
Tidak terasa hari semakin sore, matahari mulai menenggelamkan dirinya.
Para pengunjung mulai berkurang sedikit demi sedikit. Gilang dan Marsya pun ikut mulai meninggalkan pantai.
Rasa lelah mulai di rasakan oleh Marsya, jalannya pun mulai sedikt lambat. Hal itu mengundang perhatian Gilang.
“Apa kau lelah?” Tanya Gilang.
Marsya hanya mengangguk, rasanya kekuatannya untuk menjawab sudah tidak ada.
Tanpa aba-aba, Gilang langsung membawa Marsya dalam gendongannya.
“Tuan.” Pekik Marsya kaget.
“Sudah diamlah. Pilih ku gendong atau jalan sendiri?” Kata Gilang memberi pilihan. Lebih tepatnya Gilang sedang menggoda Marsya sekarang.
Gilang tahu Marsya pasti sangat lelah, apalagi dalam kondisi hamil seperti ini pasti membuatnya tidak kuat lagi berjalan.
Dengan malu-malu Marsya menjawab “Gendong.”
“Maka menurutlah.” Balas Gilang.
***
Ternyata di sekitaran pantai itu menyediakan beberapa fasilitas lengkap, ada resort tempat menginap, ada restaurant, dan ada beberapa ruko yang menjual perlegkapan berenang dan pakaian pantai.
Aku juga lelah sekarang, rasanya sudah tidak kuat jika harus menyetir sekarang. Batin Gilang.
Gilang akhirnya memilih membawa Marsya ke sebuah resort yang tersedia, ia pikir dari pada menyetir dalam keadaan lelah yang bisa mengakibatkan kesalahan fatal. Lebih baik ia istirahat saja dulu sebentar, dan malam nanti baru pulang.
“Kenapa kita kesini Tuan?” Tanya Marsya bingung.
“Kita akan istirahat sebentar disini. Aku tidak sanggup jika harus menyetir sekarang.”
“Baiklah.” Pasrah Marsya. Wanita itu bisa melihat betapa lelahnya laki-laki itu sekarang, terlihat dari wajahnya.
Gilang pun memesan satu kamar disana.
Sesampainya di kamar, Gilang langsung menurunkan Marsya.
“Mandilah dulu, aku akan keluar sebentar untuk mencari pakaian yang bisa di pakai.”
__ADS_1
“Jangan lupa kunci pintu kamar ini.” Lanjut Gilang, sebelum akhirnya benar-benar menghilang di balik pintu.
***
Setelah melakukan apa yang di katakan suaminya tadi, Marsya pun menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Marsya memilih berendam sebentar dengan air panas untuk menghangatkan tubuhnya.
“Ah, enaknya.” Ucap Marsya, setelah masuk ke dalam bath up.
15 Menit berlalu.
Dirasa sudah cukup, Marsya pun keluar membasuh tubuhnya di bawah guyuran air shower.
Setelah selesai membersihkan diri, Marsya pun keluar dari kamar mandi menggunakan kimono dan handuk kecil di kepalanya.
Sambil menunggu Gilang kembali, Marsya menggunakan handuk kecil tadi untuk mengeringkan rambutnya yang basah.
***
Tidak berapa lama, terdengar ketukan pintu dari luar.
“Sepertinya itu mas Gilang.” Pikir Marsya. Ia pun berjalan keluar untuk membuka pintu.
“Ini, pakailah.” Gilang menyodorkan salah satu paper bag di tangannya pada Marsya.
“Aku akan mandi. Oh iya, sebentar akan ada orang yang mengantarkan makan malam. Tadi aku yang memesannya.” Sambung Gilang.
Marsya menganggukkan kepala, tanda mengerti. Gilang pun menuju kamar mandi, kali ini gilirannya untuk membersihkan diri.
Setelah Gilang masuk ke kamar mandi, cepat-cepat Marsya membuka paper bag tadi untuk mengambil pakaiannya.
Pipinya tiba-tiba merona saat melihat pakaian dalam yang ada di dalam paper bag.
Astaga, dia sendiri yang pergi membeli ini? Apa dia tidak malu saat disana?. Batin Marsya bertanya-tanya.
Marsya yang membayangkan hal itu saja malu, apalagi Gilang yang turun langsung ke tempat itu untuk membelinya.
Marsya tidak dapat membayangkan ekspresi Gilang saat penjaga toko melihatnya. Pasti laki-laki itu malu sekali.
Setelah teringat akan ada yang datang mengantar makanan, Marsya pun dengan cepat memakai pakaiannya.
__ADS_1
Ia lalu menuju meja rias yang ada di kamar itu, Marsya duduk merapikan rambutnya sambil menunggu orang itu datang.
Tidak lama orang yang di tunggu pun datang.
Marsya lalu mempersilahkan pelayan itu masuk menaruh pesanan mereka di dalam.
“Apa pesanan ini sudah di bayar?” Tanya Marsya berjaga-jaga, karena ia pikir siapa tahu Gilang belum membayarnya.
“Sudah Nona. Tuan sudah membayarnya langsung tadi.” jawab pelayan itu cepat.
“Oh, baiklah kalau begitu. Terima kasih.” Balas Masrya sambil tersenyum ramah. Pelayan tadi pun pamit undur diri dari kamar itu.
“Melihat orang tadi membuat ku ingat dengan pekerjaan ku dulu.” Ucap Marsya sambil menutup kembali pintu kamar itu.
Sejenak ia terdiam mengingat dulu, saat-saat ia masih bekerja di hotel milik suaminya itu.
Marsya bingung harus senang atau sedih dengan kehidupannya sekarang.
Banyak pertanyaan muncul dalam benak Marsya, saat ini ia sedang berandai-andai dalam pikirannya.
Bagaimana dulu jika saja aku tidak bertemu dengannya dan kejadian itu tidak terjadi?
Apakah kehidupan ku masih akan sama dengan dulu, saat sebelum aku bertemu dengannya?
Atau malah berubah?
Pertanyaan demi pertanyaan terus bermunculan di kepalanya, hingga lamunan Marsya di buyarkan oleh suara bariton pria itu.
“Orang itu sudah datang?” Tanya Gilang yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggang.
“I..Iya sudah Tuan.”
Gilang mengangguk, lalu berjalan menuju paper bag miliknya yang tadi ia letakkan di atas tempat tidur.
“Lalu sedang apa kau berdiri di depan pintu seperti itu? Apa ada sesuatu?” Selidik Gilang.
“Tidak ada Tuan.” Sahut Marsya cepat sambil berjalan menuju kursi untuk duduk.
Gilang pun tidak melanjutkan pertanyaan nya, ia kembali ke kamar mandi untuk menggunakan pakaiannya.
❤️
__ADS_1
Jangan lupa dukungannya ya lewat vote, like dan komen serta rate/bintang 5 nya🙏❤️🤗