
“ tuan, saya yakin anda bisa menjadi suami dan ayah yang baik. rasa tenang dan nyaman sangat dibutuhkan oleh pasien yang mengalami stress.” ucap dokter helda.
“ bagaimana bisa saya menciptakan suasana seperti itu dokter ? “ tanya bara.
“ baiklah, karena anda adalah calon ayah maka akan saya beri tau sedikit rahasia. “ ucap dokter helda sambil tertawa kecil melihat ekspresi polos bara.
“ apa itu dokter. “ tanya bara penasaran.
“ sering – seringlah membelai perut istri anda, mencium keningnya, memeluknya dikala dia merasa kesepian. luangkan lebih banyak waktu bersama istri dan calon anak anda. “ ucap dokter helda sambil memasang infus dilengan ima karena kekurangan nutrisi didalam tubuh ima.
“ apakah hal seperti itu bisa berhasil ? “ tanya bara.
“ tuan, terkadang hanya hal – hal sederhana seperti itu yang dibutuhkan oleh wanita yang sedang hamil. “ ucap dokter helda sambil melangkah pergi dari kamar bara.
Dokter helda menulis beberapa resep vitamin untuk menunjang kesehatan ima dan bayinya.
Bara meminta bibi ana menebus vitamin dan paman sam pergi mengantar dokter helda.
“ ima.. bagaimana aku bisa memberi rasa tenang dan nyaman jika kau tidak mau aku sentuh ?” gumam bara dalam hati.
perlahan bara mengelus perut ima yang sudah tampak besar itu, anak yang berada dalam perut ima adalah peninggalan paling berharga dari yori.
tiba – tiba bara merasakan kantuk yang amat sangat karena dari kemarin dia belum tidur atau makan sama sekali.
...
Pada tengah malam ima tersadar, dilihatnya sekeliling ruangan.
“ ah..aku berada dikamar bara. “ gumam ima dalam hati.
Saat menggerakkan tangannya untuk mengecek perutnya, ima menyentuh sesuatu.
“ hah ? apa ini ? “ gumam ima dalam hati.
Dilihatnya dengan seksama wajah pria yang sangat tampan sedang tertidur pulas dikursi yang terletak tepat disisi tempat tidurnya.
Tangan pria itu memegangi perut ima, bahkan saat tertidur pulas pun tangannya tidak terlepas dari perut ima.
“ bara ?! “ ucap ima terkejut.
Bara yang tidur terlalu pulas tidak bergeming, wajah tampannya terlihat sangat lelah.
Ima memandangi wajah bara dan teringat akan kejadian hari itu lalu dia mengingat yori.
“ yori.. kenapa kau tidak berjuang untuk hidup dan menyerah begitu saja ?” gumam ima dalam hati.
Air mata ima menetes membayangkan anaknya yang tidak mampu melihat wajah ayah kandungnya sendiri saat lahir.
perlahan tapi pasti, suara tangis ima terdengar oleh bara.
bara segera terbangun dari tidur pulasnya dan memegang wajah ima.
“ ima.. kau sudah sadar ? apa kau butuh sesuatu ? “ tanya bara yang mulai panik.
Ima hanya menggelengkan kepalanya dan melanjutkan tangisannya, wajah cantik ima malam itu tidak bersinar sama sekali dan hanya terlihat kesedihan mendalam dan rasa pilu yang amat sangat.
Hati bara terasa sakit melihat keadaan ima malam itu, dia mencoba menenangkan ima sebisa mungkin.
“ ima, apakah kau membenciku karena aku tidak mampu menyelamatkan yori ? “ tanya bara dengan kepala menunduk.
Ima menghentikan tangisnya dan menoleh ke arah bara, pria yang selalu mengangkat kepalanya tinggi – tinggi itu sedang menunduk didepan ima karena merasa sangat bersalah.
ima tidak mengatakan apapun dan hanya memandang bara dari tempat tidurnya.
Karena tidak ada jawaban apapun, bara mengangkat kepalanya dan melihat ke arah ima.
bara melihat ima sedang memandang kearahnya dengan pandangan sedih.
“ bara, ini bukan salahmu. ini adalah hukuman untukku karena sikap keras kepalaku. “ ucap ima dengan bibirnya mungilnya yang tampak kering.
Ima belum sempat memaafkan yori tapi yori sudah pergi meninggalkannya.
karena harga diri ima yang terlalu tinggi membuatnya kehilangan pria yang sangat dicintainya itu.
“ jika aku memaafkan dan menerima yori, apakah yori masih hidup saat ini ? “ gumam ima dalam hati.
Tanpa ima tau bahwa menerima yori kembali atau tidak, hal itu tidak akan mengubah takdir seseorang.
Jika yori dan ima hidup bahagia tentu risa akan tetap merusaknya dengan cara apapun.
“ bara, apakah menurutmu aku keras kepala? “ tanya ima sambil memandang langit – langit kamarnya.
“ iya ima, tapi itulah hal unik tentangmu. tanpa hal itu tidak mungkin aku.. “ ucapan bara terhenti, dia tidak mau membebani ima dengan perasaannya yang sudah dipendam selama ini.
“ ima, maafkan aku. semua ini adalah salahku, bukan salahmu. “ ucap bara.
“ jika saja yori tidak menghalangi risa, maka akulah yang saat ini sudah tiada. aku sangat ingin bertukar tempat dengan yori jika itu bisa membuatmu bahagia ima.. “ tambah bara sambil mulai menitikkan air mata.
__ADS_1
Ima tidak mampu mengatakan apapun atas ucapan yang baru saja bara ucapkan.
ima tidak berhak menghakimi bara dan berusaha menerima kematian yori sebisa mungkin.
“ bara, besok bawa aku ke makam yori. aku ingin berbicara kepadanya. “ pinta ima.
“ aku akan membawamu kesana akhir pekan ini. pulihkan dulu tubuhmu sebelum kau pergi ke makam yori. “ jawab bara.
Ima mengangguk dan tersenyum, disentuhnya perutnya dengan lembut.
“ nak, akhir pekan ini kita akan bertemu dengan ayahmu. apakah kau bahagia ? meskipun dia adalah pria yang tidak setia, dia tetaplah ayah kandungmu. “ gumam ima dalam hati sambil mengelus perutnya.
“ um.. ima. bolehkah aku tetap memegang perutmu ? bagaimanapun anak didalam perutmu adalah darah daging adikku. “ tanya bara sedikit gugup.
Ima tersenyum lembut kepada bara dan mengangguk.
melihat reaksi ima bara sangat bahagia, dia segera meletakkan tangannya diatas perut ima.
Ima merasakan kehangatan dari telapak tangan bara dan akhirnya tertidur kembali.
“ ima, sedikit demi sedikit aku akan menyembuhkan luka dihatimu. aku akan membuatmu bahagia ditempat yori. “ gumam bara dalam hati sambil terus mengelus – elus perut ima.
...
Pagi harinya..
Pagi itu bara tidak masuk kerja dan menyerahkan semua urusan kantor kepada selly dan andrew.
Didapur bara sedang sibuk menyiapkan sarapan untuk ima, bibi ana dibuat kesulitan dengan kekacauan yang dibuat bara didapur.
Pagi itu dapur yang biasanya rapi dan bersih menjadi arena bertarung para sayuran dan daging.
“ tuan, apakah anda yakin tidak memerlukan bantuan saya ? “ tanya bibi ana yang mulai khawatir dengan masakan bara.
“ apakah masakan tuan bara layak dikonsumsi oleh nyonya ima ? bagaimana jika nyonya ima keracunan ? “ gumam bibi ana dalam hati dengan sangat panik.
“ bi.. tetaplah ditempatmu. aku hari ini akan menjadi pelayan pribadi ima jadi bibi jangan ikut campur. “ ucap bara yang sedang serius memotong sayuran dan daging.
Jari jemari bara yang indah dan lentik telah dihiasi balutan plester dimana – mana.
Bibi ana yang menyaksikan bara memasak mulai khawatir, dia takut lama kelamaan bara bisa memotong tangannya sendiri.
“ tuan, sejak kecil anda tidak pernah memasak. apakah ini tidak apa – apa ?” tanya bibi ana yang semakin khawatir.
“bi, percayalah padaku. aku akan menjadi ayah, jadi aku harus bisa memasak untuk istri dan anakku. “ ucap bara yang mulai memasukkan daging dan sayuran ke dalam panci berisi air mendidih.
“ hah ? benarkah bi ? “ tanya bara kebingungan dan mulai mengambil sayuran dipanci dengan saringan teh yang terlihat olehnya.
“ tuan ! itu saringan teh, bukan untuk sayuran. “ teriak bibi ana sekali lagi.
Bara segera meletakkan saringan itu kembali, dilihatnya sayuran didalam panci mulai layu dan matang.
Bara makin kebingungan karena dia tau bahwa waktu sarapan ima hampir tiba.
Dengan berat hati dibiarkan sayuran itu layu hingga menunggu daging matang.
“ bi, ini sudah waktunya ima sarapan. aku tidak memiliki waktu untuk memasak ulang dari awal.. “ ucap bara dengan wajah sedihnya sambil menatap sup daging sapi yang dibuatnya.
Sup dagingnya terlihat berantakan, semua sayuran sudah meleleh dan yang terlihat hanyalah daging yang dihiasi warna abstrak dari para sayuran.
" tuan, nyonya ima akan menghargai usaha anda tanpa harus melihat tampilan luar sup itu. nyonya ima adalah wanita yang sangat baik. " ucap bibi ana memberi semangat kepada bara.
mendengar dukungan dari bibi ana, dengan langkah berat bara membawa sarapan ima ke kamar.
“ ima, maafkan aku. lain kali aku akan melakukannya dengan lebih baik. “ ucap bara sambil bersiap menyuapi ima.
“ bara, apa ini ? apakah kau menyiapkan sarapan untukku ? “ tanya ima heran.
Bara hanya mengangguk dan memperlihatkan hasil karyanya pagi itu.
Ima yang melihat sup itu hanya tertawa dan memegangi perutnya.
“ oh Tuhan, bara.. apa yang terjadi pada semua sayuran yang ada didalam sup ini ? mereka semua meleleh..ha..ha.. “ tanya ima sambil tertawa lepas.
Melihat ima tertawa karena masakannya, bara merasa sangat bahagia sekaligus malu.
“ maaf ima, aku belum pernah memasak seumur hidupku. Ini adalah masakan pertamaku. “ jawab bara sambil menundukkan kepalanya karena sangat malu.
“ baiklah kalau begitu, dengan senang hati aku akan memakannya tuan bara.. ha..ha.. “ ucap ima sambil masih tertawa.
“ maafkan aku bara, tapi baru kali ini aku melihat sup yang berbentuk seperti ini..” tambah ima sambil menahan tawanya.
Bara hanya terdiam menahan malu, perlahan dia mengangkat kepalanya dan menatap ima.
“ baiklah, aku akan memakannya. berikan sup itu padaku. “ ucap ima menenangkan bara yang terlihat sangat malu.
“ biarkan aku yang menyuapimu, kau adalah pasien dan aku adalah perawatmu hari ini. “ pinta bara.
__ADS_1
Ima hanya mengangguk.
bara mulai meniup sup itu sedikit demi sedikit, setelah dirasa dingin dia mulai menyuapi ima.
dahi ima tampak mengerut dan wajahnya tampak aneh.
“ ima.. apakah rasanya tidak enak ? “ tanya bara cemas.
“ apa kau tau rasa permen nano – nano ? “ tanya ima.
Bara menggelengkan kepalanya.
“ rasa sup ini seperti permen nano – nano. ada rasa asin, asam, manis, pokoknya rasanya rame. aku bisa bilang ini adalah sup sapi dengan rasa terunik yang pernah aku rasakan. “ jawab ima sambil mulai menahan tawanya.
Bara sadar bahwa masakannya tidak sesuai dengan keinginan ima.
“ aku akan memasak ulang agar sesuai dengan keinginanmu.. “ ucap bara sambil hendak pergi dari kamar itu.
“ bara ! Berhenti. aku suka sup buatanmu, kau tidak perlu memasak ulang, sup ini enak dan aku suka. “ ucap ima sambil menunjukkan jempolnya.
Bara pun tersenyum dan kembali duduk disamping ima.
bara menyuapi ima sendok demi sendok hingga sup buatan bara itu habis.
melihat jari bara yang dihiasi dengan banyak plester membuat ima terharu, demi menghargai niat baik bara, pagi itu ima harus menahan semua rasa rame yang masuk kedalam mulutnya.
Setelah selesai sarapan, ima pun bersiap pergi mandi.
“ bara, tolong panggilkan bibi ana. selang infus membuatku kesulitan untuk mandi. “ pinta ima.
“ biarkan aku membantumu. “ ucap bara.
“ hah ? bara.. tapi bentuk tubuhku sedikit lucu. perutku mulai membesar dan aku..malu kepadamu. “ ucap ima yang wajahnya mulai memerah.
“ selama ini kau mandi dan telanjang tanpa merasa malu sama sekali kepadaku. “ ucap bara heran.
Bara tidak tau bahwa semua rasa benci, marah, kecewa, dan sakit yang ada dihati ima telah hilang sejak kematian yori.
Ima tidak perlu lagi menyimpan semua rasa benci itu kepada yori mengingat yori telah tiada.
tanpa semua kebencian itu ima hanyalah perempuan biasa yang memiliki perasaan, terlebih terhadap laki – laki, tentu saja ima malu.
“ bara, saat itu aku terlalu kecewa dan membenci yori sehingga semua perasaan yang aku miliki menjadi beku.” ucap ima.
“ sekarang aku kembali memiliki perasaan sebagai perempuan biasa yang memiliki rasa malu terhadap lawan jenis. bisakah kau mengerti itu ? “ tanya ima.
Bara seketika malu dan melangkah keluar kamar untuk memanggil bibi ana.
...
Setelah selesai membantu ima mandi dan memakai pakaian, bibi ana kembali kedapur untuk membersihkan sisa – sisa kekacauan yang dibuat oleh bara pagi itu.
Melihat bibi ana keluar kamar, bara segera berlari menuju kamar.
“ ima.. apakah kau membutuhkan atau menginginkan sesuatu saat ini ? “ tanya bara.
“ aku tidak menginginkan apapun bara. aku hanya ingin segera sembuh dan kembali bekerja. “ jawab ima.
bara terkejut dengan pikiran yang ada didalam kepala ima.
“ ima, bisakah kau tetap dirumah menjaga kandunganmu ? aku suka sikap keras kepalamu, tapi bolehkah kau mengalah demi anakmu kali ini saja ? “ pinta bara.
Ima terdiam, dia memegang perutnya lalu menatap bara dan tersenyum.
“ aku rasa ucapanmu kali ini benar bara. aku akan mengikuti saranmu dan mengurangi sikap keras kepalaku. “ ucap ima dengan senyuman manis dibibirnya.
Hati bara terisi penuh dengan senyuman manis ima hari itu dan hari – hari berikutnya.
...
Akhir pekan..
Hari ini ima dan bara akan pergi ke makam yori.
Paman sam sudah siap didepan villa, bara dan ima masuk kedalam mobil menuju pemakaman keluarga lang.
letak pemakaman cukup jauh dari villa, sehingga membutuhkan waktu sedikit lebih lama untuk sampai ditempat tujuan.
Sesampainya ditempat tujuan, bara membantu ima berjalan masuk ke area pemakaman.
“ bara, apakah makam orang tuamu juga ada disini ? “ tanya ima sambil terus berjalan masuk kedalam area pemakaman.
“ iya, aku akan memperkenalkanmu kepada mereka nanti setelah kita menemui yori. “ jawab bara.
" terima kasih bara. setelah 3 tahun lebih menjadi menantu mereka, baru sekarang aku bisa menyapa mereka berdua. bukankah aku menantu yang kurang baik ? " ucap ima dengan senyuman getir dibibirnya yang mungil dan sensual itu.
ima mengingat kembali awal mula dia menikahi yori karena terpaksa dan tidak mengunjungi makam orang tua yori untuk meminta restu.
__ADS_1
Bersambung..