
Keesokan harinya di Rumah Sakit Medika.
Marsya masih berbaring di tempatnya, sementara Gilang sedang bersiap untuk ke kantor.
Tadi ia sempat menyuruh Bibi untuk mengantarkan pakaian kantornya ke rumah sakit, Bibi juga yang akan bertugas menjaga Marsya hari ini.
Sebenarnya Gilang ingin sekali mengambil waktu libur untuk menemani Marsya dan anaknya, tapi tadi Doni menelpon bahwa terjadi masalah dengan proyek waktu itu.
Dengan terpaksa Gilang pun harus pergi untuk menyelesaikan kekacauan itu.
***
Dari arah pintu kamar mandi terlihat Gilang yang baru saja keluar dengan keadaan sudah rapi dengan pakaian kerjanya.
Gilang berjalan menghampiri Marsya dengan senyuman di bibirnya.
“Sya, aku akan ke kantor sebentar. Setelah urusan ku selesai, aku akan langsung kesini.” Ucap Gilang sambil mengecup kening Marsya.
“Apa ada sesuatu yang kamu inginkan? Akan aku belikan saat pulang dari kantor?” Lanjut Gilang.
Marsya menggelengkan kepalanya.
“Ya sudah, aku pergi sekarang. Jangan lupa makan sarapanmu.”
“Iya mas.”
Semoga kamu bahagia mas. Batin Marsya melihat bayangan Gilang yang mulai hilang di balik pintu.
Marsya merasa ini merupakan kesempatan yang besar untuk pergi dari rumah sakit.
Tadinya Marsya berpikir akan sulit keluar dari tempat ini karena Gilang yang selalu menjaganya.
Tapi siapa sangka, Tuhan masih berbaik hati padanya hingga membuat suaminya itu pergi ke kantor karena suatu masalah pekerjaan.
Marsya hanya tinggal mencari cara bagiamana agar ia bisa pergi tanpa membuat Bibi curiga.
__ADS_1
***
Setelah Gilang pergi, Bibi pun menghidangkan makanan yang tadi ia bawah dari rumah.
“Ini Non, sarapannya.” Kata Bibi sambil menyodorkan semangkuk makanan sehat untuk ibu yang baru melahirkan.
“Terima kasih Bi.” Balas Marsya.
Marsya pun mulai menyendokkan sesuap makanan itu ke mulutnya.
“Bibi tidak makan juga?” Tanya Marsya saat melihat Bibi hanya diam saja.
“Tidak Non, tadi sebelum kesini Bibi sudah sarapan dari rumah.” Jawab Bi Suci sopan.
“Oh. Tapi kalau Bibi mau makan lagi, makan saja ya Bi. Jangan sungkan.” Kata Marsya lagi sambil tersenyum hangat pada Bi Suci.
“Baik Non.” Sahut Bibi menanggapi.
Beberapa menit berlalu.
Saat Marsya akan menyendokkan suapan terakhir ke mulutnya, bertepatan saat itu pintu terbuka menampilkan seorang perawat yang datang membawa bayi Marsya untuk di beri ASI.
“Permisi Nyonya. Saya ingin mengantarkan bayi Anda untuk di beri ASI pagi ini.” Ucap perawat itu sambil menyerahkan baby Ken pada ibunya.
“Nanti saya akan kembali Nyonya untuk membawa bayi ini keruangannya.” Sambung perawat itu.
“Iya Sus.” Jawab Marsya sambil menerima bayinya dalam gendongannya.
Perawat itu pun pamit undur diri, masih banyak pekerjaan yang harus ia lakukan di rumah sakit itu.
“Hallo pangeran tampan nya mama.” Sapa Marsya pada bayi kecil itu.
“Iya Non, Tuan muda kecil ini sangat tampan. Mirip sekali dengan Tuan Gilang.” Ujar Bibi menimpali perkataan Marsya.
Bibi juga kagum melihat bayi tampan itu, bayi yang akan menjadi majikan kecilnya nanti di mansion.
__ADS_1
“Benar Bi, ia sangat mirip dengan mas Gilang. Sepertinya gen ku tidak terlalu dominan padanya.”
“Sayang, kenapa tidak ada sedikit pun di wajahmu yang mirip dengan mama? Kenapa lebih dominan papamu daripada mama. Padahal mama yang mengandungmu selama 9 bulan.” Sungut Marsya gemas dengan anaknya.
Bibi yang mendengar sungutan Marsya pun hanya tertawa, rasanya lucu melihat Marsya seperti itu.
Marsya menghela napas panjang.
Rasanya tidak rela meninggalkan anaknya, tapi hanya ini yang bisa Marsya lakukan.
Ditatapnya baby Ken dalam-dalam, berharap apa yang ia lihat bisa terekam di dalam otaknya agar jika nanti Marsya rindu pada anaknya, ia bisa memutar rekaman wajah anaknya dalam pikirannya.
Tatapan Marsya perlahan berubah sendu, sedih itulah yang Marsya rasakan saat ini.
Maafkan mama ya sayang. Semoga kamu tumbuh menjadi anak yang kuat, pintar, dan suskses walau tanpa kehadiran mama di sisimu. Ada ayahmu yang pastinya bisa menjagamu lebih baik dari mama.
Walaupun mama tidak bisa bersamamu, tapi mama pastikan akan menjaga dan melindungimu dari jauh.
Mata Marsya sudah berkaca-kaca, butiran kristal itu sudah menumpuk siap untuk meluncur keluar dari matanya.
Bibi yang melihat itu pun agak sedikit heran, Bibi bingung mengapa Marsya seperti terlihat sedih.
Mungkin saja Non Marsya sedang manangis karena terharu. Pikir Bi Suci dalam hati.
“Bi, bisa tolong foto kami berdua? Aku ingin menyimpan banyak foto kenang-kenangan bersama pangeran tampan ku ini.” Pinta Marsya pada Bi Suci.
“Boleh Non.” Balas Bi Suci. Ia lalu mengambil ponsel Marsya yang berada di nakas.
Setelah memotret banyak gaya antara Marsya dan baby Ken, Bibi pun kembali meletakkan ponsel itu di atas nakas.
Marsya pun kembali menyusui baby Ken hingga kenyang, sebelum baby Ken di kembalikan keruangannya.
❤️
Nggak boleh protes loh ya hahaha😂
__ADS_1
*Canda protes*
Jangan lupa like, vote dan komen ya readers😊🤗😘❤️🙏