
Resort.
Matahari mulai menampakkan sinarnya, terdengar demburan ombak pantai diiringi dengan kicauan burung di pagi hari.
Marsya membuka matanya, melihat sekeliling kamar sambil mengingat-ingat kejadian semalam.
Marsya tersenyum saat mengingat Gilang menyuruhnya memanggilnya dengan panggilan sayang.
Haha, sungguh aneh rasanya melihat mas Gilang seperti itu. Sangat berbeda dengan yang dulu. Pikir Marsya.
Marsya berencana turun untuk melihat pemandangan dari balik kaca resort, ia ingin menikmati suasana berbeda di pagi ini.
Saat ingin beranjak turun, perlahan Marsya menyingkirkan tangan Gilang yang melilit di perutnya. Tapi bukan malah terlepas dari pelukan Gilang, pria itu semakin mengeratkan pelukannya.
“Mau kemana?” Tanya Gilang dengan suara seraknya.
“Lepasin mas, aku mau turun.” Pintah Marsya sambil tangannya berusaha menyingkirkan tangan Gilang di perutnya.
“Buat apa sih?”
“Aku mau lihat pemandangan di balik kaca ini.” Jawab Marsya.
“Nggak usah, lihatnya lain kali saja. Mending sekarang lanjut tidur lagi, ini masih terlalu pagi.” Balas Gilang sambil memejamkan matanya kembali, tidak lupa dengan Marsya yang masih ada di dalam pelukannya.
Kalau sudah begini, Marsya tidak akan bisa melawan. Terlebih pelukan erat Gilang tidak bisa ia lepaskan.
“Ya sudah.” Pasrah Marsya.
Pasangan itu pun kembali tidur menikmati waktu yang jarang seperti ini.
***
Tidak terasa hari semakin siang.
Merasa perutnya lapar, Marsya pun terbangun.
Diliriknya sisi sebelah ranjang yang ternyata sudah kosong tanpa suaminya.
“Dimana mas Gilang.” Gumam Marsya.
Saat Marsya ingin turun dari tempat tidur, bertepatan pintu kamar yang di buka oleh Gilang.
“Kamu sudah bangun?” Ucap Gilang sambil menghampiri Marsya, ditangannya ada satu paper bag yang di tentengnya.
“Darimana mas?” Tanya balik Marsya yang bingung melihat Gilang sudah rapi dan segar.
Sepertinya suaminya itu sudah mandi, bahkan bajunya pun sudah berubah dari yang kemarin.
“Dari luar, ini aku bawakan pakaian. Mandilah, habis itu kita makan dan pulang.” Intruksi Gilang.
__ADS_1
Marsya menurut, ia berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Selesai dengan ritual mandinya, Marsya pun keluar dengan keadaan yang sudah rapi dan segar. Ia pun menyusul suaminya yang sudah duduk menunggunya untuk makan siang bersama.
***
Gilang dan Marsya sudah berada di mobil, bersiap untuk kembali ke mansion.
Jalanan waktu itu cukup senggang, tidak padat seperti biasanya.
“Ayo ke Mall.” Ajak Gilang. Ia merubah tujuannya yang tadi ingin kembali ke mansion malah sekarang ia ingin ke Mall.
“Untuk apa mas? Bukannya tadi kamu bilang mau pulang.” Tanya Marsya bingung melihat suaminya.
“Tadinya aku mau pulang, tapi setelah dipikir-pikir mumpung aku ada waktu.
Bagaimana kalau kita pergi melihat-lihat beberapa perlengkapan bayi?” Usul Gilang.
“Boleh juga.” Setuju Marsya.
Marsya baru ingat, ia belum membeli perlengkapan bayi sedangkan kehamilannya sudah akan menginjak bulan ke 8.
Mereka pun merubah tujuan, menuju salah satu Mall terbesar yang ada di kota itu.
Sesampainya di tujuan, Gilang pun memarkirkan mobilnya di basemant Mall.
Mereka pun berjalan masuk ke dalam Mall, mencari outlet yang khusus menjual perlengkapan bayi dengan brand terkenal.
Gilang ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya.
Setelah tadi tanya-tanya dengan beberapa orang tentang dimana toko khusus perlengkapan bayi, mereka pun sampai ditempat yang telah di beritahukan.
“Pilihlah yang menurutmu baik untuk anak kita.” Ujar Gilang sambil menampilkan senyum di bibirnya.
“Tapi mas, kita kan belum tahu tentang jenis kelaminnya. Kemarin aku lupa menanyakannya pada dokter Stella.”
“Carikan saja warna netral yang bisa di pakai untuk laki-laki maupun perempuan. Aku tidak peduli jenis kelamin anak itu, asal dia sehat saja aku sudah bersyukur untuk itu.” Balas Gilang.
“Kamu tunggu disini, aku mau ke toilet sebentar.” Izin Gilang sambil berlalu dari hadapan Marsya.
Marsya mengangguk, ia pun berjalan mengelilingi tempat itu mencari baju yang sesuai dengan keinginannya di bantu dengan pelayan toko yang setia menemaninya di samping.
***
Sudah hampir sejam Gilang pergi, tapi belum ada tanda-tanda ia akan kembali.
“Kenapa mas Gilang belum balik juga ya? Katanya cuma ke toilet bentar.” Gumam Marsya.
Ia pun memutuskan untuk keluar, mana tahu suaminya itu sedang menunggunya di luar.
__ADS_1
“Bentar ya mba, saya ke depan dulu.” Izin Marsya. Ia pun berjalan keluar dari toko itu.
Sampai di depan Marsya celingak-celinguk mencari Gilang, melirik kesana-kemari berharap bisa menemukan keberadaan suaminya itu.
Saat sedang sibuk memperhatikan sekitar, tiba-tiba pandangannya tertuju pada seorang pria yang berdiri membelakangi dirinya, di sebelah pria itu ada wanita yang sedang melingkarkan tangannya di lengan lelaki itu.
Terlihat sangat mesra.
“Bukankah itu mas Gilang?”
Marsya tahu itu Gilang, terlihat dari pakaian yang ia gunakan. Warna celana, baju dan sepatunya persis sama dengan yang Gilang gunakan tadi.
Deg.
Marsya merasa jantungnya seperti di hantam benda besar, terlebih setelah ia melihat ternyata wanita yang sedang bergelayut manja di lengan suaminya itu adalah Elena.
Dadanya serasa sesak sekali, nafasnya naik turun seperti berusaha meraup oksigen yang banyak di sekitar.
“Aku tidak boleh menangis, aku harus kuat.” Semangat Marsya pada dirinya sendiri.
Pandangannya masih tertuju pada pasangan itu, terlihat Gilang dan Elena berjalan menuju sepasang pasangan paruh baya yang duduk tidak jauh dari tempat mereka berdiri.
Siapa mereka. Tanya Marsya dalam hatinya.
Tanpa Gilang dan Elena sadari, sejak tadi Marsya memperhatikan mereka dari jauh.
Marsya melihat semua, dari Elena yang bergelayut manja di lengan Gilang hingga Gilang yang mengikuti Elena menemui pasangan paruh baya yang tidak Marsya ketahui siapa mereka.
Bahkan saat Gilang mencium tangan mereka dan duduk bercerita bersama pun Marsya melihatnya.
Ia bisa melihat semua, tapi tidak bisa mendengar percakapan mereka.
Ada rasa sakit yang timbul di dalam hati Marsya saat mengetahui Gilang berbohong padanya.
Matanya pun sudah penuh dengan tumpukan air mata yang siap meluncur keluar tidak bisa di tahan.
Katanya ingin ke toilet, ternyata hanya alasan saja untuk menemui wanita itu.
Kenapa tidak jujur saja jika memang dia ingin bertemu dengan wanita itu. Kenapa harus berbohong padaku.
Lalu, apa maksud perilakunya akhir-akhir ini padaku. Aku pikir dia sudah berubah, ternyata dugaanku salah.
Dengan kasar Marsya menghapus air mata yang tumpah tanpa di minta-minta. Ia pun berjalan kembali masuk ke toko itu.
Pelayan yang melihat Marsya kembali dengan mata sembab pun menjadi bingung.
❤️
Oke udah up banyak nih hari ini😂 Boleh dong minta vote, like dan komen serta rate bintang 5 nya readers🙏😘🤗
__ADS_1