
“Aku tahu Gilang, kamu tidak sungguh-sungguh pada wanita itu. Kamu hanya menginginkan anak mu saja kan?” Tanya wanita yang saat itu berada di samping Gilang, tangannya pun seperti sedang memeluk lengan Gilang.
“Gilang jawab pertanyaan ku tadi.” Desak wanita itu.
“Ya, apa yang kau bilang tadi benar adanya” Jawab Gilang seperti kesal dengan wanita yang ada di sampingnya, wanita yang tidak lain adalah Elena.
“Hmm benar kan dugaan ku, kamu tidak sungguh-sungguh pada wanita itu. Aku pun tahu kamu pasti masih cinta padaku, hanya saja kamu menunggu waktu yang tepat untuk melepaskan wanita itu” Ujar Elena sambil tersenyum penuh kemenangan.
Deg.
Marsya shock luar biasa mendengar perkataan Gilang, hatinya seperti di tusuk beribu-ribu jarum.
Karena tidak sanggup lagi mendengar pembicaraan kedua orang itu, Marsya pun beranjak dari tempat itu. Saat ini ia butuh tempat untuk menangis, mengeluarkan segala sesak di dadanya.
***
Hikss … Hikss … Hikss
Marsya berjalan tak tentu arah, dan sepanjang jalan itu Marsya hanya menangis dan menangis.
Sungguh rasa sakit kali ini lebih luar biasa sakitnya daripada perbuatan Gilang dulu di awal pernikahan mereka.
Hikss … Baru kemarin aku mendengarnya mengatakan ingin memulai semuanya dari awal, aku sudah berusaha menepis segala pikiran buruk tentang kejadian mengenai dirinya dan Elena. Tapi apa? Aku malah mendengar perkataan menyakitkan dari mulutnya.
Huhuhu, ternyata dia hanya menginginkan anak ini. Hatiku sakit ya Tuhan.
Rasanya seperti baru kemarin mas Gilang menunjukkan kasih sayang dan perhatiannya hingga membuatku serasa di atas angin, tapi secepat itu juga ia menghempaskan ku ke dasar yang paling dalam.
Karena sudah tidak sanggup lagi Marsya pun terduduk di trotoar, tangisannya pilu menyayat hati bagi siapa saja yang melihatnya.
Keadaannya berantakan, sangat berantakan. Marsya terlihat sangat kacau.
Marsya terus menangis dan menangis berharap sesak di dadanya dapat berkurang.
***
Sebuah mobil terlihat berhenti di samping Marsya, tapi Marsya tidak peduli.
“Marsya.” Panggil seorang pria yang baru saja keluar dari mobil itu.
Merasa namanya di panggil, Marsya pun menoleh pada asal suara.
“Leo.” Sahut Marsya sambil tangannya dengan cepat menghapus air mata yang meluncur keluar.
“Astaga, ada apa dengan mu?” Tanya Leo panik.
Dengan cepat Leo berjalan menghampiri Marsya, pria itu langsung memapah Marsya masuk ke dalam mobil. Ia tidak peduli Marsya setuju atau tidak dengan apa yang ia lakukan, toh Marsya juga tidak menolak aksinya tadi.
Di dalam mobil, keheningan terjadi untuk beberapa saat.
__ADS_1
“Ada apa Sya, kenapa kamu berantakan seperti ini?” Tanya Leo setelah lama bungkam.
Bukannya menjawab pertanyaan Leo, Marsya malah menangis kencang.
Hikss … Hikss … Hikss
Leo bingung harus berbuat apa, ia pun menjalankan mobilnya untuk mencari tempat yang cocok agar Marsya tenang.
Ada apa sebenarnya. Batin Leo bertanya-tanya.
Beberapa menit berlalu.
Leo menghentikan mobilnya di salah satu pantai.
“Turunlah.” Ucap Leo lembut.
Marsya masih diam di tempatnya dengan pandangan lurus ke bawah, pikirannya jauh melayang.
“Sya.” Panggil Leo lagi. Marsya tersentak dari lamunan nya.
“I … iya.”
Marsya pun turun dari mobil itu.
“Kenapa Anda membawa ku ke sini?” Tanya Marsya.
“Karena aku melihatmu seperti sedang ada masalah, jadi aku berinisiatif membawamu kesini. Karena kata orang jika sedang kalut dan sedih, laut adalah tempat yang baik untuk mencurahkan isi hati.” Jelas Leo.
Marsya diam, memilih acuh atas perkataan Gilang tadi. Rasanya Marsya belum siap menceritakan hal ini pada Leo.
Sambil memandangi hamparan luas lautan, kembali pikiran Marsya terbayang-bayang pada kasih sayang Gilang padanya beberapa hari ini.
Jadi, semua yang kamu lakukan itu hanya sandiwara mas.
Ternyata kamu hanya menginginkan bayi ini.
Baiklah mas, jika hanya anak ini yang kamu mau.
Beberapa lama terdiam, akhirnya Marsya bersuara.
Setelah menghela napas panjang, Marsya pun berbicara “Leo, apa Anda bisa membantu saya.”
Leo mengerutkan dahinya bingung “Membantu apa?”
“Membantu saya mengurus perceraian saya bersama mas Gilang.” Jawab Marsya mantap.
Kali ini tekadnya sudah bulat untuk berpisah dari Gilang, ia tidak mau sakit lagi. Toh yang Gilang butuhkan hanya anak yang ada di dalam perutnya.
“Hah?” Leo tercengang mendengar penuturan Marsya tadi.
__ADS_1
“Apa kamu serius?” Tanya Leo lagi.
“Ya, saya serius.” Jawab Marsya cepat.
“Apa kalian ada masalah?” Tanya Leo lgi.
“Maaf Leo, saya belum siap menceritakan hal ini pada orang lain. Tapi saya mohon, bantu saya mengurus surat cerai itu.” Mohon Marsya dengan wajah memelas.
“Baiklah, tanpa kamu bilang pun saya tahu pasti ada masalah di antara kalian. Tapi maaf Sya, aku harus beritahu hal ini padamu. Beberapa hari yang lalu, aku melihat suami mu bersama seorang wanita memasuki salah satu hotel di kota ini.”
Marsya kaget mendengar pernyataan Leo tadi, berarti suaminya itu selingkuh di belakangnya.
Baik mas, kali ini tekad ku sudah bulat untuk berpisah dari mu. Kata Marsya dalam hati dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Belum pulih perasaannya atas perkataan Gilang, dan sekarang ia harus mengetahui kebenaran bahwa suaminya itu pergi ke hotel bersama wanita lain.
Aku tahu wanita itu pasti Elena. Batin Marsya.
“Sungguh aku minta maaf Sya harus memberitahu kenyataan pahit ini padamu.” Ucap Leo sambil menampakkan wajah penuh penyesalan.
“Tidak apa-apa. Jadi apa bisa Anda membantu saya?” Tanya Marsya.
“Itu mungkin akan sulit Sya, apalagi kamu sedang hamil seperti ini. Pengadilan pasti tidak akan menyetujui hal ini.” Jawab Leo.
“Saya mohon, bantu saya untuk berpisah darinya. Saya sudah tidak kuat lagi bersamanya.” Kata Marsya, kali ini dengan tangisan pilu.
Melihat Marsya seperti itu membuat Leo iba di buatnya.
“Baiklah, aku akan membantu mu. Kebetulan ada kenalan ku yang bekerja di sana.”
“Apa bisa kita pergi sekarang untuk mengurusnya.”
“Secepat ini?” Kaget Leo.
“Iya, saya ingin surat itu jadi sebelum waktu persalinan saya tiba. Jadi saya bisa memberikan nya pada Gilang saat anak ini lahir.” Kata Marsya mantap.
“Saya mohon.” Kata Marsya lagi sambil menampilkan wajah memelasnya saat melihat Leo yang diam saja.
“Baiklah, kita pergi. Aku akan menghubungi kenalan ku sekarang.” Putus Leo.
Mereka pun kembali ke mobil lalu bersiap menuju kantor pengadilan untuk menemui kenalan Gilang yang bisa membantu Marsya.
Semoga ini keputusan terbaik untuk kita. Meskipun aku sudah mulai mencintaimu, tapi aku akan berusaha melupakan cinta itu. Batin Marsya.
Sepanjang jalan Marsya hanya diam dengan pikirannya, sementara di sebelahnya Leo sedang fokus memandang ke depan.
❤️
Gak ada yang ikutan nangis kan? 😂
__ADS_1
Jangan lupa vote, like dan komen okey👍
Love you guys🤗❤️