
Keesokan paginya.
Marsya perlahan membuka matanya, mengerjapkkan matanya sesekali untuk mengumpulkan kesadarannya.
Marsya melirik suaminya yang masih terlelap dengan tangan melingkar di perutnya. Wanita itu perlahan menyingkirkan tangan Gilang dari tubuhnya lalu mengecup sekilas wajah suaminya yang tampan meskipun dalam keadaan tidur seperti itu.
Marsya perlahan turun dari atas tempat tidur, memungut pakaiannya yang tergeletak di lantai akibat permainan panas mereka. Setelah memakai pakaiannya, wanita itu melangkah menghampiri box bayi tempat baby Ken di letakkan.
“Pangeran kecilku masih tidur rupanya.” Marsya berbicara sendiri.
Wanita itu memberi kecupan pagi pada anaknya, lalu kembali melangkah menuju kamar mandi untuk membasuh wajahnya serta menggosok giginya sebelum turun ke bawah menyiapkan sarapan.
Semenjak bi Suci cuti, Marsya mulai mengambil ahli semua pekerjaan rumah mulai dari memasak, mencuci bahkan bersih-bersih semua di lakukannya. Dan wanita itu menikmati kegiatannya itu, rasanya Marsya merasa menjadi wanita, ibu serta istri yang sesungguhnya.
***
Di bawah.
Marsya membuka semua gorden dan jendela rumahnya, membiarkan udara segar masuk ke dalam.
Wanita itu kembali melangkahkan kakinya ke dapur dan langsung membuka kulkas, mengeluarkan beberapa bahan masakan yang akan ia olah pagi ini.
Marsya berencana membuat omelet telur dan roti panggang untuk sarapan pagi ini. Tidak ingin membuang-buang waktu wanita itu langsung memasak, takut Ken akan bangun dan berteriak menangis mencarinya.
Cepat-cepat Marsya mengikat rambutnya ke atas, menggulungnya membentuk bulatan.
“Baiklah, mari kita bekerja.” Ucap Marsya menyemangati dirinya sendiri.
20 menit kemudian.
Tidak menunggu lama, sarapan pun jadi. Marsya lalu menatanya di atas meja makan, saat itu bertepatan dengan Gilang yang turun dari atas tangga.
“Sudah bangun mas? Bagaimana dengan Ken, apa dia masih tidur?” Tanya Marsya langsung saat Gilang berjalan menghampirinya.
“Hmmm, bayi kecil itu masih nyaman disana.” Jawab Gilang sambil mendudukkan dirinya di salah satu kursi yang ada di meja makan itu.
Marsya cepat-cepat kembali ke dapur meninggalkan suaminya sendiri disana, tidak lama wanita itu muncul kembali dengan dua gelas minuman hangat di tangannya.
“Minum dulu mas.” Ujar Marsya sambil menyodorkan kopi kesukaan suaminya.
“Terima kasih sayang.” Balas Gilang.
__ADS_1
Saat Marsya ingin beralih duduk di samping suaminya, secepat kilat Gilang menarik istrinya kepangkuannya.
Marsya tersentak kaget “Mas..” Kesal wanita itu, jantungnya hampir copot karna kaget dengan kelakuan tiba-tiba suaminya.
“Hmmm..” Jawab Gilang santai. Laki-laki itu memeluk Marsya dalam pangkuannya, menyandarkan dagunya di bahu sang istri.
“I love you more, my wife.” Entah kena angin apalagi hingga laki-laki itu berbicara seperti itu.
Akhir-akhir ini Gilang sering mengungkapkan rasa cintanya pada Marsya disaat mereka sedang berdua seperti ini.
“Aku tahu.” Jawab Marsya.
Tanpa Gilang katakan pun Marsya tahu suaminya ini mencintainya, terbukti dari perlakuan lembut Gilang bahkan perhatian laki-laki itu yang membuat Marsya merasa sangat dicintai.
Marsya bahkan tidak menyangka pernikahannya akan sebahagia ini, kesabarannya selama ini tidak sia-sia.
Suaminya yang dulu kasar bahkan membencinya kini telah berubah menjadi laki-laki lembut dan penyayang jika sedang bersama dengannya juga Ken, anak mereka.
“Dibalas kek, bilang ‘I love you too’ gitu.” Celetuk Gilang.
Sampai saat ini bahkan Gilang belum mendengar istrinya mengatakan cinta padanya.
“Memang itu perlu?” Marsya balik bertanya.
Marsya diam sejenak, wanita itu kelihatan sedang berpikir dan itu membuat Gilang gemas dengan tingkah istrinya.
Astaga sayang, harus membalas ucapakan ku saja apa perlu sampai berpikir seperti itu. Rasanya aku ingin menciumnya sekarang. Ucap Gilang dalam hati.
Cup.
Tanpa aba-aba Marsya langsung mendaratkan bibirnya tepat di bibir suaminya, kecupan singkat yang tidak disangka-sangka oleh Gilang.
“Apa ini cukup untuk membalas ungkapan cintamu tadi?” Tanya Marsya diselingi seringai licik dibibirnya.
Gilang terpana melihat kelakuan istrinya, baru kali ini Gilang melihat Marsya berinisiatif duluan menciumnya tanpa malu-malu seperti biasanya.
Marsya menaikkan kedua alisnya menatap suaminya yang sedang menatapnya tidak percaya.
Gilang mengeleng-gelengkan kepalanya “Belum, belum cukup.” Jawabnya.
Cup.
__ADS_1
“Cukup?” Tanya Marsya lagi.
Dengan wajah terkejutnya Gilang masih mengeleng-gelengkan kepalanya tanda belum puas.
Cup, cup.
Dua kali kecupan dengan waktu yang cepat.
Marsya sengaja mengoda suaminya, wanita itu sedang memancing suaminya dan ketika Gilang mulai terpancing wanita itu akan pergi meninggalkan Gilang sendiri disana untuk mengecek baby Ken sebagai alasan.
“Wah, sepertinya istriku mulai nakal dan berani.” Seru Gilang.
“Aku belajar darimu mas.” Sahut Marsya membalas ucapan suaminya.
“Oh begitu? Jadi kamu belajar dariku. Baik kalau begitu aku akan mengajarkan banyak lagi kepadamu, sini.” Gilang menyuruh Marsya mendekatkan wajahnya pada laki-laki itu.
Marsya sudah ingin tertawa tapi sebisa mungkin ia tahan.
Wanita itu menggeleng-gelengkan kepalanya tidak mau menuruti ucapan suaminya. Marsya tahu apa yang ingin suaminya lakukan jika saja ia mendekatkan wajahnya pada laki-laki itu.
Gilang sudah ingin meraih tengkuk istrinya tapi Marsya cepat-cepat menghindar dan ingin lari dari sana.
Gilang tidak bodoh, laki-laki itu tahu istrinya ini sedang mengerjainya jadi Gilang juga mengikuti permainan sang istri.
“Mau lari kemana sayang? Bukannya tadi kamu yang begitu semangatnya menggodaku, hmm.” Gilang kali ini yang balik menggoda istrinya.
“Mas lepas, aku mau lihat Ken diatas. Bagaimana kalau dia bangun dan menangis karna kehausan.” Marsya mencoba peruntungannya untuk lepas dari gengaman suaminya.
Wanita itu sudah salah memilih lawan bermain.
“Tidak, Ken masih tidur.” Balas Gilang cepat.
“Sepertinya mengajarimu gaya baru di ruang makan tidak buruk. Iya kan?” Tanya Gilang dengan senyum menggodanya.
Sedetik kemudian, Gilang sudah berdiri mengangkat Marsya dan mendudukkan wanita itu diatas meja makan. Laki-laki itu langsung mencium bibir ranum istrinya yang bagaikan candu baginya.
Dan apa yang Gilang katakan terjadi, laki-laki itu melakukan hal baru di ruang makan mereka. Merasakan sensasi lain dari biasanya.
Marsya hanya pasrah, toh ini juga karna ulahnya sendiri yang sudah memancing gairah suaminya. Walau sebenarnya wanita itu menikmatinya juga.
Mereka berhenti saat Ken menangis dengan kencangnya mencari orangtuanya yang dengan tega meninggalkannya sendiri diatas.
__ADS_1
❤️
Jangan lupa like, komen dan vote sebanyak-banyaknya.