My Fate Husband

My Fate Husband
Chapter 02


__ADS_3

“ Setidaknya ada orang baik dirumah ini yaitu kakek jimo. ” gumam ima dalam hati sambil mengeluarkan nafas perlahan.


Ima tidak tau bahwa kakek jimo memiliki tempat tinggal pribadi sendiri dan hidup terpisah dari cucunya.


Ayah reno dan ibu rose terdiam dan mengangguk atas rencana pernikahan anak perempuan mereka yang bisa dibilang sangat cepat itu.


" Kakek jimo sangat tergesa - gesa dengan pernikahan ini. " gumam sang ayah dalam hati.


“ Dalam waktu 1 minggu, kami tidak yakin bisa menyiapkan segalanya tuan. “ ucap sang ayah.


Ayah reno pun mulai cemas dan berusaha menunda pernikahan dengan alasan yang logis.


“ Semua akan disiapkan oleh pihak kami, kalian hanya perlu datang saat pernikahan berlangsung. terlebih lagi hanya keluarga saja yang akan menghadiri pernikahan, sehingga persiapannya pun akan lebih mudah dan lebih cepat.” ucap kakek jimo yang ingin segera melaksanakan pernikahan cucunya secepat mungkin.


Ayah reno tidak bisa berkata apa - apa lagi dan menyerahkan anak perempuan kesayangannya itu kepada takdir.


“ baiklah kek, aku dan keluargaku akan siap dalam waktu 1 minggu kedepan, tetapi sebelum itu bolehkah aku berbicara empat mata dengan calon suamiku yang bernama yori lang ? “ pinta ima kepada kakek jimo dengan wajah serius.


“ tentu ! sam tolong antarkan ima ke kamar yori ! ” perintah kakek jimo kepada paman sam.


Ima berdiri dari tempat duduknya dan sebelum ima mulai melangkahkan kaki, dia dihentikan oleh bara.


“ aku akan menemani ima, paman sam tetaplah ditempatmu dan biarkan aku yang mengantarnya. ” ucap bara sambil berdiri dari tempat duduknya.


Bara tidak akan menyia – nyiakan kesempatan untuk menindas ima, dia masih tidak rela jika adik kesayangannya menikah dengan wanita jelek seperti ima.


“ Setelah menikah aku akan membuatmu tidak akan bertahan dirumah ini dan keluar atas kemauanmu sendiri. adikku berhak untuk menikahi wanita yang lebih baik dan tentu saja yang lebih cantik, bukan wanita jelek sepertimu ! ” gumam bara dalam hati dengan perasaan kesal.


Bara dan ima menaiki tangga menuju kamar yori.


“ Rencana menyebalkan apalagi yang dipikirkan oleh pria bermulut tajam ini. pasti dia akan membullyku lagi ! ” gumam ima dalam hati dengan kesalnya.


Ima pun berhenti melamun saat didepannya sudah berdiri pintu besar sebuah kamar.


“ ini kamar adikku, yori. ” ucap bara dengan ketus.


Ima mengumpulkan pecahan hatinya yang berserakan diruang tengah tadi dan menggabungkannya serta menyelimutinya dengan perisai kuat agar mampu menahan kejutan apapun yang menunggunya didalam kamar tersebut, karena berhasil atau tidaknya ide yang sudah ditemukannya bergantung kepada calon suami yang berada didalam kamar itu.


“*c*alon suamiku, aku datang..!! " ucap ima dalam hati sembari menyemangati dirinya sendiri.


Saat bara membuka pintu besar dihadapan ima, terbentang sebuah kamar yang cukup luas.


Didalamnya hanya ada 1 tempat tidur besar yang dihiasi meja kecil berlaci disisi kanan dan kirinya, serta ada 2 buah kursi diantara 1 meja bundar ditegahnya yang dihiasi oleh karpet berwarna hijau tua dibawahnya.


Mata ima beralih mengamati bagian sudut kamar besar itu, hanya ada beberapa furniture serta ada 2 pintu yang terdapat didalam kamar itu, salah satunya tentu pintu untuk menuju kamar mandi.


“ *la*lu pintu satunya ? mungkinkah itu pintu untuk menuju ke lemari pakaian, seperti ruang ganti milik orang – orang kaya ? " tanya ima dalam hati karena penasaran.


Ima pun melihat lagi dengan lebih teliti.


Jika bukan karena furniture yang bergaya eropa, tentu kamar itu akan terlihat sangat sederhana dan simple.


Sentuhan eropa klasik membuat kamar tersebut terlihat mewah.


Tidak ada lukisan satupun, hanya ada ukiran berwarna gold disetiap sisi dinding kamar.


“ Ah… kamar ini membuatku merasa berada didalam kastil kuno dieropa. sungguh nyaman sekali hidupmu calon suamiku. taukah kau, bahwa kamarmu ini 6x lipat lebarnya daripada kamar calon istrimu. ha..ha.. ” ima mengagumi kamar itu dalam hati.


Ima pun teringat akan perkataan ibunya.


“ dalam keadaan apapun kamu harus berhemat walaupun gaji ayahmu tinggi, tanpa berhemat maka seberapa banyak pun harta yang kamu miliki tidak akan pernah terasa cukup. ” mengingat perkataan ibunya ima pun menundukkan pandangannya.


“ apakah kamu sudah cukup puas melihat – lihat ? ” tegur bara dengan nada dinginnya.


Suara bara membuyarkan lamunan ima, lalu ima pun masuk bersama bara menuju tempat tidur yang ada disisi sebuah jendela besar yang menuju kesebuah beranda.

__ADS_1


Disana terbaring seorang pria yang tampan dan sedang tersenyum kepada ima.


“ *n*ah ! ini dia calon suamiku.. " gumam ima dalam hati.


Ima memperhatikan pria didepannya itu, pria yang ketampanannya tertutup oleh badannya yang mulai kurus dibalut dengan pakaian berwarna biru tua, hampir setengah badannya tertutup oleh selimut tebal berwarna seiras dengan pakaiannya sehingga ima tidak bisa melihat kondisi kaki pria itu dengan jelas.


Pria itupun mengubah posisinya dari berbaring ke posisi duduk agar lebih nyaman berbicara kepada ima.


Melihat hal itu ima pun segera memperkenalkan diri kepada calon suaminya itu.


“ ha..halo, nama saya ima halim. “ ucap ima sedikit gugup.


Badan ima mulai bergetar, dia tak pernah menyangka bahwa bertemu calon suami dalam dunia nyata bisa sampai semenegangkan ini, jauh berbeda dengan yang dibaca olehnya dikomik selama ini.


Rasanya bagaikan detik – detik awal sebuah pesawat lepas landas.


“ Jika tau akan seperti ini, tentu aku akan meminta ibu untuk menemaniku. sekarang sudah terlambat, tak ada jalan untuk kembali. ” gumam ima dalam hati sedikit menyesal karena keberaniannya ternyata berbuah penyesalan.


Ima menundukkan pandangannya mencoba mengontrol badannya yang bergetar.


ima menggenggam tangannya dengan kuat dan menarik nafas lebih dalam agar tubuhnya bisa segera tenang.


“ halo juga, saya Yori Lang. kamu adalah calon istri yang dipilih oleh kakekku bukan ? maaf jika kamu kecewa karena calon suamimu bukan pria tampan dan gagah seperi kakakku, melainkan pria cacat sepertiku. ” ucap yori sambil tersenyum hampa.


Setelah dirasa badannya sudah tenang, ima menatap ke arah yori dan hanya terdiam seribu bahasa.


ima merasa iba terhadap pria dihadapannya itu.


“ Sungguh kasihan, pria muda yang sedang dalam masa primanya hanya bisa berbaring setiap hari ditempat tidur. bukankah sangat disayangkan ? seharusnya dia bisa menikmati dunia luar.. bekerja dan menghabiskan waktu bersama teman – temannya. ” ucap ima dalam hati merasa iba.


“ apa kamu tau kenapa yori mau menikahimu ?” tanya bara dengan nada sinis.


“ dia kasihan terhadapmu, aku tidak mau menikah denganmu sehingga dia yang mau tidak mau menggantikanku menikahi wanita yang jelek sepertimu “ tambah bara dengan nada mengejek.


“*Nah, ternyata ini rencananya mengantarkanku ke kamar adiknya dengan sukarela. dasar tukang bully !!! harusnya kau mengatakan bahwa aku jelek didepan ibuku ! kau akan merasakan nikmatnya bogem mentah dari ibuku.


ibuku dalam keadaan sedang marah.


bagaimana mungkin ibuku terima jika anaknya yang sangat cantik ini dikatakan jelek oleh pria bermulut tajam sepertimu* ! ” ima memaki – maki bara dalam hati.


“ terima kasih atas penjelasannya calon kakak ipar, tapi bisa saya pastikan bahwa adikmu kelak tidak akan menyesal memilih saya sebagai istrinya. ” jawab ima dengan mata menantang ke arah bara.


“ heehh, menarik juga wanita jelek ini ! " gumam bara dalam hati.


“ Tuan yori, walaupun wajah saya tidak cantik tetapi saya memiliki banyak nilai positif dan bisa saya pastikan bahwa saya mampu merawat anda dengan baik sebagai istri anda nantinya. jika anda bisa menerima saya yang berwajah jelek maka saya pun dengan senang hati bisa menerima anda yang memiliki fisik kurang sempurna. ” tambah ima dengan sopan dan percaya diri.


“Maaf, tapi aku tidak ingin dirawat oleh orang lain, aku memiliki bibi ana dan paman sam yang senantiasa menyiapkan semua kebutuhanku dan aku harap kamu tidak menyentuhku tanpa seizin dariku. aku hanya tidak suka disentuh oleh orang asing. apakah kamu keberatan ? ” tanya yori kepada ima dengan sopan tapi cukup menyakitkan.


Perkataan yori membuat hati ima membeku, apakah wajahnya seburuk itu hingga yori tidak mau disentuhnya ?


Ima yang awalnya iba menjadi sedikit dingin terhadap perkataan yang baru saja diucapkan yori.


“Wah, dia benar – benar adiknya bara. mulutnya bisa tajam seperti kakaknya. gen keturunan memang tidak bisa dibohongi. baiklah..kita lihat setelah menikah, apakah kamu masih bisa berkata seperti itu kepadaku ! ” ucap ima dalam hati.


Ima pun memantapkan hati dan memulai pelaksaan ide yang sudah ditemukannya dengan susah payah sejak dari tadi pagi, dia harus segera menerapkan batas antara yori dengan dirinya demi masa depannya.


“ calon kakak ipar, bolehkah saya berbicara empat mata dengan adik anda ? jika calon kakak ipar tidak keberatan, bisakah anda keluar sebentar ? ada hal penting yang harus saya sampaikan sebagai calon istri adik anda dimasa depan. ” ucap ima agar dapat mengusir bara dari kamar itu.


Melihat tatapan mata ima yang seolah – olah siap berperang jika bara tidak menuruti permintaannya, membuat bara menyerah dan keluar dari kamar tersebut.


...


Suasana seketika menjadi hening setelah bara menutup pintu kamar.


Yori pun mulai penasaran...

__ADS_1


“apa rencana wanita ini ? aku cukup terkesan dengan sikapnya, kakakku bisa dijinakkan dan semua intimidasi dari kakakku seakan – akan tidak berdampak sedikit pun pada wanita ini. ” ucap yori dalam hati sedikit mengagumi keberanian ima.


Dengan menarik nafas dalam – dalam ima mulai menjelaskan ide yang akan diajukannya.


“ bolehkah aku memanggilmu yori ? ” tanya ima.


“ tentu, silahkan. ” jawab yori.


“ karena kita menikah atas dasar perjanjian yang dibuat oleh kakek kita tanpa adanya persetujuan dari kita berdua terlebih dahulu, maka aku memiliki ide yang jika kamu setuju maka aku akan sangat bahagia sekali bekerjasama denganmu dalam melaksanakan pernikahan ini. ” ucap ima dengan yakin.


Setidaknya suaminya bukan seorang play boy seperti bara yang tentu akan lebih sulit untuk diajak berkomunikasi.


“ pertama, aku akan menjadi istrimu selama 1 tahun, setelah 1 tahun kita akan bercerai dan melanjutkan hidup kita masing – masing, apakah kamu setuju ? ” tanya ima.


“ aku setuju , lalu selanjutnya ? ” jawab yori dengan cepat.


“ kedua, aku masih kuliah sehingga aku berharap bisa tetap menjalankan rutinitasku sebagai mahasiswi, aku akan merawatmu setiap pulang kuliah. jika kamu tidak keberatan. ” tanya ima.


“ tentu , masalahku tidak perlu kamu pikirkan, ada bibi ana dan paman sam. apakah masih ada yang lain..? ” tanya yori.


“ ketiga, aku ingin pernikahan kita dirahasiakan karena saat kita bercerai akan repot jika aku harus menjelaskan tentang perjodohan kita ini kepada teman – temanku.


aku pun ingin jatuh cinta dan menikah tanpa harus direpotkan dengan pernikahan pertamaku ini dan aku berharap kehormatanku masih utuh hingga kita bercerai, sehingga tidak hanya kamu tetapi akupun akan lebih nyaman dalam menghadapi kehidupan setelah kita bercerai. " jelas ima.


Setelah terdiam beberapa saat, yori pun mulai berkomentar.


“ syarat ketigamu aku terima dengan baik, karena akupun tidak bisa memenuhi kebutuhan batinmu sebagai istri, selain kakiku yang cacat aku pun tidak mencintaimu sehingga tidak memungkinkan aku untuk tidur denganmu. aku tidak memiliki syarat apapun, hanya bersikap baiklah selama 1 tahun ini dan jangan biarkan kakekku curiga atas pernikahan kita. ” jawab yori santai.


Setelah mengatakan hal tersebut terlihat senyum bahagia dari wajah yori dan wajah ima.


“ sepertinya masa depanku aman mulai sekarang. asalkan tiga syarat itu disetujui, setelah berceraipun aku tetap bisa menjalani kehidupan normal, jatuh cinta dan menikah.. Yosh! mari bertahan selama 1 tahun. ” ucap ima dalam hati untuk menyemangati dirinya sendiri.


“ aku akan membawa kertas perjanjiannya dihari pernikahan kita. aku sangat berharap kerjasama yang baik darimu dan senang berbisnis denganmu. “ ucap ima mengakhiri obrolannya dengan yori.


Yori dan ima saling berjabat tangan tanda setuju atas keputusan yang telah mereka buat bersama.


“ Tok..Tok..Tok “


Suara pintu diketuk menyadarkan ima bahwa dia sudah cukup lama berada dikamar yori.


“ waktu sudah habis ! orang tuamu mulai khawatir dan mulai menanyakanmu berkali – kali, mungkin mereka takut anak kesayangannya diperlakukan tidak adil dihari pertama di rumah ini..ha..ha..” ucap bara sambil mengejek.


Ima menatap tajam kearah bara yang membuka pintu dan perlahan memasuki kamar.


Tapi ima sudah lega, setidaknya idenya disetujui oleh yori tanpa harus melalui perdebatan dan pertarungan otak yang sengit.


ima pun berjalan keluar kamar dengan perasaan bahagia sambil mengatakan hal yang membuat bara sekali lagi kesal.


“ aku tidak mau berdebat denganmu calon kakak ipar, aku akan segera turun untuk menemui orang tuaku. ” ucap ima.


Melihat ima yang selalu cuek dan sulit untuk di bully, bara pun mulai kesal.


“ jangan berharap adikku akan mencintaimu, dia sudah mencintai wanita lain. ” ucap bara memperingatkan ima.


Ima terhenti sejenak lalu berbalik arah menatap bara dan mulai bekomentar.


“c alon kakak ipar, masalah cinta adalah urusan antara aku dan calon suamiku, bukankah seharusnya kau sibuk dengan urusan cintamu sendiri ? ” ucap ima yang tidak mau kalah.


“ aku tidak pernah sibuk dengan masalah seperti itu. terlalu banyak wanita yang mencintaiku karena aku sangat tampan dan kaya. beda cerita dengan kisah cintamu, karena paras kita berdua berbeda jauh bagaikan langit dan bumi..” jawab bara yang juga tidak mau kalah.


“ aku sangat takut jika nantinya bukan hanya adikmu yang akan jatuh cinta kepadaku, bahkan kau pun akan tergila – gila kepadaku ! ” jawab ima ketus.


Tanpa memberi kesempatan kepada bara untuk menjawab, ima segera meninggalkan kamar itu.


Melihat sikap calon istri dan kakaknya, yori tertawa kecil. Bara pun mendekati adiknya dengan tatapan kesal.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2