My Fate Husband

My Fate Husband
Chapter 05


__ADS_3

“ sekali lagi maaf ya ino..” tambah ima sambil mengatupkan kedua telapak tangannya yang mengisyaratkan permintaan maaf.


“ wajah secantik itu ditutupi, bukankah sangat disayangkan ? jika ima mau, dia bisa saja menjadi idola kampus dalam waktu sekejap dan memiliki ratusan teman. dia tidak perlu berteman dengan perempuan bodoh dan lemah sepertiku. ” gumam ino didalam hati.


Air mata ino jatuh perlahan, dia sangat bahagia memiliki sahabat yang sangat cantik dan rendah hati seperti ima.


“ hei..! hei..! jangan menangis. bukankah aku sudah meminta maaf ? ” ima memeluk sahabat satu – satunya itu.


Melihat situasi mengharukan tersebut ayah reni dan ibu rose tersenyum dan melangkah keluar kamar untuk memberi ruang kepada kedua sahabat dihadapan mereka itu.


Jika tidak tau situasi yang sebenarnya, orang lain yang melihat tentu akan berprasangka bahwa ino sedang ditolak cintanya oleh ima.


“ sudahlah..aku benar – benar minta maaf. kamu sudah 2 tahun menjadi sahabatku tanpa tahu rahasiaku. maafkan aku ya ? ”ucap ima.


Ino hanya mengangguk dan memeluk ima dengan kuat.


“ kapan kamu berencana mengakhiri penyamaranmu ? ” tanya ino dengan tatapan serius ke arah ima sambil melepaskan pelukannya.


“ saat ada pria baik yang mau mencintai dan menikahiku dengan wajah jelekku, saat itulah aku akan mengakhiri penyamaranku. ” jawab ima dengan jujur.


“ lalu mengapa kamu menolak cinta kak fatih ? ” tanya ino penasaran.


“ sebelum aku menjawabnya, aku akan memberikan pertanyaan kepadamu terlebih dahulu. "ucap ima.


" Jika ada seorang kakak kandung yang tumbuh besar bersamamu, tiba – tiba menyatakan cinta kepadamu seperti rasa cinta pria dewasa kepada wanita dewasa dan bukan cinta antara kakak dan adik, lalu apa tanggapanmu ? ” tanya ima sambil memandang ino.


“ tentu tidak akan aku terima, dia adalah kakakku dan cintaku kepadanya adalah cinta antara adik dan kakak, bukan antara pria dewasa dan wanita dewasa ! " jawab ino dengan cepat.


“ nah, ternyata kamu tidak bodoh.. itulah alasan ku menolak cinta fatih, karena dia sudah seperti kakak kandungku sendiri. kami tumbuh bersama dan aku menyayanginya seperti sayangnya seorang adik kepada kakaknya. ” jelas ima sambil bersiap kembali tidur.


Ino terdiam dan akhirnya paham alasan dibalik penolakan ima terhadap perasaan fatih.


“ ima.. saat penyamaranmu berakhir dan memiliki banyak teman aku berharap kamu tidak akan melupakanku. ” ucap ino dengan sedih.


“ apa kamu bodoh ? walaupun aku memiliki 100 orang teman, aku akan tetap memilihmu sebagai sahabatku ! ” jawab ima dengan jujur.


Setelah mendengar hal itu ino kembali ketempat tidur dan tidur dengan posisi memeluk ima dengan kuat seakan – akan dia tidak mau melepaskan satu – satunya sahabat terbaik yang dia miliki itu.


...


Pagi harinya..


Pagi hari itu cerah seperti biasa, ima dan ino turun kebawah untuk sarapan tetapi mereka tidak melihat ayah ima yang sudah terlebih dahulu berangkat kerja.


Setelah sarapan mereka pamit kepada ibu rose dan langsung menuju halte bus.


Dijalan mereka bertemu dengan fatih yang juga akan pergi ke halte bus.


“ ino ? kenapa kamu bersama dengan ima pagi – pagi begini ? ” tanya fatih heran.


Ino terdiam karena terkejut pria impiannya tiba – tiba muncul.


Hati ino mulai berdetak kencang.. dia pun menarik nafas dalam – dalam dan berusaha berbicara normal dengan fatih.


Ino bertekad untuk menjadi kuat dan mengejar cinta fatih.


Ima hanya diam menanti hal apa yang akan dilakukan oleh ino, tidak mungkin jika ima terus melindungi ino dari perasaannya sendiri.


“ a..aku bermalam dirumah ima. ” jawab ino memberanikan diri.


Fatih melirik ke arah ima berusaha mengkonfirmasi kalimat yang baru saja diucapkan oleh ino.


Ima pun mengangguk pelan.


“ baiklah kalau begitu, mari kita bersama – sama berangkat ke kampus naik bus. oh iya, ayahmu kemana ima ? biasanya kamu diantar ke kampus ! ” tanya fatih.


“ Ayah ku ada meeting, jadi dia berangkat pagi – pagi sekali. ” jawab ima santai.


Setelah sekitar 10 menit mereka mengobrol, bus datang.


Mereka bertiga naik bus berwarna hijau muda yang ada didepan halte bus.


Sesampainya dikampus, fatih menuju ruang kelasnya yang berlawanan arah dengan ruang kelas ima dan ino.


Seperti biasa, mata kuliah dimulai lalu para mahasiswa dan mahasiswi serius mendengarkan dosen yang sedang mengajar.

__ADS_1


Jam makan siang pun tiba.


Ima dan ino berjalan bersama menuju kantin, ditengah perjalanan ino teringat bahwa ada kafe baru yang buka hari ini dan letaknya tidak jauh dari kampus sehingga bisa ditempuh dengan hanya berjalan kaki.


ima pun setuju untuk mencicipi kue di kafe baru tersebut.


Setelah beberapa menit berjalan kaki, akhirnya mereka sampai ditempat tujuan.


Sebuah kafe kecil yang nyaman, berwarna dominan hitam dengan kursi dan meja berwarna coklat tua.


Ima dan ino memilih tempat duduk yang berada dekat dengan jendela kaca kafe yang mengarah ke jalan raya.


Tidak lama kemudian datang seorang pelayan kafe menghampiri mereka berdua.


“ Selamat siang nona, mau pesan apa ? ” pelayan kafe bertanya sambil menyerahkan buku menu.


Ima dan ino mengamati buku menu dan memilih menu yang mereka sukai.


“ aku pesan chocolate milk shake dan red velvet cake. ” jawab ima.


“ aku pesan spaghetti dan strawberry milk shake. ” jawab ino.


“ baiklah, mohon ditunggu sebentar. ” ucap pelayan kafe dengan sopan dan ramah.


Tidak lama kemudian pesanan datang dan mereka berdua mulai menikmati makan siang mereka.


“ mulai sekarang aku akan memanggilmu dengan sebutan si cantik , aku adalah sahabatmu dan akulah yang menentukan nama panggilanmu. ” ucap ino dengan tatapan yang sangat serius.


“ iya..iya.. nama apapun boleh asalkan itu darimu. tapi jangan memanggilku dengan nama ‘jelek’ seperti perempuan – perempuan dikampus yang mengejekku. jika kamu seperti itu maka aku tidak akan menjadikanmu sahabatku lagi. ” jawab ima dengan santai.


" tapi aku lebih suka dipanggil dengan nama ima. jika kau memanggilku si cantik maka akan banyak yang mencibirku dan juga mencibirmu. aku tidak mau kau ikut jadi bahan ejekan karenaku. " tambah ima.


Ino pun hampir menangis lagi mendengar perkataan sahabatnya itu, dia merasa sangat beruntung memiliki sahabat yang baik dan kuat seperti ima.


“ sekarang, lanjutkan makan siangmu. setelah ini aku mau mencetak perjanjian yang sudah aku buat untuk calon suamiku. kamu mau ikut denganku tidak ? ” tanya ima kepada ino yang sedang asyik menyantap spaghetti didepannya.


Ino berhenti dan meminum strawberry milk shake didepannya, lalu menatap ima dan mengangguk.


“ aku akan ikut kemanapun kamu pergi ima..!! " jawab ino dengan wajah yang sangat serius seperti seriusnya seorang pria yang menyatakan cinta kepada wanita pujaannya.


Mulai dari wajah terkejut ino tadi malam hingga wajah seriusnya siang itu.


Ima hanya bisa tersenyum dan sangat menyayangi sahabat nya itu.


Saat ima dan ino sedang menikmati makan siang dengan nyaman dan santai, dari kejauhan ima melihat sosok yang sangat dikenalnya.


Badan tinggi, rambut rapi ,wajah super tampan.


Sosok itu sedang bergandengan tangan dengan seorang wanita cantik berambut panjang dan bertubuh sexy.


“ Nah..! sepertinya aku sangat paham dengan sosok orang satu ini ? semoga dia tidak melihatku karena aku benar – benar sedang tidak ingin beradu mulut dengannya didepan ino. ” gumam ima dalam hati.


Seketika ima pun menutupi wajahnya dengan buku menu yang tergeletak dimeja.


Di sisi lain si tukang bully sudah terlebih dahulu melihat ima dan hampir berjalan ke arah kafe tempat ima dan sahabatnya yang sedang menyantap makan siang.


Jika bukan karena pacar bara yang menahan tangannya, bara tentu sudah berjalan menuju kafe tempat ima berada.


Ima tidak mengetahui bahwa musuh abadinya telah mengetahui keberadaannya.


Ima hanya bisa menutupi wajahnya dengan buku menu.


Namun berbeda dengan si tukang bully yang melihat sikap ima yang menurutnya hal itu adalah bentuk perasaan takut terhadap bara.


Tanpa bara ketahui bahwa ima hanya tidak mau membuang – buang tenaganya yang berharga hanya untuk beradu mulut atau menanggapi semua bentuk anak panah bertuliskan ‘bully’ yang akan diarahkan lurus kepada ima oleh bara.


“ Ah...si buruk rupa tidak sadar bahwa aku sudah melihatnya. baiklah.. sangat disayangkan jika ada kesempatan tetapi tidak aku pergunakan sebaik mungkin untuk membully nya bukan ? ” ucap bara dalam hati.


Perasaan ima mulai tidak nyaman, dia merasa ada angin yang sangat dingin lewat dibelakang lehernya dan membuat bulu kuduknya berdiri.


Ima ingin melihat kondisi diluar kafe tetapi sangat malas jika si tukang bully sampai melihatnya.


ima sungguh penasaran, tapi rasa penasarannya dikalahkan oleh rasa malasnya.


“Jika sampai terlihat oleh si tukang bully masalahnya akan sangat rumit, panjang dan menjengkelkan, lagi pula otak ku belum siap untuk menghadapi tindakan bully dari sang musuh abadi itu. ” gumam ima dalam hati.

__ADS_1


Hari ini dia hanya ingin menyelesaikan perjanjian yang sudah dia buat dan secepat mungkin mencetaknya.


Otak ima sudah cukup penuh dengan urusan pernikahannya yang tinggal 5 hari lagi.


“ ada apa ima ? apakah cahaya matahari dari luar kaca jendela terlalu terang untukmu ? ” tanya ino yang heran dengan tingkah aneh sahabatnya itu.


“ tidak ino, cahaya matahari ini tidak memiliki masalah apapun denganku. aku hanya melihat seseorang yang tidak aku sukai dan aku tidak mau bertemu dengan orang itu ! ” jawab ima agak malas.


Ima pun bersandar pada bangku yang didudukinya, dengan posisi badan setengah tidur dan setengah duduk.


Kepala ima bersandar pada bagian atas kursi dengan wajah ditutupi oleh buku menu.


“ biarkan aku pada posisi seperti ini hingga kamu selesai makan. lalu bangunkan aku dan kita akan segera pergi dari sini untuk mengurus urusanku ke percetakan. ” pinta ima kepada sahabatnya itu.


Disisi yang agak jauh, dekat dengan tempat parkir mobil.


Sang tukang bully sedang sibuk berdebat dengan pacar cantiknya.


“ honey, bukankah kita setuju untuk makan siang di restoran italia dekat dengan kantormu ? ” tanya pacarnya dengan manja.


“ rena.. aku berubah pikiran. ternyata kafe disebelah sana itu lebih menarik perhatianku. jika kamu mau ikut denganku maka itu bagus untukmu tetapi jika kamu tidak mau ikut denganku maka itu pilihanmu. ” ucap bara sambil berjalan meninggalkan pacarnya di tempat parkir.


“ honeyy…! tunggu aku..! aku akan ikut denganmu..!! ” jawab rena dengan berlari menyusul bara yang hampir masuk ke dalam kafe.


“ Ting..ting..!”


Suara bel kecil dipintu kafe berbunyi tanda ada pelanggan masuk.


Bara dan rena pun masuk dan duduk dimeja tepat dibelakang ima, dimana kursi bara beradu punggung dengan kursi ima.


“ selamat siang tuan dan nyonya, mau pesan apa ? ” pelayan kafe bertanya sambil menyerahkan buku menu.


“ aku hanya perlu kopi hitam dengan gula dipisah ! ” jawab bara.


“ aku mau spaghetti dan orange juice. ” jawab rena dengan sedikit kesal sambil memandang pria tampan didepannya dengan manja.


“ Nah.. !! sepertinya aku kenal suara ini. tapi tidak mungkin si tukang bully makan disini bukan ? dunia bisa terbalik jika orang seperti bara makan di kafe kecil seperti ini. tapi beda cerita jika dia memiliki rencana licik untukku.


*Mau membully ? mengintimidasi ? merendahkan ?. ohh..aku sungguh tidak memiliki tenaga untuk menghadapi semua rencananya.


Aku hanya ingin segera mencetak perjanjian pernikahanku dan bertemu dengan tempat tidur.


Aku lelah dan ingin segera pulang dan tidur. sial sekali hari ini harus bertemu dengan si tukang bully ini*. ” gumam ima melampiaskan kekesalannya dalam hati.


Ima pun mengabaikan suara bara dan tetap dengan posisinya semula dengan wajah tertutup buku menu.


Ino sedang asyik menikmati spaghetti nya yang sebentar lagi akan habis dia makan.


“ Rena sayang.. taukah kamu kenapa aku memilih makan ditempat kecil seperti ini dan bukan direstoran kelas atas ? ” ucap bara sedikit keras agar ima bisa mendengarnya.


bara sengaja memilih tempat duduk tepat dibelakang ima, mengeraskan suaranya, itu semua agar wanita jelek dibelakangnya sadar bahwa calon kakak iparnya berada disana.


“ aku tidak pernah tahu apa yang ada dalam pikiranmu honey..” jawab rena manja sambil meraih tangan bara yang berada diatas meja.


“ Plak..”


Tangan rena yang mencoba menyentuh bara langsung ditolak seketika.


“ jangan sentuh aku tanpa izin dariku ! terlebih lagi ini tempat umum, aku tidak mau kamu menjatuhkan nama baikku didepan umum. “ ucap bara dengan nada dingin.


“ baiklah, maafkan aku honey. lalu apa alasanmu datang ke kafe kecil ini honey ? ” tanya rena sambil mengelus – elus tangannya yang baru saja dipukul oleh bara.


“ Disini ada seseorang yang ingin sekali aku hancurkan harga dirinya. wanita ini walaupun jelek tetapi sangat angkuh dan sombong yang membuatku sangat ingin agar dia tunduk padaku dan aku ingin dia mengibarkan bendera putih tanda kekalahannya didepanku. pasti sangat seru. ” jawab bara dengan sinis.


“Semakin sulit seorang wanita ditaklukkan maka semakin berharga kemenangan yang akan aku dapat pada akhirnya. ” gumam bara dalam hati.


Bara tidak bahwa saat itu dia sudah tertarik kepada ima.


“...” rena benar – benar tidak mengerti jalan pikiran pria dihadapannya yang sudah 3 minggu ini menjadi pacarnya.


Rena sangat mencintai pria dihadapannya itu, dia bahkan rela berkali – kali operasi plastik hanya untuk menyempurnakan wajah dan tubuhnya demi pria dihadapannya itu.


Pria dihadapan rena adalah pria impian semua wanita di kota jaya.


“jika aku bisa menjadi istrinya maka rasa sakit selama operasi plastik akan terbayarkan. aku harus beberapa kali operasi plastik hanya untuk menyempurnakan wajah dan tubuhku. ” gumam rena dalam hati.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2