Mrs. Gilang Baskara

Mrs. Gilang Baskara
Ch.39


__ADS_3

Menjelang malam tiba.


Di kamar utama, Marsya saat ini sedang bersiap-siap untuk makan malam sesuai yang Gilang katakan lewat pesan bahkan telepon.


Marsya memilih menggunakan gaun agar membuatnya leluasa dalam bergerak, terlebih Marsya merasa lebih nyaman menggunakan gaun dalam keadaan hamil seperti ini.


Gaun yang Marsya gunakan sangat biasa tapi jika di pakai terlihat elegan. Marsya juga tidak ingin terlalu mencolok, karna itu bukan ciri khasnya.


Entahlah, Marsya merasa makan malam kali berbeda dari yang sebelum-sebelumnya.


Merasa penampilannya sudah cukup, Marsya pun turun untuk menunggu Gilang di bawah.


***


Di bawah Marsya bertemu dengan Bi Suci.


“Mau keluar ya non?” Tanya Bi Suci.


“Iya Bi, rencana Marsya sama mas Gilang mau makan di luar. Jadi bibi masaknya yang seperlunya saja ya Bi, takutnya makanan nya sisa nanti.”


“Siap non.”


Saat Marsya dan Bi Suci sedang berbincang, tiba-tiba terdengar bunyi klakson mobil dari arah depan yang Marsya yakini itu pasti suaminya.


“Sepertinya itu mas Gilang Bi, Marsya pergi dulu ya.” Pamit Marsya pada Bi Suci sambil berjalan ke depan.


“Iya non, hati-hati di jalan.” Sahut Bibi.


***


Di depan Marsya melihat Gilang keluar dari mobil dan datang menghampirinya.


Oke, jantung untuk kali ini tolong berkerja samalah dengan ku. Jangan buat aku malu di depannya. Batin Marsya berkompromi.


Saat tiba di depan Marsya, Gilang lalu mengulurkan tangannya mengajak Marsya menuju mobil.


“Ayo.” Ajak Gilang.


“Tidak perlu tegang, Sya.” Ledek Gilang.


Gilang tahu Marsya gugup, bagaimana tidak tangan wanita itu sudah basah akibat keringat.


Marsya yang mendengar kata-kata Gilang sungguh merasa malu sekali.

__ADS_1


Pasangan yang berasa di mabuk cinta itu pun berjalan menuju mobil.


Dengan sigap Gilang membukakan pintu untuk Marsya masuk, memasangkan sabuk pengaman lalu menutup pintu.


Gilang pun mengitari mobil memasuki pintu sebelah.


Mobil pun berjalan keluar meninggalkan mansion menuju jalan raya yang saat itu ramai dengan kendaraan lain.


***


Mobil berhenti di sebuah restaurant yang Marsya yakini pasti sangat mahal harganya.


Gilang turun terlebih dahulu, menghampiri Marsya dan membukakan pintu untuknya.


“Ayo.” Lagi-lagi Gilang mengulurkan tangannya untuK di genggam Marsya.


Marsya terlihat ragu untuk itu, ia yakin pasti banyak orang yang akan memperhatikan mereka lebih tepatnya memperhatikan suaminya.


“Ada apa?” Tanya Gilang melihat keraguan Marsya.


“Apakah tidak apa-apa seperti ini Tuan? Saya takut banyak orang akan melihat anda bersama saya.” Jawab Marsya, mengeluarkan kegundahannya.


“Memang kenapa jika mereka melihat kita? Bukankah mereka juga sudah melihat berita tentang kita saat aku menemanimu di rumah sakit?”


Memang benar, semenjak foto-foto dan berita yang beredar di publik tentang dirinya dan Marsya, hari itu juga Gilang merilis pernyataan ke publik.


Gilang mengakui bahwa dirinya dan Marsya telah menikah beberapa bulan yang lalu dan pernikahan mereka di adakan tertutup, hanya keluarga besar dari kedua belah pihak yang hadir dengan alasan menjaga privasi dan tidak ingin kehidupan rumah tangganya di ketahui publik.


Setelah pernyataan itu di rilis, semua orang tampak heboh termasuk para karyawan yang bekerja di perusahaan Gilang.


Seketika itu juga para wanita yang selama ini mengejar Gilang baik di kantor maupun di dunia luar merasa patah hati, merasa kesempatan mereka sudah tidak ada lagi untuk mendapatkan Tuan Muda Baskara itu.


“Tapi Tuan.”


“Sudahlah, ayo. Kau boleh menggenggam tangan ku dengan erat jika kau takut atau malu.” Kata Gilang meyakinkan Marsya.


Marsya pun menurut, menggenggam tangan Gilang dan berjalan masuk bersama.


Gilang menuju salah satu pelayan lalu mengatakan “Meja yang di pesan atas nama Mr. Gilang Baskara.”


Seolah paham, pelayan itu lalu membawa mereka menuju meja khusus yang telah di pesan.


Gilang menarik salah satu kursi, lalu mempersilahkan Marsya untuk duduk.

__ADS_1


Tidak lama kemudian seorang pelayan datang membawakan beberapa hidangan yang ternyata sudah di pesan Gilang sebelumnya.


Tentunya menu yang di pesan telah di sesuaikan dengan kondisi Marsya yang tengah hamil, disana ada beberapa hidangan sehat yang Gilang pesan.


“Makanlah.” Ujar Gilang mempersilahkan.


Marsya dan Gilang pun menikmati makan malam romantis itu dengan nikmatnya.


***


Seusai makan malam itu selesai, Gilang pun mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya.


“Kemarikan tanganmu.” Perintah Gilang.


“Untuk apa Tuan?”


“Kemarikan saja.” Kata Gilang lagi.


Ragu Marsya mengulurkan tangannya pada Gilang, sesuatu yang tadi Gilang keluarkan ia lingkarkan pada tangan Marsya.


Gelang. Batin Marsya.


“Cantik. Berarti aku tidak salah pilih.” Ujar Gilang pada dirinya sendiri.


Gelang tadi adalah barang yang Gilang beli saat di pesawat, gelang yang Gilang istilahkan sebagai simbol untuk mengikat istrinya.


“Bagaimana? Apa kau suka?” Tanya Gilang lagi.


“Suka, terima kasih Tuan.” Balas Marsya.


“Ya, sama-sama. Tapi kalau kau mau yang lain, aku bisa memberikannya." Tawar Gilang.


"Misalnya gelang emas begitu atau kau mau yang bertabur berlian?" Lanjut Gilang memberi pilihan pada Marsya.


"Hehe, tidak perlu Tuan. Begini saja saya sudah bersyukur." Tolak Marsya.


"Sebaiknya kita pulang sekarang Tuan." Ajak Marsya pada suaminya.


Acara makan malam telah usai, mereka pun memutuskan untuk pulang ke mansion.


❤️


Mohon dukungannya ya readers🙏 Lewat vote, like, komen dan bintang 5 nya ya👍 Boleh kasih author hadiah juga loh🤗

__ADS_1


__ADS_2