Mrs. Gilang Baskara

Mrs. Gilang Baskara
Ch.26


__ADS_3

Pagi hari di kediaman keluarga Baskara, Perancis.


Matahari tampak menunjukkan sinarnya, masuk menembus celah dari jendela kamar hingga membuat salah satu pasangan suami istri itu terganggu.


Marsya terbangun lantaran terganggu akan sinar matahari pagi.


Saat akan bergerak turun dari tempat tidur, Marsya merasa ada benda besar yang menahan pergerakannya, hingga membuatnya sulit bergerak.


“HAH?” Kaget Marsya saat melihat tangan Gilang yang sedang melingkar di perut buncitnya.


Flashback On.


Saat Marsya sudah terlelap dalam mimpinya, saat itu pula Gilang terbangun dari tidurnya karena merasa kehausan.


Gilang kemudian beranjak turun dari tempat tidur secara perlahan keluar menuju dapur untuk menuntaskan dahaganya.


Pada saat kembali pun dengan pelan ia menutup pintu itu, tidak ingin membuat Marsya terbangun.


Gilang naik ke atas tempat tidur itu, tapi perhatian nya tertuju pada Marsya yang tidur dengan damainya.


Perhatian Gilang juga tertuju pada perut Marsya, tangan nya pun dengan refleks mengarah pada objek yang mencuri perhatiannya.


Sejak dirinya pertama kali mengelus perut Marsya, dimana kejadian ia tertidur di kamar wanita yang dulu sangat ia tidak sukai.


Saat ia merasakan nyaman nya mengelus perut yang berisi nyawa itu, saat itu juga perasaannya terasa damai.


***


Gilang mengambil posisi tidur miring menghadap Marsya.

__ADS_1


Tangannya ia lingkarkan di perut buncit itu, mengelus dengan sangat pelan agar tidak membuat Marsya terbangun dan melihat aksi memalukan itu.


Kenapa setiap aku menyentuh perut ini, perasaan ku serasa tenang membuat ku merasa nyaman disana. Kata hati Gilang.


Apa yang sudah ku lakukan selama ini?. Tanya Gilang pada dirinya sendiri.


Lama ia melakukan hal menyenangkan itu, hingga tanpa sadar ia pun tertidur sambil memeluk wanita itu.


Kali ini Gilang tidur dengan lelap nya hingga ia sendiri tidak sadar dengan kelakuannya yang akan membuat jantung wanita yang ia peluk itu berdetak kencang.


Flashback Off.


“Aku harus cepat-cepat melepaskan pelukan ini dan keluar dari kamar, jika tidak ingin mas Gilang meneriaki ku saat melihat kejadian ini.” Gumam Marsya pelan.


Dengan hati-hati Marsya memindahkan tangan kekar Gilang dari perutnya, cukup sulit karena Gilang yang memeluk Marsya dengan erat layaknya guling.


Semangat Marsya. Ucapnya dalam hati untuk menyemangati dirinya.


Jangan di tanya, detak jantungnya memompa lebih cepat dari keadaan biasanya.


Marsya terus berusaha memindahkan tangan itu tanpa membuat sang empunya tangan terganggu.


“YES.” Teriak Marsya tanpa suara. Akhirnya usaha nya untuk lepas dari cekalan tangan itu berhasil.


Marsya buru-buru turun dari tempat tidur menuju kamar mandi untuk membasuh wajah dan menggosok giginya.


Marsya kemudian turun ke bawah untuk menyapa mertuanya yang biasanya sudah bangun di jam sepagi ini.


“Pagi mah.” Sapa Marsya saat tiba di dapur.

__ADS_1


Setiap pagi Marsya akan terlebih dulu pergi ke dapur untuk meminum air putih sebelum akhirnya meminum susu hamil yang akan di buatkan oleh maid atas perintah mama Lily.


“Pagi Sya.” Balas Lily.


“Sonia, tolong buatkan susu hamil untuk Marsya seperti biasanya.” Perintah Lily pada maid.


Tanpa di perintah dua kali pun, maid itu akan langsung pergi menjalankan tugasnya.


Marsya hanya tersenyum pada Sonia sebagai tanda terima kasihnya karena Sonia mau membuatkan susu untuknya.


Meskipun di perlakukan bak ratu di rumah itu, Marsya tetap menunjukkan kerendahan hati dan keramahannya. Khas seorang Marsya.


“Papa sudah bangun mah?” Tanya Marsya sekedar mencari obrolan pagi dengan mertuanya.


“Dia sedang di depan, katanya dia mau menghirup udara segar di pagi hari.” Jawab mama Lily.


“Papa itu bangunnya cepat, tidak seperti suamimu yang tidurnya seperti kebo. Mama sendiri heran dengannya.” Balas Lily lagi.


Kata-kata Lily tadi yang mengatakan Gilang tidur seperti kebo membuat Marsya ingin tertawa tapi sebisa mungkin ia tahan.


“Kamu kalau mau ketawa, ketawa aja. Jangan di tahan Sya.” Kata mama Lily lagi, yang tadi sempat melihat Marsya mengulum bibir.


“Hehe, mama bisa aja.” Jawab Marsya.


Perbincangan terus berlanjut di antara para


wanita yang ada di dapur, tak jarang para maid yang ada di sana ikut menimpali obrolan majikan mereka.


Mereka merasa sangat senang mempunyai majikan yang baik seperti Nyonya Baskara, sama seperti Marsya yang merasa bahagia mempunyai mertua yang baik seperti Lily Baskara.

__ADS_1


❤️


Hallo readers tersayang author, minta dukungannya ya dengan vote, like dan komen kalian. Agar author bisa tambah semangat menulis setiap episodenya🙏


__ADS_2