Mrs. Gilang Baskara

Mrs. Gilang Baskara
Ch.66


__ADS_3

Dalam perjalanan, Marsya terus berteriak minta di lepaskan. Sementara Gilang hanya diam dengan wajah dingin dan datarnya.


“Kenapa kamu mencariku? Bukankah sudah ku berikan apa yang selama ini kamu mau!” Teriak Marsya pada Gilang.


“Aku sudah menyerahkan Ken padamu. Lalu apa lagi yang kamu inginkan dariku?” Tanya Marsya sarkastik.


“Itu karena kau terlalu bodoh!” Jawab Gilang kesal, bahkan tatapannya hanya fokus kedepan tanpa mau melihat Marsya di sampingnya.


Kebetulan jalan yang mereka lewati dekat dari hotel milik Gilang yang dulu menjadi tempat Marsya mencari uang untuk keluarganya.


“Doni, berhenti di hotel milikku.” Titah Gilang memberi perintah.


“Baik Tuan.” Jawab Doni patuh.


Marsya yang mendengar pembicaraan singkat pun balas menyuruh Doni untuk menurunkannya.


“Doni, turunkan aku sekarang! Aku tidak mau ikut dengan Tuanmu.” Kata Marsya tegas.


Doni hanya diam, ia tidak ingin menanggapi seperti apa permintaan Nyonya nya.


Maafkan saya Nyonya, saya pun tidak berani membantah perintah Tuan. Batin Doni berbicara dalam hati.


Mobil pun berbelok memasuki kawasan hotel Bas, Doni berhenti tepat di pintu masuk.


“Turun.” Kata Gilang sambil menarik tangan Marsya.


“Aku tidak mau!” Sahut Marsya masih berusaha lepas dari Gilang.


Karena malas basa-basi lagi, Gilang langsung saja menggendong Marsya layaknya memikul karung beras di belakangnya.


Sepanjang jalan menuju kamar khusus miliknya, para karyawan yang melihat mereka di buat takjub akan pemandangan konyol itu.


Bahkan ada yang berbisik-bisik satu sama lain.


Dan Gilang pun tidak peduli akan hal itu.


Sementara itu, Dina yang baru saja tiba di hotel untuk pergantian shift pun melihat mereka.


“Matilah aku. Bagaimana ini?” Gumam Dina bingung. Ia takut Gilang akan memecatnya karena sudah menyembunyikan Marsya.


***


Sampai di kamar khusus itu, Gilang langsung mengeluarkan kartu akses masuknya untuk membuka kamar itu.


Ia pun membawa Marsya masuk dan langsung menghempaskannya ke atas tempat tidur.

__ADS_1


“Berhenti disitu. Jangan coba-coba bergerak dari tempatmu!” Kata Gilang memperingati Marsya yang saat itu hendak turun dari atas tempat tidur.


Gilang pun kembali untuk menutup pintu kamar, berpapasan dengan Doni yang saat itu tengah berjaga di depan.


“Kau bisa kembali ke kantor. Ada yang harus ku selesaikan dulu dengan istriku.” Kata Gilang pada sekertarisnya itu.


Doni yang paham pun langsung pamit untuk kembali ke perusahaan.


Setelah menutup pintu, Gilang pun kembali ke dalam. Kali ini akan ia selesaikan semua salah paham itu.


Dengan tegas Gilang berdiri di depan Marsya yang saat itu tengah duduk bersandar di atas tempat tidur.


“Apa kamu pantas di sebut seorang Ibu?”


Deg.


Mendengar pertanyaan sindiran Gilang membuat Marsya seperti di hantam batu besar.


“Apa ada Ibu di dunia ini yang tega meninggalkan anaknya yang baru berusia 1 hari di rumah sakit.”


“Aku tahu aku salah Sya karena tidak jujur saat itu. Tapi apa pantas, hanya karena masalah sekecil itu hingga kamu berpikir untuk pergi meninggalkan Ken yang masih kecil itu.”


Gilang sendiri bingung dengan perasaannya, seharusnya ia senang karena sudah menemukan Marsya saat ini. Tapi mengingat Ken yang malam itu menangis karena haus hingga harus meminum susu formula dan bukan ASI, membuat Gilang marah.


Gilang tahu itu semua karena kesalahannya, tapi bukankah disini Marsya juga bersalah karena tidak mau menanyakan langsung perihal masalah itu.


“Aku tahu semua ini karena kesalahanku yang tidak jujur padamu, tapi disini kamu juga salah Sya. Kalau saja saat itu kamu menanyakan langsung padaku, ini semua tidak akan terjadi.”


Marsya yang sedari tadi mendengar perkataan Gilang sudah menangis sesunggukan di sana. Marsya merasa gagal menjadi Ibu, rasa bersalah pada Ken pun semakin besar.


“Hiksss.. Bukankah saat itu aku sudah bertanya? Tapi kamu malah berbohong dengan mengatakan perut mu sakit.” Kali ini Marsya yang berbicara.


Deg.


Gilang serasa tertampar dengan perkataan Marsya tadi.


“Aku bahkan berusaha menepis pikiran negatif ku padamu saat itu, aku bahkan sudah berusaha memulai semua nya dari awal denganmu malam itu dengan memberikan tubuhku. Tapi apa, lagi-lagi kamu berbohong.”


“Malam itu kamu bilang pulang agak telat karena kerjaan, tapi nyatanya kamu malah pergi makan malam bersama Elena di restaurant bukan?”


Gilang kaget “Dari mana kamu tahu?”


“Ada seseorang yang mengirimkan foto itu padaku.” Jawab Marsya.


“Seseorang mengirim foto?” Beo Gilang.

__ADS_1


Kurang ajar, siapa orang itu. Batin Gilang bertanya-tanya.


“Soal malam itu, aku bisa jelaskan.” Lanjut Gilang lagi.


“Menjelaskan apa? Menjelaskan kalau malam itu kamu bertemu dengan keluarganya untuk melamarnya, heh!” Marsya mulai kesal.


“Bukan seperti itu …” Gilang ingin menjelaskan tapi sudah di potong oleh Marsya.


“Lalu apa? Aku bahkan mendengar sendiri percakapan kalian di kantor. Aku pun juga melihat sendiri bahwa kamu masih sangat mencintai kekasihmu itu, fotonya bahkan masih tersimpan rapi di laci meja kerjanya mu.” Marsya mengeluarkan semua uneg-unegnya pada Gilang.


“Dia bukan kekasihku lagi, dia hanya masa lalu bagiku.” Bantah Gilang tidak terima Marsya mengatakan Elena adalah kekasihnya.


“Masa lalu? Lalu untuk apa kalian pergi ke hotel bersama? Aku sungguh tidak percaya, kamu bisa sebrengsek itu mas.”


“Hotel? Aku tidak pernah ke hotel bersamanya. Jangan menuduhku yang tidak-tidak.” Gilang semakin kesal mendengar tuduhan Marsya.


“Aku tidak menuduhmu. Leo sendiri yang mengatakan kalau ia melihatmu dan seorang wanita memasuki hotel. Kalau bukan Elena siapa lagi?”


“Sekali lagi aku katakan, aku tidak pernah ke hotel bersama seorang wanita. Leo berbohong padamu, laki-laki itu punya niat jahat pada kita!”


“Leo orang yang baik, aku tahu itu.” Marsya tidak mau kalah.


Tidak ada gunanya menjelaskan masalah Leo sekarang padanya, saat ini yang perlu kulakukan adalah meluruskan kesalahpahaman ini. Batin Gilang.


“Kamu salah paham padaku, soal foto itu. Aku sungguh tidak tahu bahwa fotonya masih ada disana, aku lupa membuangnya.” Jelas Gilang.


Nada bicaranya kini mulai melembut.


Gilang perlahan naik ke atas tempat tidur, ia mendekatkan jarak antara dirinya dan Marsya.


Gilang bahkan mendekap Marsya yang saat itu masih emosi bercampur sedih ke dalam pelukannya.


“Dengarkan aku. Iya aku salah karena sudah bohong padamu, tapi waktu itu aku terpaksa karena takut kamu akan marah kalau tahu aku bertemu dengan wanita itu.”


“Aku tidak akan marah kalau kamu jujur.” Sela Marsya masih tidak terima.


“Iya aku salah.” Putus Gilang.


“Aku akan menceritakan semuanya padamu, tanpa ada yang di tutup-tutupi lagi.”


“Jadi sebenarnya saat itu …”


Gilang pun mulai menceritakan semua kesalah pahaman itu.


❤️

__ADS_1


Mana nih Tim Leo😂😂😂 Author mah Tim babang Gilang😂😂✌️✌️😜😜


__ADS_2