
Beberapa menit berlalu.
Melihat Baby Ken yang sepertinya sudah kenyang membuat Marsya pun menyudahi kegiatannya menyusui baby Ken.
Waktunya mungkin sudah tiba, sekali lagi maafkan mama sayang. Sungguh mama menyayangimu melebihi apapun. Batin Marsya.
Sebelum menyerahkan baby Ken kembali, Marsya dengan sisa waktu yang ada ia gunakan untuk mencium, menghirup aroma Ken hingga memenuhi seluruh indera penciumannya.
Setelah merasa yakin, akhirnya Marsya pun mulai menjalankan rencananya.
“Bi, sepertinya baby Ken sudah bisa di kembalikan keruangan nya.” Kata Marsya berusaha menahan tangis agar Bibi tidak curiga padanya.
“Sudah mau di kembalikan Non?” Tanya B Suci lagi memastikan.
“Iya Bi. Mungkin susternya lagi sibuk jadi agak telat datangnya.” Kata Marsya lagi.
“Oh, ya sudah Non. Biar Bibi saja yang membawa Tuan Muda ke ruangannya.” Balas Bibi sambil berjalan menghampiri Baby Ken untuk ia gendong.
Sebelum benar-benar menyerahkan baby Ken pada Bi Suci, Marsya dengan cepat menciumi seluruh wajah bayi imut itu.
Karena tidak kuat lagi, air mata yang sudah Marsya tahan pun akhirnya keluar sudah.
“Hikss…” Isakan terdengar.
“Ada apa Non.” Tanya Bi Suci yang heran melihat Marsya menangis.
“Tidak Bi, Marsya hanya merasa belum rela berpisah darinya.” Jawab Marsya.
“Tenang saja Non, Tuan Muda hanya akan kembali keruangan nya. Masih banyak waktu untuk bersamanya nanti.” Balas Bi suci dengan polosnya, tanpa curiga sedikit pun.
“Iya Bi.”
Apa yang Bibi katakan tadi benar, masih banyak waktu kalau saja mas Gilang juga menginginkan ku.
Sayangnya yang ia inginkan hanya anak ini, jadi untuk apalagi aku bertahan dalam sandiwaranya. Batin Marsya pilu.
Setelah Marsya menghentikan tangisannya, Bi Suci pun pamit membawa Kenward kembali ke ruangannya.
Sepeninggalan Bi Suci, dengan cepat Marsya beranjak turun dari ranjang rumah sakit. Ia lalu mengambil tas yang sudah ia siapkan jauh-jauh hari.
Sebelum meninggalkan ruangan itu Marsya terlebih dahulu mengganti pakaiannya, lalu mengeluarkan sebuah amplop coklat dan sebuah kertas yang di lipat di atas meja nakas.
”Selamat tinggal mas, selamat tinggal anakku sayang. Semoga kalian selalu di beri kebahagian dan kesehatan dari Yang Maha Kuasa.” Gumam Marsya sebelum akhirnya pergi dari tempat itu.
***
Setelah mengantar baby Ken, Bi Suci pun kembali ke ruang rawat Marsya.
__ADS_1
Saat Bi Suci membuka pintu ruangan itu, tampak kamar yang sudah kosong.
“Dimana Non Marsya?” Gumam Bi Suci.
“Non, Non Marsya.” Panggil Bi Suci. Ia pikir Marsya mungkin berada di kamar mandi.
Tapi saat melihat kearah meja nakas, ada sebuah surat dan amplop coklat di sana.
Karena penasaran, Bi Suci pun mengambil surat dan amplop itu untuk di lihat.
Deg.
Surat dari pengadilan agama. Kata Bi Suci dalam hati.
Karena masih tidak percaya, Bi Suci pun pergi melihat kamar mandi berharap disana ada keberadaan Marsya.
Tapi nihil, kamar mandi itu kosong. Setelah dilihat-lihat juga, satu tas besar yang biasa berada di sudut ruangan pun sudah tidak ada.
“Tidak. Jangan bilang Non Marsya pergi.” Panik Bi Suci.
“Ya Tuhan, bagaimana ini?” Tanpa sadar Bi Suci pun menangis.
Dengan tangan yang bergertar hebat, Bi Suci meraih ponselnya dari dalam tas dan dengan cepat menghubungi Tuannya itu.
***
Gilang dan Doni saat itu sedang membahas kekacauan yang terjadi pada proyek hunian yang sedang mereka kerjakan bersama pihak Bramasta.
Entah siapa yang sedang ingin main-main dengan mereka hingga membuat proyek itu tidak bisa berjalan dengan baik.
Ada saja masalah yang terjadi, seperti beberapa warga yang tetap tidak ingin lahannya di gusur dan sekarang ada orang yang dengan kurang ajarnya membawa lari uang proyek itu.
“Aku tidak mau tahu, cepat cari siapa dalang di balik ini!” Teriak Gilang memenuhi seisi ruangannya.
“Awas saja, sampai aku tahu siapa orangnya itu. Akan ku hajar sebelum diserahkan ke polisi.”
Doni yang berada di situ hanya diam saja, tidak berani berkata-kata kalau tidak di suruh oleh Gilang.
Sedang meluapkan emosinya di ruangan itu, tiba-tiba saja ponsel Gilang berdering.
“Ahhh, siapa lagi sih!” Geram Gilang kesal pada orang yang menghubunginya disaat-saat seperti ini.
Meskipun kesal, Gilang masih mau meraih ponselnya untuk melihat siapa yang menghubunginya.
“Bibi.” Gumam Gilang bingung karena tidak biasanya Bibi menelfonya.
Ada apa ini? Kenapa perasaan ku tiba-tiba tidak enak begini. Batin Gilang.
__ADS_1
“Iya hallo Bi.” Sapa Gilang. Baru saja menyapa dan Gilang sudah mendengar isakan dari sebelah sana.
“Ada apa Bi? Apa terjadi sesuatu dengan Marsya atau anakku?” Tanya Gilang mulai panik. Doni yang melihat itu pun mulai penasaran.
“Hikss… Tu .. tuan. Non Marsya tidak ada di ruangannya.” Tangis Bibi dari seberang sana.
“APA! Maksudnya apa Bi, Marsya tidak ada di ruangannya?”
“Sepertinya Non Marsya pergi Tuan, ada sebuah surat yang ia tinggalkan di atas nakas.”
Deg.
Gilang merasa dunia nya akan hancur sekarang.
“Tidak, tidak, tidak mungkin Marsya pergi.” Ucap Gilang lirih, suaranya mulai bergetar menahan tangis.
Nyonya pergi? Ada apa sebenarnya ini. Batin Doni bertanya-tanya.
Tanpa pikir panjang Gilang langsung berlari keluar dari ruangannya.
Doni yang melihat itu pun berlari menyusul Gilang, ia takut Gilang tidak fokus dan malah terjadi sesuatu hal yang tidak di inginkan nanti.
Para karyawan yang melihat Gilang dan Doni berlari seperti terburu-buru pun di buat heran, tapi mereka tidak berani bertanya saat itu.
Sesampainya di depan gedung, Gilang pun berlari menuju mobil yang ia bawah tadi. Saat Gilang akan masuk, ia di tahan oleh Doni.
“Tuan, biarkan saya yang menyetir. Anda sedang kacau sekarang, akan lebih baik bila saya yang membawanya.” Ucap Doni sambil bergerak cepat masuk di kursi pengemudi tanpa menunggu persetujuan dari bossnya itu.
Gilang pun menuruti apa yang Doni katakan, ia pun berlari ke kursi samping.
Doni pun dengan cepat menancap gas mobil, membelah jalanan menuju rumah sakit sesuai perkataan Gilang tadi.
Di dalam perjalanan Gilang menghubungi beberapa kenalannya untuk mencari Marsya, ia bahkan menyewa beberapa anak buah untuk menyebar mencari istrinya.
Gilang yakin Marsya belum pergi terlalu jauh sekarang.
“Doni percepat lagi!” Perintah Gilang.
Gelisah, takut, marah, kecewa, sedih. Itulah yang Gilang rasakan sekarang, semua bercampur aduk menjadi satu.
❤️
Ngetiknya udah panjang nih😊
Ikuti alur ya kakak-kakak semua😂🤭🤣
Maaf kalau ini tidak sesuai ekspetasi kalian🙏
__ADS_1
Jangan lupa vote, like dan komen👍😘🤗