Mrs. Gilang Baskara

Mrs. Gilang Baskara
Ch.38


__ADS_3

Beberapa hari setelah kejadian tentang berita Marsya dan Gilang.


“Nanti malam bersiaplah, kita akan makan diluar. Aku akan menjemputmu setelah pekerjaan ku selesai.


From Suami.” Bunyi pesan masuk yang dibaca oleh Marsya.


“Suami? Kalau benar ini mas Gilang, dari mana dia tahu nomor ponsel ku. Perasaan kami belum pernah bertukar nomor hp.” Ucap Marsya bermonolog sendiri.


***


Flashback On.


Tanpa Marsya tahu di malam ketika ia baru pindah di kamar Gilang, diam-diam Gilang mengambil ponsel Marsya yang saat itu Marsya letakkan di atas nakas samping tempat tidur.


Gilang mengotak-atik isi ponsel Marsya, semua hal di dalam ponsel Marsya di cek oleh Gilang.


Mulai dari pesan, panggilan, kontak bahkan galeri.


Gilang ingin tahu apakah Marsya juga berhubungan dengan Leo melalui ponsel.


Tapi setelah di lihat-lihat, tidak ada yang aneh dengan isi ponsel Marsya. Semua pesan dan panggilan hanya dari ibu dan adik Marsya, ada juga dari beberapa teman Marsya selama masih kerja dulu.


Tidak ada yang aneh. Baguslah Marsya tidak berhubungan dengan laki-laki itu kalau saja tadi aku dapat, sudah ku pastikan akan memblokir nomor laki-laki itu. Ucap Gilang dalam hati, takut jika Marsya akan bangun nanti.


Laki-laki yang dimaksud Gilang adalah Leo.


Sejak mendengar kata-kata Nyonya Lily waktu itu, sedikit banyak mulai membuat sifat posesif Gilang mulai muncul.


Setelah puas mengotak-atik isi ponsel Marsya, Gilang pun memasukkan nomor ponselnya di kontak Marsya dengan nama ‘Suami’.


Melihat kelakuannya sendiri membuat Gilang tersenyum-senyum. Senyum yang muncul persis seperti remaja yang baru merasakan namanya jatuh cinta.


Flashback Off.


***


Bunyi dering ponsel, membuat lamunan Marsya buyar.


‘Suami’ nama si penelpon.


Karena penasaran, akhirnya Marsya memilih mengangkat panggilan masuk itu.


“Hei, kenapa kau tidak membalas pesan ku?”


Terdengar suara seorang pria di seberang sana, siapa lagi kalau bukan Tuan Gilang Baskara.


Ternyata benar ini mas Gilang yang mengirim pesan. Batin Marsya.

__ADS_1


“Hallo, Marsya apa kau dengar apa yang aku katakan?” Kata Gilang lagi, setelah tidak mendengar jawaban dari Marsya.


Marsya tersentak dari lamunannya setelah mendengar suara Gilang dari seberang sana.


“I..iya Tuan, saya dengar apa yang anda katakan.” Jawab Marsya.


“Bagus. Kau pasti sudah membaca pesan ku bukan? Jadi bersiaplah nanti, aku akan mengajak mu makan malam di luar.” Balas Gilang dan langsung menutup teleponnya.


Setelah telepon ditutup, Marsya langsung memegang dadanya merasakan debaran jantungnya yang berpacu lebih cepat.


“Astaga, jantung ku.” Gumam Marsya. Pipinya saat ini sudah merah merona karena malu.


***


Ruang Presdir Baskara Group.


“Aku bisa gila jika begini caranya. Astaga wanita itu sungguh membuat hatiku berdebar karenanya.” Ujar Gilang setelah memutuskan sambungan telepon dengan Marsya.


Gilang masih terus senyum-senyum memikirkan makan malam nanti, pikirannya saat ini tengah menerawang jauh ke alam khayalan.


Hingga saat Gilang menoleh pada pintu, tatapannya bertemu dengan Doni yang saat itu juga tengah memperhatikan dirinya.


“Doni. Apa yang kau lakukan? Sejak kapan kau berada di situ?” Tanya Gilang sambil memperbaiki posisi duduknya.


“Sejak anda meracau tidak jelas saat pesan anda tidak di balas oleh Nyonya.” Jawab Doni seadanya, mengatakan apa yang sebenarnya.


Dengan menampilkan gaya cool Gilang berkata


“Apa kau sudah lupa dengan yang namanya sopan santun? Kenapa kau tidak mengetuk pintu tadi?”


“Maaf Tuan, sejak tadi saya sudah mengetuk pintu bahkan bersuara dari luar memanggil anda tapi tidak ada sahutan dari dalam. Itu sebabnya saya inisiatif masuk untuk melihat anda.” Jelas Doni.


“Tapi saat saya masuk, ternyata anda sedang …”


“Hei sudah hentikan, jangan di lanjutkan. Jadi ada perlu apa kau mencariku?” Tanya Gilang mengubah topik.


“Begini Tuan, di luar sudah ada nona Elena yang ingin bertemu dengan anda.”


“Untuk apa dia kesini?”


“Saya juga tidak tahu Tuan, tapi tadi nona Elena bilang dia perlu untuk bertemu dengan anda.”


“Ya sudah, biarkan dia masuk.”


Tidak lama setelah Doni keluar, Elena terlihat masuk ke dalam ruangan menghampiri Gilang.


“Hai Gilang.” Sapa Elena.

__ADS_1


“Hmm. Langsung saja, ada apa?” Tanya Gilang ingin cepat-cepat Elena keluar dari ruangannya.


Untuk saat ini Gilang tidak ingin di ganggu.


“Apa aku menganggu ya?” Balas Elena pura-pura sedih melihat respon Gilang yang dingin padanya. Tidak sama seperti waktu itu.


Melihat wajah memelas Elena membuat Gilang merasa bersalah.


“Bukan begitu, hanya saja banyak pekerjaan yang harus aku urus.” Kilah Gilang tidak sepenenuhnya berbohong, karena memang ada beberapa pekerjaan yang harus ia baca dan cek.


“Aku kesini ingin menemuimu. Kemarin aku datang, para karyawanmu bilang kau sedang cuti seminggu.”


“Ya, aku memang cuti.” Jawab Gilang sambil fokus pada layar komputer.


Kenapa Gilang aneh sih sekarang. Kesal Elena dalam hati.


“Memangnya kamu kemana?” Tanya Elena ingin tahu.


“Maaf Elena, tapi itu bagian dari privasi ku yang tidak semua harus orang tahu.”


“Apa kau pergi bersama wanita itu?” Tanya Elena memancing Gilang berkata jujur.


Elena tahu Gilang pergi bersama Marsya, karena saat itu Elena pergi ke mansion mencari Gilang tapi info yang ia dapat dari Mang Ujang bahwa orang yang ia cari sedang pergi bersama Nyonya mereka.


Mengetahui hal itu membuat Elena kesal, ia takut Gilang akan tertarik pada Marsya dan kesempatannya untuk mendekati Gilang semakin sulit.


“Kalau hanya itu yang ingin kau tanyakan, maaf Elena banyak hal yang harus aku urus. Kau bisa pergi sekarang.” Kata Gilang mulai malas menanggapi pertanyaan Elena yang menurut Gilang bukan hal yang harus Elena tahu.


“Oke oke, aku minta maaf jika terlalu ingin tahu tentang kehidupan mu.” Jawab Elena cepat sebelum di usir dari ruangan itu.


“Jadi sebenarnya aku kesini ingin meminta bantuan. Bisakah kamu menemani ku ke acara pernikahan sahabat ku?” Tanya Elena lagi.


“Maaf Elena aku tidak bisa, aku tidak ingin ada salah paham tentang berita yang muncul nantinya di publik mengenai kita.” Tolak halus Gilang.


Sebenarnya Gilang menolak juga karena tidak ingin Marsya salah paham nantinya, ia tidak mau usahanya sekarang untuk mengikat istrinya itu berantakan.


“Baiklah, aku paham.” Kata Elena dengan raut wajah kecewa, berharap Gilang tersentuh dengan acting yang ia tunjukkan.


Gilang tidak memberikan respon, justru ia fokus pada layar tanpa ingin melihat Elena.


Karena merasa usahanya tidak membuahkan hasil, Elena akhirnya memutuskan pergi dari ruangan itu dengan perasaan kesal setengah mati.


Doni yang melihat Elena keluar dari ruangan bossnya dengan muka cemberut dan masam hanya tersenyum sinis.


Semoga Tuan tidak lagi tertipu dengan wajah penuh muslihat anda nona Elena. Ujar Doni dalam hati.


❤️

__ADS_1


Yuk vote, like, komen dan rate/bintang 5 nya🙏


__ADS_2