
Rasa kikuk menjalar pada diri Renata . Gugup, walau seorang dokter, dia tidak pernah melakukan hal intim dengan siapapun .
Mau orang bilang kuno, yah terserah .Renata tidak mau , melakukan hal dosa, karena Renata tahu, laki - laki sekrang, banyak yang hanya habis manis sepah di buang.
Banyak kasus di rumah sakit, anak kuliahan lakukan aborsi ilegal, ada yang gawat , di larikan ke rumah sakit, selamat, dan ada juga yang meninggal.
Ada juga pasien yang hamil, pacarnya gak tanggung jawab, terus melahirkan sendiri, tanpa siapapun, miris banget .
Selama koas , berbagai macam , kesedihan harus dia liat, bukan sekedar melodrama dslam sinetron atau dramkor, Renata real melihat, bahkan berjuang menyembuhkan mereka.
Dunia menyeret manusia menjadi sosok yang tidak takut dan tidak mengenal apa dosa, kenikmatan sesat, dan penyesalan se umur hidup .
Sedangkan yang sah aja ,kita butuh extra bepikir, apalagi yang belum halal, pikiran sempit akan menjebak kita.
Perasaan bahagia perlahan mengurangi kegugupan Renata.
Adi menggendong Renata menuju ranjang, ranjang itu penuh dengan kelopak mawar, sangat wangi di hias .
Aneka balon juga tersusun di langit - langit kamar pengantin mereka.
" Ide siapa buat balon Ko?".
" Pernah liat teman, ceweknya ultah, senang banget di buat gini, jadi koko punya ide, buat ginian , suka?".
Renata mengangguk .
Adi meraih tengkuk Renata , menyusuri leher Renata. Mengalir begitu saja , bagai dawai yang tiada jeda.
" Koko meminta hak koko, apa kamu ijinkan Ta, " ujar Adi berbisik di telinga Renata , dengan deru suara yang sangat berat , menahan hasrat nya.
__ADS_1
Deru nafas Renata juga berpacu, detak jantungnya juga seakan berlarian liar, tak terbendung. Renata tahu, usia mereka masa produktif, gejolak hasrat, keinginan, dan gejolak reproduksi kompleks menyatu .
" Ya ko, ":ujar Renata.
" Perlahan kata orang sakit yaaang, koko akan melakukannya perlahan," Adi mengusap rambut Renata, juga mengusap pipi Renata.
" Ya...," ujar Renata tersenyum.
" Apa takut yaaang?".
" Hmmm, dikit...., tetapi kita akan menjadi satu tubuh, seperti Firman Tuhan, kita menjalankan perintah agama."
" Jangan Takut yaaaang, ini suamimu , koko mu, koko hanya milik kamu, dan kamu milik koko, jadi tidak ada yang akan membuat kita bejarak, " Adi mengecup puncak kepala Renata.
Perlahan, Adi meraih pinggang Renata, Mengecup setiap inci tubuh Renata, desahan , kehangatan mengalir, jarak pun terlerai. Adi melakukan serangan, perlahan .
" Lumayan sulit yaaang, "ujar Adi.
" Biasa masih segel, pasti kesulitan awalnya ko," ujar Renata memegang pipi Adi .
" Rileks ya yaaang".
Renata mengangguk .
Adi kembali melakukan serangan, perlahan, namun pasti .
" Aaahhhh... sa...sakit mas, Renata menahan rasa sakitnya ."
" Apa kita hentika saja yaaang?".
__ADS_1
" Gak mas, teruskanlah, cepat atau lambat, kita juga akan menghadapinya."
Adi kembali mengecup bibir indah Renata, perlahan setiap sekat pun terbuka, rasa perih masih Renata rasakan, kemudian mereka melebur dalam desahan .
Renata tersenyum , melihat sosok pria yang dia cintai. Pria cupu, ternyata seorang petarung handal.
" Kenapa senyum - senyum yaaaaang?."
" Koko cupu, nyatanya petarung hebat," ujar Renata.
" Koko sering di aksi pinjam teman, dan dikirimi video *** ***, yah mau tidak mau, belajar yaaang, dulu Solo, gak ada praktekan, sekarang ada isteri sendiri, yah langsung uji nyali yaaang, teori dan praktek dilaksanakan, ujar Adi membelai wajah Renata.
" Apa masih sakit yaaang ?
" Masih mas...., perih, " ujar Renata.
" Makasih yaaang, sudah memberi ,sesuatu yang berharga pada mas, dan mas pertama kali , melakukannya dengan kamu."
Renata mengangguk.
π¨βπΌπ©βπΌπ¨βπΌπ©βπΌπ¨βπΌπ©βπΌπ¨βπΌπ©βπΌπ¨βπΌπ©βπΌ
Jangan Lupa
Like
Vote
Koment
__ADS_1