Mrs. Gilang Baskara

Mrs. Gilang Baskara
Ch.43


__ADS_3

Gilang dan Marsya saat ini tengah duduk berdua di depan meja yang sudah di penuhi dengan beberapa makanan yang di pesan Gilang tadi.


“Kenapa tadi kamu bisa bertemu dengan si Leo itu? Apa kalian janjian?” Tanya Gilang sambil menyendok kan makanan ke dalam mulutnya.


“Uhuk uhuk.” Marsya tersedak mendengar pertanyaan Gilang.


“Tidak Tuan, saya juga tidak tahu kenapa Leo bisa ada di sana saat itu.” Jelas Marsya.


“Heran saya, kenapa orang itu selalu ada di mana-mana.” Gerutu Gilang melampiaskan kekesalannya yang ia tahan sejak tadi saat bertemu Leo.


Marsya memilih diam, ia bingung ingin memberi reaksi seperti apa untuk menanggapi kekesalan Gilang. Karena Marsya memilih diam maka suasana kembali sunyi, masing-masing sibuk dengan makanan mereka.


***


“Sebaiknya kita menginap saja di sini malam ini, besok baru pulang.” Usul Gilang.


Saat ini mereka tengah duduk membiarkan makanan tercerna dengan baik di dalam tubuh.


“Apa tidak apa-apa Tuan? Bagaimana kalau ada pekerjaan yang harus Anda urus?”


“Besok adalah hari minggu, tidak ada pekerjaan di hari minggu.” Jawab Gilang.


“Kenapa? Apa kau keberatan kita menginap disini?” Tanya balik Gilang.


“Tidak Tuan, saya tidak keberatan sama sekali. Hanya saja saya berpikir, mungkin saja ada hal yang harus Anda urus.” Jawab Marsya, mengutarakan pikirannya.


“Tenang saja, lagipula saya bossnya di sana kalau kamu lupa.”


Mana mungkin saya lupa bahwa Anda adalah bossnya. Kata Marsya dalam hatinya.


Sambil menghela napas Gilang berkata “Hah, hari ini cukup melelahkan. Aku butuh tidur sekarang.”


Gilang pun berjalan menuju tempat tidur dan naik ke atasnya. Gilang duduk bersandar sambil kakinya ia selonjor kan.

__ADS_1


“Kemarilah, duduk di samping ku.” Sambil sisi sebelahnya ia tepuk-tepuk.


Karena Marsya juga merasa badannya lelah sekali, ia pun memutuskan untuk menuruti perintah Gilang.


Marsya beranjak naik ke atas tempat tidur, mengambil bagian di sisi suaminya.


“Bagaimana keadaannya di dalam? Apa ia membuatmu kesusahan akhir-akhir ini?” Tanya Gilang, tangannya sekarang ia gunakan untuk mengelus-elus perut Marsya.


Rasanya aneh melihat dia seperti ini, berbicara pada bayi yang masih ada di dalam perutku yang bahkan mungkin belum bisa mendengar. Batin Marsya.


“Untungnya dia cukup pengertian Tuan, sejauh ini tidak ada hal menyusahkan yang saya rasakan.” Cerita Marsya.


“Mulai sekarang berhenti memanggilku Tuan, rasanya aneh mendengarnya.” Titah Gilang memberi perintah agar Marsya berhenti memanggilnya Tuan.


“Tapi bukankah dulu, Anda sendiri yang menyuruh saya memanggil Anda dengan sebutan ‘Tuan’ karena Anda jijik waktu itu.” Balas Marsya, mengingatkan Gilang pada masa awal pernikahan mereka. Saat di mana Gilang masih kasar dan dingin padanya.


“Itu dulu, pokoknya mulai sekarang aku mau kamu memanggilku dengan panggilan yang sedikit romantis, seperti ‘sayang’ misalnya.” Kata Gilang.


Sekarang posisi mereka duduk berhadapan.


“Hah? T..tidak Tuan, saya tidak punya panggilan sayang.”


“Hey, berhenti memanggil ku Tuan.”


“Panggil aku sayang.” Perintah Gilang.


“Tapi rasanya aneh jika saya harus memanggil Anda seperti itu.”


“Nanti juga kamu akan terbiasa, ah atau panggil saja dengan sebutan di awal waktu itu bagaimana? ‘Mas’ tidak buruk juga panggilan itu.” Tawar Gilang.


Marsya mengangguk cepat, tanda setuju.


Lebih baik ‘Mas’ daripada ‘Sayang’. Batin Marsya.

__ADS_1


“Good.” Ucap Gilang saat melihat anggukan Marsya.


“Coba panggil aku dengan sebutan ‘Mas’ aku ingin mendengarnya.”


“Baik mas Gilang.” Sahut Marsya dengan kepala menunduk, sungguh ia malu.


“Pintar sekali istriku ini.” Goda Gilang, tidak lupa dengan kekehan lucu yang ia keluarkan.


Mendengar godaan Gilang membuat Marsya semakin malu di buatnya, mukanya sudah memerah seperti kepiting rebus sekarang.


“Kenapa wajahmu memerah seperti itu” Tanya Gilang, semakin menggoda Marsya.


“Mungkin karena saya merasa panas di sini.” Elak Marsya, sambil tangannya ia kibas-kibaskan di depan wajahnya.


“Masa sih? Tapi AC nya sudah aku nyalakan di suhu yang paling dingin.” Balas Gilang.


“Saya mengantuk mas, saya mau tidur duluan.” Kata Marsya berusaha menghindar agar Gilang berhenti mengodanya.


“Berhenti menggunakan kata ‘Saya’, itu terlalu kaku.” Protes Gilang.


“Baiklah mas, aku mau tidur sekarang.”


Marsya sudah ingin membaringkan tubuhnya tapi terhenti oleh perkataan Gilang.


“Emm Sya, apa boleh aku menjenguk bayi yang ada di dalam?”


“Hah? Maksudnya mas?” Tanya Marsya bingung.


“Ah sudahlah, ayo tidur. Kamu pasti capek hari ini.” Ucap Gilang mengalihkan topik.


Ia pun menarik Marsya ke dalam pelukannya, menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka berdua.


Honeymoon yang tidak di rencanakan. Batin Gilang sambil memejamkan mata, bersiap menuju alam mimpi.

__ADS_1


❤️


Jangan lupa votenya ya kakak😘🤗 Oh iya sama like, komen dan bintang 5 nya🙏


__ADS_2