
Marsya saat ini masih berada di bawah, ia belum berani untuk masuk ke kamar barunya. Lebih tepatnya Marsya masih belum terbiasa dengan perubahan Gilang.
Sementara Gilang sedari tadi sudah berada di kamar untuk beristirahat sebentar setelah tadi tiba dari Perancis.
“Apa non tidak lelah setelah tadi melewati perjalanan yang panjang?” Tanya bi Suci pada Marsya yang saat ini sedang menemaninya di dapur.
“Tidak bi, Marsya tidak apa-apa.” Elak Marsya, sejujurnya ia sangat lelah apalagi dengan keadaan nya yang sedang hamil seperti ini.
“Bibi tahu, pasti non Marsya tidak mau naik ke atas.”
“Ya begitulah bi, Marsya belum terbiasa dengan sikap mas Gilang yang sekarang.”
“Dibiasakan saja non, mungkin tuan sudah mulai berubah.”
“Marsya harap juga begitu bi.”
Marsya mengeluarkan beberapa paper bag yang merupakan ole-ole yang ia bawakan untuk bibi.
Lama Marsya berada di bawah, berbincang bersama bibi menceritakan pengalaman nya selama di Perancis.
Hingga menjelang petang, Marsya mulai gelisah karena merasa gerah dan penat ingin mandi dan mengganti bajunya.
Tapi Marsya bingung karena semua barang-barangnya sudah di bawah ke atas oleh
Doni dan Mang Ujang.
“Bagaimana ini? Naik atau tidak ya?” Gumam Marsya sambil mondar mandir di bawah tangga.
“Aisshh, naik sajalah. Yang penting mandi dan ganti baju dulu, rasanya sudah tidak tahan dengan keadaan gerah seperti ini.” Akhirnya Marsya memberanikan diri naik ke atas menuju kamar dirinya dan Gilang sekarang.
Sesampainya di depan pintu dengan ragu-ragu Marsya mengetok pintu itu berharap akan ada balasan dari dalam.
“Tuan boleh saya masuk.” Ucap Marsya dari depan pintu.
Beberapa kali Marsya memanggil Gilang tapi tidak ada sahutan dari dalam.
Karena sudah tidak tahan lagi, akhirnya Marsya memberanikan diri membuka pintu yang ternyata tidak di kunci dari dalam.
__ADS_1
Saat masuk ke dalam, pandangan Marsya tertuju pada sosok laki-laki yang saat ini sedang tertidur dengan posisi miring memeluk guling, menghadap kearah pintu masuk.
“Ternyata dia tidur, pantas saja aku berteriak dan mengetuk pintu namun tidak ada balasan.”
Marsya kemudian mengalihkan pandangannya memperhatikan setiap sudut kamar itu, kamar yang lebih bagus dan lebih besar dari miliknya di bawah.
“Wow, kamarnya sangat besar sekali.” Kagum Marsya.
Ini adalah kali pertama Marsya memasuki kamar milik suaminya. Kamar yang di penuhi dengan interior berwarna gelap, khas kamar para lelaki.
Kamar itu sudah rapi, Marsya hanya melihat bedak dan body lotion miliknya di atas sebuah meja rias, sedangkan barang-barangnya yang lain tidak ia ketahui dimana Gilang meletakkannya.
Marsya terus berjalan mengitari kamar itu, ia membuka sebuah pintu yang mengarah pada balkon kamar.
“Enaknya menikmati langit sore di tempat ini.” Gumamnya, sambil menghembuskan nafasnya.
Lama Marsya berdiri memperhatikan keadaan sekitar, sampai akhirnya Marsya memutuskan untuk masuk dan mandi sebelum nanti suaminya bangun.
Marsya masuk ke dalam kamar mandi yang di dalamnya sudah tersedia handuk yang di susun rapi di sebuah lemari, di dalam juga sudah ada perlengkapan alat mandi milik Marsya.
***
Selesai dengan ritual mandinya, Marsya berjalan keluar menggunakan jubah mandi dan handuk kecil di kepalanya.
Marsya mengalihkan pandangannya pada tempat tidur untuk melihat apakah suaminya itu sudah bangun atau belum.
Dan ternyata belum, suaminya itu masih tertidur dengan lelapnya hanya posisi tidur dari suaminya yang berubah.
Marsya pun menggunakan kesempatan ini untuk mencari dimana Gilang meletakkan seluruh pakaiannya.
Marsya bingung karena di dalam kamar itu tidak ada lemari sama sekali.
Dimana dia meletakkan pakaian ku. Kenapa tidak ada lemari di kamar sebesar ini, ya ampun. Marsya terus mondar mandir mencari dimana lemari pakaian berada.
Karena Marsya terus mondar mandir di kamar, membuat Gilang merasa ada kehadiran orang selain dirinya di kamar itu hingga terpaksa Gilang membuka matanya untuk melihat keadaan.
“Hoamm, ada apa?” Tanya Gilang dengan suara seraknya, saat melihat Marsya seperti orang kebingungan di kamar itu.
__ADS_1
“Em, anda sudah bangun?”
Gilang hanya mengangguk lalu memilih bangun dari tidurnya dan duduk bersandar di tempat tidur sambil memperhatikan Marsya.
“Kenapa?” Tanya Gilang lagi saat melihat Marsya seperti ingin mengatakan sesuatu.
“Eh itu, dimana anda meletakkan pakaian saya tuan?” Tanya Marsya ragu-ragu.
Berdiri di depan suaminya hanya dengan menggunakan jubah mandi seperti ini membuatnya malu.
“Tuh.” Jawab Gilang sambil menggerakkan dagunya menunjuk pada sebuah lorong kecil yang ada dalam kamar itu.
“Hah?” Marsya masih belum mengerti maksud dari jawaban Gilang.
Marsya tadi sudah melihat lorong itu, tapi ia pikir itu adalah ruang khusus milik Gilang. Makanya Marsya memilih tidak masuk ke dalam karena takut akan di marahi.
“Semua barang-barang ada di sana. Masuklah.” Ucap Gilang dengan nada lembut, ia tahu Marsya ragu untuk masuk kesana.
“Baiklah.” Marsya akhirnya masuk kedalam.
“Wow.” Kagum Marsya.
Ruangan itu penuh dengan lemari kaca besar yang isinya bermacam-macam. Ada sepatu milik suaminya, jas dan ada sebuah lemari kaca khusus yang isinya jam tangan mewah milik Gilang.
Marsya lalu menuju sebuah lemari yang isinya pakaian wanita milik Marsya. Ia membuka dan mengambil pakaian santai untuk di gunakan.
Sudah menggunakan pakaiannya, Marsya pun berjalan keluar dari ruangan itu.
Saat Marsya keluar, bertepatan dengan itu Gilang beranjak dari tempat tidur sambil berkata “Aku akan mandi, tolong siapkan pakaian ku.”
Marsya mengangguk lalu kembali masuk ke dalam ruangan khusus itu, untuk mengambil pakaian Gilang.
❤️
Mohon dukungannya ya readers🤗Lewat vote, like dan komen. Okey👍
Komentar kalian author baca kok, untuk di jadikan semangat menulisnya author🤗
__ADS_1