
Marsya dan Gilang saat ini tengah berada di bandara, di damping oleh Lily Baskara dan Kevin Baskara.
Tepat hari ini kedua pasangan muda itu akan kembali ke Indonesia, masa cuti yang di ambil Gilang sudah berakhir.
Meskipun Gilang adalah presdir di perusahaan itu, Gilang tetap menunjukan sikap professionalnya jika menyangkut kerja dan bisnis.
“Kalian hati-hati ya dalam perjalanan kembali. Dan Gilang jaga istrimu dengan baik, mama usahakan akan pulang ke Indonesia saat Marsya akan melahirkan nanti.”
“Iya mah.” Jawab Gilang sambil menaik turunkan kepalanya.
“Kenapa papa dan mama tidak ikut saja dengan kami kembali ke Indo.” Tanya Marsya.
“Papa masih ingin menikmati suasana disini, terlebih lagi masih ada beberapa keluarga kakek Gilang yang belum papa temui.” Kali ini Kevin Baskara yang menjawab.
“Kalian cepatlah kembali, meskipun mama sering membuat Gilang pusing dengan kata-katanya. Tapi rasanya sunyi jika tanpa kalian.” Ujar Gilang.
Kevin Baskara berusaha menahan senyumnya agar tidak di lihat oleh istrinya.
“Dasar anak nakal.” Omel Lily pada Gilang.
Mereka akhirnya ketawa karena tidak tahan dengan perdebatan konyol anak dan ibu itu.
“Sya, kalau Gilang macam-macam sama kamu. Tinggalkan saja dia! Atau lapor sama mama, diakan anak nakal” Kata Lily berusaha mencari pembelaan lewat menantunya.
DEG.
Gilang dan Marsya terdiam seketika, saling memandang sebentar sebelum akhirnya Marsya memutuskan kontak mata mereka.
Pikiran Gilang saat ini berkelana kemana-mana, ia gelisah.
“Kenapa kalian semua diam sih!” Oceh Lily merasa tidak ditanggapi.
Marsya hanya tersenyum saja pada mertuanya, sedang Gilang hanya diam menatap lurus ke depan.
Akibat kata-kata Lily tadi membuat suasana menjadi berbeda dari sebelumnya.
__ADS_1
***
Kenapa tidak terpikirkan oleh ku setiap kemungkinan yang bisa saja terjadi seperti tadi yang mama katakan. Kata hati Gilang.
Dulu memang aku ingin dia cepat pergi dari kehidupan ku, tapi itu dulu. Situasi sekarang berbeda.
Banyak hal telah berubah, aku sudah mulai terbiasa dengan kehadirannya. Ya Tuhan apa yang harus ku lakukan sekarang.
Jika mengingat semua kejadian yang terjadi hingga kami tiba di tempat ini, membuat ku berpikir apakah ini juga merupakan rencana Mu untuk menyadarkan ku?
Terlebih lagi, banyak hal yang sudah terjadi selama seminggu ini kami berada di Perancis.
“Tidak ku sangka, hanya dalam waktu satu minggu Perancis dapat membuat semuanya berubah. Baik Perasaan maupun hidup ku.” Gumam Gilang sangat pelan, hingga tidak ada yang bisa mendengar apa yang Gilang katakan selain dirinya.
***
“Kami pamit mah, pah. Kalian sehat-sehat ya disini. Kalau ada waktu luang, kami pasti akan berkunjung kembali.” Kata Gilang pada kedua orangtuanya.
Suasana haru menyelimuti mereka menjelang detik-detik Marsya dan Gilang akan masuk ke dalam ruangan tunggu.
Lily sedih karena untuk sementara waktu tidak bisa bersama menantunya selama masa kehamilan.
Sementara Marsya bersedih karena akan kembali ke realita sesungguhnya dalam rumah tangga mereka.
Marsya tidak tahu bahwa semuanya akan berubah saat mereka kembali.
***
Gilang dan Marsya sudah berada dalam pesawat, duduk dengan pikiran masing-masing.
Mereka hanya akan berbicara jika ada hal yang perlu, dan akan diam jika tidak ada yang perlu di bicarakan.
Perjalanan menuju Indonesia membutuhkan waktu 17 jam lebih, jadi Marsya memutuskan untuk tidur sejenak.
Sementara Gilang sedari tadi hanya melamun bergerak kiri dan kanan seperti orang yang gelisah.
__ADS_1
Pikirannya masih terpaut pada kata-kata mama Lily tadi.
Apa yang harus ku lakukan ke depannya. Tanya Gilang pada dirinya sendiri.
Bagaimana kalau dia pergi meninggalkan ku sesuai apa yang tadi mama katakan.
Aku bahkan tidak tahu apa yang akan mama lakukan jika tahu perbuatan ku selama ini sangat menyakiti menantu kesayangannya.
Bagaimana kalau Marsya melapor pada mama, dan pergi meninggalkan ku bersama pria itu.
Tidak boleh, pokoknya tidak akan ku biarkan Leo mendekati Marsya lagi. Tekadnya dalam hati.
Karena sibuk dengan pikirannya, membuat Gilang tidak bisa tidur.
Selama perjalanan pun matanya sibuk dengan majalah yang menjualkan barang-barang yang disediakan pihak pesawat.
Saat melihat-lihat, matanya tertuju pada sebuah benda cantik yang di jual dalam majalah itu.
Gilang kemudian memanggil salah satu pramugari untuk mengambilkan barang tersebut yang akan ia beli.
Setelah mendapatkan apa yang ia mau, Gilang tersenyum penuh arti sambil menatap Marsya yang sedang terlelap dalam tidurnya.
Aku akan mengikatmu mulai sekarang. Kau hanya boleh bersama ku, kita akan merawat anak itu bersama-sama bahkan membuatnya lagi. Ucap Gilang dalam hati.
Gilang bertekad akan merubah semuanya, membuat Marsya perlahan-lahan mau menerimanya.
Meskipun Gilang tahu itu akan membutuhkan waktu, apalagi perbuatan dan kata-kata kasarnya dulu pasti masih membekas dalam ingatan Marsya.
Gilang akan menghapus semua kenangan buruk itu dan mengantinya dengan hal-hal indah mulai sekarang.
Sepertinya Gilang lupa memikirkan kemungkinan lain dari masa lalunya yang akan muncul menjadi boomerang dalam rumah tangga mereka.
❤️
Author tunggu vote, like dan komennya readers🤗 Ah iya, jangan lupa bintang 5 nya ya sayang-sayangnya author😘
__ADS_1