
“Jadi begitu Sya, semua hanya salah paham.” Ucap Gilang, setelah panjang lebar menjelaskan.
Marsya masih diam sesenggukan dalam pelukan Gilang, ia tidak tahu ingin memberikan tanggapan seperti apalagi.
“Kalau kamu tidak percaya, kamu bisa tanyakan sendiri pada Doni. Sungguh aku tidak pernah ke hotel dengan perempuan manapun, aku juga tidak mungkin kembali pada Elena. Karena menurut ku Elena hanya masa lalu dan kamu adalah masa depan ku.” Kata Gilang sungguh-sungguh.
“Sya kenapa kamu hanya diam saja, kamu tidak percaya padaku?” Sambung Gilang.
“Aku juga tidak tahu harus bagaimana menanggapinya mas, semua membuat ku bingung.” Jawab Marsya.
“Kamu hanya perlu percaya pada ku Sya. Bukankah waktu itu kita sudah sepakat untuk memulai semuanya kembali dari awal?”
“Kita memang sepakat mas, tapi kamu sendiri yang masih tidak mau terbuka pada ku? Kalau saja kamu saat itu jujur, mungkin aku tidak akan melakukan hal seperti ini.” Balas Marsya.
“Iya aku salah, aku minta maaf. Kali ini aku janji akan terbuka padamu, aku janji akan menceritakan apapun padamu.” Kata Gilang sambil melepaskan dekapannya pada Marsya.
Kali ini mereka duduk saling berhadapan.
“Kita mulai semuanya dari awal dengan saling terbuka dan tidak menyembunyikan apapun lagi, bagaimana?” Ajak Gilang, kata-katanya sangat serius.
“Percuma mas kalau hati dan cintamu bukan untuk ku.” Jawab Marsya. Ia tidak mau salah langkah lagi, Marsya juga merasa semua akan percuma kalau cinta suaminya tidak ada untuknya, justru kalau dipaksa yang ada akan seperti ini lagi kejadiannya.
Marsya mau semuanya jelas sekarang.
“Apa kamu tidak bisa merasakan semuanya yang ku lakukan selama ini, perhatian dan kasih sayang yang ku tunjukkan itu semua karena aku sudah cinta sama kamu Sya, kenapa bisa kamu sebodoh ini Sya.” Balas Gilang gemas.
“Sekarang aku tanya sama kamu, apa kamu juga cinta sama aku?” Gilang balik bertanya, jauh di dalam lubuk hatinya ia berharap Marsya juga cinta padanya.
“I.. itu, a .. aku …” Marsya gugup, wanita itu tidak menyangka akan di tanya seperti ini oleh Gilang.
“Itu apa? Aku mau kamu jawab dengan jujur, ingat kita sudah sepakat untuk saling terbuka dan tidak menutupi apapun.” Ujar Gilang mengingatkan.
“Huffttt..” Marsya menarik nafas panjang.
__ADS_1
“Mustahil mas kalau perasaan cinta itu tidak tumbuh dalam hatiku, perasaan itu sudah ada bahkan sebelum kita sepakat untuk memulai semuanya malam itu.”
“Jadi maksudnya kamu sudah mulai cinta padaku sejak dulu?” Tanya Gilang bersemangat.
Suasana yang tadinya tegang dan panas karena perdebatan dan amarah kini mulai mencair.
“Kenapa tidak jawab?” Lanjut Gilang menggoda Marsya.
“Tau ah. Bagaimana dengan Ken, mas?” Tanya Marsya mengalihkan pembicaraan.
“Ken di rumah, aku titip sama Bibi.” Jawab Gilang.
Mengingat Ken, membuat Marsya kembali sedih. Kata-kata Gilang tadi seperti berkelebat dalam pikirannya.
Aku bukan ibu yang baik. Batin Marsya miris.
Untuk beberapa saat tercipta keheningan di antara mereka.
“Kenapa?” Tanya Gilang saat melihat Marsya yang hanya diam dengan tatapan kosong ke bawah.
“Tidak, kamu Ibu yang baik untuk Ken. Maafkan kata-kata ku tadi, itu karena aku terlalu emosi.” Sahut Gilang cepat.
“Tidak, apa yang kamu bilang tadi memang benar mas. Aku tidak pantas di sebut seorang Ibu.”
“Lupakan kata-kata ku tadi, sungguh itu tadi karena aku terlalu emosi Sya.”
“Kamu mau pulang sama aku, atau mau lanjut kabur lagi?” Tanya Gilang berusaha membuat Marsya lupa akan kata-katanya tadi.
Maafkan aku Sya. Batin Gilang menyesal.
“Kalau kamu mau pulang sama aku, itu tandanya kamu setuju untuk kembali sama aku.
Dan soal surat cerai itu, sudah aku robek dan ku buang.” Lanjut Gilang.
__ADS_1
Surat cerai itu, apa yang harus ku katakan kalau mas Gilang tanya.
Marsya baru ingat akan surat cerai yang ia tinggalkan waktu itu.
“Mau pulang atau mau lanjut kabur lagi?” Tanya Gilang setelah tidak ada jawaban dari Marsya.
“Mau pulang mas.” Jawab Marsya malu.
Gilang sudah mengakui cintanya, lantas apalagi yang Marsya ragukan. Marsya juga sudah sangat rindu pada bayi kecilnya itu.
“Pilihan yang bagus.” Senang Gilang tanpa sadar menarik Marsya dalam pelukannya.
“Kalau begitu, ayo pulang mas.” Ucap Marsya tidak sabar ingin bertemu dengan baby Ken, pangeran tampannya.
"Kamu berhutang penjelasan padaku, tapi nanti saja kalau sudah di rumah baru jelaskan tentang surat cerai itu." Kata Gilang mengingatkan.
“Karena sudah disini, temani aku tidur sebentar. Selama kamu pergi, tidur ku tidak pernah nyenyak. Di tambah Ken yang tiap malam menangis karena haus, hingga membuat ku harus terjaga tiap malam.” Curhat Gilang pada istrinya itu.
Kasihan sekali kamu mas, maafkan aku. Sesal Marsya.
Gilang menarik Marsya untuk ikut berbaring dengannya. Ia lalu memeluk Marsya dari belakang, mencari posisi nyaman yang membuatnya tenang berada di dekat wanita itu.
“Jangan pergi lagi, aku hampir gila saat itu.” Gumam Gilang sambil memejamkan matanya.
Tidak butuh waktu yang lama Gilang sudah berada di alam mimpi, mungkin efek kurang tidur dan lelah hingga lelaki itu cepat sekali tertidur.
Marsya yang juga lelah tiap malam menangis merindukan Ken dan suaminya itu pun juga ikut tertidur.
Mereka seperti pasangan yang saling merindukan dan baru saja bertemu setelah berbulan-bulan tidak bersama.
Siang itu, mereka tidur dengan lelapnya dengan saling memeluk mencari kenyamanan yang beberapa hari ini tidak mereka rasakan.
❤️
__ADS_1
I'm Back💃💃💃🤣
Jangan lupa vote, like dan komen🤗 Bunga nya sekebon juga ya🤭😜✌️