Mrs. Gilang Baskara

Mrs. Gilang Baskara
Extra Part-4


__ADS_3

Malam harinya.


Setelah makan malam bersama, pasangan suami istri itu kembali ke kamar untuk beristirahat.


Marsya berbaring menyusui Ken, sementara Gilang berada di belakang tubuh istrinya memperhatikan dua orang itu.


Gilang mengelus-elus kepala baby Ken sambil sesekali mencium kepala istrinya.


“Mas.” Panggil Marsya disela-sela menyusui baby Ken.


“Ya.” Sahut Gilang juga yang sedang memainkan jari jemari Ken, meskipun ia berada di belakang Marsya tapi tangannya cukup panjang untuk sampai di tempat Ken.


“Karena Ken masih kecil, jadi aku berencana untuk memasang kb implant. Apa boleh?” Tanya Marsya.


Sudah dari lama Marsya memikirkan ini, semenjak masa nifasnya selesai suaminya itu selalu mengajaknya bermain tengah malam disaat ada kesempatan. Ditambah mereka tidak pernah menggunakan pengaman, Marsya hanya belum siap untuk hamil lagi apalagi Ken masih kecil dan masih membutuhkan ASI dan perhatian penuh darinya.


Bukan ingin menolak titipan yang Tuhan kasih, sejujurnya Marsya ikhlas kalau pun Tuhan kasih lagi. Tapi hanya saja Marsya ingin fokus dulu pada anak pertamanya, ia tidak ingin lalai.


“Tunggu.” Tiba-tiba Gilang beranjak dari tempatnya, mengambil ponsel yang ia simpan di dalam laci nakas lalu mengotak-atik ponsel itu.


Sedetik kemudian.


“Tidak boleh. Jenis kb apapun tidak boleh!” Tegas Gilang menolak.


Rupanya Gilang mengambil ponselnya tadi untuk mencari apa itu kb impant, bagaimana rupanya dan efek sampingnya nanti jika digunakan oleh istrinya.


“Loh, kenapa mas? Aku belum ingin hamil lagi, kamu tahukan Ken masih kecil. Masa sudah mau hamil lagi. Tolong mengerti keadaan ku, mas.” Marsya mengucapkan itu dengan wajah memelasnya.

__ADS_1


Gilang kembali ke tempatnya setelah menyimpan ponsel itu, tangan kekar laki-laki itu memeluk istrinya.


“Justru itu, karena aku tidak mau terjadi sesuatu denganmu makanya aku menolak. Efek samping yang ditimbulkan tidak baik untuk keadaanmu nanti. Aku tidak mau kamu merasakan nyeri atau apapun itu hanya karna menggunakan benda itu.” Gilang masih menolak.


“Tapi aku belum ingin hamil lagi. Kamu juga selalu mengajakku melakukan itu. Bagaimana kalau aku hamil?” Cecar Marsya kesal dengan suaminya.


“Kalau hamil lagi ya berarti aku memang tokcer. Kan juga aku tanggung jawab jadi bapaknya.” Jawab Gilang santai.


“Kalau gitu mas saja yang mengandung dan melahirkan, dipikir gampang apa yah.” Cebik Marsya kesal.


Bukannya menjawab ucapan istrinya, Gilang justru menghujani Marsya dengan kecupan-kecupan.


“Apa sih.” Ucap Marsya masih dalam mode kesal.


“Sayang, kan masih ada cara lain. Gunanya pengaman untuk apa coba?”


“Lagipula menggunakan pengaman lebih baik dan enak, kamu tidak perlu merasakan nyeri di tubuhmu karna menggunakan benda asing itu.” Sambung Gilang lagi.


Marsya akhirnya diam. Kegelisahannya beberapa hari ini sudah terjawab.


“Kalau gitu selanjutnya mas harus pake pengaman. Kalau tidak jangan harap bisa mengajakku bermain tengah malam.” Kata Marsya tiba-tiba.


“Mulai detik ini.” Tambah Marsya lagi. Ia tahu suaminya itu pasti akan meminta jatahnya sebentar.


“Mana ada, mulai besoklah.” Bantah Gilang tidak terima pasalnya tidak ada satu pun pengaman yang ia pegang. Mana ia lagi pengen lagi malam itu.


Mana ia tahu akan begini, kalau tahu istrinya akan mengatakan ini, sudah jauh-jauh hari ia menyiapkan stok pengaman yang banyak di kamar.

__ADS_1


“No, no, no.” Balas Marsya sambil mengeleng-gelengkan kepalanya.


“Ken ngantuk yah, mau bobo yah. Sama mama juga ngantuk mau bobo. Hoamm..,” Marsya sengaja berbicara pada Ken yang memang sudah tertidur akibat kekenyangan.


“Selamat tidur mas. Tolong matikan lampunya nanti.” Sambung Marsya tanpa rasa kasihan pada suaminya yang sedang memasang raut memelasnya di sebelah.


“Yank, kok malah tidur sih.” Rengek Gilang.


“Tolak keinginan suami itu dosa loh, sayang.” Ujar Gilang masih berusaha.


Marsya pura-pura tidur seolah tidak mendengar apa yang Gilang katakan.


“Baiklah, malam ini kamu menang.” Pasrah Gilang.


Melihat Marsya yang diam tidak merespon ucapannya, Gilang menyimpulkan istrinya itu sudah tidur. Dengan langkah gontai Gilang beranjak mematikan lampu kamar berganti ke lampu tidur lalu kembali ke sisi istrinya, memeluk erat istrinya untuk meredam gejolak dalam dirinya yang sangat menginginkan Marsya malam itu.


Lihat saja, besok aku akan membeli pengaman yang banyak. Aku akan membawa itu setiap bersamamu, dengan begitu tidak ada alasan lagi bagimu. Batin Gilang tersenyum licik memikirkan rencananya.


Sedari tadi Marsya menahan tawanya, wanita itu sudah memikirkan ekspresi sang suami saat ini.


Kali ini maafkan aku mas, hahaha. Tawa Marsya dalam hati karna berhasil mengerjai suaminya.


Mereka akhirnya tertidur dengan saling memeluk. Marsya memeluk baby Ken sementara Gilang memeluk dirinya.


Berada di antara dua laki-laki tampan membuatnya bahagia.


Semoga selalu bahagia seperti ini. Doa Marsya dalam hati sebelum benar-benar masuk ke alam mimpinya.

__ADS_1


❤️


Jangan lupa like, komen dan vote sebanyak-banyaknya🙏


__ADS_2