
Rumah Sakit Medika.
Gilang dan Doni baru saja sampai, mereka dengan cepat langsung menuju ke ruangan tempat Marsya di rawat.
Sesampainya disana, Gilang hanya melihat Bibi yang sedang duduk sambil menangis. Gilang tahu Bi Suci juga pasti merasa kehilangan, terlebih mereka sangat dekat seperti ibu dan anak.
“Bi.” Panggil Gilang lirih.
“Tuan.” Balas Bi Suci.
“Kenapa bisa Marsya pergi Bi?” Tanya Gilang lagi.
“Jadi begini Tuan …..”
Bi Suci pun menceritakan semuanya dari saat Gilang ke kantor hingga Marsya menangis sebelum baby Ken di kembalikan ke ruangannya.
“Astaga.” Gilang pusing sekarang.
Beberapa kali ia menghubungi nomor Marsya tapi nomor itu tidak aktif, sepertinya Marsya sengaja mematikan ponselnya.
“Tuan, i..ini ada surat yang Non Marsya tinggalkan.” Ragu-ragu Bibi menyerahkan surat itu.
Gilang mengerutkan dahinya, bingung.
“Apa-apaan ini!” Geram Gilang saat melihat surat cerai dari pengadilan agama.
Tega kamu Sya, bisa-bisanya kamu melakukan ini. Batin Gilang marah.
Karena kesal dan marah, Gilang langsung merobek surat cerai itu menjadi beberapa bagian dan langsung melemparnya ke atas. Kertas-kertas itu langsung berserakan di lantai.
Tinggal satu surat lagi yang belum Gilang baca, dengan cepat ia langsung membaca surat yang di tulis Marsya itu.
Dear Mas Gilang, Suamiku dan Papa dari Kenward anak kita.
Saat kamu mendapatkan surat ini, itu artinya aku sudah pergi dari kehidupanmu.
Mungkin kamu bingung kenapa aku bisa melakukan hal ini. Tanpa kamu sadari, selama ini aku sudah tahu bahwa yang kamu mau hanyalah anak ini.
Dan kalau kamu bertanya dari mana aku tahu? Jawabannya, aku mendengarnya sendiri saat kamu dan Nona Elena berbicara di luar gedung perusahaan.
Kamu tahu? Rasanya hancur sekali saat mendengar sendiri dari mulut orang yang mulai aku sayang dan cintai bahwa ternyata yang ia mau hanyalah anak yang ada di perutku.
Aku juga tahu cintamu hanya untuk nona Elena. Jadi biarkan aku pergi, agar kalian bisa hidup bahagia tanpa ada penghalang sepertiku.
__ADS_1
Sampaikan juga salam ku untuk pasangan paruh baya yang kalian temui waktu di mall.
Seharusnya kamu tidak perlu berbohong mas dengan alasan ingin ke kamar mandi.
Kalau saja kamu jujur, mungkin rasanya tidak akan sesakit ini.
Aku harap kamu bisa menjaga Ken dengan baik seperti janjimu waktu itu saat di kamar.
Aku pergi, semoga setelah ini kamu bisa bahagia bersama Nona Elena dan Ken.
Marsya Cantika Putri.
Deg.
“Jadi Marsya melihatku?” Kaget Gilang.
“Argghhhh.” Teriak Gilang frustasi.
Tadinya Gilang ingin marah pada Marsya karena pergi tanpa memikirkan anak mereka tapi setelah membaca surat itu, rasanya Gilang ingin marah pada dirinya sendiri.
“Tunggu, kalau ia mendengar pembicaraan kami. Itu artinya ia juga mendengar pengakuan yang sebenarnya. Tapi kenapa justru Marsya pergi?” Bingung Gilang.
“Dasar bodoh, kamu pasti hanya mendengar separuh dari pembicaraan itu.” Jika sudah begini, kesimpulan yang dapat Gilang ambil pastilah wanita itu salah paham karena tidak mendengar seluruhnya.
Kenapa kamu sebodoh ini Sya. Seharusnya kamu langsung datang menghampiriku saat itu, seharusnya kamu menanyakan langsung padaku. Argghhh…
Maafkan aku.
Gilang tidak tahu lagi harus berbuat apa, ia hanya bisa berharap orang suruhan dan kenalannya bisa menemukan Marsya secepatnya.
“Doni, kamu ikutlah denganku pergi mencari Marsya sekarang.” Ajak Gilang pada Doni.
“Bi, aku dan Doni akan pergi mencari Marsya. Tolong jaga ruangan ini.” Setelah mengatakan hal itu, Gilang langsung pergi dari sana disusul Doni.
Sebelum meninggalkan rumah sakit, Gilang dan Doni berinisiatif untuk mengecek CCTV yang ada di rumah sakit itu.
Tidak banyak informasi yang mereka dapatkan, yang terlihat hanya Marsya saat keluar dan berjalan dengan cepat di koridor rumah sakit dengan tas besar ditangannya.
“Doni, hubungi anak buahmu. Suruh mereka mengecek ke bandara, terminal, dan stasiun kereta. Bisa saja Marsya pergi kesana.” Perintah Gilang pada Doni.
“Baik Tuan.”
Saat Gilang dan Doni sedang sibuk-sibuknya mencari Marsya, terdengar dering ponsel milik Gilang. Dengan cepat Gilang mengangkat telpon itu berharap ada kabar baik yang ia dapatkan.
__ADS_1
“Bagaimana?” Tanya Gilang langsung tanpa basa-basi.
“Maaf Tuan, kami sudah melacak GPS istri Anda tapi, posisi terakhir istri Anda itu di dekat rumah sakit medika Tuan.” Lapor suruhan Gilang dari sebelah sana.
“Ah si*l. aku tidak mau tahu, cari terus sampai ketemu!” Kesal Gilang langsung menutup telfonnya.
“Argghhhh… Kamu dimana Sya.” Gilang sungguh frustasi karena hal ini, belum selesai masalah pekerjaannya, sekarang malah Marsya pergi entah kemana.
Doni tidak tahu ingin berkomentar seperti apa, ia takut jika salah berbicara dan Gilang akan menerkamnya langsung.
***
Ini sudah tengah malam, tapi belum ada satu pun informasi baik yang Gilang dapatkan dari orang suruhannya.
Semua mengatakan belum menemukan jejak Nyonya mereka.
Harus kemana lagi aku mencari mu Sya. Sesal Gilang dalam hati.
Gilang merasa bodoh sekarang, ia bahkan tidak tahu siapa saja teman atau kerabat dekat Marsya saat ini.
Jika saja ia tahu, mungkin Gilang bisa mendapatkan informasi itu dari mereka.
“Tuan, sebaiknya kita pulang dulu. Pencarian akan di lanjutkan besok.”
“Lagi pula kasihan Tuan Muda Ken yang berada di rumah sakit tanpa di dampingi salah satu orangtuanya.” Sambung Doni memberi usul.
Deg.
Gilang serasa ditampar oleh perkataan Doni, ia terlalu sibuk mencari Marsya hingga melupakan anaknya sendiri.
Aku benar-benar tidak pantas di sebut suami dan papa yang baik untuk mereka.
Ken, maafkan papa melupakanmu.
“Kembali ke rumah sakit. Kita lanjutkan besok.”
Akhirnya hanya jalan ini yang bisa Gilang ambil, sebenarnya ia masih ingin mencari Marsya tapi anaknya juga membutuhkan dirinya sekarang.
Doni pun mengantarkan Gilang kembali ke rumah sakit, sebelum akhirnya ia juga pulang kerumahnya untuk beristirahat.
❤️
Author no coment.
__ADS_1