
1 minggu kemudian.
Pagi itu Marsya sedang berada di bawah bersama baby Ken, wanita itu sedang mengajak baby Ken untuk berjemur di sinar matahari pagi.
Sementara Gilang diatas sedang bersiap-siap ke perusahaan untuk bekerja. Sejak Marsya kembali, semangat kerja Gilang kembali muncul.
Pria itu akan berangkat kerja agak lambat di pagi hari karena masih ingin menikmati waktu bersama keluarga kecilnya dan lucunya menjelang sore Gilang akan menjadi orang pertama di perusahaan yang pulang lebih awal.
Doni selaku sekertaris yang akan menanggung semua pekerjaan sisa yang Gilang tinggalkan.
Meskipun demikian Doni tidak pernah mengeluh, ia paham bossnya itu pasti masih ingin menghabiskan banyak waktu dengan keluarganya apalagi Nyonya mereka baru saja kembali.
***
Gilang turun dari atas dengan pakaian yang sudah rapi dengan tas kerja di tangannya.
“Sarapan dulu mas.” Ucap Marsya mengingatkan.
“Temani aku.” Pinta Gilang.
Marsya meraih Ken dalam gendogannya lalu menyusul Gilang ke meja makan.
“Kamu sudah sarapan?” Tanya Gilang sambil tangannya menyendokkan nasi dan lauk ke dalam piringnya.
Marsya tidak bisa melayani suaminya karena sekarang ia sedang menggendong baby Ken, jadilah Gilang sendiri yang melakukannya.
“Belum mas.” Jawab Marsya.
Tanpa berkata-kata lagi Gilang langsung mengambil makanan dengan porsi yang banyak, tentu saja bukan karena ia lapar atau rakus tapi itu untuk Marsya dan dirinya.
Gilang kembali duduk di samping Marsya dengan piring dan sendok di tangannya.
Suapan pertama Gilang berikan pada Marsya
“Buka mulutmu.” Perintah Gilang.
Tanpa membantah Marsya melakukan apa yang Gilang perintahkan. Marsya mulai terbiasa dengan perhatian Gilang padanya.
Mereka pun menghabiskan sarapan bersama dengan piring dan sendok yang sama, tidak ada lagi kejijikan yang Gilang rasakan seperti katanya dulu saat mereka baru menikah.
Setelah makanan itu habis. Gilang lalu bersiap menuju mobil miliknya yang terparkir di garasi samping mansion.
Marsya dan baby Ken juga turut mengantarkan pria itu ke depan.
“Hati-hati di jalan mas.” Ucap Marsya sambil meraih tangan Gilang untuk ia cium.
Gilang juga membalas dengan mengecup kening Marsya lalu beralih mengecup pipi gembul baby Ken.
“Aku pergi dulu, kalian baik-baik di rumah.” Ucap Gilang sebelum memasuki mobil.
Gilang menjalankan mobil meninggalkan mansion, membelah jalan menuju perusahaan Baskara Group.
***
Beberapa menit berkendara, akhirnya Gilang sampai di perusahaan.
Pria itu langsung naik menggunakan lift khusus miliknya menuju lantai atas tempat ruangannya berada.
Ting.
__ADS_1
Pintu lift terbuka.
Dari jauh Gilang dapat melihat Doni yang sedang fokus dengan pekerjaannya.
“Pagi.” Sapa Gilang sambil membuka pintu ruangannya.
Doni yang tadi terlalu fokus pada berkas-berkas langsung terlonjak kaget mendengar sapaan Gilang.
“Pagi Tuan.” Ucap Doni sambil berdiri, lalu menyusul Gilang masuk karena ada beberapa hal yang ingin ia bahas dengan bossnya itu.
Di dalam ruangan, Gilang langsung saja duduk di tempatnya.
“Ada apa?” Tanya Gilang langsung saat melihat Doni mengikutinya.
“Ini soal Leo Bramasta, Tuan.” Sahut Doni.
Gilang diam membiarkan Doni menjelaskan.
“Sampai sekarang kami tidak bisa menemukan identitas dan latar belakangnya Tuan, semua sudah saya kerahkan tapi hasilnya nihil. Pria itu menyembunyikan identitasnya dengan baik. Tapi dugaan saya, Leo melakukan hal ini untuk menjatuhkan perusahaan Anda, Tuan.”
“Mungkin saja dia adalah salah satu saingan bisnis yang ingin menjatuhkan Anda.” Lanjut Doni menjelaskan.
Gilang hanya mengangguk-anggukan kepalanya.
Saat mereka sedang fokus membahas masalah Leo, tak di sangka-sangka orang yang mereka bahas akhirnya datang.
Tanpa permisi Leo masuk dan membanting pintu ruang kerja Gilang.
“Anda sungguh tidak tahu sopan santun.” Sindir Gilang.
Doni dan Gilang tahu, cepat atau lambat pria itu pasti akan datang menemui mereka.
Leo menatap tajam Gilang yang berada di depannya.
Tanpa mereka sadari, Doni sedang mengotak-atik ponselnya. Tidak tahu apa yang sedang Doni rencankan.
“Bukan saya, tapi Anda yang tidak tahu namanya sopan santun.” Cibir Leo.
“Anda sungguh tidak professional dalam bekerja Tuan Gilang Baskara.” Sambung Leo menyindir Gilang.
Gilang hanya menanggapi dengan senyum miring dibibirnya dan itu membuat Leo semakin kesal.
“Bagaimana, apa Anda sudah mendapat surat cinta dari istri Anda?” Tanya Leo lagi berusaha memancing emosi Gilang.
Surat cinta yang Leo maksud adalah surat cerai.
Leo tidak tahu bahwa Marsya telah kembali pada Gilang.
Beberapa hari Leo tidak muncul karena harus pergi keluar kota menemui neneknya yang selama ini merawat Leo. Ayah dan Ibu Leo telah meninggal, itu sebabnya Leo hanya tinggal bersama neneknya.
“Langsung saja Tuan Leo, tidak perlu berbelit-belit. Apa maksud kedatangan Anda kemari?” Tanya Gilang santai. Padahal Gilang sendiri sudah tahu penyebabnya.
“Saya hanya kecewa karena Anda telah memutuskan kerja sama ini secara sepihak tanpa memberitahu saya. Bukankah itu namanya Anda bekerja dengan tidak professional.” Oceh Leo.
“Anda seharusnya tahu kenapa saya bisa melakukan hal itu. Apa Anda pikir saya tidak tahu bahwa Andalah orang di balik kekacaun proyek itu.” Telak Gilang tepat sasaran.
Leo tercengang mendengar perkataan Gilang tadi.
“Apa maksud Anda?” Ucap Leo berusaha tenang.
__ADS_1
“Tidak perlu berpua-pura Tuan Leo, karena saya tidak akan tertipu lagi dengan permainan Anda.”
Jadi mereka sudah tahu. Si*l. Maki Leo dalam hati.
“Apa maksud Anda melakukan itu? Karena saya tahu saya tidak pernah membuat masalah dengan Anda.” Tanya Gilang memancing Leo untuk jujur.
“Orang suruhan Anda sudah kami tangkap, jadi berhenti berpura-pura!” Hardik Gilang.
Karena terlanjur ketahuan, akhirnya Leo mengeluarkan semua uneg-uneg yang ada dalam pikirannya.
“Memang bukan kamu yang bermasalah dengan ku, tapi ayahmu si tua bangka itu yang telah membuat Ayah dan Ibuku meninggal!!!” Teriak Leo memecah keheningan yang sempat terjadi.
“Jaga bicaramu! Ayahku tidak mungkin melakukan itu.” Gilang balas berteriak.
“Ayahmu pembunuh. Seandainya ia tidak membuat perusahaan keluarga ku bangkrut, ayah dan ibuku sampai sekarang mungkin masih hidup!”
“Kalau aku tidak bisa membalaskan dendamku pada ayahmu, itu berarti kaulah yang harus menggantikan ayahmu merasakan apa yang selama ini ayahku rasakan.”
“Ya, kau benar. Akulah dalang di balik kekacauan itu, aku ingin menghancurkan perusahaan kalian!!” Lanjut Leo.
“Awalnya aku ingin menargetkan istrimu, tapi siapa sangka aku juga tertarik padanya.” Seringai muncul di bibir Leo.
“Si*lan kau.” Maki Gilang.
Gilang tidak terima dengan apa yang Leo katakan tadi.
Heh, yang benar saja pria itu tertarik pada istrinya, Marsya hanya boleh menjadi miliknya.
“Kalau dipikir-pikir, aku sangat menyesal telah membuat wanita seperti Marsya jatuh ke tanganmu.” Kata Leo lagi.
“Apa maksudmu!” Tanya Gilang kesal.
“Akulah orang yang telah menaruh obat di minuman mu. Aku melakukan itu agar kau tidur dengan wanita rendahan yang ada di club. Dengan begitu aku bisa mengeluarkan berita untuk menjatuhkanmu.”
“Tapi lagi-lagi Tuhan berpihak pada lelaki brengsek sepertimu. Kau pergi sebelum rencanaku berhasil, dan malah kau jatuh pada wanita baik seperti Marsya.”
“Bukankah itu tandanya, aku juga turut andil dalam pertemuan kalian. Jika saja kau tidak terpengaruh dengan obat itu mungkin saja saat ini Marsya masih bekerja di tempat itu dan aku bisa mendekatinya. Hahhh, aku sungguh menyesal.” Oceh Leo sesekali mendesah kesal mengingat Marsya telah menjadi istri Gilang.
Jadi Leo juga dalang di balik kejadian malam itu. Batin Gilang tercengan dengan kebenaran yang baru saja ia dengar.
“Aku pastikan akan mengirim mu ke dalam penjara. Camkan itu!” Desis Gilang menahan emosi yang membara dalam hatinya.
“Kau tidak punya bukti untuk menangkap ku.” Ucap Leo dengan wajah yang terlihat menyebalkan menurut Gilang.
“Karena rencana ini sudah terbongkar, aku akan kembali menghancurkan perusahaanmu dengan cara yang lebih kejam. Tunggu saja!” Ucap Leo memperingati mereka sambil berlalu keluar meninggalkan ruangan itu.
Setelah Leo pergi, Doni langsung bernafas lega sambil menyimpan kembali ponselnya.
“Aku harus menanyakan hal ini langsung pada papa.” Gumam Gilang yang teringat akan kata-kata Leo tadi tentang ayahnya.
“Suruh orang untuk memantau Leo. Aku takut ia akan melakukan sesuatu pada keluargaku.” Perintah Gilang pada Doni yang masih setia di tempatnya.
“Itu tidak akan terjadi Tuan, karena sebentar lagi Leo akan segera masuk dalam rumah barunya.” Jawab Doni dengan seringai di bibirnya.
“Apa maksudmu?” Tanya Gilang bingung.
“Saya telah merekam semua pengakuan Leo tadi Tuan. Dan videonya sudah saya kirim pada sahabat saya yang bekerja di kepolisian.”
“Bagus. Kau melakukan pekerjaanmu dengan baik kali ini.” Balas Gilang.
__ADS_1
Urusan Leo telah usai, Gilang kali ini hanya butuh penjelasan dari papa Kevin mengenai masalah ini.