
Setelah menunggu beberapa menit, sang pelayan datang membawakan pesanan bara dan rena.
“ Silahkan dinikmati tuan dan nyonya. ” ucap pelayan kafe dengan sopan dan ramah.
Ima yang sedari tadi menutup wajahnya, semakin yakin bahwa ternyata suara itu adalah suara bara, calon kakak ipar sekaligus musuh bebuyutannya.
Otak ima mulai berputar dan berfikir keras.
“ Apa yang harus aku lakukan agar tidak perlu berhadapan langsung dengan tukang bully ini. aku sungguh sedang sangat malas berurusan dengannya hari ini. otak ku benar – benar bisa overload jika setiap hari harus bertemu dengannya kelak setelah menikah. ” gumam ima dalam hati.
Tanpa ima sadari bahwa sikapnya yang tidak mudah ditaklukkan itu telah membuat bara secara tidak sadar tertarik kepada ima.
Walaupun sangat malas ima tetap berusaha memutar otaknya untuk menghindari kontak secara langsung dengan bara.
Setelah dirasa mendapat ide yang cemerlang, ima segera melepas buku menu dari wajahnya lalu mengambil ponsel dari dalam tas ranselnya dan jari lentiknya mulai sibuk mengetik dan mengirim pesan kepada ino yang berada tepat dihadapannya.
“ INO..!
INI IMA,
SAAT KAMU MEMBACA PESAN INI TOLONG JANGAN MELIHAT KE ARAHKU !
KITA AKAN KELUAR DARI PINTU BELAKANG.
SETELAH AKU PERGI UNTUK KE TOILET, 5 MENIT KEMUDIAN BAYARLAH MAKANAN KITA LALU PERGILAH KE TOILET DAN KITA AKAN KELUAR BERSAMA LEWAT PINTU BELAKANG.
NANTI AKAN AKU JELASKAN ALASANNYA, UNTUK SAAT INI JANGAN BERTANYA APAPUN DAN LAKUKAN SESUAI YANG AKU KATAKAN.
OKE ? ”
ino membuka ponselnya karena ada tanda pesan masuk di ponselnya, lalu membaca pesan yang baru saja dikirim oleh ima.
Tanpa melihat kearah ima, ino pun menganggukkan kepala dan membereskan tasnya.
Ima berdiri dan menghampiri salah satu pelayan untuk menanyakan letak toilet.
“ permisi pak, boleh saya tahu dimana letak toilet ? ” tanya ima dengan sopan.
“ tentu nona, disisi kanan anda belok ke kiri, letaknya dekat dengan pintu belakang kafe. ” jawab sang pelayan dengan rinci dan sopan.
Ima segera menuju toilet dan menunggu selama 5 menit disana.
Disisi lain ino sudah selesai dengan makan siangnya dan bersiap membayar dan menuju toilet untuk menyusul ima yang sudah menunggu sejak 5 menit yang lalu.
“ permisi pak, berapa biaya makan siang saya dan sahabat saya ? ” tanya ino dengan sopan.
“ Rp. 115.000, Nona..” jawab kasir kafe.
Setelah membayar makan siang, ino pun menanyakan letak toilet dan langsung meluncur untuk menemui ima yang sudah menunggunya di dalam toilet kafe.
Mereka berdua bertemu didalam toilet.
Kita semua tidak bisa menyalahkan ima karena memilih tempat pertemuan didalam toilet, disini situasi yang memaksanya mengambil keputusan itu.
“ sudah selesai semua ? “ tanya ima.
“ sudah beres ! kita bisa pulang sekarang. ” jawab ino dengan serius.
Ino sangat serius seperti seorang detektif kepolisian yang sedang menghindari kecurigaan penjahat kelas kakap ( bara ).
Ima dan ino pun segera keluar dari kafe tersebut dan langsung menuju tempat percetakan.
Dalam perjalanan ino dan ima berbincang.
“ ada apa sebenarnya ima ? ” tanya ino yang masih penasaran.
“ tadi ada calon kakak iparku, dia itu tukang bully. aku hanya sedang tidak ingin berdebat dengannya, apalagi ditempat umum. ” jawab ima santai.
Ino mengangguk dan melanjutkan langkahnya ke percetakan dekat kampus.
ima telah selesai mencetak surat perjanjian miliknya, ino pun pulang kerumahnya.
Setelah mengantar ino masuk kedalam bus, ima bergegas naik bus lain yang menuju ke arah rumahnya untuk istirahat.
Ima merasa sangat lelah dan sangat rindu dengan tempat tidur.
Sesampainya dirumah, ima langsung masuk kamar dan tidur seketika.
Sang ibu yang melihat anak perempuan kesayangannya kelelahan segera membuatkan jus jeruk agar bisa diminum oleh ima saat dia bangun tidur.
Dengan pelan sang ibu meletakkan gelas jus dimeja belajar yang sangat dekat dengan jendela kamar ima.
__ADS_1
Setelah menyelimuti anak perempuannya sang ibu menutup pintu perlahan agar anak perempuannya itu tidak terbangun.
....
Disisi lain didalam kafe, bara menunggu hingga 2 jam dan ima pun tidak juga kembali ketempat duduknya.
Bara melihat kearah kursi dibelakangnya yang sudah berganti dengan wanita lain.
“ kemana wanita jelek itu ? apakah ini temannya yang lain ? ” gumam bara dalam hati sambil meminum kopinya.
Belum selesai bara berfikir, rena sudah sangat bosan berada dikafe itu selama berjam – jam tanpa alasan yang jelas.
“ honey.. berapa lama lagi kita berada disini..? sudah 2 jam lebih kita disini, aku sudah terlalu kenyang karena berkali – kali memesan minuman. apa kamu tidak takut jika aku jadi gemuk ? “ tanya rena dengan manja.
“ jika kamu gemuk bukankah lebih mudah untuk kita berdua, kita akan segera putus saat itu juga. ” jawab bara santai.
“ bara, aku ini pacarmu !kenapa kamu selalu berperilaku dingin bahkan kepada pacarmu sendiri ? apa kamu tidak mencintaiku ? ” tanya rena yang mulai kesal.
“ heehh…. cinta ? apakah sejak awal aku pernah bilang bahwa aku, bara ! mencintaimu ? bukankah sejak awal kamu yang selalu merayuku dan memohon untuk menjadi pacarku ? bahkan aku memutuskan nina demi kamu. apakah itu tidak cukup ? ” jawab bara santai.
Dikepala bara masih terpikir dimana ima si wanita jelek itu, kenapa wanita jelek itu belum kembali juga.
Bara tidak tau bahwa saat dia menunggu ima dengan harap, si ima sendiri sedang tertidur pulas didalam kamar tidurnya.
“ bahkan hingga sekarang pun kamu masih belum bisa mencintaiku ? ” tanya rena heran.
“ Kita sudah tidur bersama puluhan kali selama pacaran, bagaimana bisa kamu melakukan itu tanpa rasa cinta terhadapku...? ” tanya rena yang mulai menangis.
“ wanita memang benar – benar merepotkan terutama wanita cantik dan sexy. ” jawab bara dengan nada malas.
“ Jika kamu mempermasalahkan tentang tidur bersama, hampir semua laki – laki bisa melakukannya tanpa cinta, terlebih lagi yang menawarkan diri adalah wanita cantik dan sexy seperti dirimu.
Dunia berputar seperti itu rena. apakah duniamu masih seputar dunia cinta ? di era modern sekarang ini tidak ada lagi cinta. Sadarlah rena !!
Jangan terlalu bermimpi tinggi, menjadi pacarku sudah cukup bagus untukmu, jangan berani meminta lebih dariku !! ” tambah bara dengan nada keras.
Rena yang mendengar perkataan bara, hatinya seketika hancur berkeping – keping.
Impiannya menjadi istri bara hanyalah impian miliknya dan bukan milik bara.
Air mata rena makin deras mengalir, jika saja make up nya bukan waterproof tentu wajahnya sudah tidak berbentuk lagi.
Rena pun mulai mengutuk bara.
“ Suatu saat kamu akan merasakan cinta dan akan tersiksa olehnya !! kamu akan merasakan sakit hati yang telah dialami oleh semua mantan mu selama ini dan rasa sakit itu akan dibayarkan berlipat ganda kepadamu. Ingat itu !!! ” setelah berkata seperti itu, rena meninggalkan bara yang masih acuh dan dingin kepadanya.
Rena berlari sambil menangis, lalu dia pergi dengan menggunakan taxi.
Bara masih bersikap tidak peduli terhadap rena yang sudah tidak lagi berada di kafe itu.
Semua pelanggan kafe hanya terdiam menyaksikan pertengkaran kedua sejoli itu.
Tanpa menunggu lama, bara pun segera bertanya kepada wanita yang duduk dibelakangnya yang sudah duduk menggantikan ima.
“ permisi, apakah kamu temannya ima ? ” tanya bara kepada wanita itu.
“ ima ? maaf tuan ,tapi aku tidak mengenalnya. ” jawab wanita itu.
Lalu pelayan yang bertemu dengan ima saat menanyakan letak toilet tadi mendekati bara.
“ tuan, jika yang anda tanyakan adalah wanita berkacamata dan memiliki beberapa flek hitam diwajahnya, maka dia sudah pulang lewat pintu belakang sejak 2 jam yang lalu. ” jawab pelayan itu dengan jujur.
Mata bara memerah, tangannya gemetar menahan diri agar tidak memukul pelayan dihadapannya.
Dengan emosi yang membara terhadap ima, bara meletakkan uang tunai dimeja dan segera meninggalkan kafe itu karena tidak ada lagi gunanya dia berada dikafe itu, mangsanya sudah pergi dengan cara yang licik.
“ Tunggu saat kita bertemu lagi, aku tidak akan pernah mengampunimu. kamu pikir siapa dirimu, beraninya kau mempermainkan aku, Bara Lang ! kamu akan membayar mahal atas kejadian hari ini ima..!!! ” gumam bara dalam hati dengan keadaan sangat marah.
Bara segera menginjak gas mobilnya dan melaju pulang ke villa dengan emosi menyala – nyala.
Bara hanya memikirkan bagaimana cara membalaskan dendamnya kepada ima, dia tidak memikirkan rena yang pergi meninggalkannya sambil menangis dan mengutuknya.
......
Setelah sampai di villa, bara…
“ BANG...!!!”
Suara pintu dibanting dengan keras mengejutkan semua penghuni villa.
Paman sam, bibi ana bahkan yori yang berada didalam kamar pun terkejut.
__ADS_1
“ paman sam, suara keras apa itu ? ” tanya yori kepada paman sam.
“ itu suara tuan muda bara membanting pintu ! apakah tuan muda yori ingin menemui tuan muda bara ? “ tanya paman sam.
“ baiklah, siapkan kursi rodaku. ” jawab yori.
Paman sam juga khawatir terhadap bara, tetapi tidak bisa apa – apa dan hanya berharap kepada yori untuk menenangkan emosi bara.
Paman sam pun segera menyiapkan kursi roda otomatis untuk digunakan yori pergi keluar dari kamarnya.
Paman sam mendorong kursi roda yori menuju kamar bara.
Saat sampai didepan pintu kamar bara, yori mengetuk pintu dan memanggil kakaknya.
“ kak, bolehkah aku masuk ? ” tanya yori dengan pelan.
Tidak ada jawaban dari dalam kamar kakaknya, yori pun sedih.
Didalam kamar bara mendengar suara adiknya, sebenarnya dia tidak mau membicarakan tentang ima kepada adiknya mengingat ima adalah calon istri adiknya.
Tapi mendengar suara adiknya hatinya pun sedikit lebih tenang.
Bara lalu membuka pintu kamarnya.
“ masuklah...” jawab bara.
Setelah yori masuk kedalam kamar bara, paman sam segera menutup pintu kamar dari luar.
“ ceritakan kepada adikmu ini, ada apa dengan kakak hari ini, aku belum pernah melihat kakak semarah ini sejak orang tua kita meninggal. " tanya yori.
“ jika aku ceritakan kepadamu, apakah kamu bisa berjanji untuk tidak marah kepada kakakmu ini ? ” tanya bara kepada yori.
Yori pun menganggukkan kepala dan mengarahkan kursi rodanya mendekati bara.
“ aku akan mendengarkan ceritamu kak dan jika bisa, tentu aku akan sangat senang untuk membantumu. ” ucap yori bersemangat.
Kamar bara berbeda jauh dengan kamar yori.
Dikamar itu tampak semua hal modern keluaran terbaru.
Dikamar itu terdapat tempat tidur minimalis berwarna putih yang memiliki laci dibawahnya, satu set minibar pribadi, satu set ruang kerja mini, perpustakaan mini, kamar mandi berdinding kaca yang tentu bisa dengan jelas terlihat baik dari luar maupun dari dalam, 1 buah sofa panjang yang memiliki laci dibawahnya dihiasi dengan sebuah meja panjang yang terbuat dari kaca tebal serta sebuah lemari pakaian yang sangat besar yang menggunakan kode untuk membukanya dimana berisi pakaian, jas, dasi, jam tangan dan semua keperluan bara untuk pergi kekantor ataupun ke tempat lain.
Kamar bata sangat luas dan hampir semua bagian kamar terisi penuh.
Dengan furniture dan semua hal yang berada dikamar itu tidak membuat kamar terasa penuh, karena semenjak orang tuanya meninggal, kamar tersebut sengaja direnovasi sedemikian rupa sesuai kehendak bara.
Kamar bara tidak memiliki jendela sama sekali, dinding yang mengarah ke sisi luar rumah semua terbuat dari kaca, sehingga WOW... Saat tirai kamar dibuka, penghuninya bisa melihat pemandangan yang luar biasa besar dari ruangan itu tanpa harus beranjak dari tempat tidur.
Setelah berfikir sejenak, bara pun mulai menyusun kalimatnya. Bagaimana pun wanita yang membuatnya marah hari ini adalah calon istri adik kesayangannya.
Melihat wajah yori yang sangat serius seperti seorang detektif yang sedang menginterogasi seorang penjahat, bara pun menahan tawa dan sedikit rileks.
Dia akhirnya bercerita tentang apa yang terjadi kepadanya hari ini yang melibatkan calon adik iparnya.
Tetapi dengan menggunakan perumpamaan, tidak secara langsung.
“ sebelum kakakmu ini bercerita, bolehkah aku menanyakan sesuatu terlebih dahulu ? ” tanya bara.
“ tentu kak. ” jawab yori mengangguk.
“ jika kamu adalah seorang panglima perang dan diutus oleh rajamu untuk menaklukkan sebuah kerajaan yang membangkang. Selama 2 minggu kamu memikirkan strategi terbaik untuk mengalahkan musuhmu.
Disaat hari peperangan tiba, terlihat dari jauh musuhmu telah berada didepan mata.Tapi saat sang panglima dan pasukannya mulai melancarkan serangannya, yang mereka lawan bukanlah manusia melainkan patung dari tanah liat yang disusun rapi agar tampak seperti panglima dan pasukan yang sedang dalam posisi siaga.
Tidak lama kemudian mata – mata yang kamu miliki melaporkan bahwa seisi kerajaan sudah pindah ke kerajaan lain 2 minggu yang lalu. Semua harta benda dan penduduk sudah pergi, yang tertinggal hanyalah kerajaan yang kosong. ” tanya bara menjelaskan situasi agar yori lebih mudah mengambil keputusan tanpa harus mempertimbangkan posisi calon istrinya.
Yori berpikir sebentar, dahinya agak mengkerut tanda dia sedang berfikir keras.
Tangan yori diletakkan pada dagunya, wajahnya sangat imut sekali seperti anak kecil yang telah diberikan PR yang lumayan sulit oleh gurunya disekolah dan jika tidak bisa menyelesaikan PR tersebut tentu dia akan dihukum oleh sang guru.
Seperti itulah kondisi yori saat ini.
Setelah beberapa lama berfikir, raut wajahnya berubah seketika menjadi gembira dan dia menepuk tangannya pertanda dia sudah menemukan jawabannya.
“ aha, aku tahu solusinya kak ! ” jawab yori gembira.
“ simpan strategi tersebut untuk sementara, kirim mata – mata atau kalau perlu sang panglima sendiri yang menyelidiki posisi musuh yang sebenarnya. jika diperlukan, susun strategi terbaru sesuai dengan kondisi dan situasi terbaru yang telah ditemukan dari hasil penyelidikan tersebut.
Jangan biarkan musuh memiliki kesempatan lolos untuk kedua kalinya. tidak perlu menentukan hari peperangan dengan musuh karena musuh sangat licik. Serangan dadakan adalah jawabannya. Ha..ha..ha..” jawab yori sambil tertawa.
BERSAMBUNG..
__ADS_1