
“Huft, leganya.” Gumam Gilang.
Ia pun berjalan keluar dari toilet itu. Saat dirinya ingin berjalan kembali menghampiri Marsya, tiba-tiba ia mendengar seseorang memanggil namanya.
“Gilang.” Teriak seorang wanita.
“Elena.”
Di belakang Elena tampak pasangan paruh baya yang Gilang sangat kenali itu siapa.
Dengan langkah cepat Elena berjalan menghampiri Gilang, dan dengan tidak tahu malunya ia langsung meraih lengan lelaki itu dan melingkarkan tangannya di sana.
Saat Gilang ingin melepaskan tangan Elena di lengannya, wanita itu memohon dengan wajah memelasnya.
“Please, Gilang tolong aku. Bantu aku sekali ini saja, orangtua ku mengira kita masih memiliki hubungan. Dan beberapa hari ini ayah ku selalu saja menanyakan kabarmu padaku. Aku bingung harus menjawab apa.”
“Maaf Elena, itu bukan urusanku. Sekarang lepaskan tanganmu.” Perintah Gilang tegas.
Tapi Elena tetap saja tidak mau melepaskan tangan lelaki itu.
“Gilang aku mohon bantu aku, kali ini saja. Aku janji ini yang terakhir aku meminta bantuan mu.” Ujar Elena dengan wajah yang memelas.
Dari kejauhan tampak pasangan itu masih memperhatikan mereka.
“Ini yang terakhir aku membantumu. Aku melakukan ini karena aku masih menghargaimu sebagai orang yang pernah menemaniku di masa lalu, ingat itu!. Cepat katakan apa yang bisa aku bantu.”
“Tolong temui mereka disana, bersikaplah seperti kamu masih menjadi kekasihku dulu.” Kata Elena sambil menunjuk ke arah pasangan paru baya itu.
“Apa kau gila!” Hardik Gilang, ia merasa Elena sudah gila memintanya melakukan hal seperti itu.
“Kalau permintaanmu seperti itu, maaf aku tidak bisa.” Lanjut Gilang sambil ingin melepaskan rangkulan Elena di lengannya.
“Gilang aku mohon, ayahku sedang sakit. Dan kondisinya tidak baik akhir-akhir ini. Aku hanya ingin membuatnya senang di akhir-akhir hidupnya.”
“Apa perlu aku berlutut di depanmu sekarang, agar kau mau membantu ku.” Sambung Elena lagi.
“Jangan gila kau.” Sahut Gilang.
Apa jadinya nanti jika semua orang melihat Elena berlutut di depannya, pastilah orang mengira ia laki-laki yang kejam. Terlebih Gilang tidak enak, sedari tadi pandangan orangtua Elena terus mengarah pada mereka.
“Maka itu bantu aku, please.”
Lama Gilang berpikir, sambil sesekali melirik pada pasangan paruh baya di sana.
Memang jika di lihat, kondisi Om Herman tidak sesegar dulu saat terakhir kali aku melihatnya. Batin Gilang berpikir.
“Elena, jangan lupa tentang pernyataan yang sudah aku keluarkan di publik. Pasti orangtua mu pun sudah melihat itu bukan?”
“Jadi tidak mungkin mereka tidak tahu bahwa aku sudah menikah!” Ujar Gilang memperingatkan Elena.
__ADS_1
“Atau jangan-jangan ini hanya rencana mu saja.” Lanjut Gilang dengan tatapan penuh selidik pada wanita itu.
“Tidak, aku tidak merencanakan apa-apa. Memang mereka belum tahu bahwa kau sudah menikah, karena saat itu mereka ada di luar negri.”
“Ibu dan Ayahku baru saja kembali ke Indonesia setelah lama berada di luar negri, karena kondisi ayah yang saat itu drop.” Jelas Elena.
Mendengar jawaban Elena, membuat Gilang berpikir keras.
***
Setelah berpikir panjang lebar, akhirnya Gilang menyetujui permintaan Elena.
“Ingat aku melakukan ini semata-mata hanya ingin membuat Ayahmu senang. Bagaimana pun beliau pernah memperlakukan aku dengan baik saat masih bersamamu dulu.” Peringatan Gilang pada Elena.
“Iya aku tahu, terima kasih karena mau membantu ku.” Senyum Elena.
“Ayo hampiri mereka, bersikaplah seperti dulu.” Lanjut Elena, sambil berjalan mengandeng tangan Gilang menuju arah orangtuanya berada.
Dengan terpaksa Gilang menurut, berjalan mengikuti kemana Elena menariknya.
Sesampainya di depan pasangan paruh baya itu.
“Om, tante.” Sapa Gilang dengan senyum yang terlihat sangat dipaksakan. Ia pun berjalan mendekat kearah mereka, meraih tangan kedua orang itu dan menciumnya.
“Nak Gilang.” Sapa mereka bersamaan.
“Sudah lama ya kita tidak bertemu. Kenapa om tidak pernah melihatmu datang menjenguk kami.” Tanya Om Herman, ayah Elena.
“Gilang sibuk pah, makanya dia tidak sempat menjenguk papah. Benarkan sayang?” Ucap Elena sambil menampilkan senyum merekah di bibirnya.
“I..iya benar. Maafkan saya om.”
“Tidak apa-apa om mengerti, Elena juga mengatakan hal yang sama setiap kali om menanyakan kabarmu.”
“Kau tahu, setiap di tanya tentang kabarmu, anak ini akan menjawab (Gilang sedang sibuk pah, ia sedang mencari uang untuk melamar anakmu ini)” Kata Ayah Elena, sambil menirukan gaya bicara putrinya itu.
Mendengar penuturan Om Herman tadi, refleks membuat Gilang berbalik menatap Elena.
Sementara Elena yang tahu Gilang sedang menatapnya, pura-pura tidak melihat.
Pandangannya ia fokuskan ke depan, tidak lupa dengan senyuman yang selalu terbit di bibirnya.
Kenapa ia harus berbohong pada orangtuanya. Batin Gilang.
“Sudahlah pah, mending bahas hal yang lain saja.” Kata Elena mengalihkan topik.
“Bagaimana pekerjaan mu akhir-akhir ini nak Gilang?” Kali ini tante Ria, ibu Elena yang bertanya.
“Semuanya berjalan lancar tante.” Jawab Gilang canggung.
__ADS_1
“Apa kau sudah makan siang? Mari bergabunglah dengan kami disini.” Ajak Ria.
Gilang mulai tidak nyaman disana, pikirannya teringat pada Marsya yang ia tinggalkan di toko tadi.
Aduh bagaimana ini? Bagaimana caranya supaya aku bisa pergi dari sini. Batin Gilang.
Ia sedang berpikir keras sekarang, bagaimana supaya bisa keluar dari suasana ini.
Seperti keajaiban, tiba-tiba Doni menelponnya.
“Maaf Om, Tante. Sepertinya ada urusan penting hingga sekertarisku menelpon. Saya permisi ingin mengangkatnya.” Kata Gilang, sambil berjalan sedikit menjauh dari keluarga itu.
“Iya, ada apa Don?” Tanya Gilang setelah menekan tombol hijau di ponselnya.
“Maafkan saya Tuan sudah menghubungi Anda di waktu libur seperti ini.” Sesal Doni.
“Tidak apa-apa Don, justru aku ingin berterima kasih karena telah menyelamatkan ku dari situasi tidak mengenakkan.” Balas Gilang santai.
“Memangnya ada apa Tuan? Apa ada sesuatu yang menyulitkan Anda? Apa Anda butuh bantuan saya?” Tanya Doni bertubi-tubi.
“Sudah tidak ada apa-apa sekarang. Katakan apa yang membuatmu menghubungi ku di hari Minggu seperti ini?”
“Begini Tuan, saya mendapat kabar bahwa ada masalah dengan proyek hunian itu. Dari pihak pak Bramasta sepertinya tidak mampu mengatasi warga yang protes di sana Tuan.”
“Sudah ku duga mereka tidak akan bisa mengatasi masalah itu.”
“Iya Tuan. Jadi, sepertinya besok Anda yang harus turun tangan langsung ke lapangan untuk bernegosiasi dengan mereka.”
“Huft, ya sudahlah. Besok kita kesana, siapkan keperluannya.” Perintah Gilang sambil menghembuskan nafas kasar. Ia pun menutup panggilan telepon itu setelah tidak ada lagi yang ingin Doni bicarakan.
“Dasar tidak berguna, hal seperti itu saja tidak bisa di atasi.” Omel Gilang atas kinerja tidak baik dari pihak Leo Bramasta.
Setelah menyimpan ponselnya kembali pada saku celana, Gilang pun berniat kembali menemui keluarga itu.
“Astaga, ini hampir sejam aku meninggalkan Marsya di sana.” Gumam Gilang.
Ia pun berjalan cepat menemui keluarga Elena.
“Maaf Om, Tante. Ada hal mendesak yang harus saya urus sekarang. Saya permisi pergi sekarang. Sekali lagi maafkan saya.” Ujar Gilang sambil membungkukkan badan, tanda permohonan maaf. Ia melakukan itu karena menghargai orang yang lebih tua darinya.
“Iya, iya. Tidak apa-apa nak, pergilah.” Jawab Herman cepat.
“Iya nak, pergilah. Nanti mampirlah ke rumah, kita makan malam bersama. Sudah lama kita tidak makan malam bersama seperti dulu.” Kata Ria.
Karena tergesa-gesa, Gilang pun mengiyakan saja ucapan mereka.
“Hati-hati di jalan sayang.” Ucap Elena, seperti menggoda Gilang.
Setelah mendapat izin, Gilang pun berlalu meninggalkan keluarga itu, tujuannya sekarang adalah Marsya di toko bayi.
__ADS_1
❤️