnya? Apakah itu kekasihnya atau istrinya?”
“Ah, sayang sekali dia sudah ada yang punya. Seandainya dia masih sendiri, aku pasti akan mengejarnya.”
Marsya yang mendengar ucapan-ucapan para wanita genit tiba-tiba merasa kesal dan ingin marah.
Entahlah, apa karena ini efek janin atau memang karena faktor lain, hanya Marsya yang tahu.
Karena melihat Marsya yang bergerak kiri dan kanan seperti tidak nyaman, mengundang perhatian Gilang.
“Ada apa hm?” Tanya Gilang perhatian.
“Tidak, tidak ada apa-apa.” Jawab Marsya.
“Jangan pikirkan omongan wanita-wanita itu, karna aku juga tidak tertarik pada mereka.” Kata Gilang seperti tahu apa yang Marsya pikirkan.
Apa pergerakan ku terlalu mudah di baca? Kenapa dia seperti tahu apa yang ada dalam pikiran ku?. Ucap Marsya dalam hati.
“Hah?” Beo Marsya pura-pura tidak mengerti apa yang Gilang katakan, demi menyelamatkan harga dirinya.
“Sudahlah, aku tahu apa yang kau gelisah kan dari tadi. Tenang saja, saat ini fokus ku hanya dirimu.” Balas Gilang santai.
Blush.
Mendengar ucapan Gilang membuat pipi Marsya bersemu merah, jantungnya seperti ingin melompat keluar dari tempatnya.
Ini seperti harapan yang di wujudkan Tuhan untukku.
Harapan agar aku bisa datang ditemani suami ke tempat ini, sama seperti mereka. Dan ternyata itu terjadi. Batin Marsya menginggat saat dirinya datang bersama bibi dan melihat para ibu-ibu lain yang datang ditemani pasangan mereka.
***
Karena tidak tahu ingin berkata apa, akhirnya Marsya memilih diam saja sambil menunggu giliran mereka.
20 menit berlalu.
“Atas nama Nyonya Baskara, silahkan.” Teriak seorang perawat yang berdiri di depan pintu praktek sang dokter.
“Nyonya Baskara?” Gumam Marsya bingung.
“Ayo, giliran kita sekarang!” Kata Gilang, berdiri dari kursi tunggu sambil membantu Marsya beranjak dari tempatnya.
__ADS_1
Jadi mas Gilang mendaftarkan diriku sebagai Nyonya Baskara?
Kenapa hal sekecil itu saja sudah membuatku bahagia ya?. Batin Marsya.
Pasangan suami istri itu berjalan berdampingan menuju ruangan dokter.
Mereka tidak luput dari pandangan para pasien yang juga menunggu giliran saat itu.
“Pasangan yang harmonis.” Kata salah satu ibu hamil yang saat itu sedang duduk di kursi tunggu, menunggu namanya di panggil.
Mendengar ucapan ibu-ibu tadi tanpa sadar membuat senyum tipis terbit di bibir Gilang.
Dan ternyata disana ada seorang wartawan yang saat itu sedang menemani kerabatnya berobat.
Tidak ingin melepaskan kesempatan besar, wartawan itu pun mengambil gambar Marsya dan Gilang.
***
“Silahkan duduk Nyonya Baskara.” Kata dokter Stella, dokter yang dulu memeriksa kandungan Marsya juga.
“Kemarin-kemarin anda datang, saya masih memanggil anda Nyonya Marsya. Sekarang nama anda sudah berubah di daftar ternyata.” Timpal dokter Stella lagi.
“Iya dok.” Balas Marsya malu-malu.
“Apa ini suami anda?” Tanya dokter Stella seperti tidak percaya, karena ia tahu siapa pria itu.
“Emmm..” Marsya ragu untuk menjawab.
Tidak ku sangka, ternyata suami dari nona Marsya adalah lelaki yang cukup terpandang di kota ini. Batin dokter Stella.
“Ah iya Tuan. Perkenalkan juga saya dokter Stella. Dokter yang akan menangani istri anda selama masa kehamilan hingga nanti beliau melahirkan.” Sapa dokter Stella.
Gilang mengangguk-anggukan kepala tanda mengerti.
“Kalau begitu Nyonya Marsya, ah maaf maksud saya Nyonya Baskara. Silahkan ikut saya ke tempat pemeriksaan. Sedangkan Tuan, anda boleh menemani istri anda sekalian melihat proses pemeriksaan nanti.”
Mereka kemudian beranjak ke sebuah tempat yang tadi di tutupi oleh tirai panjang.
Gilang membantu Marsya naik ke atas ranjang rumah sakit.
Dokter Stella pun mulai melakukan pekerjaan nya memeriksa Marsya.
***
“Jadi bagaimana dok? Apakah janinnya sehat?” Tanya Gilang saat mereka sudah kembali duduk di kursi yang di sediakan.
“Untuk janinnya sehat Tuan, sang ibu pun juga sehat. Ini merupakan progres yang baik, daripada waktu pertama Nyonya datang.” Jelas dokter Stella.
“Selanjutnya tinggal memperhatikan makanan yang di konsumsi saja, kalau boleh perbanyak makan sayur-sayuran dan buah karena itu baik untuk perkembangan dan kesehatan janin.”
__ADS_1
“Kalau boleh juga Nyonya Baskara lebih sering-sering lagi mengecek kandungan menjelang nanti akan melahirkan.” Tambah dokter Stella lagi.
“Baik dok.” Sahut Marsya.
“Karena sudah tidak ada lagi yang ingin kami tanyakan, jadi kami permisi dok. Terima kasih untuk waktunya hari ini.” Kata Gilang.
“Sama-sama Tuan.” Balas dokter Stella.
Gilang dan Marsya lalu keluar dari ruangan dokter menuju mobil mereka yang di parkir di halaman rumah sakit.
Gilang berencana akan mengantar Marsya pulang, baru setelahnya ia akan kembali ke kantor mengurus perusahaan.
Sampai di mobil, Gilang membantu Marsya memasang sabuk pengamannya.
Hal itu membuat jantung Marsya berdetak lebih kencang karena gugup terlalu dekat dengan Gilang.
Selesai, Gilang pun menancap gas membawa mobil yang mereka tumpangi keluar dari halaman rumah sakit menuju jalan besar untuk pulang ke mansion.
***
Saat tiba di perusahaan, semua orang memperhatikan Gilang.
Karena malas tahu dengan keadaan Gilang pun naik menuju ruangannya.
Saat tiba di atas, Gilang sudah di sambut oleh Doni.
“Tuan.” Sapa Doni.
“Hmm.” Balas Gilang sambil memasuki ruangannya. Doni tampak mengekor di belakang.
“Apa ada hal penting, hingga kau mengikuti kemari?” Tanya Gilang pada Doni.
“Itu Tuan, sepertinya ada orang yang mengambil gambar Anda bersama Nyonya di rumah sakit tadi dan beritanya sudah muncul.” Kata Doni sambil menyerahkan ipad yang di pegangnya untuk Gilang lihat.
“Tidak ku sangka secepat itu mereka merilis beritanya.” Ucap Gilang.
“Biarkan saja dulu. Aku akan merilis pernyataan nanti, sepertinya memang ini waktu yang pas.” Sambung Gilang lagi.
“Tapi apa Anda yakin dengan itu?” Tanya Doni ragu.
“Lakukan saja apa yang aku suruh. Sekarang tugasmu adalah memantau perkembangan beritanya, jika beritanya melenceng atau menjelekkan kau pasti sudah tahu apa yang harus kau lakukan.”
Doni mengangguk paham, ia lalu pamit kembali ke tempatnya melakukan pekerjaan seperti biasa.
Gilang pun sama, ia kembali fokus pada pekerjaannya seperti tidak terganggu dengan berita yang muncul.
Karena ini juga merupakan salah satu rencana Gilang untuk mengungkapkan pernikahan nya ke publik.
❤️
__ADS_1
Yuk di vote, like dan komen, tip nya juga boleh🤭😂😂