
Gudang Perusahaan.
Gilang dan Doni berjalan masuk menghampiri pria yang sedang diikat di sebuah kursi. Muka pria itu sudah babak belur dipukuli oleh anak buah Doni.
“Katakan, siapa yang menyuruhmu?” Tanya Gilang geram.
Pria itu hanya diam membisu, seperti tidak ingin menjawab pertanyaan Gilang.
“KATAKAN SIAPA YANG MENYURUHMU!” Teriak Gilang kesal sambil menendang perut lelaki itu.
“Aww..” Pria itu hanya meringis menahan sakit.
“Oh, sepertinya kau mau anak dan istrimu ku siksa juga seperti ini?” Ancam Gilang.
Mendengar ancaman Gilang membuat pria takut, ia tidak mau anak dan istrinya celaka hanya karena kesalahan nya.
“Tuan, s..saya mohon jangan siksa mereka.” Ucap pria itu terbata-bata memohon.
“Tergantung, jawabanmu kali ini!” Balas Gilang dengan tatapan tajamnya.
“Katakan, siapa orangnya?” Tanya Gilang lagi.
“I..itu, s..saya disuruh oleh Tuan L..LEO.”
“Saya disuruh menghasut warga untuk jangan memberikan lahan mereka Tuan, saya mohon ampuni saya.” Lanjut pria itu.
“Apa yang kau maksud adalah Leo Bramasta?” Tanya Gilang lagi. ia masih tidak percaya atas apa yang di dengarnya tadi.
“I..iya Tuan. Saya mohon ampuni saya.” Jawab pria itu takut.
Doni dan Gilang tercengang mendengar jawaban pria itu.
“Kurang ajar!” Maki Gilang.
“Jadi dia dalang di balik semua ini!”
Gilang langsung berjalan keluar dari ruangan itu.
Tapi sebelum betul-betul meninggalkan ruangan ia menyuruh anak buahnya untuk menjaga pria itu, karena Gilang masih membutuhkan informasi darinya.
Doni pun menyusul Gilang dari belakang. Mereka berjalan menuju ruangan presdir milik Gilang untuk membahas masalah ini.
***
__ADS_1
Sementara di tempat lain.
Marsya tengah bersiap-siap untuk pergi ke terminal.
“Sya, bagaimana kalau Boss menemukanmu. Aku takut akan kena marah kalau Boss sampai tahu kamu selama ini tinggal di tempatku. Bagaimana kalau dia memecatku nanti?” Tanya Dina khawatir.
“Tenang saja Din, aku akan berhati-hati. Kamu tidak perlu khawatir, aku yakin mas Gilang mungkin juga tidak mencariku sekarang. Pasti saat ini ia tengah bersenang-senang bersama nona Elena” Jawab Marsya berusaha menenangkan Dina yang ketakutan.
“Semoga saja perkataanmu tadi benar.” Balas Dina.
Marsya pun kembali membereskan barang-barangnya untuk di bawa ke kampung.
Beberapa menit kemudian.
Marsya dan Dina berjalan keluar dari kontrakan kecil itu.
“Din, terima kasih karena mau menampungku beberapa hari ini. Maaf ya kalau merepotkan.” Kata Marsya pada Dina.
“Sama-sama Sya.” Jawab Dina.
“Maaf ya, aku tidak bisa mengantarmu ke
terminal. Aku harus bersiap sekarang untuk pergi kerja, kamu nggak papa kan?” Sambung Dina tidak enak hati.
“Iya Sya. Hati-hati ya, kabari aku kalau kamu sudah sampai di tujuan.” Imbuh Dina.
“Siap.” Sahut Marsya cepat.
Marsya langsung memasuki taksi online yang sudah ia pesan tadi. Taksi pun berjalan menuju terminal.
30 menit berlalu.
Marsya pun tiba di terminal bus yang ada di kota itu.
Setelah membayar taksi itu, Marsya pun masuk ke dalam untuk membeli tiket tujuan ke kampung halamannya.
“Terima kasih mbak.” Ucap Marsya pada karyawan yang melayaninya dalam pembelian tiket tadi.
Sudah mendapatkan apa yang ia butuhkan, Marsya pun berjalan mencari tempat duduk sambil menunggu waktu keberangkatan tiba.
Dan tanpa Marsya sadari, ada seseorang yang sedang memperhatikannya dengan saksama. Mata pria itu selalu mengawasi kemana saja Marsya pergi.
***
__ADS_1
Gedung Baskara Group.
“Kau tahu, dari awal si Leo itu memang agak mencurigakan. Dia seperti ada di mana-mana, atau mungkin selama ini dia sudah merencanakan ini?” Tanya Gilang pada Doni.
“Sepertinya memang Leo sengaja melakukan ini Tuan. Pantas saja saat itu pihak mereka meminta menangani proyek itu dengan alasan ingin terlibat langsung di dalamnya.” Balas Doni.
“Apa mungkin saat ini Leo sedang merencanakan sesuatu untuk menghancurkan Anda Tuan?” Lanjut Doni menyampaikan pemikirannya.
“Aku merasa tidak pernah melakukan kesalahan padanya, untuk apa ia melakukan ini?” Tanya Gilang bingung.
Gilang merasa tidak melakukan kesalahan apapun pada pria itu, mengenal pria itupun baru pertama kali saat menjalin kerja sama untuk proyek hunian ini.
“Selidiki dia Doni. Cari tahu tentang latar belakangnya, atau apapun itu mengenai dirinya!” Perintah Gilang lagi.
Sementara kedua orang itu tengah serius membahas masalah Leo, tiba-tiba ponsel Doni berdering hingga menganggu pembicaraan mereka.
“Maaf Tuan.” Kata Doni tidak enak hati. Gilang pun hanya mengangguk sebagai tanda agar Doni mengangkat telpon itu.
“Ada apa?” Tanya Doni langsung pada si penelpon.
“Saya menemukan Nyonya, Tuan. Saat ini ia tengah berada di terminal bus, sepertinya Nyonya berencana pergi.” Jelas orang suruhan Doni.
“Apa!” Kaget Doni, hal itu sontak mengundang perhatian Gilang di sebelahnya.
“Tuan, Nyonya sudah di temukan.” Kata Doni cepat.
Gilang langsung merampas ponsel dari gengaman Doni saking tidak sabarnya.
“Katakan, dimana istriku sekarang?” Kali ini Gilang yang bertanya pada orang suruhan itu.
“Nyonya berada di terminal XXXX, Tuan.”
“Awasi dia sampai kami tiba di sana.” Sahut Gilang cepat.
Gilang langsung mematikan sambungan telepon dan berlari keluar dengan terburu-buru meninggalkan Doni di belakangnya.
Mereka langsung dengan cepat bertolak ke terminal bus tempat Marsya sekarang berada.
Akhirnya Sya, akhirnya aku menemukanmu. Batin Gilang.
❤️
Author mau crazy up hari ini. Stay tuned😊
__ADS_1