
Gilang telah sampai di kediaman keluarga Baskara.
Sepanjang perjalanan pulang tadi dirinya terus saja berbicara kasar untuk melampiaskan emosinya yang naik turun.
Saat ini tujuan Gilang sekarang adalah bertemu dengan Marsya dan menanyakan perihal apa yang tadi Leo katakana padanya.
BRAK.
Bunyi dentuman pintu yang di buka secara kasar oleh Gilang.
Untung saja saat ini Nyonya Baskara dan Tuan Baskara sedang berada di dalam kamar mereka yang kedap suara hingga tidak mendengar keributan yang di buat oleh Gilang.
Marsya yang berada di kamar pun di buat kaget dengan kelakuan Gilang tadi.
Ada apa lagi ini, kenapa wajahnya kelihatan sangat marah. Kata Marsya dalam hati.
Melihat Gilang dalam keadaan seperti itu membuat Marsya takut.
Gilang langsung menutup pintu kamar dengan tidak kalah kerasnya.
“Ada hubungan apa kamu sama Leo Bramasta heh!”
“Kenapa kamu bercerita bohong padanya. JAWAB!” Bentak Gilang.
Marsya diam, ia belum mengerti maksud dari perkataan Gilang barusan.
“APA KAU TIDAK PUNYA MULUT HEH!” Kata Gilang dengan intonasi suara yang tinggi. Karena hal itu membuat Marsya terlonjak kaget.
“Maaf tuan, tapi saya tidak mengerti dengan apa yang anda katakan.” Ucap Marsya dengan suara yang sangat pelan.
“Oh jadi kau mau aku menjelaskan secara detail apa yang tadi di katakan oleh laki-laki itu.” Sinis Gilang.
“Apa kau tahu apa yang tadi di katakan oleh lelaki itu?”
Marsya menggelengkan kepalanya pelan sebagai jawaban bahwa ia tidak tahu.
“Lelaki itu bilang kau datang kesini bersama majikanmu, lantas kau menganggap ku ini majikanmu heh!”
“Dan lagi lelaki itu bahkan menyuruh ku untuk menjaga mu selama kau jauh dari suami mu yang ada di kampung.” Jelas Gilang sambil mengeleng-gelengkan kepalanya masih tidak percaya Marsya seberani itu mengarang cerita.
Mendengar kata demi kata dari Gilang tadi, Marsya sekarang mengerti arah pembicaraan lelaki itu.
“Aku baru tahu kau punya suami di kampung. Oh atau mungkin itu selingkuhan mu!” Sinis Gilang.
__ADS_1
Mendengar tuduhan Gilang yang tidak benar itu membuat Marsya langsung menegakkan kepalanya.
“Jaga ucapan anda tuan.” Kata Marsya dengan nada tegas.
“Kenapa heh, kata-kata ku benar kan. Aku kira kau wanita polos tapi sepertinya dugaan ku itu salah.” Balas Gilang tidak mau kalah.
“Sepertinya berbicara dengan anda dalam keadaan seperti ini tidak akan selesai dan meredakan amarah anda. Saya permisi tuan, saya akan turun ke bawa.” Kata Marsya mencoba mengalah meskipun sebenarnya dirinya juga kesal atas tuduhan Gilang.
Saat Marsya akan berjalan melewati Gilang menuju pintu tangannya tiba-tiba di tarik oleh Gilang, mencegah agar Marsya tidak keluar sebelum menjawab pertanyaannya.
“Mau kemana kau. Jangan berharap bisa keluar dari tempat ini sebelum kau menjawab pertanyaan ku.” Ujar Gilang mencegah Marsya untuk keluar.
“Apa anda ingin tahu mengapa saya bisa mengatakan hal itu pada Leo.” Marsya tahu ini tidak akan selesai jika ia tidak memberikan penjelasan seperti apa yang Gilang mau.
“Ya jelaskan sekarang, bagaimana bisa kau mengenalnya hingga bercerita hal yang tidak benar padanya.”
Sebelum menjelaskan, Marsya pertama menghela napas dan membuangnya dengan kasar.
“Apa anda masih ingat, saat anda meninggalkan saya sendirian di restaurant itu? Saat anda mengatakan pada nona Elena bahwa saya adalah pembantu anda.” Sebenarnya Marsya tidak ingin mengungkit hal ini karena itu akan membuat hatinya terasa seperti ditusuk jarum, nyeri.
DEG.
Sekarang berbalik Gilang serasa di tampar dengan kata-kata Marsya tadi.
Tapi keadaan saat itu berbeda saat dirinya belum merasakan hal aneh pada perasaanya.
“Saat itu saya bingung bagaimana caranya saya bisa pulang, hingga akhirnya Leo datang menawarkan bantuannya karena melihat saya seperti orang kebingungan.” Jelas Marsya.
“Jadi saat itu saya memberikan alamat rumah dan Leo pun bertanya dengan siapa saya tinggal, karena saya tahu anda tidak akan mengakui saya sebagai istri anda jadi saya mengatakan bahwa itu adalah rumah majikan saya.”
“Dan kemarin saat anda meninggalkan saya sementara di Menara Eiffel, kembali lagi saya bertemu dengan Leo. Waktu itu ia melihat perut saya yang sudah membesar, jadi dia menanyakan perihal hal itu.”
Gilang masih diam mendengarkan penuturan Marsya tanpa memotong kata demi kata dari Marsya.
“Karena bingung ingin menjawab apa, jadi saya bilang bahwa saya datang bersama majikan saya yang sedang berlibur disini dan untuk pernyataan bahwa suami saya sedang berada di kampung. Kembali lagi saya tidak ingin anda memarahi saya jika saya mengatakan pada orang bahwa andalah suami saya.”
"Dan bukankah anda sendiri yang menyuruh saya memanggil anda tuan? Yang artinya anda adalah majikan saya bukan suami saya?"
“Tenang saja tuan, saya cukup sadar diri untuk tidak mengatakan pada orang-orang bahwa saya adalah istri anda. Karena saya tahu anda pasti malu jika mengakui hal itu.” Meskipun Marsya mengatakan hal itu dengan tenang, percayalah readers di dalam lubuk hatinya yang paling dalam hatinya merasakan sakit luar biasa.
Gilang mematung di tempatnya, belum mampu membalas kata tiap kata yang Marsya keluarkan.
Apa sebegitu kejamnya kah diriku ini. Tanya Gilang pada hatinya.
__ADS_1
“Kalau sudah tidak ada yang ingin anda tanyakan lagi, saya permisi ingin keluar.” Ujar Marsya yang merasa sesak berlama-lama di dalam ruangan itu.
Lagi dan lagi saat Marsya akan keluar Gilang menarik tangannya hingga Marsya terhempas dalam pelukannya.
“Maafkan aku.” Kata Gilang dengan nada yang penuh dengan penyesalan.
Berada dalam situasi seperti itu membuat Marsya tidak bisa lagi menahan air matanya yang sedari tadi di tahannya.
Marsya menangis di dalam pelukan Gilang, sedang Gilang hanya diam membiarkan bajunya basah oleh air mata Marsya.
Entah karena merasa bersalah hingga Gilang melakukan hal itu, masing-masing dari mereka masih terhanyut dalam suasana langka itu.
***
Saat ini Gilang tengah berada di balkon kamar memperhatikan keindahan langit senja sambil pikirannya menerawang jauh akan kejadian tadi.
Aku baru sadar ternyata perbuatan ku selama ini telah menyakitinya.
Kenapa hatiku seperti di iris-iris saat melihatnya menangis?
Mengapa banyak sekali hal-hal yang berubah dari rencana awal yang sudah ku pikirkan.
Apakah aku sudah jatuh cinta pada wanita itu?
Aku tidak menyangka, diri dan hidupku yang dulu sekarang berubah 180 derajat, aku tahu betul bagaimana kehidupan ku dulu semenjak di tinggalkan Elena tanpa sebab.
Semenjak kejadian Elena pergi, aku tidak mudah jatuh cinta pada wanita.
Dan apa sekarang? Wanita itu mengubah seluruh perasaan dan hidup ku hanya dalam waktu beberapa bulan saja.
Lalu bagaimana dengan kelanjutannya ke depan?
Ya Tuhan, kenapa semua menjadi rumit. Apa yang harus aku lakukan ke depannya?
Ternyata lebih gampang menyelesaikan masalah perusahaan di banding menyelesaikan masalah hidup.
Sore itu Gilang habiskan hanya dengan berpikir dan berpikir.
Gilang terus bergelut dengan pikirannya yang berputar-putar, bayangan kejadian-kejadian awal pernikahannya dengan Marsya terus berkelebat dalam pikirannya.
❤️
Panjang lagi nih😅
__ADS_1
Author tunggu dukungan kalian lewat vote, like dan komen ya😘🙏