
“ nak yori, anak kami ini sangat mencintaimu. jika dia ingin tidur disini untuk menemanimu, bolehkah kau menerima niat baiknya itu ? ” ucap sang ayah.
sebenarnya yori sangat bahagia saat mendengar ima mau menemaninya, tapi mengingat lingkungan rumah sakit membuat yori berfikir ulang.
“ ayah, ibu, terima kasih. aku sangat bahagia memiliki istri seperti anak kalian berdua. tapi.." ucapan yori terhenti lalu dia melihat ke arah yaser.
" yaser, apakah kau rela jika kakakmu berada disini ? rumah sakit bukanlah tempat yang nyaman. " ucap yori berharap yaser mau membantu agar ima tidak perlu tidur di rumah sakit.
yori tidak sadar bahwa yaser adalah korban bully ima selama ini.
" kakak ipar, kau harus tau bahwa kakakku bisa hidup dimana saja. jika dia tidur disini setidaknya aku tidak akan dibully lagi dirumah." ucap yaser dengan nada dinginnya
" ah, aku salah perhitungan. " gumam yori dalam hati.
yori menarik nafas panjang, matanya terarah ke ima. dia benar - benar tidak bisa menang melawan istri tercintanya itu.
" baiklah, ima boleh tidur disini menemaniku. " ucap yori dengan nada pasrah.
mata orang tua ima berbinar - binar, mereka sangat berharap ima bisa bahagia dengan berada disisi yori.
“ kalau begitu kami pamit pulang nak yori, kami tidak ingin menggangu waktu istirahatmu. ” ucap sang ibu sambil menyerahkan tas kecil berisi baju ganti ima.
Setelah itu mereka pulang.
Didalam kamar yang hanya ada yori dan ima terasa sepi dan sunyi.
hanya ada suara angin yang berhembus semilir dari luar jendela kamar.
ima mendekati suaminya yang terbaring lemah karena terlalu lelah menjalani terapi seharian.
wajah yori sedikit pucat dengan dihiasi sebuah senyuman kecil dibibirnya yang kering itu.
“ jika kau hanya sendiri, bukankah kau akan kesepian suamiku ? ” ucap ima sambil memegang tangan yori.
“ iya istriku, tapi jika hal ini bisa membuatku berjalan lebih cepat, maka aku akan menerimanya dengan senang hati. " ucap yori sambil mencium tangan ima yang sedang menggenggam tangan yori dengan erat.
mendengar ucapan suaminya, air mata ima menetes. wajah cantiknya terlihat pilu..
" izinkan aku menemanimu disaat - saat tersulitmu.. " ucap ima dengan air mata mengalir di kedua pipinya.
sekali lagi yori terharu atas tindakan istrinya.
seorang istri yang tidak memikirkan lelah tubuhnya setelah seharian menimba ilmu di kampus.
" tidakkah kau lelah ima ? " tanya yori dengan senyuman lembut di bibirnya.
" aku lelah, tapi kau lebih lelah dariku. setidaknya keadaanku masih lebih baik darimu. " jawab ima apa adanya.
“ kalau begitu, aku akan mandi dan cuci muka. flek hitam palsu ini cukup menggangu pada malam hari. ” ucap ima sambil melangkah ke kamar mandi.
yori tidak bisa berkata apa - apa, mulutnya terkunci rapat.
yori sadar bahwa istrinya adalah wanita yang sangat baik dan keras kepala.
Setelah mandi, ima merapikan baju kotornya agar bisa dicuci dirumah.
Yori memandangi ima, dengan gaun tidur yang khas ima terlihat sangat cantik.
Ima merasakan sepasang mata yang memperhatikannya dari ujung rambut hingga ujung kaki, lalu dia pun menoleh ke arah suaminya.
“ apa kau sudah puas memandang ? ” tanya ima sambil duduk disamping suaminya.
“ bagaimana bisa aku puas memandang wanita yang sangat cantik sepertimu ?v” ucap yori menggoda istrinya.
yori sangat bahagia karena ada ima disisinya malam ini.
“ baiklah.. aku tau aku sangat cantik. jadi bisakah kau berhenti memujiku suamiku yang tampan ?? ” ucap ima yang tidak mau kalah dengan suaminya.
“ aku akan menutup jendela, aku tidak mau kau terlalu lama terkena angin malam. " ucap ima sambil melangkahkan kakinya menuju jendela kamar yori.
Yori mengangguk dan kembali berbaring.
angin lembut yang membelai wajah ima seolah - olah memanggil ima untuk keluar ke beranda.
ima menutup jendela kamar yori dari luar dan meletakkan tangannya diberanda sambil menikmati angin malam itu.
Diluar rumah sakit, bara yang baru saja bisa pulang setelah hari yang sangat sibuk dikantor segera berlari masuk ke dalam rumah sakit.
Karena bara belum tau nomor kamar adiknya, dia pun pergi ke bagian informasi.
“ permisi bu, bolehkah saya tau nomor kamar pasien a.n Yori Lang yang baru saja masuk kamar perawatan tadi pagi ? ” ucap bara sambil mengatur nafasnya karena lelah berlari.
“ Yori Lang, pasien yang menjalani pengobatan dan terapi berjalan ? " tanya ibu - ibu dimeja informasi.
bara mengangguk, ibu tersebut mencari data didalam komputer yang berada dihadapannya.
setelah beberapa saat ibu itu berhenti karena sudah mendapat info yang dia cari.
" didata kami disebutkan bahwa dia ada di kamar vip no. 11 di lantai 4 pak. " jelas ibu – ibu yang menjaga meja informasi.
__ADS_1
“ terima kasih bu.” ucap bara.
Bara segera berlari menaiki lift menuju lantai 4.
Setelah lift terbuka, ada bagian keamanan yang menghentikan langkah bara.
“ maaf tuan, jam besuk tinggal 5 menit lagi. mohon datang kembali di jam berkunjung besok pagi atau besok sore. ” ucap bapak – bapak bagian keamanan.
Bara yang sangat ingin melihat adiknya pun tidak menyerah.
“ pak, 5 menit cukup untuk saya. tolong izinkan saya masuk. saya belum bertemu adik saya sejak pagi. saya hanya akan memberikan ponsel kepadanya agar kedepannya saya tidak menggangu bapak keamanan malam – malam begini. ” pinta bara dengan wajah seriusnya.
wajah tampan bara terlihat sedikit berkeringat karena berlari dari depan pintu rumah sakit.
dengan nafas bara yang terengah - engah dia berusaha membujuk bapak keamanan itu.
Melihat ketulusan bara, bapak penjaga keamanan membolehkannya masuk.
Bara segera berterima kasih dan berlari menuju kamar no.11.
dari pintu luar dilihatnya yori sedang berbaring sambil memandang ke arah jendela.
bara membuka pintu perlahan agar adiknya tidak terganggu.
“ yori adikku.. maaf kan kakakmu yang tidak berguna ini. perusahaan kita memiliki banyak proyek baru sehingga aku tidak bisa menemanimu ke rumah sakit pagi ini. ” ucap bara sambil memegang tangan adiknya itu.
melihat kakaknya datang, wajah yori seketika bersinar bahagia.
" kakak ? " tanya yori dengan senangnya.
" iya, ini kakakmu yori. apakah kau baik - baik saja ? " tanya bara dengan nada lembutnya.
" iya kak, aku baik - baik saja. bukankah kau lelah ? kau bisa datang besok pagi. " ucap yori sedikit sedih.
" sudah tugasku menemanimu, jangan pikirkan yang lain. tubuh kakakmu ini hanyalah milikmu seorang adikku. " ucap bara yang berusaha membuat yori tersenyum.
“ oh iya, aku hanya memiliki waktu selama 5 menit. ini ponsel untukmu. " ucap bara sambik menyerahkan sebuah ponsel kepada yori.
" apa ini kak ? " tanya yori heran.
" itu ponsel untukmu. aku akan sangat sibuk beberapa bulan kedepan. saat kau merindukanku, telpon aku menggunakan ponsel itu. " jawab bara.
" terima kasih kak. " ucap yori sambil tersenyum bahagia.
“ bagaimana keadaan mu ? apa kau merasa lebih baik ? jika tidak ada perubahan kita bisa berobat ke luar negri . ” ucap bara.
“ kak, baru satu hari berlalu. tentu belum ada perubahan yang drastis pada kakiku. ” jawab yori.
seperti terpanggil, bara secara refleks melihat kearah jendela kamar dan....
Mata bara seketika terbelalak lebar dan seluruh tubuhnya gemetar karena sangat terkejut sekaligus gembira.
dibalik jendela terlihat seorang wanita cantik yang selama ini dirindukannya dan dinantikan kedatangannya disetiap mimpinya.
Sang bidadari yang tidak pernah lagi muncul didalam mimpinya sekarang berdiri tepat didepan matanya.
Rambut bidadari itu sedikit basah dengan gaun putihnya yang khas.
Ima yang berada diluar jendela tidak tau apapun tentang hal yang terjadi didalam kamar suaminya.
angin semilir membuat ima tersihir dan ingin berlama - lama berada diberanda sampai dilihatnya seorang anak kecil yang tidak memiliki sehelai rambutpun dikepalanya.
Anak kecil itu berusaha mengambil gelas berisi air minum disamping mejanya dan tidak ada orang lain didalam kamar anak kecil itu.
Karena beranda yang bersebelahan, ima bisa melihat dengan jelas bahwa anak itu akan jatuh saat berusaha menggapai gelas dimeja.
“ ah, anak itu akan jatuh. aku harus menolongnya. beranda ini berdampingan, jika lewat pintu depan akan memakan waktu yang lama. yori tidak akan sadar jika aku hilang hanya sebentar bukan ? aku akan menjelaskan kepadanya nanti. ” gumam ima dalam hati sambil mulai menyebrangi beranda.
Bara yang telah menjadi patung membuat yori sadar bahwa kakaknya telah melihat ima, dia pun berusaha mengalihkan perhatian kakaknya.
Kaki bara mulai melangkah secara otomatis mendekati jendela bersiap berlari menuju bidadarinya itu. Tiba – tiba....
“ kak.. kaki ku sakit !!! ” teriak yori.
langkah kaki bara terhenti oleh teriakan adiknya dan seketika melihat ke arah yori.
“ sakit ? dibagian mana yori ? aku akan segera memanggil dokter !! " ucap bara panik.
“ jika kau pijat perlahan, maka akan terasa lebih baik kak. ” ucap yori sambil sekali lagi melihat ke jendela.
wajah yori menjadi pucat pasi melihat ima sudah hilang dari beranda kamarnya.
“ ima pergi kemana ? tidak mungkin dia jatuh bukan ? ”gumam yori dalam hati.
Disamping terkejut, yori pun merasa lega karena ima sudah tidak terlihat di jendela.
“ aku akan memijatnya.. apakah sekarang sudah lebih baik ? ” tanya bara panik.
“ iya kak, sudah sedikit lebih baik berkat sentuhan dari tanganmu. ” ucap yori sambil tersenyum.
__ADS_1
Setelah melihat adiknya baik – baik saja, bara segera berbalik arah dan melihat lagi ke arah jendela.
Tidak lagi dilihat bara sosok bidadari yang di cintainya itu.
Wajah tampan bara terlihat senyap dan sayu.
Melihat kakaknya sedih , yori tidak mampu mengatakan apapun.
“ yori..taukah kau bahwa aku baru saja melihat bidadari ? setiap malam aku menunggunya dalam mimpiku tapi dia tidak pernah datang lagi. apakah dia membenciku dan tidak mau lagi bertemu denganku ? ” ucap bara sambil memandang jendela yang sudah kosong itu.
Yori terdiam dan tidak mampu menjawab kakaknya.
“ yori, ini bukan mimpi. " ucap bara yang seketika wajahnya menjadi bersemangat lagi.
Bara segera pergi keluar jendela, tidak ditemui apapun diluar jendela itu.
dengan langkah lemas dan lunglai bara kembali kedalam kamar dan menutup jendela kamar.
“ tidak ada siapapun, aku yakin dia ada disana tadi ! tapi kenapa dia pergi ? " gumam bara dalam hati.
“ jika ada waktu aku akan mengunjungimu lagi. ” ucap bara sambil pergi keluar kamar.
Yori tersenyum dan mengangguk.
di kamar sebelah, ima sedang sibuk menolong pasien anak kecil yang hampir saja terjatuh ke lantai.
“ pria kecil, lain kali jika kau ingin mengambil apapun, panggil suster lewat bel yang ada disamping tempat tidurmu. " ucap ima sambil membelai anak itu.
“ ba..baik. ” jawab anak kecil itu.
“ siapa namamu ? ” tanya ima.
“ namaku tio. apakah kau malaikat ? ” tanya tio.
mendengar ucapan anak kecil itu ima tertawa kecil.
“ aku hanya manusia biasa, lihat .. dipunggungku tidak ada sayap sama sekali. pria yang sangat aku cintai sedang sakit dikamar sebelah. aku kesini lewat beranda jendela kamarmu. jadi aku hanya tinggal melompat dan hap...
aku berada dikamarmu. " jawab ima.
“ wah.. kau keren sekali kak ! ” jawab tio kegirangan.
“ benarkah ? baguslah jika kau senang. tapi jangan tiru perbuatan kakak karena itu berbahaya. jika bukan karena untuk menolongmu kakak tidak akan mengambil resiko untuk melompat kedalam beranda jendela kamarmu. ” ucap ima menjelaskan.
“ baik kak. ” jawab tio.
“ baiklah, aku akan pergi lagi. setelah aku pergi, panggil suster untuk menutup kembali jendela kamarmu. " ucap ima mengingatkan sambil mencium kening pria kecil itu.
Setelah sampai diberanda jendela kamar suaminya, ima pun masuk kedalam kamar dan kembali menutup jendela.
ima melihat yori sangat panik dan mulai menghampiri suaminya.
“ baru aku tinggal sebentar kau sudah sepanik ini ? " ucap ima.
“ iya.. aku sangat panik. baru saja kau hilang dan aku tidak tau kau berada dimana. tentu saja aku panik. ” jawab yori.
“ aku hanya membantu pasien anak kecil dikamar sebelah yang hampir jatuh saat mengambil gelas air minum tanpa ada satupun keluarga yang menemaninya. ” jawab ima.
“ kenapa kau diam saja ? apa kau marah kepadaku ? ” tanya ima merasa bersalah.
“ lain kali aku tidak akan hilang secara tiba – tiba. jangan marah lagi kepadaku. oke ? ” tambah ima.
“ aku tidak marah, hanya khawatir. " jawab yori sambil memeluk ima dengan erat.
“ *t*ubuh suamiku bergetar ? sepertinya dia sangat panik. ” gumam ima dalam hati.
“ tenanglah, aku tidak akan membuatmu panik lagi. ” ucap ima sambil memeluk tubuh suaminya yang bergetar.
Ima tidak tau bahwa suaminya hampir saja pingsan saat bara melihatnya diluar jendela.
Ima merapikan selimut yori dan dia menuju sofa yang terletak tidak jauh dari tempat tidur yori.
“ selamat malam suamiku...” ucap ima sambil memejamkan matanya.
“ selamat malam istriku..” ucap yori yang masih bisa merasakan tubuhnya yang belum berhenti gemetar.
yori cemas memikirkan cara agar kakaknya tidak melihat wajah asli ima selama 3 tahun kedepan.
Saat ima selesai kuliah, bagaimana kakaknya akan bersikap saat dia tau kebenaran tentang ima ?
Memikirkannya membuat kepala yori semakin pusing, dia pun memilih untuk mengistirahatkan otaknya dengan tidur.
...
Pagi harinya...
Ima sudah bersiap dengan penyamarannya dan melangkah mendekati yori.
“ suamiku, hari ini aku mulai kuliah. nanti sore aku akan datang lagi dan tidur disini seperti tadi malam . ” ucap ima sambil mencium kening suaminya dan berlari keluar kamar.
__ADS_1
Yori hanya tersenyum karena dia sadar bahwa pengobatan dan terapinya akan dimulai juga.
Bersambung...