
Renata sangat bahagia, melihat Claudia antusias kembali bersekolah di sekolah yang baru . Renata behkan melihat ada beberapa anak berkebutuhan khusus, banyakan anak orang berduit, terkadang kita gak tahu misteri hidup, pastilah orang berduit cukup cek ke dokter kandungan hebat, cukup konsumsi makanan bergizi, cukup mengkonsumsi vitamin, namun kasus anak autis dan berkebutuhan khusus menurut pengamatan Renata banyakan di alami golongan menengah ke atas.
Terkadang , tidak semua kehidupan manusia serba sempurna. Ada yang malu mengakui anak, memasukkan anaknya ke tempat penitipan anak berkebutuhan khusus, ada yang berusaha menyembuhkan anaknya dengan memberi berbagai terapi, reaksi orangtua berbeda beda, reaksi lingkungan juga berbeda - beda.
Ada yang di belakang ngata- ngatai, menggosipkan, ada yang peduli dan malahan tau perasaan keluarga dan orangtua sang anak, ada yang menjahui, dan melarang anaknya berteman dengan anak yang berkebutuhan khusus, penuh dengan berbagai hal, itulah manusia, dan kita berada di reaksi seperti apa.
Renata menatap Claudia, Claudia berbaur dengan teman - temannya. Sejak kelas 1 SD, Claudia sudah bisa di kelas sekolah umum .
Sesama orangtua,tersenyum melihat Renata dan Adi .
" Anaknya ya bu, " ujar seorang ibu.
" Iya, " ujar Renata.
" Anak saya itu, mengalami Autistic Disorder dan satu lagi kembarannya mengalami Asperger Syndrome".
" Anak saya hanya 2 , setelah 15 tahun menikah, baru punya anak dengan proses bayi tabung, " ujar ibu tersebut.
" Tetapi saya dan suami tidak saling menyalahkan, awslnya suami dan keluarga nya menyalahkan saya, saya tersudut, emang maunya kita, kita mengandung, selalu berdoa, anak kita sehat, semua lengkap, namun ketika anak kita berusia 1 tahun dan 2 tahun di cek mengalami autis, kita menyalahkan satu orang, dan gak adil banget kan rasanya."
" Benar mbak".
" Saya dan suami hampir bercerai, saya bawa kedua anak saya ,keluar dari rumah suami, saya kan selama ini hanya ibu rumah tangga, dengan kondisi anak 2 tahun dan keduanya seperti ini, saya besarkan di kampung halaman bibi saya. Saya mendapat seorang dokter yang handal melakukan therapi, dialah yang banyak membantu anak saya."
" Dia kasihan sama saya, saya dulunya seorang dokter, ketika hampir bercerai, saya kembali bertugas dan ujian praktek kembali, saya besarkan anak selama 6 bulan, dan akhirnya suami saya meminta maaf , saya gak gitu aja pulih, rasanya sakit banget kata - kata kedua orangtuanya, kemudian perlu proses , saya udah pasrah mbak, sendiri saya juga harus kuat, ngak munhkin anak saya saya buang, mereka anak saya, 9bulan saya kandung. "
" Kemudian Tuhan memproses dan kami kembali bersama , tetapi saya tetap kekeh bekerja dan biar menjadi mama mandiri. Dan ai matasertanusahasaya gak sia - sia, anak anak sudah bisa sekolah umum, satu pandai melukis, juara nasional melukis ,juara 1, sedang yang anak no 2 , juara 2 musik , bernyanyi dan bermain biola dan piano, tepuk tangan penonton, memberi amunisi kekuatan buat saya, orang ngatai anak kita berkekurangan, namun ingat kelebihannya ada mbak".
__ADS_1
" Iya mbak, benar banget, saya ngalaminya juga, mbak bisa hendel 2 anak, saya aja 1 sempat putus asa, sering menangis, dan akhirnya menjalaninya, terbiasa juga," ujar Renata.
" Di sekolah ini, orangtua lebih care, anak kita mereka sayangi, walau atas , lebih peka, lebih ngerti banget perasaan kita. Mbak masuk aja group sekolah anak kita, kadang ada ngumpul kemping keluarga, olah raga bersama, semua kita sama - sama . Enak kok mbak, mami anak - anak ramah, mau kaya, sederhana , sama semua."
" Mau mbak, masukin yaaaah," ujar Renata bahagia.
" Awalnya saya ragu nentuin Claudia sekolah di mana, ada rasa takut, gak di terima, ada rasa kawatir omongan ibu - ibu lainnya. Namun Tuhan itu baik banget, mungkin Tuhan nuntun saya memilih sekolah ini mbak".
" Sama mbak, saya juga gitu."
Renata menatap Adi. Adi tersenyum melihat mata Renata berkaca - kaca.
" Saya Renata mbak, dokter internsip di rumah sakit C".
" Saya Yuna, dokter kandungan".
" Dokter Yuna , yang sepsialis kandungan, terkenal banget, karena menyembuhkan berbagai pasien serviks, dan membantu proses kelahiran ,yang mengalami masalah kandungan ya mbak".
" Saya taunya baca di berita, mbak gak pernah mau di expose, para senior juga sering cerita tangan mbak dingin, nangani pasien."
" Ehhhh, mereka udah baris, tuh udah dada segala, yukkk kita wajib ngejar waktu Ta, " ujar Yuna.
" Iya mbak, sampai jumpa mbak".
" Sampai jumpa Ta, hati hati ya".
" Mbak juga".
__ADS_1
Adi melihat Renata, meraih tangan Renata .
" Kita bersyukur ya mas".
" Pasti sayaang".
" Claudia pulang ,nanti papi dan mami jemput yaaang, papa dan mamjnudah bilang tadi ".
" Ya yaaaang".
Adi memakaikan Renata selfbelt ,sambil mencuri meljmat bibir Renata.
" Ihhh mas ajas manfaat dehhhh".
" Amunisi pagi yaaang," ujar Adi tersenyum mengelus punggung tangan Renata.
Renata pun tersenyum.
" Nantinsiang, mas bawain makan siang ya, kita makan di ruangan kamu aja ya yaaang".
Renata mengangguk.
🙅♂️🙅♀️🙅♂️🙅♀️🙅♀️🙅♂️🙅♀️🙅♂️🙅♀️
Jangan lupa
Like
__ADS_1
Vote
Koment