
Pagi hari yang cerah, di tempat tidur terlihat Marsya yang masih nyaman dengan tidurnya.
Tapi beberapa saat kemudian, mimik wajah Marsya yang tadinya tenang sekarang berubah pucat seperti menahan sakit.
“Argghhh ..” Marsya mengerang sakit, matanya terbuka seketika.
“Awww … sakit.” Kembali terdengar rintihan dari Marsya, wanita itu kemudian bangun dari tidurnya sambil memegang perutnya.
Sementara Gilang yang saat itu berada di kamar mandi dengan cepat berlari keluar saat mendengar teriakan rintihan Marsya.
“Sya.” Panik Gilang saat melihat wajah pucat Marsya.
“Mas .. sakit.” Ucap Marsya.
Gilang dengan cepat menghampiri Marsya di atas tempat tidur.
“Apa ini sudah waktunya?” Tanya Gilang panik sambil meraih Marsya dalam gendongannya.
“Sepertinya mas.”
Gilang pun berlari membawa Marsya ke dalam mobil.
Bibi yang melihat hal itu pun juga ikut berlari mengikuti mereka ke depan.
“Astaga, ada dengan Non Marsya Tuan?” Tanya Bibi panik.
“Marsya sepertinya akan melahirkan Bi, tolong ambil tas-tas yang ada di kamar kami.” Perintah Gilang sambil memasukkan Marsya ke dalam mobil.
Bibi pun berlari masuk mengambil barang apa yang sudah Gilang perintahkan.
Untung saja Marsya sudah menyiapkan barang-barang itu untuk mengantisipasi kejadian seperti ini.
Bibi pun kembali berlari menghampiri mereka sambil menyodorkan tas-tas itu pada Gilang
“Ini Tuan.” Kata Bibi.
__ADS_1
“Bibi ikut kami, tolong temani Marsya di belakang.” Perintah Gilang lagi.
Dengan sigap Bi Suci pun masuk ke kursi belakang, menemani Marsya yang saat itu menahan sakit di perutnya.
Tidak lama setelah memasukan barang-barang bawaan mereka ke bagasi mobil, Gilang pun kembali berlari menuju kursi depan untuk mengemudikan mobil ke rumah sakit.
“Sabar ya Non. Tahan sedikit lagi.” Hibur Bibi. Marsya pun hanya mengangguk.
Gilang membawa mobil itu dengan kecepatan tinggi saking paniknya.
***
Rumah sakit medika.
Di depan pintu rumah sakit terlihat dokter Stella dan dua orang perawat yang sudah menunggu kedatangan mereka, tadi saat di perjalanan menuju rumah sakit Gilang menyempatkan diri untuk menghubungi dokter Stella untuk mengatakan bahwa Marsya sepertinya sudah akan melahirkan dan mereka sekarang menuju rumah sakit.
Itu sebabnya dokter Stella sudah berada di sana lebih dulu.
“Tolong istri saya dok.” Kata Gilang panik.
Gilang dan Bibi dengan setia mengikuti langkah perawat yang mendorong Marsya, wajah panik terpampang jelas di wajah mereka. Terlebih pada Gilang, wajah panik, tegang dan takut bercampur aduk di sana.
Sesampainya di depan ruangan persalinan yang di maksud.
“Tuan, Anda bisa menemani istri Anda di dalam.” Kata Dokter Stella pada Gilang.
Gilang pun masuk ke dalam, di luar hanya tersisa Bibi yang akan menunggu mereka.
***
Beberapa jam berlalu.
Gilang masih setia mendampingi Marsya di sampingnya, menguatkan wanita itu untuk tetap sabar menunggu hingga pembukaan sempurna.
“Sabar sayang, sebentar lagi.” Hibur Gilang.
__ADS_1
Sedari tadi Marsya hanya menangis menahan sakit itu, sesekali ia juga menarik nafas dan menghembuskan nya pelan berharap sakit di perutnya dapat reda.
Tidak lama kemudian dokter Stella datang, mengatakan bahwa sudah waktunya karena pembukaan Marsya sudah pas.
“Ibu Marsya, ayo tarik napas pelan-pelan lalu keluarkan.” Perintah dokter Stella memberi instruksi.
Dengan sekuat tenaga Marsya melakukan apa yang di instruksikan dokter Stella, keringat dingin bercucuran dari keningnya.
“Ayo Bu, sedikit lagi.” Semangat dokter Stella.
“Ayo Sya, sedikit lagi dan anak kita akan hadir di dunia.” Ucap Gilang tak kalah memberi semangatnya.
Dengan sekuat tenaga Marsya mengejan dan berteriak, dan suara tangisan bayi pun menyudahi perjuangan Marsya saat itu.
Semua yang ada di ruangan itu menghela napasnya lega.
“Selamat Tuan dan Nyonya, anak Anda laki-laki.” Ucapan selamat dari dokter Stella.
“Terima kasih Sya, terima kasih karena sudah berusaha dengan baik menghadirkan anak kita ke dunia ini.” Ucap Gilang sambil mencium kening Marsya, mata Gilang pun sudah berkaca-kaca menahan haru.
Marsya dengan setengah kekuatannya menoleh pada anak yang ada di gendongan dokter Stella.
Tanpa sadar air mata menetes dari pelupuk matanya.
Ada rasa bahagia, tapi juga ada rasa sedih di hatinya.
Marsya bahagia karena anak itu lahir dengan selamat, tapi Marsya juga sedih karena waktunya bersama anak itu mungkin tidak akan lama.
Ya Tuhan, kuatkan aku. Kata Marsya, menangis dalam hati.
❤️
Maaf ya kalau agak ganjal tentang proses melahirkannya. Jujur ya, author masih awam kalau soal kek gitu-gitu🙏😂
Jangan lupa ya, vote, like dan komennya👍😊
__ADS_1